
Anista duduk di bangku taman rumah sakit, merenung sendirian. Tatapannya kosong, dia ingin menangis sejadi jadinya. Tapi, sepertinya air matanya telah kering sehingga tak lagi mengeluarkan kelenjar air mata.
Anista hanya diam, tidak ada yang dia lakukan selain bernafas dan menatap kegiatan orang-orang.
Banyak pasien yang menggunakan kursi roda sedang duduk di taman ini di temani perawat atau kerabatnya. Mungkin orang-orang pesakitan itu juga butuh menyegarkan pikirannya.
Shhhh...
Anista meringis saat perutnya tiba-tiba terasa sakit. Ahh.. Aku telat datang bulan, mungkin akan datang bulan.
Tepukan di bahunya membuat Anista terkejut. Dia menoleh "Loh Na, kok bisa disini?"
Hasna tersenyum, dia duduk di samping Anista "Berita tentang putri bungsu keluarga Walton kecelakaan sudah menyebar kemana mana. Dan aku sengaja datang hanya ingin melihat kondisimu"
Anista tersenyum miris, dia kembali menatap lurus ke arah hamparan rumput taman yang begitu terawat.
"Mereka menyalahkan ku" lirih Anista
Hasna menghala nafas "Aku tahu dan sudah menduganya. Apalagi saat melihat berita yang mengatakan kecelakaan nya terjadi saat kau yang mengasuh mereka"
Anista menoleh, matanya sudah berkaca-kaca "Salah aku ya Na? Apa aku patut di salahkan atas kecelakaan ini"
"Aku juga gak ingin semua ini terjadi, aku juga sangat menyayangi Safira. Gak mungkin aku sengaja membuatnya celaka. Aku gak setega itu Na"
Hasna langsung memeluk Anista yang mulai terisak, keadaan Anista hampir sama dengannya. Rapuh...
"Kamu gak salah, mereka gak seharusnya menyalahkan kamu. Ini kecelakaan" kata Hasna
"Sudah ya, jangan nangis lagi. Aku ada disini sama kamu" Hasna mengelus punggung Anista yang bergetar. Dia tahu bagaimana rapuhnya wanita ini.
"Awww"
"Nist kenapa?" Tanya Hasna saat mendengar rintihan Anista, Hasna menatap ke bawah dres yang di gunakan Anista "Kamu berdarah Nist, kamu kenapa?"
Anista meringis sambil memegang perutnya "Sakit Na, perutku sakit sekali.. Arghhh"
"Nista, bangun.." teriak Hasna panik saat melihat Anista tidak sadarkan diri
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Yudha baru saja sampai di taman rumah sakit dan melihat Hasna sedang berteriak meminta tolong sambil merengkuh tubuh Anista yang sudah tak sadarkan diri.
Yudha segera berlari menghampiri kedua wanita itu "Apa yang terjadi?"
"Anista tadi tiba tiba mengeluh perutnya sakit, dan ada darah mengalir di kakinya terus dia tiba-tiba pingsan"
Yudha segera menggendong istrinya, di lihatnya darah masih mengalir di betis Anista membuat Yudha semakin panik. Hasna segera mengikuti langkah Yudha sambil membawa tas Anista.
Sayang kuat, jangan semakin membuatku takut akan kehilanganmu.
__ADS_1
Tangan Yudha bergetar, dia berjalan cepat menuju ruang rawat darurat "Tolong istriku, jangan sampai dia kenapa napa"
"Baik Tuan, lebih baik Tuan menunggu di luar"
Yudha diam dengan gelisah, tubuhnya dia sandarkan ke tembok. Matanya terpejam mencoba menenangkan hatinya yang sedang tidak baik baik saja.
"Mas, aku udah satu bulan lebih gak datang bulan. Kenapa ya?" Kata Anista yang baru saja keluar dari ruang ganti
"Tak apalah, mungkin benihku telah jadi di rahim mu"
Deg
Yudha mengingat percakapannya dengan Anista beberapa hari yang lalu. Apa mungkin Anistanya hamil, jika itu benar maka kandungan Anista sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Arghh..
Yudha menjambak rambutnya begitu frustasi. Ya Tuhan, jika benar istriku tengah mengandung. Tolong selamatkan istri dan anaku.
Hasna hanya duduk diam sambil memeluk tas selempang milik Anista. Dia juga begitu khawtir dengan keadaan Anista saat ini.
Semoga kamu baik baik aja Nist.
"Tuan" Bima datang setelah membawakan pakaian ganti untuk Tuan dan Nona nya.
Yudha menoleh, tatapan yang selama ini tak pernah lagi Bima lihat setelah Yudha menikah dengan Anista. Tatapan mata yang penuh luka dan sangat rapuh.
Inilah yang Bima takutkan jika Yudha telah mengetahui semuanya. Dia akan kembali ke titik terendahnya.
"Anista, Bim" lirih Yudha
Bima mengerutkan keningnya, dia belum mengetahui soal Nonanya ini. "Anista kenapa?"
"Dia berada di dalam, aku juga belum tahu keadaannya. Tadi dia pingsan dan mengalami pendarahan" jelas Yudha
Ternyata aku telah salah tebak, kau begitu terluka karena istrimu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kau tidak terluka karena perselingkuhan Eliana dan Dave.
Yudha tidak terluka dengan fakta jika Eliana telah berselingkuh di belakangnya. Perasaannya hanya hancur saat tahu jika anak yang selama ini dia sangat sayangi ternyata bukanlah darah dagingnya. Safira adalah anak dari pria selingkuhan Eliana.
Bima mendekat ke arah Yudha "Apa dia sedang mengandung?"
Yudha menghembuskan nafas kasar "Aku belum tahu, tapi dugaanku benar. Karena beberapa hari lalu dia mengeluh tidak datang bulan. Lalu tadi dia kesakitan dengan darah yang mengalir di kakinya"
Bima menepuk bahu Yudha, mencoba memberinya kekuatan di keadaannya ini "Berdo'alah semoga dia baik-baik saja. Jika benar Anista sedang mengadung, maka semoga anakmu kuat dan baik-baik saja"
Di sisi lain ada gadis yang sedang menunduk, mendengarkan percakapan dua orang pria itu. Hasna sangat menghindari Bima, namun waktu seolah selalu mempertemukan nya dengan pria itu.
Bagaimana aku bisa melupakannya, jika dia saja selalu bertemu denganku. Seolah waktu tidak mengizinkanku terlepas dari cinta sendiri ini.
Suara pintu terbuka langsung mengalihkan mereka yang berada disana. Dokter keluar dari ruang rawat darurat.
__ADS_1
"Istri Tuan mengalami pendaharan karena terlalu stres dan terlalu tertekan. Untung saja janinnya sangat kuat sehingga masih bisa bertahan" jelas dokter
Benar apa dugaan Yudha, istrinya memang sedang mengandung. "Berapa usia kandungan istriku?"
"Baru 5 minggu dan ini adalah saat paling rentan mengalami keguguran. Jadi, kedepannya tolong di jaga emosinya dan usahakan jangan membuatnya stress apalagi tertekan seperti saat ini. Karena jika hal itu kembali terjadi, maka akan berakibat fatal bagi bayi dan Ibunya"
Yudha mengangguk mengerti "Baik Dok, lalu bagaimana keadaan nya sekarang?"
"Nona sudah sadar dan sudah mengetahui soal kehamilannya. Sekarang Nona sedang istirahat, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan rawat inap"
Dokter berlalu pergi setelah memberikan penjelasan pada Yudha. Pintu kembali terbuka di susul oleh brankar yang di dorong oleh dua orang perawat.
Anista sudah sadarkan diri dan dia melihat ada suaminya di sana. Tapi, Anista sama sekali tidak menyapa Yudha bahkan dia malah memalingkan wajahnya.
Saat ini Yudha, Bima dan Hasna sudah berada di ruang rawat inap Anista. Dari tadi Anista sama sekali tidak berbicara pada suaminya.
"Na, aku haus" lirih Anista
Hasna langsung mengambilkan segelas air putih yang berada di atas nakas samping ranjang Anista.
"Nih, pelan pelan minumnya" kata Hasna sambil memberikan Anista minum menggunakan sedotan
"Na, aku mau istirahat saja" kata Anista setelah selesai minum
Hasna mengangguk "Yaudah, aku juga harus pulang dulu Nist. Kasihan adik aku kalo ditinggal lama lama"
Anista mengangguk dan tersenyum tipis "Hati-hati ya"
Setelah menyelimuti Anista sampai ke pinggang, Hasna berjalan menghampiri Yudha dan Bima yang duduk bersebelahan di sofa.
"Tuan, saya pulang dulu" pamit Hasna
"Bim, antarka..."
Hasna langsung mengibaskan tangannya cepat "Tidak perlu Tuan, saya ada yang menjemput"
Kernyitan di dahi Bima tak bisa menghindari ekspresi tidak sukanya dengan apa yang Hasna ucapkan. Namun, dia hanya diam saja tanpa mau berbicara atau menatap ke arah Hasna.
"Ohh. Baiklah kalau begitu" kata Yudha
Setelah Hasna pergi, ruangan ini terasa sepi. Anista yang kembali tertidur dan dua pria yang hanya diam dengan fikiran masing masing.
"Kau menyukainya, Bim" kata Yudha, bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan.
"Sudahlah, kau fikirkan saja apa yang ingin kau lakukan saat ini. Terutama untuk Safira" kata Bima, mencoba mengalihkan pembicaraan
Yudha menghembuskan nafas kasar "Fikirkan dan benar-benar yakinkan perasaanmu sebelum kau mengambil keputusan yang salah. Ingat itu Bim"
"Masalah itu nanti kita bicarakan lagi, aku masih harus fokus pada pemulihan istriku dulu. Kau jagalah Safira, jangan biarkan dua manusia iblis itu menemui Safira" kata Yudha yang dijawab anggukan oleh Bima
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupakan dukungannya..