Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Nasihat Bi Nenti


__ADS_3

"Aku tidak akan pulang jika tidak membawamu bersamaku"


Anista mendelik kesal, tidak peduli lagi dengan ucapan Yudha. Dia hanya fokus pada kayu bakar di depannya agar terus menyala dan nasi yang sedang dia masak segera matang.


Anista ingin segera meninggalkan dapur dan pria tampan yang masih berdiri menemaninya ini.


"Bundaaaaa"


teriakan anak kecil di balik pintu dapur berhasil mengalihkan perhatian dua orang dewasa yang ada di dapur itu. Yudha tersenyum melihat anaknya yang muncul dengan wajah khas baru bangun tidur.


Anista berdiri dan menghampiri putranya itu "Sebentar banget tidurnya Nak. Mau mandi sekarang?"


Evan menggeleng "Nanti saja ya Bunda"


Anista tersenyum kemudian mengangguk, dia mencium puncak kepala Evan "Baiklah"


"Bunda, Abah dimana?" Tanya Evan


"Abah pergi ke sawah mungkin sebentar, mau apa?" Tanya Anista sambil menyiapkan bakul nasi, sepertinya nasi yang di masaknya sudah matang.


"Gak papa, oh ya Om masih disini ya?" Tanya Evan baru menyadari keberadaan Yudha


Hati Yudha tersayat saat mendengar putranya memanggil dia dengan sebutan 'Om'. Sabarlah Yudh, sebentar lagi anakmu akan memanggilmu seperti seharusnya. Kau tidak boleh membuatnya terkejut dengan kenyataan ini. Harus perlahan lahan memberi tahu padanya.


Yudha tersenyum "Kan Om kesini mau jemput Bunda buat ikut pulang sama Om. Tapi, Bundanya gak mau. Kamu bantuin Om buat bujukin Bunda ya"


Yudha berjalan mendekat ke arah Evan yang sedang duduk di ambang pintu dengan kaki yang menjutai ke bawah.


"Emangnya kenapa Bunda harus ikut sama Om?" Tanya Evan polos


Fppthh..


Hampir saja tawa Anista lepas begitu saja saat mendengar pertanyaan polos sang anak.


"Kan Om mau jadi ayahnya kamu, kalo Bunda gak ikut sama Om gimana Om bisa jadi ayahnya Evan" kata Yudha mulai mengungkit kenyataan nya pada bocah kecil itu


Evan terlihat berfikir keras, mimik wajahnya begitu menggemaskan di mata Yudha. Ya Tuhan anaku benar benar lucu. Semoga saja Bundanya mau menerima aku kembali dengan segala kesalahan yang telah aku perbuat.


"Kaya A Surya ya? Dia juga ingin jadi Ayahnya Evan, tapi Bundanya gak mau ikut sama A Surya jadi gak bisa deh" kata Evan polos


Uhuk uhuk..


Anista langsung terbatuk batuk saat mendengar kejujuran yang di ucapkan anaknya. Kenapa Evan malah membahas Aa Surya si.


"A Surya? Siapa dia?" Tanya Yudha menyelidik


"A Surya juga suka bilang mau jadi Ayahnya Evan" jelas bocah kecil itu apa adanya


Sial.. Ternyata ada laki laki lain yang mengincar Anistaku. Tidak akan ku biarkan, enak saja ingin menggantikan posisiku sebagai ayahnya Evan.

__ADS_1


"Bunda, Evan mau nonton dulu ya di dalam" kata bocah kecil itu sambil menaikan kedua kakinya yang menjuntai lalu berlari ke dalam rumah.


"Iya"


Yudha mendekat ke arah Anista yang sedang memotong motong bawang merah. Sepertinya Anista akan lanjut memasak setelah nasinya matang.


"Siapa Surya?" Tanya Yudha dingin


Api cemburu tak bisa dia tutupi lagi. Apalgi mengingat hubungan mereka yang sekarang sedang tidak baik baik saja. Tentu saja Yudha takut jika Anista akan meninggalkan nya dan berpaling ke lain hati.


Anista mendongak, mengerutkan keningnya saat melihat tatapan Yudha yang dingin menusuk "Temanku"


Yudha mengangkat sebelah alisnya seolah meminta penjelasan. 'Tidak ada kata teman di antara laki laki dan perempuan'. Begitulah arti tatapan matanya itu.


"Di memang temanku, apa masalahnya sama Tuan? Bebas dong saya mau berteman dengan siapa saja" kata Anista sambil memasukan irisan bawang ke wajan yang telah panas di atas tungku kayu bakar


"Tidak bisa! Kau adalah calon istriku dan akan hanya menjadi istriku" tekan Yudha lalu dia berlalu pergi ke dalam rumah.


Yudha takut tidak bisa menahan emosinya dan akan menyakiti Anista lagi. Mengingat bagaimana dia sangat sulit untuk meredam emosinya apalagi menyangkut wanita yang di cintainya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Malam ini suasana di ruang tengah begitu berbeda. Makan malam yang dihadiri seorang yang menjadi ayah biologisnya Evan.


Anista hanya diam dan memakan makan malamnya, tidak ingin banyak bercerita seperti biasa jika dia sedang berkumpul dengan keluarganya.


Anista mengangguk "Iya Bah, Nist juga besok mau ke rumah Bi Nenti"


"Evan ikut... Bunda Evan mau ikut ya" kata Evan


"Iy...."


"Evan di rumah aja, nanti kamu jalan jalan sama Om. Mau gak? Kita beli mainan yang banyak ya" kata Yudha langsung memotong ucapkan Anista


"Mau"


"Gak boleh"


Suara Anista dan suara Evan serempak berteriak membuat Yudha tersenyum gemas melihat tingkah laku Ibu dan anak ini.


"Evan gak boleh ikut sama Om ini, Evan meningan ikut Bunda ke rumah Nenek Nenti aja. Lagian gak boleh minta minta di beliin mainan sama orang lain" kata Anista


Deg


"Aku bukan orang lain, aku ini Dadd...."


"Sudahlah. Sekarang meningan Evan tidur, udah malem" Anista langsung memotong ucapan Yudha yang dia tahu kemana arahnya.


"Pokoknya besok Evan ikut Om jalan jalan. Kita beli mainan yang banyak ya" kata Yudha sedikit memaksa

__ADS_1


"Gak bi...."


"Sudahlah Neng, biarkan Evan bersama Yudha. Lagian Nak Yudha gak mungkin lukain Evan" kata Abah Mintar memotong ucapan Anista


"Tapi Bah, Neng...."


"Percaya sama Abah, kalo sampe Yudha berani macam macam lagi sama kamu atau sama Evan. Abah pastikan dia gak akan bisa ketemu sama kalian berdua lagi"


Yudha menelan salivnya dengan susah payah. Perkataan Sumintar berhasil membuatnya merasa terancam.


"Iya Nist, lagian aku cuma mau ajak jalan jalan anak ak..."


"Anak aku!" Tekan Anista menatap tajam pada Yudha


Yudha menghela nafas dan akhirnya megangguk saja. Anak kita.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Meski berat, namun pada akhirnya Anista mengizinkan Evan untuk pergi jalan jalan sama Yudha. Melihat bagaimana antusias anaknya itu membuat Anista langsung luluh dan tidak bisa menolak keinginan anaknya.


"Jadi, siapa laki laki yang semalam menginap di rumahmu Nist?" Tanya Bi Nenti


Anista menghela nafas "Jika Nist cerita, apa Bibi akan percaya?"


Bi Nenti duduk di sofa samping Anista "Tentu saja"


"Sebenarnya... Dia adalah ayah kandung Evan"


"Hah?? Pantesan atuh Evan teh wajahnya udah kaya kaya bule gitu. Ayahnya orang kaya toh, ya meskipun Bibi belum melihat langsung Ayahnya itu" cerocos Bi Nenti


"Iya Bi, dan dia ngajakin Nist buat nikah. Tapi, Nist gak siap. Awalnya Nist memang mempunyai hubungan serius dengan dia. Tapi setelah....."


Anista pun menceritakan semuanya pada Bi Nenti. Untuknya Bi Nenti bagaikan pengganti Ibunya yang bisa menjadi tempat dia bercerita apapun. Bi Nenti pun sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Bagiamana dulu Anista melewati masa masa sulit. Bi Nenti tahu semuanya.


"Kalau menurut Bibi ya Nist, lebih baik kamu fikirkan baik baik keputusan yang akan kamu ambil saat ini"


"Fikirkan juga masa depan Evan dan juga kebahagiaan nya. Mungkin Evan terlihat anak ceria pada umumnya. Tapi, kamu harus tau jika Evan juga membutuhkan kasih sayang dan sosok seorang Ayah di hidupnya" nasihat Bi Nenti


Anista terdiam mendengar nasihat dari Bi Nenti. "Tapi, Nist belum siap untuk bersama laki laki yang sudah merusak hidup Nist, Bi"


Bi Nenti tersenyum teduh dan mengelus punggung Anista "Tidak perlu kamu mengambil keputusannya sekarang Nist. Kamu bisa fikirkan dulu baik baik dan lihatlah dulu bagaimana perjuangan Ayah kandungnya Evan itu untuk bisa mendapatkan mu"


Anista mengangguk mengerti "Iya Bi, NuhunΒ° atas nasihatnya"


(TerimakasihΒ°)


Bersambung


Jangan lupa like dan komen, votenya juga ya.. Kasih hadiahnya dong.. πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2