Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Menghibur Priaku


__ADS_3

"Mana Evan?" Tanya Yudha


"Ada di bawah lagi main sama Safira" jelas Anista


Yudha mengangkat satu alisnya "Siapa yang menjaga mereka?"


"Ibu kamu, Mas"


Hah......


Tentu saja Yudha terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh calon istrinya itu. Ibunya bukan wanita penyuka anak kecil, dia hanya menyayangi dan menyukai Safira saja sebagai cucunya.


Meskipun Yudha tahu jika Evan juga cucunya. Tapi, melihat bagaimana Varinda tadi menentang keputusannya membuat Yudha tidak yakin jika Varinda bisa menerima Evan sebagai cucunya.


"Kamu yang bener Nist?" Tanya Yudha seolah tidak percaya


Nist??


Entahlah Anista merasa tidak suka dengan panggilan Yudha itu. Padahal dulu juga sering Yudha memanggilnya seperti itu.


Tapi, setelah cukup lama Anista selalu mendengar Yudha memanggilnya 'Sayang' dan tanpa sadar panggilan itu membuatnya nyaman dan merasa begitu di cintai.


"Aku masih gak percaya kalo Mami bisa segampang itu dekat dengan Evan. Kamu gak bohong'kan Nist?" Tanya Yudha


Lagi lagi pria itu memanggilnya seperti itu. Yudha juga tidak sadar dengan panggilan nya pada Anista. Dia hanya sedang bingung dengan apa yang Anista katakan. Fikirannya sibuk menerka nerka, apa yang sebenarnya di rencanakan Ibunya.


"Awww" Yudha meringis saat tiba tiba Anista memukul tangannya yang di balut perban itu. "Apa?"


Anista cemberut, begitu kesal "Kok manggilnya gitu? Udah gak sayang lagi sama aku?"


Hah?..


Yudha di buat melongo dengan sikap Anista yang sangat kekanak kanakan tapi begitu menggemaskan di matanya.


Bahkan Yudha saja tidak sadar dengan panggilannya itu. Namun, dia bahagia karena Anista merasa nyaman dan suka dengan panggilan sayangnya itu.


"Memangnya kamu mau di panggil apa? Kan nama kamu memang Anista" kata Yudha, sengaja ingin menggoda kekasih hatinya ini.


Iya'kan biasanya juga gak panggil nama.


"Ya udah gak papa panggil nama saja" kata Anista dengan wajah semakin di tekuk kesal


Yudha tertawa dan langsung memeluk wanitanya itu. Mencium gemas pipi Anista "Iya deh Sayangnya aku, gitu? Maunya di panggil kayak gitu?"


Anista tersenyum malu dalam pelukan Yudha. Entahlah, dia sudah terlanjur nyaman dengan panggilan Yudha itu. Tidak peduli jika dia di bilang lebay, karna memang kenyataan nya dia begitu nyaman dengan panggilan itu.

__ADS_1


"Tapi...." Yudha melepaskan pelukannya, menatap Anista dengan tatapan tidak bisa di artikan "Aku juga ingin kamu merubah panggilanmu. Masa wajah bule kayak aku ini kamu panggil Mas?"


Anista terkekeh lucu, benar juga apa yang di katakan Yudha. "Yaudah maunya di panggil apa? Daddy?"


Yudha mendelik kesal "Kalo kamu manggilnya gitu, yang ada orang orang ngira kamu itu anak aku"


"Hahahaha... Benar juga ya, emang umur kamu berapa si Mas?" Tanya Anista tertawa lucu


"36" jawab Yudha datar, seolah tidak terima jika umurnya sudah setua itu.


"Hah... Tua banget dong ya?" Lirih Anista, namun masih terdengar oleh Yudha


Yudha langsung memeluknya dan menciumi wajah Anista tanpa ampun membuat gadis itu tertawa geli.


"Hahaha.. Ampun Mas, ampun" teriak Anista mencoba menghindari Yudha yang terus mencium wajahnya dan menggesek gesekan hidungnya di wajah Anista


"Bilang sekali lagi aku tua? Mau cari pria lain gitu, yang lebih muda?" Kata Yudha


Apaan? Kok malah kesitu nyambunya si.


"Enggak Mas, ihh.. geli.. Hahaha.. Aku'kan belum selesai ngomongnya, kamu emang udah tua, tapi tetap tampan menawan" teriak Anista dengan diiringi tawa karna Yudha terus menciuminya


Yudha menghentikan aksinya, sebenarnya dia bukan kesal karna Anista menyebutnya tua. Hanya saja dia memanfaatkan kesempatan agar bisa menciumi wajah wanitanya yang begitu menggemaskan. Ini rahasianya ya, jangan sampai kalian bocorkan.


"Iyalah, aku emang tampan. Lihatlah Evan, dia itu mewarisi wajahku. Dia terlihat begitu tampan kan sama kayak Daddy nya" kata Yudha bangga


"Berarti kita aja umurnya udah beda 15 tahun ya. Tapi gak papalah, Nist kan cinta sama Mas Yudha yang tampan menawan ini. Jadi, gak masalah soal umur mah" kata Anista tersenyum menggoda


Yudha mencium bibir Anista dengan gemas sampai gadis itu kelabakan karna terkejut juga tidak biasa. Bahkan dia sampai kehabisan nafas.


Hah.. Hah..


Anista menghirup udara sebanyak banyaknya setelah Yudha melepaskan ciumannya. "Gak boleh gitu Mas ihh"


Yudha mengangkat satu alisnya "Kenapa?"


"Tau ahhh. Dasar tua tua mesum" kesal Anista


"Apa kamu bilang? Mesum gini juga kamu cinta'kan?" Kata Yudha dengan penuh percaya diri


Iya si.


"Cepetan nikahin aku Om, biar gak jadi dosa gini terus" kata Anista sengaja memanggilnya seperti itu untuk menggoda Yudha.


"Berani ya kamu goda aku terus,, Hmmm.. Hmmm" Yudha kembali menciumi wajah Anista

__ADS_1


"Hahaha.. Iya iya, udah dong ahh aku capek ketawa mulu"


Anista mendorong wajah Yudha yang terus menghujaninya dengan ciuman. Abah.. Cepat nikahkan Neng, sepertinya calon suami Neng ini haus ciuman..


Tidak tahu saja Anista jika Yudha bukan hanya haus ciuman. Tapi juga haus belaian di atas ranjang. Siap siap saja dia tidak akan bisa lepas dari terkaman pria di depan nya ini nanti jika sudah menikah.


Anista tersenyum melihat Yudha yang kembali bisa tersenyum bahkan tertawa. Akhirnya dia bisa menghibur prianya ini dan membuat dia bisa melupakan masalahnya walau hanya sebentar.


Tak apa aku di ciumin terus sampe capek tertawa. Yang penting dia bisa tersenyum lagi. Setidaknya aku bisa menghibur priaku saat ini.


Segitu cintanya Anista pada Yudha, pria itu menempati hatinya yang kosong. Kini ada tiga pria yang begitu berarti di hidup Anista. Ada Ayahnya, Evan dan Yudha dan ada dua wanita yang paling Anista sayangi. Mendiang Ibunya dan Safira.


"Nist" panggil Yudha


Anista kembali cemberut "Tuhkan"


"Hahaha. Iya iya, Sayang sini peluk" Yudha merentangkan tangannya ingin Anista masuk ke dalam pelukannya.


Anista langsung menghambur ke dalam pelukan Yudha "Itu tangan kamu gak sakit?"


Yudha mencium puncak kepalanya "Enggak. Lebih sakit kehidupan yang aku jalani"


Deg


Hati Anista tersayat mendengar ucapan Yudha. Dia mendongak dan menatap wajah Yudha yang kembali datar dengan tatapan kosong.


"Kita obati sama sama ya luka itu, kita rubah sakit itu menjadi bahagia" kata Anista


Yudha tersenyum lirih dan semakin mengeratkan pelukannya "Aku mencintaimu Anistaku, Sayangku"


Wajah Anista langsung memerah mendengar ucapan Yudha, begitu bahagia "Aku juga Mas"


"Sekali kali panggil Sayang, biasakan!" Bukan pertanyaan tapi itu adalah pernyataan.


Anista mengangguk "Iya akan aku biasakan"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Varinda mengusap ujung matanya yang berair. Tersenyum sambil menutup pelan pintu kamar yang di tempati oleh anaknya.


Ternyata kau benar, dia bisa membuatmu bahagia. Bahkan sudah lama sekali Mami tidak melihat kamu tertawa lepas seperti itu. Baiklah saat ini Mami tidak akan memaksakan kehendak lagi. Berbahagialah dengan pilihan kamu itu, Nak.


Varinda pun melanjutkan langkahnya, dia sudah cukup yakin dengan keputusan yang dia ambil. Apa yang Yudha katakan adalah benar, Anista adalah kebahagiaan untuk anaknya. Dan itu sudah cukup untuknya menyadari semua keegoisannya selama ini.


Mami memang bukan Ibu yang baik untukmu Yudh. Tapi, Mami akan mencoba menjadi lebih baik mulai sekarang.

__ADS_1


Bersaambung


Jangan pelit pelit kasih like sama hadiah ya.. jangan lupa komennya juga.. biar ada obat nih tangan pegel...


__ADS_2