
Malam ini adalah malam pertama untuk Yudha bisa berdua lebih lama bersama sang istri. Sebelum adanya pengasuh, maka Anista harus menemani anak anaknya untuk tidur lebih dulu.
Barulah dia akan menemui Yudha, bahkan bukan hanya sekali Anista sampai ketiduran di kamar anak anaknya sampai Yudha harus menyusulnya karena tidak bisa tidur jika istrinya belum kembali.
Bersyukurnya Safira dan Evan langsung nyaman dan cocok bersama pengasuh mereka. Jadi, mereka tidak rewel saat harus di temani pengasuhnya untuk tidur.
Anista mengerti arti tatapan Yudha padanya malam ini. Bukan tidak tahu, Anista juga cukup mengerti apa yang diinginkan suaminya. Namun, dia juga tidak mungkin memulainya jika Yudha saja masih diam, tidak meminta haknya.
Dan malam ini Anista cukup mengerti melihat tatapan penuh gairah dari suaminya. Anista duduk di pinggir tempat tidur dengan perasaan tidak karuan. Takut, cemas juga gelisah.
Anista menggeleng pelan saat bayangan bayangan di dalam kamar hotel malam itu mulai menghantui fikirannya. Tidak.. dia tidak boleh terpengaruh dengan fikirannya itu. Dia harus tetap tenang dan menghilangkan bayangan bayangan menyeramkan dalam kepalanya.
Grepp...
Yudha langsung memeluknya dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di leher Anista. Mencium pipinya berkali kali.
"Kok malah melamun gitu? Kenapa hmm?" Tanya Yudha lembut
Anista menghela nafas "Gak papa"
"Boleh gak? Aku minta hak aku sama kamu sekarang?" Tanya Yudha sedikit ragu
Anista memejamkan matanya, menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan perlahan "Aku harus siap Mas, ini sudah kewajiban aku"
Yudha tersenyum mendengarnya, wanitanya benar benar mengerti kewajiban sebagai istri. Yudha mulai melancarkan aksinya. Menarik Anista untuk berbaring di tempat tidur mereka.
Anista hanya pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Malam ini dia benar benar harus menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Yudha memulai dari ciuman di bibir Anista. Dia lakukan dengan begitu lenbut, tangannya mulai membuka kancing piyama tidur yang di kenakan istrinya.
Yudha meraih remote control di atas nakas dengan posisi tubuhnya yang masih berada di atas Anista, bertumpu pada kedua lututnya. Seketika lampu langsung padam dan itu membuat Anista terkejut.
Tangan Yudha yang masih menyentuh bagian dadanya membuat Anista semakin gelisah. Bola matanya mulai bergerak gelisah dan ketakutan.
Yudha kembali mencium bibir Anista, belum menyadari dengan keadaan istrinya itu. Semakin lama Yudha semakin di kuasai gairahnya. Dia semakin rakus melu*mat bibir Anista.
Hah...hah...
Anista menghirup nafas dalam dalam saat Yudha memberi jeda pada ciuman mereka. Saat Yudha akan mencium kembali, namun Anista langsung mendorong dada Yudha membuat pria itu terkejut.
"Jangan...tolong jangan lakukan ini, Tuan. Aaa.. Saya mohon, Tuan" teriak Anista begitu histeris
Yudha mematung mendengarnya, dia sadar jika wanitanya belum sepenuhnya sembuh dari trauma yang dia ciptakan beberapa tahun lalu.
__ADS_1
Yudha bangun dari atas tubuh Anista, dia mendekap erat tubuh bergetar itu "Sayang, hei tenang. Ini aku Sayang, suamimu"
Anista menangis sesenggukan, beringsut memeluk tubuh Yudha yang berada di sampingnya sekarang.
Hiks hiks...
Isakan itu sungguh membuat hati Yudha begitu sakit, dia tidak suka melihat wanitanya menangis. Apalagi dia menangis karena dirinya.
"Tenang ya, aku gak akan apa apain kamu. Semuanya akan baik baik saja, kamu harus tenang" kata Yudha dengan tangan terus mengelus rambut istrinya agar bisa lebih tenang.
Anista mulai mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan. Dia mencoba tidak terus terperangkap dengan masa lalu kelam itu. Dia harus bangkit dan hidup dengan baik tanpa terus di hantui ketakutan itu.
Anista mendongak, menatap wajah suaminya yang juga terlihat cemas "Mas, maaf"
Yudha menggeleng pelan mendengar suara lirih Anista "Gak papa, jangan minta maaf kamu gak salah apapun"
"Nist belum bisa jadi istri yang sempurna untuk kamu, Mas. Apalagi saat ini aja Nist malah mengacaukan malam pertama kita. Maaf.."
"Shutt.." Yudha menempelkan jari telunjuknya di bibir Anista agara wanita itu tidak melanjutkan semua perkataannya.
"Kamu gak salah, gak perlu minta maaf. Aku mengerti apa yang kamu alami selama ini tidak mudah sampai terlalu sulit untuk kamu lupakan dan semakin membekas di ingatan kamu. Kita bisa mulai malam pertama kita ini lain kali, masih banyak waktu untuk itu"
Anista terdiam, begitu beruntungnya dia mendapatkan suami seperti Yudha. Pria tampan yang begitu mengerti tentang keadaannya dan perasaannya.
"Terimakasih Mas"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Dua hari beralalu setelah kejadian malam itu, Anista sudah mempersiapkan malam sepesial untuk suaminya. Setelah mencoba menghilangkan segala ketakutannya untuk malam berkesan bersama sang suami.
Sudah saatnya aku menyempurnakan pernikahan ini. Ridhailah kami Ya Allah.
Anista tersenyum saat tangan kekar melingkar di perutnya dan sebuah kecupan hangat dipipinya "Pagi Mas"
"Pagi Sayang"
Yudha menarik kursi meja makan dan duduk di sana. Anista segera mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Anak anak mana Sayang?" Tanya Yudha
"Sama Teh Isni, Evan sudah sarapan duluan dan sekarang Safira sedang di suapi sama Teh Isni" jelas Anista
Yudha mengangguk kecil "Yaudah sekarang kita sarapan"
__ADS_1
Anista mengangguk "Hmm"
Pagi ini Anista sudah begitu lega dengan apa yang sudah dia persiapkan untuk nanti malam. Sudah saatnya dia melawan segala ketakutan dalam dirinya. Trauma yang dia alami harus dia lawan, tidak mungkin dia terus terusan menunda kewajibannya sebagai istri.
Malam harinya Yudha pulang, hari ini sangat melelahkan baginya. Sampai di rumah juga anehnya sang istri tidak menyambutnya di ruang tengah seperti biasanya. Padahal Yudha selalu merasa lebih baik setelah bertemu anak dan istrinya.
"Dimana istriku dan anaku?" Tanya Yudha pada Pak Danu
"Nona Muda telah berada di kamarnya dan anak anak sudah tidur"
Yudha mengangguk mengerti "Aku memang pulang telat hari ini, mungkin istriku sudah kelelahan sehingga tidur duluan"
"Mari saya antar ke atas Tuan, apa mau saya siapkan air untuk mandi?" Tanya Pak Danu
Yudha menggeleng "Tidak perlu, aku sudah mandi tadi di kantor"
"Baiklah"
"Istirahatlah Pak, tidak perlu mengantarku ke atas" kata Yudha yang di jawab anggukan oleh Pak Danu
Ceklek
Yudha membuka pintu kamarnya dan tertegun melihat penampilan istrinya yang sedang berdiri di depan cermin. Anista belum menyadari kedatangan suaminya.
"Ahhh.. Malu sekali jika aku harus tampil seperti ini di depan Mas Yudha. Aku ganti saja lagi" kata Anista
Anista berbalik dan tertegun melihat Yudha sudah berdiri di depannya. Anista diam mematung melihat tatapan suaminya yang terlihat begitu penuh gairah.
"Kau ingin menggodaku ya?"
Yudha berjalan mendekat dengan Anista yang juga bergerak mundur. Grepp... Yudha mencekal tangan Anista dan menariknya ke dalam pelukan sehingga tanpa sengaja bibir mereka bertemu begitu saja.
Tidak ingin lagi menyia nyiakan kesempatan, Yudha langsung melu*matnya dengan begitu lembut. Sedikit bergerak untuk mendekati tempat tidur, di dorongnya pelan tubuh istrinya sehingga kini terjerambah di atas ranjang.
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi sayang" lirih Yudha dengan suara serak penuh gairah
"Lakukanlah Mas, sudah kewajiban Nist juga. Tapi, tolong jangan kasar karena itu akan membuat Nist takut" kata Anista
Yudha mengangguk dan langsung melancarkan aksinya. Dia benar benar melakukannya dengan begitu lembut sampai Anista mencengkram sprei putih itu dan memejamkan matanya.
Malam pertama mereka benar benat terjadi dan Anista bisa mengalahkan traumanya terhadap hal ini. Kini pernikahan mereka telah sempurna.
Bersambung
__ADS_1
Maaf aku up nya telat, lagi banyak urusan di dunia nyata. Jangan lupa, like komen dan kasih vote juga hadiahnya ya.. 🤗