
Yudha benar benar kacau dengan keadaan ini. Ayah mertuanya meninggal setelah hari pernikahannya. Istrinya yang sampai sekarang belum juga sadarkan diri.
"Kau jaga istrimu saja, urusan soal Ayah mertuamu biar aku yang urus" mata Bima
Jika tidak ada Bima sebagai asisten nya, Yudha benar benar tidak tahu dia akan bagaimana menjalani hiudpnya ini. Bima selalu ada di saat apapun yang dia alami.
Yudha mencium punggung tangan Ayah mertuanya untuk yang terakhir kalinya "Abah yang tenanglah di sana, putrimu akan selalu aku jaga sampai akhir hayatku"
Setelah itu Yudha langsung berlalu menuju ruangan istrinya. Di lihat di sana Anista masih belum sadarkan diri dengan tangan yang di pasang infus.
Yudha duduk di pinggir ranjang pasien, tangannya menggenggam tangan Anista yang tak terpasang infus. Di ciumnya berkali kali tangan mungil itu.
"Sayang bangun yuk, Abah sudah bahagia di sana. Kamu harus ikhlas" lirihnya
Yudha menatap nanar wajah wanitanya yang terlihat pucat. Melihat Anista seperti ini saja sudah membuatnya kacau, apalagi jika Anista sampai meninggalkannya. Tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, Yudha akan hancur.
Mata cantik itu mulai mengerjap pelan, dengan suara lirihan yang terdengar oleh Yudha "Abah jangan tinggalin Nist, bawa Nist bersama Abah. Nist gak punya siapa siapa lagi. Abah... Abah..."
Yudha mengusap pipi Anista "Sayang sadar, jangan bicara seperti itu. Kamu masih punya aku dan anak anak"
Akhirnya Anista membuka kedua matanya dengan sempurna "Mas.. Hiks Hiks.. Abah.."
Yudha mengangguk dan mencium kembali punggung tangan Anista "Iya Sayang, kamu harus kuat. Abah sudah tenang berada di sana, ikhlaskan dia ya. Kamu masih punya aku dan masih banyak lagi yang menyayangimu. Sayang kuat ya"
Anista mengangguk dengan air mata yang menetes di sudut matanya "Aku mau lihat Abah untuk yang terakhir kalinya, Mas"
Anista langsung bangun dan mencoba untuk membuka paksa selang infus yang berada di punggung tangannya. Hal itu tentu saja membuat Yudha terkejut dengan tindakan Anista.
"Sayang jangan kaya gini, Sayang dengerin aku. Sayang!"
Yudha mencengkram kedua tangan Anista yang masih berontak mencoba untuk melepaskan selang infus di tangannya.
"Kalo kamu kayak gini, aku gak akan izinin kamu keluar dari ruangan ini. Ngerti!" kata Yudha tegas
__ADS_1
"Tapi Mas, aku ingin ketemu Abah. Lepasin Nist Mas, lepas" Anista masih mencoba melepaskan kedua tangannya dari cekalan tangan Yudha.
"Gak kayak gini caranya, aku bakalan anterin kamu ke Abah kamu. Tapi, gak perlu lepas infusnya" kata Yudha
Anista akhirnya mengangguk "Yaudah ayo Mas"
Yudha pun menuntun Anista dengan menyeret tiang infus itu menuju ruangan Ayahnya yang masih belum pindah ruangan karna Bima masih mengurus semuanya untuk kepulangan mendiang Sumintar.
Anista bersimpuh di samping ranjang tempat Ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. Dia sandarkan kepalannya ke sisi ranjang, suara tangisan begitu terdengar diruangan itu.
"Kenapa Abah juga ninggalin Neng sama seperti Ibu? Abah tau'kan Neng tidak punya keluarga lagi selain Abah. Terus sekarang Neng harus bagaimana? Hiks.. Hiks.."
Yudha ikut berlutut di lantai, dia peluk tubuh istrinya dari belakang "Sayang sudah ya, jangan kayak gini. Ikhlaskan Abah, biar dia tenang di atas sana"
"Hiks.. Nist harus gimana? Sekarang orang tua Nist satu satunya sudah pergi meninggalkan Nist untuk selamanya. Nist harus gimana?" Lirih Anista
Yudha merasa hatinya hancur, dia melihat bagaimana rapuhnya Anista. Dia seolah kehilangan jalan arah saat Ayahnya meninggalkan nya. Anista seolah takut jika hidupnya akan hancur saat kehilangan Ayahnya. Karna itulah yang dia rasakan saat Ibunya tiada.
"Dulu saat Ibu pergi ada Abah yang masih Neng punya. Tapi sekarang, Neng harus sama siapa?"
"Sayang kamu masih punya aku, Evan, Safira dan yang lainnya yang menyayangi kamu" kata Yudha sambil mengelus punggung Anista yang bergetar
Anista berdiri dan menatap teduh pada tubuh Ayahnya yang sudah terbujur kaku. Dia buka kain yang menutupi tubuh hingga wajah Ayahnya itu.
Cup
Anista mencium kening Ayahnya untuk yang terakhir kali "Neng ikhlas, semoga Abah bahagia di sana bersama Ibu"
Yudha tersenyum sambil merangkul bahu istrinya "Abah pasti bahagia bersama Ibu di Surga"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Aku ingin Abah di makamkan di kampung, tepat di samping makam Ibuku"
__ADS_1
Begitulah yang di katakan Anista, dan akhirnya semua keluarga kembali pulang ke rumah saat proses pemakaman selesai. Sebagian kembali pulang ke rumah masing masing. Ada juga yang menyempatkan untuk ke rumah Anista untuk mengucapkan belasungkawa pada keluarga yang di tinggalkan.
Anista sudah lebih tegar dari sebelumnya, dia sudah bisa mengikhlaskan Ayahnya kembali ke pangkuan sang Ilahi.
Tahlilan hari pertama di laksana di rumah sederhana ini. Rumah Anista di penuhi oleh orang orang sampai ke bale rumahnya. Setiap lantunan doa yang di pimpin oleh pemuka agama terdengar menggema di sekitaran rumah Anista.
Selesai acara tahlilan, masih banyak Bapak Bapak yang masih diam untuk sekedar mengobrol. Begitulah keadaan di kampung, bahkan Yudha, Bima, dan David juga ikutan bergabung dengan mereka yang masih tinggal di rumah Anista.
"Jadi Ujang teh tos nikah sareng Neng Anis?°" Tanya Pak Rt
(Jadi kamu sudah menikah dengan Neng Anis?°)
Yudha terlihat menggaruk tengkuknya karna tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Pak Rt.
Surya yang juga berada di sana hanya terkekeh lucu melihat wajah Yudha "Maksudnya kamu teh udah menikah sama Neng Anis? Gitu"
Yudha menoleh ke arah Surya, masih merasa tidak suka saat mendengar pria itu memanggil Anistanya seperti itu. Namun, kali ini dia maafkan karna Surya sudah membantunya mengartikan pertanyaan dari Pak Rt.
"Iya Pak, saya sudah menikah kemarin di kota. Kami menikah secara sah dan resmi secara hukum dan agama. Maaf semuanya terasa mendadak karna ini permintaan dari Abahnya Anista" jelas Yudha
Pak Rt mengangguk "Iya, Bapak teh mengerti"
Anista datang menghampiri mereka yang masih betah berada di rumahnya padahal hari sudah malam "Punteun Pak, caroge Neng teh teu tiasa bahasa Sunda"
(Maaf Pak, Suami saya tidak bisa bahasa Sunda)
Pak Rt mengangguk "Iya Neng, pantes atuh wajahnya saja meni Bule kieu"
Yudha hanya tersenyum masam, sungguh dia ingin semua ini segera berakhir. Dia benar benar tidak mengerti apa yang mereka katakan.
Bima tersenyum tipis. Kau memang sangat pandai dalam berbahasa berbagai Negara. Tapi, tidak dengan bahasa daerah seperti ini.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, Komen dan kasih hadiahnya juga. Vote nya juga ya..