Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Pesan


__ADS_3

"Iya Nak, nanti kalo Bunda ada libur Bunda bakalan anterin Evan ke sekolah"


Saat ini Anista sedang menelpon Evan, mumpung Safira sedang tidur siang. Hatinya tersayat saat mendengar cerita anaknya yang ingin di antar olehnya. Bahkan teman temannya yang lain suka di antar oleh orang tuanya.


"Janji ya Bunda, sekaliiiii saja. Evan cuma mau kasih tau ke teman teman Evan kalo Evan juga punya Bunda meski Evan gak punya Ayah"


Perkataan Evan barusan berhasil menyayat hatinya. Maafkan Bunda Nak, Maaf.


"Iya nanti jika Bunda bisa libur di hari kamu sekolah. Bunda akan mengantar Evan ke sekolah. Evan yang sabar ya sayang"


"Iya Bunda, terimakasih"


Anista mengangguk dan tersenyum "Yasudah kalo begitu Bunda mau kembali bekerja, Evan baik baik ya disana. Nurut sama Oma"


"Siap Bunda, Bunda juga yang semangat ya kerjanya"


"Iya Sayang. Bunda tutup dulu ya telepon nya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Anista menoleh ke arah tempat tidur dengan seprei berwarna pink. Wajah polos gadis kecil yang sedang terlelap itu selalu membuat Anista tersenyum dan ingin merawatnya dan menyayanginya seperti dia menyayangi Evan.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Apa ini Mas?" Tanya Anista menatap sebuah kartu berwarna hitam dan sebuah kartu atm di tangannya


"Karna kamu sudah bukan pengasuh Safira lagi, jadi aku memberikan kamu kartu itu. Kamu bisa menggunakan itu untuk membeli apapun yang kamu mau" kata Yudha


"Tapi Mass, Nist teh lebih baik di gaji seperti biasa saja. Lagian Nist teh belum menjadi istrinya Mas, jadi Mas juga belum berkewajiban untuk menafkahi Nist" kata Anista


Aku juga tidak tahu cara menggunakan kartu ini. Dan aku juga akan merasa canggung jika ingin mengirim uang pada Abah.


Yudha menggeleng "Kamu adalah calon istriku, jadi aku sudah berhak memberimu ini. Jadi, gunakanlah kartu ini untuk memenuhi keinginanmu dan kebutuhan mu"


"Tapi, Nist juga harus mengirimkan uang untuk Abah setiap bulannya" kata Anista ragu ragu


Yudha tersenyum dan mengelus pipi Anista "Sayang, kamu boleh mengirimkan uang untuk Ayahmu setiap bulannya. Bahkan kamu bisa mengirimkan lebih dari biasa yang kamu kirimkan. Gunakanlah kartu ini untuk segala kebutuhan kamu dan Ayahmu"

__ADS_1


"Tapi..., Nist teh gak bisa menggunakan kartu ini" kata Anista sedikit malu karna dia terlihat begitu kampungan


Yudha hampir saja tertawa, bukan karna Anista yang terlihat kudet karna tidak bisa menggunakan kartu black card yang dia berikan. Namun, Yudha ingin tertawa dengan wajah polos itu yang terlihat menggemaskan dengan wajah malunya itu.


"Tuhkan malah ketawa, iya Nist teh emang kampungan. Toh emang aslina ge ti kampung°" kata Anista kesal melihat wajah Yudha yang terlihat menahan tawa


(Toh emang aslinya juga dari kampung°)


"Enggak kok sayang, aku bukan nertawain kamu karna kamu dari kampung. Tapi, aku pengen ketawa karna wajah lucu kamu ini yang menggemaskan" kata Yudha mencubit gemas hidung Anista


"Aww.. Sakit Mas, ngeselin ihh" kata Anista cemberut


Yudha semakin gemas dengan ekpresi kekasih hatinya ini. Kebahagiaan yang bahkan tidak pernah Yudha bayangkan sebelumnya.


"Abisnya kamu gemesin banget si, nanti aku ajarin cara menggunakan kartu itu" kata Yudha


"Yaudah kalo begitu aku berangkat dulu ya, Fira belum bangun?" Tanya Yudha


Anista menggeleng "Belum, masih ngantuk kayanya"


Yudha mengangguk, lalu dia mencium kening Anista "Pergi dulu ya, baik baik di rumah"


Inilah yang belum pernah Yudha rasakan saat dulu masih bersama Eliana. Tidak pernah Eliana mencium tangannya saat Yudha akan pergi ke kantor. Dengan perlakuan Anista yang seperti ini membuat Yudha berasa sangat di hormati dan dihargai sebagai seorang laki laki.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Akhir pekan ini Anista kembali pulang ke rumah Bu Nina. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Evan. Bagaimana anaknya selalu bercerita tentang bagaimana kegiatan nya di sekolah barunya.


"Evan seneng banget Bun, karna di sekolah banyak yang mau berteman sama Evan" kata bocah kecil itu begitu antusias


"Memang tidak semua anak di sekolah Evan mau berteman baik dengannya. Bahkan banyak yang orang tuanya melarang langsung Evan untuk tidak berteman dengan nya. Biasalah Ibu ibu yang suka julid sama kehidupan orang lain padahal belum tentu kehidupannya pun lebih baik dari kamu" jelas Bu Nina menjawab kebingungan Anista atas ucapan Evan barusan.


Maafkan Bunda Nak, Bunda gak bisa berbuat apa apa untuk ini semua. Karna Bunda pun tidak tahu harus berbuat apa.


Anista mencium puncak kepala Evan dengan mata berkaca kaca. Evan adalah segalanya untuk Anista. Hidupnya adalah Evan dan Ayahnya.


Bunda sangat menyayangimu Nak.

__ADS_1


Bu Nina menatap haru pada Ibu dan anak itu. Bu Nina tentu tahu bagaiamana perasaan Anista.


Bahkan Bu Nina tahu sebagian cerita hidup Anista dari Bi Nenti, temannya di kampung. Kepala yayasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak di kampung Anista.


Kamu adalah anak yang kuat Nist. Bu Nina


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Anista tersenyum melihat anaknya yang sedang terlelap. Di usapnya lembut kepala bocah laki laki itu dengan sayang.


Sehat selalu ya Nak, do'akan Bunda agar bisa memberikan yang terbaik untuk kamu.


Ting


Suara notifikasi pesan di ponselnya mengalihkan fokus Anista. Dia mengambil ponselnya dan melihat pesan dari siapa yang masuk.


Anista kira itu adalah pesan dari Yudha yang menyuruhnya segera kembali ke rumah. Namun, nyatanya bukanlah dari Yudha. Nomor yang tidak di kenal yang masuk ke ponselnya.


Ada yang ingin aku bicarakan tentang Yudha kepadamu. Temui aku sekarang di Cafexx. Aku akan sharelock padamu.


Tak lama kemudian dari nomor yang sama telah mengirim letak lokasi yang di sebutkan di pesannya tadi. Mungkin, orang itu tahu jika Anista tidak terlalu tahu jalan dan tempat tempat di kota.


"Siapa dia? Kok tahu soal Mas Yudha. Apa aku temui saja biar gak penasaran?"


Anista turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar setelah mengambil tas selempangnya dan memasukan ponselnya ke dalam tas itu.


"Bu, Nist pulang lebih cepat ya" kata Anista menghampiri Bu Nina yang sedang duduk di karpet depan televisi "Ada urusan bentar, tolong bilangin aja ke Evan ya"


Bu Nina berdiri dan menghampiri Anista yang sedang berdiri "Yaudah gak papa, nanti Ibu bilang ke Evan"


Anista mencium tangan Bu Nina "Yasudah kalo gitu Nist teh pamit ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Bersambung


Maaf ya hari ini cuma bisa up dua bab aja.. doain akunya sehat selalu ya biar bisa terus up walau gak tiap hari.

__ADS_1


jangan lupa like, komennya. kasih vote juga hadiahnya ya. 🤗🤗


__ADS_2