Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Perjalanan Ke Kampung Anista


__ADS_3

"Tiduran aja sini kalo pegel" kata Yudha sambil menepuk pahanya.


Anista menoleh "Nanti kamu yang pegel"


Yudha merangkul bahu Anista dan membaringkan nya di pangkuannya. Tangannya terus mengelus rambut Anista.


Anista menatap kagum wajah Yudha dari bawah. Dia benar benar tampan, tapi kenapa bisa ya dia suka sama aku. Wajah aku aja pas pasan kayak gini, gak ada yang bisa di banggain.


"Gak usah mikir aneh aneh" kata Yudha datar


Anista mengerjap kaget "Kok Mas bisa tau?"


Yudha menuding kepala Anista, menatap wajah wanitanya yang sedang tiduran di atas pahanya.


"Ekspresi wajahmu itu gampang sekali aku tebak. Kepalamu ini tidak akan bisa berfikir luas, pasti fikirannya hanya kesitu situ aja" jelas Yudha tersenyum meledek


Anista mendengus kesal "Suka seenaknya deh kalo ngomong"


Meskipun yang di katakannya ada benarnya juga si.


Yudha terkekeh, dia cubit gemas hidung pesek Anista "Gemesin banget si calon istri aku ini, jadi pengen cepet cepet malam pertama"


Anista melotot mendengar ucapan Yudha yang tidak tahu malu itu. Bahkan dia mengabaikan supir yang sedari tadi telinganya sudah memerah mendengar obrolan keduanya.


Anista mencubit perut Yudha, keras bahkan Anista tidak melihat Yudha kesakitan dengan cubitan nya. Padahal Anista sudah mengeluarkan segala tenaganya bahkan tenaga dalam juga dia keluarkan. Tetap saja Yudha masih terlihat santai.


Yudha terkekeh melihat wajah kesal wanitanya itu "Udah deh, meningan kamu tidur aja. Nanti kalo udah sampe aku bangunin kamu"


Anista mengangguk, dia mulai memejamkan matanya dengan Yudha yang mengelus kepalanya. Akhirnya dia pun terlelap di pangkuan Yudha.


Yudha langsung menahan tubuh Anista yang akan terjungkal ke bawah dengan tangannya. "Ada apa Pak?"


"Maaf Tuan, jalanan memasuki perkampungan ini sudah rusak, banyak lubang lubang dan genangan air" jelas Supir


Yudha menghela nafas, dia baru ingat jika dulu juga dia cukup kesulitan melewati jalanan yang cukup terjal menuju kampung Anista ini.


Anista mengerjap kaget saat lagi lagi mobil yang di tumpanginya bergoyang tidak seimbang "Mas"


"Sayang kebangun ya, jalanan nya rusak" kata Yudba


Anista bangun, mobil masih terasa bergoyang goyang tidak seimbang. "Iya Mas, kan jalanan kampung emang suka gini, terjal karna udah banyak yang rusak juga"


"Iya Sayang, Sayangnya aku jadi ke ganggu kan tidurnya" kata Yudha mengelus kepala Anista

__ADS_1


Anista mendekatkan tubuhnya pada Yudha dan berbisik padanya "Malu Mas, itu ada Pak Supir di depan"


"Kenapa harus malu? Kan kamu yang mau di panggil kaya gitu" kata Yudha santai


Memerah langsung wajah Anista, Yudha benar benar tidak peka atau memang sengaja.


Ya gak usah di jelasin di depan orang lain juga kali. Kan Nist teh malu.


Sementara supir hanya bisa mengumpat di dalam hati. Yudha benar benar tidak tahu tempat untuk beromantis romantisan.


malah istri jauh lagi di kampung. Pak supir hanya bisa membatin pedih.


"Kamu mah ihh"


Anista mencubit perut Yudha, namun seperti biasanya pria itu hanya diam tanpa merasakan cubitan Anista. Yudha malah terkekeh melihat wajah kesal wanitanya itu.


"Apaan si Nist" kata Yudha dengan nada meledaknya


Anista mendengus kesal "Tau ahh, ngeselin banget kamu"


Yudha merangkul bahu Anista dan mencium pipinya dengan gemas, sedikit menggesekan hidungnya di pipi Anista membuat gadis itu rertawa geli.


Bisa kalian hentikan semua ini.


Lagi lagi Pak Supir hanya bisa membatin. Sesekali dia melirik ke arah kaca spion di batasnya melihat apa yang di lakukan pasangan bucin di belakangnya.


"Assalamualaikum, Abah"


Anista naik ke bale rumahnya dan mencoba membuka pintu. Namun pintunya ternyata terkunci. Anista mencari kunci rumah yang biasanya di simpan di atas meteran listrik di rumahnya, tapi tidak ada juga.


Yudha berjalan ke arah Anista setelah membawa barang bawaannya di begasi mobil.


"Pak tunggu ambilin yang itu saja" kata Yudha menunjuk sebuah kantong plastik lain


"Baik, Tuan"


Yudha naik ke bale rumah Anista dan menghampiri wanitanya yang masih mencari kunci pintu rumah ini.


"Kenapa Sayang?" Tanya Yudha


Anista menoleh ke arah Yudha "Pintunya di kunci Mas, tapi kuncinya gak ada di tempat biasa"


"Coba di cari lagi, mungkin Abah gak nyimpen di tempat biasa" kata Yudha

__ADS_1


"Gak ada Mas, Nist udah nyari dari tadi. Aduh.. Abah kemana ya, perasaan Nist gak enak" kata Anista panik


Yudha menyimpan barang bawaan nya begitu saja di bale rumah Anista. Dia menghampiri wanitanya yang terlihat begitu panik.


"Sayang, tenang dulu. Mungkin Abah ke kebun seperti biasanya" kata Yudha mencoba menenangkan Anista


Anista menggeleng pelan dengan mata yang sudah berkaca kaca "Gak mungkin Mas, kalo cuma ke kebun atau ke sawah Abah selalu nyimpan kunci rumah. Gak pernah di bawa"


Yudha memeluk Anista untuk menenangkannya "Mungkin Abah lupa tadi ke bawa kuncinya"


Anista diam, meskipun apa yang di ucapan Yudha ada kemungkinan nya juga. Namun, entah kenapa perasaan Anista mengatakan jika ada sesuatu terjadi pada Ayahnya.


"Neng Anis"


Anista langsung melepaskan pelukannya dari Yudha. Dia menoleh ke arah orang yang memanggilnya "A Surya"


Yudha memutar bola mata malas melihat pria sok keren yang jelas jelas dia ketahui menyukai Anistanya.


"Neng baru datang?" Tanya Surya


Anista mengangguk "Iya, tapi Abah gak ada"


"Itu Neng, sebenarnya Abah kamu tadi di bawa ke puskesmas" kata Surya


Anista langsung turun dari bale rumahnya dan menghampiri Surya yang berdiri di halaman rumahnya.


"Yang bener A? Terus Abah Nist teh kunaon°?" Tanya Anista


(Kenapa°?)


"Abah Mintar teh sesak nafas, tadi langsung di tolong sama warga dan di bawa ke puskesmas. Aa juga belum tahu Abah Mintar kena penyakit apa" jelas Surya


"Kenapa gak ada yang ngasih tau Nist atuh?" Tanya Anista sudah menangis panik


"Baru banget barusan kejadiannya Neng, kita panik jadi belum sempat kasih tau ke Neng" jelas Surya


Yudha yang mendengar itu juga ikut menghampiri Surya "Dimana mertua saya di rawat? Cepat beri tahu"


Anista menoleh ke arah Yudha yang bersuara begitu dingin dan tegas "Ayo kita ke sana sekarang Mas. A Surya Nuhun atas informasinya"


Surya mengangguk "Iya Neng, Aa juga maksudnya ini pulang dulu mau ambil keperluan Abah sama surat surat di dalem rumah. Kartu BPJS nya juga belum di bawa"


"Yasudah biar Nist saja yang siapin semuanya dan bawa ke Puskesmas"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like dan komen nya.. Kasih vote sama hadiah juga ya 🤗🤗


__ADS_2