
Hasna tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan pria menyeramkan yang beberapa hari ini selalu menghantui fikirannya.
Kenapa dia kesini? Apa masih ada masalah yang harus aku selesaikan.
Hasna berjalan ke luar hotel tempat dia bekerja sebagai cleaning service. Dia menatap takut pada pria yang berdiri menyandar pada mobil mewahnya dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.
Aduh kenapa dia terlihat begitu tampan. Ishh.. Apasi yang kau fikirkan Hasna, dia itu pria menyeramkan dan buas.
"Lambat sekali kau berjalan"
"Maaf Tuan"
Hasna mempercepat langkah kakinya, suara dingin dan datar dari pria yang diam diam dia kagumi itu benar benar seperti perintah yang tidak bisa dia bantah.
"Kau itu keturunan siput ya? Jalan saja lambat sekali"kata Bima sambil menuding kening Hasna
Hasna mengusap keningnya, meski tidak terasa sakit "A..ada apa Tuan kesini?"
Bima bersidekap dada dengan angkuh "Ayahnya Nona Muda meninggal"
Hasna sedikit bingung dengan ucapan Bima, maklum dia sama polosnya dengan Anista sehingga sedikit lemot untuk berfikir.
Nona Muda?
"Siapa Tuan?"
Tuhkan dia benar benar polos seperti Anista. Bahkan dia benar benar tidak bisa berfikir terlalu keras, otaknya tak sampai.
Bima berdecak malas "Kau ini pura pura bodoh apa memang benar benar bodoh? Begitu saja harus bertanya siapa? Dasar bodoh! Memangnya kau kenal dengan Nona Muda mana lagi selain Anista?"
Hasna langsung terkejut begitu tahu siapa yang di maksud oleh Bima "Innalillahi Wainna'lillahi Raji'un"
"Tuan beneran?" Masih sempatnya dia bertanya seperti itu setelah Bima menjelaskan semuanya dengan detail.
Lagi lagi Bima menuding kening Anista "Dasar Bodoh! Kau fikir aku pria yang suka bercanda?"
Iya juga ya, dia'kan pria kolot yang tidak ada humoris humorisnya. Ya ampun kasian banget Anista.
"Tuan di suruh Anista ke sini menemui saya?" Tanya Hasna
Uhuk uhuk
Bima terlihat begitu gugup sampai dia terbatuk batuk. Dia terlihat gelagapan menerima pertanyaan dari gadis di depannya ini.
"Cepatlah kau ingin menemui Nona Muda atau ingin terus nyerocos tidak jelas disini?" Tanya Bima dingin
__ADS_1
Hasna mengangguk cepat "Tapi, saya harus membawa adik saya Tuan. Tidak tega kalau dia di tinggalkan terus"
"Baiklah, cepat masuk"
Bima membuka pintu mobilnya agar Hasna masuk ke dalamnya. Tidak mau membantah, Hasna segera masuk ke dalam mobil itu.
"Tapi Tuan, saya'kan belum izin sama atasan saya untuk tidak bekerja dulu besok" kata Hasna takut takut
Bima yang baru saja akan melajukan mobilnya terhenti dan menoleh ke arah Hasna "Aku sudah izinkan"
"Kok bisa?"
Aduh kenapa aku sampai keceplosan gitu si. Ini bibir selalu saja gak bisa di rem.
Bima mendelik tajam "Kau lupa? Ini hotel keluarga Walton dan aku adalah tangan kanan keluarga Walton"
Iya aku tahu.
Hasna hanya mengangguk tanpa mau berbicara apapun lagi. Dia takut saja salah bicara dan akan membuat pria menyeramkan di sampingnya langsung murka.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Kenapa kesini?
Hasna bingung sendiri melihat jalan ke arah rumah Anista. Dia mengira jika akan ke rumah mewah milik Yudha yang waktu itu pernah dia kunjungi.
"Hmmm" Seperti biasa menjawab datar dan dingin tanpa menoleh sedikitpun pada Hasna.
Hasna menghela nafas pelan "Memangnya kapan Ayahnya Anista meninggal?"
"Sudah dari 6 hari yang lalu" jelas Bima
Hasna mengangguk mengerti "Berarti besok sudah tahlilah yang ke tujuh hari ya"
Bima tidak menjawab juga tidak merespon ucapan Hasna. Karena dia fikir ucapan Hasna bukanlah pertanyaan yang butuh jawaban atau respon apapun lagi. Dasar laki laki kaku.
Anista terkejut melihat kedatangan Hasna dan adiknya bersama Bima. Anista bahkan tidak sampai ingat untuk memberitahukan kabar duka ini pada Hasna karena dirinya terlalu sibuk dengan acara tahlilan Ayahnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Na kesini ya? Maaf ya aku gak sempet kasih tahu kamu soal kabar duka ini. Syukur deh kalo Tuan Bima memberitahumu"kata Anista yang langsung memeluk Hasna
Ohh jadi dia sengaja memberitahuku tanpa di suruh sama Nona Mudanya. Wahh.. Apa dia juga merindukan ku? Ishh.. Apaan si kamu itu Na, mikirnya kejauhan banget.
"Gak papa Nist, kamu yang sabar ya. Ayah kamu pasti sudah bahagia di surga sana" lirih Hasna sambil mengelus punggung Anista yang memeluknya
__ADS_1
Hasna tentu tahu apa yang di rasakan oleh Anista. Dulu juga dia merasakan hal itu saat adiknya baru saja berumur 5 tahun.
Anista mengangguk "Aku sudah ikhlas Na, semuanya sudah di atur sama yang Maha Kuasa"
"Ini adik kamu Na, siapa namanya?" Tanya Anista mengusap kepala anak laki laki berusia 12 tahun itu
"Iya Nist, namanya Hisyam. Syam salam sama Kakak Anista" kata Hasna
Hisyam mengangguk lalu menyalami Anista dengan sopan "Aku Hisyam Kak"
Anista mengelus kepala Hisyam "Panggil Teteh saja ya"
Hisyam mengangguk mengerti "Iya Teh"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Anista tersenyum melihat Safira dan Evan yang sedang bermain dengan Hisyam. Anak laki laki itu begitu lembut untuk menjaga kedua balita di bawah umurnya itu.
"Adik kamu pendiam ya Na?" Kata Anista
Hasna tersenyum "Sebenarnya dia sangat bawel waktu kecil. Tapi, setelah kepergian orang tua kita. Dia jadi seperti itu"
Anista mengangguk mengerti "Mungkin dia masih terlalu kecil untuk merasakan di tinggalkan seperti itu"
"Iya" Hasna menatap adiknya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sementara itu kedua pria tampan sedang berada di halaman rumah. Keduanya terlihat sedang membahas suatu hal.
"Kau menyukainya'kan?" Tanya Yudha
Saat ini kedua sahabat ini sedang berdiri di bawah pohon mangga yang berada di halaman rumah Anista. Rindang daunnya membuat terasa sejuk berada di sana di sore hari seperti ini.
"Siapa maksud Tuan?" Tanya Bima
Yudha mendengus "Jangan pura pura bodoh kau, aku tidak pernah melihat kau sampai seperti ini pada seorang wanita. Bahkan tanpa di suruh pun kau rela datang ke kotanya untuk memberitahukan kabar duka ini. Bukan hanya karena kau ingin bertemu dengan nya"
Bima terdiam, atasan sekaligus sahabatnya ini memang sangat sulit untuk dia bohongi.
"Aku hanya mencoba membuat Nona bahagia saja dengan adanya temannya itu di situasi seperti ini" jawab Bima datar
"Kau masih saja mengelak, apalagi yang kau tunggu? Aku sudah bahagia bersama anak istriku, tinggal kau yang harus menemukan kebahagiaanmu sendiri" kata Yudha
"Kau tahu semuanya Yudh, aku masih menunggunya"
Setelah berkata seperti itu Bima langsung berlalu dari sana tanpa ingin mendengar lagi ocehan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, komen sama kasih hadiahnya ya. biar makin semangat nulisnya.