
Anista menggendong Safira dengan gendongan batik yang dia bawa dari kampung. Di tangan kanannya dia membawa secangkir teh hijau untuk Tuannya.
Tok tok tok
"Tuan, ini saya membawa Nona Fira" kata Anista di balik pintu kamar Tuannya
"Masuk saja" teriak Yudha dari dalam kamar
Ceklek
Anista masuk ke dalam kamar mewah ini. Kamar yang sangat luas, mungkin jika di bandingkan dengan rumahnya di kampung kamar ini setara dengan luas rumahnya yang sempit itu.
Yudha menatap Anista yang menggendong Safira dengan membawa secangkir minuman.
Benar benar luar biasa.
Tidak pernah Yudha melihat wanita sehebat Anista, menurutnya. Karna jarang sekali di kota besar ini ada wanita yang menggendong bayi dengan tangan masih bisa membawa minuman. Apalagi gendongan yang di gunakan masih gendongan dari kain batik.
Padahal jika di kampungnya Anista semua ibu ibu pasti menggunakan kain batik untuk menggendong anaknya.
(Kalo dalam bahasa sunda namanya samping ya.. 😁)
Kebanyakan para wanita yang sering Yudha temui jika mempunyai anak pasti menggunakan kereta bayi dari pada menggendongnya seperti ini.
"Ini Nist teh buatkan Tuan teh hijau hangat" Anista menyimpan secangkir minuman yang dia bawa di atas nakas.
"Hmm. Terimakasih"
Anista sampai terbengong mendengar ucapan terimakasih untuk pertama kalinya dari seorang Yudha Abimana Walton.
"Sam...sama sama Tuan" Anista tersenyum hambar
"Sinikan Safira, aku ingin bermain dengan nya" Yudha mengangkat kedua tangannya ingin menggendong Safira
Anista membuka gendongannya dan memberikan Safira pada ayahnya. Balita itu terlihat tertawa tawa saat Ayahnya langsung menciuminya.
"Saya permisi keluar dulu, Tuan" pamit Anista
"Kau disinilah, kalau nanti Fira mencarimu bagaimana? Sudah sini duduk" Yudha menepuk tempat tidur yang kosong
Anista tak bisa menolak, dia pun naik ke atas tempat tidur dan ikut bermain dengan Safira. Mungkin jika Safira bisa mengungkapkan perasaannya, inilah yang semua anak inginkan. Kebersamaan bersama orang tuanya.
Namun, sayang hal ini tidak di dapatkan balita itu dari Ibu kandungnya. Tapi, balita itu terlihat sangat bahagia dengan kehadiran pengasuhnya ini, bisa membuat balita itu kembali ceria seperti balita seusianya.
"Bagaimana perkembangan anak saya?" Tanya Yudha menatap Anista
Anista yang sedang menunduk mengajak main Safira langsung mendongak dan lagi lagi jantung keduanya berdegup kencang jika terkadang tidak sengaja saling bertatapan.
"Berjalan nya sudah mulai lancar, Tuan. Mungkin karna Nist teh selalu mengusapkan air embun pagi di kaki Nona Safira" kata Anista bangga mengingat bagaimana Yudha meremehkan nya saat Anista melakukan hal itu pada putrinya
"Kau masih melakukan itu? Memang ada pengaruhnya apa?" Tanya Yudha
__ADS_1
"Ada'lah, di kampung saya juga seperti itu. Buktinya Evan sudah bisa berjalan lancar sejak satu tahun" kata Anista bangga, bahkan dia tidak sadar telah menyebutkan nama Evan.
Evan?? Seperti pernah mendengar nama itu.
"Siapa Evan?" Tanya Yudha dengan mata menyipit
Anista tersentak kaget, dia baru sadar jika sudah menyebutkan nama anaknya. Aduhh.. Kenapa harus keceplosan si? Terus Anis teh kudu kumaha ayena?
(Aduhh... Kenapa harus keceplosan si? Terus Anis harus gimana sekarang?)
"Ehh.. It..itu Tuan, Evan.... Evan... keponakan saya, iya keponakan saya" kata Anista dengan gelagapan
Yudha mengangguk mengerti "Ohh"
Aku ingat sekarang, yang malam itu Anista telepon dan menyebutkan nama Evan adalah keponakan nya.
"Oh ya Tuan" kata Anista ragu ragu
Yudha menatap Anista "Apa?"
Bilang gak yah?? Tapi Nist teh takut.
"Apa??" Tanya Yudha lagi saat melihat Anista malah terdiam
"Emm. Nist teh mau izin pulang dulu ke kampung boleh? Soalnya udah tiga bulan Nist gak pulang, Nist kangen sama Abah" jelas Anista
"Abah??" Tanya Yudha tidak mengerti
"Abah itu sama dengan Ayah, Tuan" jelas Anista
"Ohh"
Ohh doang? Terus gimana jawaban nya? Boleh apa enggak. Huaaa
"Jadi boleh Tuan?" Tanya Anista lagi
"Berapa lama kau akan pulang?" Tanya Yudha
"Ya terserah Tuan mau memberi saya izin berapa lama"
Drett....Drettt
Suara ponsel Yudha mengalihkan pembicaraan mereka. Yudha mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Eliana.
"Sebentar saya mau angkat telpon dulu" kata Yudha
Anista mengangguk "Iya Tuan"
Yudha pergi ke balkon kamarnya untuk mengangkat telepon dari istrinya itu. Berdiri menatap bunga bunga indah di taman dengan tangan kiri dia masukan ke saku celananya.
__ADS_1
"Hmm"
"Hallo Sayang, apa maksud kamu menyuruh Bima datang ke orang tuaku dan ingin mengakhiri pernikahan kita?"
Sudah ku duga jika Bima langsung melakukan tugasnya. Dia memang benar benar asisten terbaik, meskipun kadang suka menyebalkan.
"Hmm. Aku tidak tahu"
"Jangan pura pura Yudha, apa kamu tidak memikirkan perasaan anak kita Safira"
Yudha tersenyum sinis "Anak kita?? Baru setelah aku lelah dengan segala kelakuanmu. Kau mau mengakui Safira sebagai anak kita? Safira hanya anaku, kau hanya jadi alat untuk melahirkan nya saja walau hanya dengan terpaksa"
"Tega kamu ngomong gitu sama aku"
"Kau tahu? Aku bertahan sampai saat ini, namun aku merasa jika pernikahan kita sudah tidak bisa di pertahankan lagi"
"Kau lupa jika kita menikah atas keinginan Ibumu dan orang tuaku. Apa kau yakin jika Ibumu akan menyetujuinya?"
"Ini keputusanku, dan aku tidak peduli Ibuku menyetujuinya atau tidak. Kesabaranku sudah di batas terakhir"
"Kau tidak bisa seperti ini Yudha, kau akan merusak citra keluarga Walton dan juga perusahaan Walton.Corp"
"Sudah ku bilang, aku tidak peduli. Kesabaranku sudah berada di batas terakhir. Jadi, terimalah semua keputusanku. Kau pun tahu jika aku sudah mengambil keputusan maka aku sudah memikirkan konsekuensinya yang akan terjadi. Dan aku akan menerima semua konsekuensinya. Mengerti!"
Yudha langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia benar benar muak dengan keadaan ini dan keegoisan Eliana.
Sementara di sebrang sana Eliana membanting ponselnya hinga hancur. Dia benar benar frustasi dengan keadaan ini yang sama sekali tidak pernah dia kira jika Yudha akan melakukan ini.
"Aku akan pulang, aku yakin ada wanita lain yang telah menggoda suamiku" teriak Eliana frustasi
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Yudha kembali masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan yang menyejukan hatinya. Putrinya sedang di ajarkan membaca doa oleh Anista.
"Alhamdulil..llah. Pinter banget si kamu ini" Anista memeluk Safira dan mencium pipinya dengan gemas.
Yudha berjalan mendekat ke arah mereka, duduk di pinggir tempat tidur ikut bergabung dengan mereka.
"Kau boleh pulang kampung, hanya seminggu tidak boleh lebih dari seminggu" kata Yudha
Anista tersenyum senang, dia mengangguk hormat "Terimakasih Tuan, terimakasih"
"Hmm"
Aku belum siap kau tau segalanya tentang aku sebelum aku menyelesaikan urusanku bersama El. Jika semuanya sudah terselesaikan aku akan segera menjadikanmu istriku.
Tekad Yudha sudah bulat, selama tiga bulan Anista selalu berada di dekatnya. Selama itu juga Yudha merasakan perasaannya semakin besar dan tidak bisa di sembunyikan lagi.
Yudha yakin dengan pilihan hidupnya saat ini. Entah kenapa dia merasa ada ikatan batin yang kuat dengan Anista. Seolah dia harus melindungi dan membahagiakan wanita ini.
Bersambung
__ADS_1