Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Kembali Bekerja


__ADS_3

Malam ini Yudha kembali menelpon Anista, dia sudah tidak bisa mengontrol perasaan nya lagi. Yudha sudah terlanjur nyaman pada gadis ini. Yudha telah menyadari dan benar benar yakin jika perasaan nya ini adalah perasaan cinta dan sayang.


"Hmm. Lagi apa?"


"Lagi nidurin Evan"


"Evan?"


Anista langsung tersadar dengan apa yang di ucapkannya barusan. Aduh kenapa harus keceplosan segala si.


"Ekhem. Iya ponakan aku Evan lagi ada di rumah"


"Ohh.. Besok kamu pulang ke sini kan?"


Anista mengangguk "Iya Tuan"


"Baiklah sampai ketemu besok"


"Iya Tuan"


Setelah cukup lama mereka bercerita, Yudha pun memutuskan sambungan telponnya. Anista berbaring di tempat tidurnya tepat di sebelah Evan yang sudah terlelap.


Anista menoleh ke arah putranya, mengelus lembut kepala putranya sambil tersenyum "Selamat tidur Nak, besok kita mulai lagi berjuang di kota"


...Anista pun memejamkan matanya, dia terlelap....


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Akhirnya Anista kembali ke kota setelah seminggu berada di kampung halamannya. Setelah mengantarkan Evan ke rumah Bu Nina, Anista langsung menuju rumah majikannya.


Yudha yang semalam menelpon Anista dan tahu jika pengasuh anaknya ini akan kembali hari ini tentu saja bersorak riang. **** tentu saja dia tidak memperlihatkan nya.


"Assalamualaikum"


Anista membuka pintu rumah belakang tempat para pekerja tinggal. Memang pintunya tidak di kunci jika siang karna banyak pekerja yang selalu keluar masuk lewat pintu itu.


"Anis, kamu udah pulang"


Salah satu senior Anista langsung memeluknya, dia cukup merindukan gadis ini yang selalu ceria dan membuatnya tertawa jika sedang bercerita.


Anista sudah seperti anak bungsu untuk para pekerja disana karna dia adalah pekerja yang paling muda di antara yang lainnya.


"Iya Teh, Nist teh cuma di kasih izin satu minggu berada di kampung" kata Anista seraya membalas pelukan seniornya itu

__ADS_1


"Syukurlah, gimana kabar Abahmu di kampung?" Tanya salah satu seniornya yang sudah berusia hampir paru baya.


Anista tersenyum "Alhamdulillah baik, Bu"


Saat sedang asyik bercengkrama dengan yang lainnya. Tiba tiba Pak Danu datang menghampiri mereka membuat semuanya yang sedang asyik mendengarkan cerita Anista di kampungnya langsung terdiam saat si kepala pelayan datang.


"Anista, kamu di suruh Tuan Yudha untuk ke ruang kerjanya" kata Pak Danu


Anista mengangguk "Baik Pak"


"Nist pergi dulu ya nemuin Tuan Yudha" pamit Anista pada teman teman nya yang di jawab anggukan oleh semuanya


Anista pun berjalan mengikuti Pak Danu menuju ruang kerja Yudha. Kenapa aku sampai lupa untuk langsung menemuinya si. Malah aku juga belum melihat Fira lagi.


Pak Danu membuka pintu ruang kerja Yudha "Masuklah, Tuan Muda sudah menunggu di dalam"


Anista mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan itu. Di sana sudah ada Tuannya yang sedang berdiri tegak menghadap jendela dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya.


"Tuan" panggil Anista pelan


Yudha tersenyum tipis sebelum berbalik menghadap Anista. "Kau sudah pulang ternyata"


Anista mengangguk "Iya Tuan"


"Terus kenapa kau tidak langsung menemuiku? Apa kau lupa dengan tugasmu di rumah ini?" Tanya Yudha dingin


"Maaf Tuan, tadi saya lewat pintu rumah belakang" jelas Anista


"Kenapa tidak lewat pintu utama?" Tanya Yudha mengangkat satu alisnya


"Karna saya pekerja disini, jadi saya lewat pintu rumah belakang saja" jelas Anista masih menundukan wajahnya


Bodoh.. Kau bahkan akan menjadi Nona Muda di rumah ini.


Jika saja Yudha muncul di depan pintu utama seperti saat Anista kehujanan mungkin Yudha akan mengajaknya masuk lewat pintu utama seperti saat itu.


"Jika bicara dengan orang itu tatap wajahnya, jangan menunduk terus seperti itu" kata Yudha tegas


Anista langsung mendongakan wajahnya, Anista langsung menatap wajah tampan yang tidak sadar telah dia rindukan selama ini.


"Maaf Tuan"


Yudha tersenyum tipis sambil memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Anista. Jujur saja rindu di dadanya terasa sangat membuncah saat melihat wanita yang selama ini di rindukannya.

__ADS_1


Kenapa dadaku rasanya ingin meledak saat kembali bertemu dengannya. Kenapa bisa sebahagia ini. Yudha


Lama mereka saling diam dengan fikiran masing masing. Dimana Nona Safira ya? Kok aku belum melihatnya dan Tuan Yudha pun belum berkata apa apa soal Nona Safira.


"Emmm. Tuan, dimana Nona Safira?" Dengan ragu dan sedikit takut Anista bertanya tentang anak asuhnya itu. Jujur saja dia sudah sangat merindukan balita menggemaskan itu.


"Dia sedang bersama Neneknya di luar negara" jelas Yudha santai


Anista melongo mendengar penjelasan Yudha. Terus kalau Safira nya gak ada Nist teh kerja naon atuh (apa)?


"Terus bagaimana dengan saya Tuan?" Tanya Anista bingung


Yudha mengangkat salah satu alisnya, bingung "Bagaimana apanya?"


"Kan saya teh kerja disini buat ngasuh sama urusin Nona Safira. Terus kalo Nona Safira nya gak ada, saya kerja apa?" Tanya Anista bingung


"Tuan gak niat pecat saya'kan? Jangan atuh Tuan, saya masih butuh pekerjaan ini" kata Anista langsung memotong Yudha yang baru saja akan berucap.


"Siapa yang akan memecatmu bodoh?!! Aku sengaja menyuruhmu segera kembali ke sini karna aku ingin selama Fira belum pulang, kaulah yang harus menyiapkan keperluanku. Mulai dari menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian dan juga makan malam untuk ku" jelas Yudha cepat sebelum Anista memotong kembali ucapannya


Hah...


Anista sampai melongo mendengar perkataan Yudha barusan. Ini gila.. tidak masuk di akal sehat, mana mungkin seorang pengasuh anaknya beralih menjadi pengasuh ayahnya.


"Tapi Tuan...."


"Sudahlah, tidak ada bantahan apapun lagi. Ini adalah perintah bukan penawaran" potong Yudha lalu berjalan menuju pintu ruang kerjanya meninggalkan Anista yang masih bingung dan juga kaget disana.


"Kerjakan tugasmu sekarang"


Suara bariton itu berhasil menarik Anista ke alam sadarnya. Dia menoleh dan melihat Yudha masih berdiri di balik pintu dengan tangan masih memegang handle pintu.


Anista memulai tugas barunya dengan memasakan makan siang untuk Yudha. Bahkan Anista tidak tahu kenapa Yudha sampai tidak masuk kantor, padahal hari ini bukanlah hari libur.


Tok tok tok


Anista mengetuk pintu kamar Yudha


"Makanannya sudah siap Tuan"


"Iya, tunggulah di meja makan" teriak Yudha dari dalam sana


"Baik Tuan"

__ADS_1


Anista pun berlalu ke ruang makan untuk menunggu Tuannya selesai dan siap untuk makan siang.


Bersambung


__ADS_2