
"Kau bisa melakukan nya? Aku siap membayarmu berapa pun yang kau minta"
Wanita itu terdiam mendengar permintaan dari pria di depannya. Tawarannya cukup menggiurkan untuk dia yang membutuhkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Baiklah, aku akan melakukan yang kau minta. Tapi, aku tetap membutuhkan bantuanmu untuk meyakinkan mereka dengan bukti yang kuat"
Pria itu tersenyum licik "Oke, aku akan menyiapkan semua bukti palsu untuk semuanya"
Akhirnya pria dan wanita itu berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan kerja sama yang akan mereka jalani.
Semuanya akan berakhir menyedihkan....
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Akhirnya sudah hampir dua minggu Yudha berada di kota. Banyaknya kerjaan yang harus dia selesaikan membuat dia menunda untuk kembali ke kampung Anista, menemui anak dan calon istrinya.
"Neng, Abah mau ke sawah sebentar" kata Sumintar
Anista yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya itu menoleh ke arah Ayahnya "Iya Bah"
"Evan juga mau ikut ya Bunda, Evan mau ikut sama Abah" kata Evan yang baru saja muncul dari balik pintu rumah
Anista mengangguk "Pakai topinya"
"Iya"
"Yaudah kalo gitu kami pergi dulu ya Nist, Assalamualaikum" pamit Sumintar
Anista mencium tangan Ayahnya "Waalaikumsalam"
Anista kembali fokus dengan kegiatan yang sedang di lakukannya saat ini. Menyirami bunga bunga yang ada di halaman rumahnya.
"Permisi"
Anista menoleh saat ada seseorang yang memanggilnya, dahinya mengerut bingung "Iya??"
"Apa benar ini rumahnya Anista Sari?"
Anista mengangguk "Iya, Teteh teh siapa ya?"
Wanita itu tersenyum cerah sambil mengulurkan tangannya "Hai. Saya Nathali"
Deg Deg Deg
Nama itu... yahhh... nama itu adalah nama yang di ucapkan Mas Yudha di malam itu.
"Haii... Kamu kenapa?" tanya Nathali sambil melambaikan tangannya di depan wajah Anista yang masih melamun itu
Anista mengerjap kaget "Ehh.. Iya Teh?"
"Kamu kenapa? Kok malah bengong?" Tanya Nathali ramah
__ADS_1
Anista menggeleng "Tidak papa kok, ada apa Teteh kesini?"
Nathali kembali tersenyum ramah "Saya hanya ingin tahu saja siapa wanita yang berhasil menggantikan saya di hatinya Yudha. Ternyata secantik ini ya"
Jadi dia tahu kalo Nist ada hubungan dengan Mas Yudha.
Anista hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathali. "Ayo masuk dulu Teh, kita ngobrol di dalam saja"
Mantan nya Mas Yudha teh meni cantik pisan. Sama sama bule lagi kaya Mas Yudha.
Kedua wanita itu akhirnya duduk bersama di ruang tengah rumah Anista yang begitu sederhana. Bahkan tidak ada kursi atau sofa di sana. Hanya ada karpet plastik yang tergelar.
"Jadi, Teteh kesini teh ada perlu apa?" Tanya Anista
Kok aku merasa aneh ya dengan panggilan itu. Tak apalah..
Nathali tersenyum "Aku hanya ingin mengenalmu Nist. Aku hanya ingin memastikan jika kau benar benar tulus mencintai Yudha. Tidak sepertiku dulu"
Anista tersenyum ramah "Jika saya bisa, mungkin saya juga sangat ingin membenci Mas Yudha. Namun, Nist teh gak bisa melakukan itu. Meskipun Mas Yudha telah menghancurkan hidupku"
Anista menunduk dengan tangan yang saling bertaut "Aku mencintainya"
Hahh ....
Nathali menghembuskan nafas kasar "Aku tahu itu, dan aku yakin kamu adalah yang terbaik untuk Yudha. Mari berteman mulai saat ini, Nist"
Anista mendongak menatap tangan Nathali yang terulur padanya. Anista menjabat tangan Nathali dengan senyuman tulus.
Gadis ini sangat polos, aku tidak yakin dengan apa yang aku dengar tentangnya. Nathali
"Kau mau tahu kenapa dulu aku meninggalkan Yudha?" Tanya Nathali tiba tiba
Anista merasa tidak enak, meskipun pada kenyataan nya dia juga sangat penasaran dengan hal itu.
"Tidak perlu takut Nist, kita'kan sudah berteman sekarang. Jadi, aku akan menceritakan semuanya tentang hidupku padamu" kata Nathali seolah tahu apa yang di fikirkan oleh Anista
"Dulu aku dan Yudha saling mencintai, kami begitu bahagia menjalani hari hari kami berdua. Namun, ada satu alasan yang membuat aku harus membuat Yudha membenciku dan meninggalkan ku dan aku belum bisa menceritakan nya sama kamu" cerita Nathali
Anista hanya diam dengan kebingungan yang melandanya. Nathali terlihat baik dan juga ramah, pantas saja jika Yudha begitu mencintainya dulu.
Namun, hal apa yang Nathali lakukan sampai Yudha begitu membencinya dan alasan apa yang dia maksud. Entahlah.. Anista bingung sendiri memikirkan itu.
Nathali menggenggam tangan Anista membuat gadis itu tersadar dari lamunannya "Aku mohon sama kamu, bahagiakan Yudha. Jangan sampai kamu melukai hatinya seperti yang pernah aku lakukan"
Anista mengangguk "Iya Teh"
Nathali tersenyum "Terimakasih Nist"
Nathali memeluk Anista, bibirnya tersenyum "Semoga kalian akan selalu bahagia"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
__ADS_1
Anista menatap langit langit kamarnya, Ayahnya dan Evan belum kembali dari sawah. Dia memikirkan kembalu ucapan Nathali tadi.
Dia begitu baik dan tulus, lalu apa yang membuat dia dulu melakukan itu. Membuat Mas Yudha membencinya.
Anista masih bingung dengan ucapan Nathali siang tadi. Drett.. Drettt... suara dering ponsel di sampingnya mengalihkan fokus Anista. Dia tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo Mas, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Lagi apa?"
"Tiduran saja"
"Evan mana?"
"Ikut ke sawah sama Abah"
"Ohh. Aku belum bisa ke sana dalam waktu cepat. Pekerjaanku disini cukup banyak"
Anista tersenyum "Iya Mas, gak papa"
Hahh....
Terdengar helaan nafas panjang di seberang sana "Kenapa kau saja yang datang ke sini. Menemuiku"
Anista tersenyum mendengar keluhan Yudha "Nist mau aja kesana, kalo status Nist udah jelas"
"Kurang jelas apalagi si Sayang? Aku kan Ayah dari Evan, anak kita"
"Tapi, hubungan aku sama kamu masih belum jelas. Kan kita belum menikah"
Hampir saja Yudha menjatuhkan ponselnya, dia benar benar kaget juga bahagia dengan perkataan Anista barusan.
"Jadi, kamu sudah siap untuk menikah dalam waktu cepat dengan ku?"
Anista mengangguk, meski dia tahu jika Yudha tidak akan melihatnya "Kenapa tidak? Hal baik itu tidak boleh di tunda tunda"
Yudha hampir saja berteriak kegirangan, jika saja dia tidak menahannya "Baiklah, aku akan segera mengurus semuanya"
"Iya Mas, tapi aku ingin sekali bertemu dengan Safira"
"Aku belum bisa bawa Fira kesana Sayang, karna Safira juga masih kecil dan baru juga sembuh habis demam'kan. Jadi, aju belum berani bawa dia perjalanan jarak jauh"
Anista mengangguk mengerti "Iya Mas gak papa, aku ngerti kok"
"Nanti aja ya, kalo bisa kamu kesini dulu lah sebelum kita menikah. Ketemu sama Safira nanti aku jemput"
"Ya gimana nanti aja Mas"
Bersambung
Jangn lupa like, komen dan kasih hadiah juga. vote juga ya.. biar aku semangat.. 🤗
__ADS_1