
Anista turun dari mobil dan langsung di sambut uluran tangan suaminya. Yudha sengaja menunggunya di parkiran rumah sakit. Memastikan jika istrinya baik-baik saja.
"Mas, kenapa gak masuk duluan aja" kata Anista
Mereka berjalan berdampingan, memasuki rumah sakit keluarga Walton ini. Rumah sakit besar dengan segala fasilitas yang lengkap.
Namun, tetap melayani orang-orang yang tidak mampu. Hanya dengan surat keterangan tidak mampu, maka biaya perawatan akan di gratiskan. Ini sudah kebijakan sejak Ayah Yudha masih hidup.
Sampailah mereka di depan pintu ruangan bertuliskan 'Dr. Psikologi' Masuk ke dalam dengan Anista mengetuk pintu terlebih dahulu. Suaminya malah mau nyelonong begitu saja jika istrinya tidak mengingatkan.
Dasar seenaknya.
"Aku sudah buat janji dan ini juga rumah sakit keluargaku" kilah Yudha saat Anista menasehatinya
Anista menggelengkan kepalanya pelan "Ya gak gitu juga Mas, ini tetap privasi orang loh. Kamu aja di kantor kalo ada yang nyelonong masuk tanpa permisi atau mengetuk pintu lebih dulu pasti gak suka dong"
Yudha mendengus "Bima suka seperti itu"
Anista kembali menggelengkan kepalanya, heran. Pantesan aja, atasan sama Asisten sama-sama seenaknya.
Dokter yang sedang duduk di kursi kerjanya hanya bisa terdiam melihat sepasang suami istri itu malah berdebat meskipun dengan suara pelan. Tapi, dokter bisa melihat ekspresi wajah si suami yang terlihat kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pasrah saja.
"Selamat siang, Dok"
Anista menyapa duluan dengan senyuman ramahnya yang tentunya langsung mendapatkan tatapan tajam dari suaminya. Namun, dia tidak memperdulikannya.
Jangan aneh-aneh deh, ini rumah sakit.
Anista menatap Yudha dengan senyuman di paksakan. Seolah memberi tahu isi pikirannya. Hanya tersenyum bukan main gila di belakangmu, Tuan Yudha.
Yudha memalingkan wajahnya saat tidak bisa menahan rasa gemasnya pada ekspresi wajah sang istri.
Dokter lagi-lagi menghela nafas, melihat keduanya malah saling melempar kode dengan tatapan mata.
__ADS_1
Benar-benar pasangan bucin, sepertinya Tuan Muda ini sangat bucin pada istrinya. Bahkan dia tidak bisa berkutik di depan istrinya ini. Hebat sekali Nona Muda bisa menaklukan hati Tuan Muda yang dingin itu.
"Jadi, bagaiamana? Apa yang Tuan rasakan?" Tanya Dokter memulai topik pembicaraan yang serius
Yudha menghembuskan nafas kasar, Anista terus menggenggam tangannya di bawah meja. Mencoba menguatkan suaminya itu.
"Saya sangat sulit untuk mengendalikan emosi. Bahkan perkataan saya tidak bisa saya kontrol saat sedang di landa emosi dan itu pada siapapun termasuk istri saya" jelas Yudha
Ternyata istrinya begitu luar biasa tetap berada di samping Tuan Muda di saat seperti ini dan dia juga kena imbasnya.
"Sejak kapan?" Tanya Dokter
"Sejak kurang lebih 4 tahun lalu, sejak saya mengalami hal yang tidak di inginkan" jelas Yudha
Anista terdiam, dia menoleh ke arah Yudha yang sedang menatap lurus seolah sedanv menerawang. 4 tahun lalu? Anista tentu ingat kejadian itu, jadi semuanya berawal dari kejadian kelam di kamar 302 malam itu.
"Apa Tuan juga sering melukai diri sendiri jika sedang di landa emosi?"
Yudha mengangguk menjawab pernyataan Dokter "Sudah beberapa kali"
"Tuan mengalami borderline personality disorder"
"Jelaskan!" kata Yudha dingin, Anista langsung menggenggam tangan suaminya untuk menenangkan Yudha.
"Bordeline personality disorder bisa di sebut juga dengan gangguan kepribadian ambang. Kondisi ini merupakan gangguan mental yang di tandai dengan suasana serta citra diri yang sering berubah-ubah"
"Terkadang mengalami kondisi suasana hati yang tidak stabil. Seperti merasa hampa dan kosong serta sulit mengendalikan amarah. Tekanan di kehidupannya membuat dirinya merasa takut di abaikan dan akhirnya melukai dirinya sendiri"
"Hal ini bisa terjadi karena lingkungan sekitar, seperti pernah mengalami depresi atau merasa di campakan oleh orang tua"
Semua penjelasan dokter memang benar adanya dengan yang Yudha alami selama ini. Kepergian sang Ayah untuk selama-lamanya, Ibunya yang menikah lagi dan dia yang di didik keras untuk bisa melanjutkan bisnis Ayahnya yang baru saja berdiri.
Masa remaja yang dia habiskan untuk belajar dan belajar. Mengurus perusahaan Ayahnya yang belum sebesar sekarang.
__ADS_1
Tumbuh dewasa, memiliki kekasih yang malah mengkhianatinya. Dia melakukan kesalahan pada seorang gadis, terjerumus dalam ingatan masa lalu. Di paksa menikah dengan wanita yang tidak dia cintai.
Kehadiran Safira mulai membuat Yudha sedikit bahagia. Meskipun istrinya masih bersikap sama, tapi setidaknya Yudha masih memiliki Safira untuk penguatnya di saat lelah.
Namun, kenyataan lagi dan lagi tidak berpihak padanya. Putrinya yang dia sayangi dengan sepenuh hatinya. Ternyata bukanlah anak kandungnya.
Yudha kembali di kecewakan oleh kenyataan dan keadaan. Masih beruntung Yudha tidak sampai gila dan hilang akal menghadapi semua ini.
Hidupnya terlalu banyak rintangan dan cobaan.
"Lalu bagaimana cara pengobatan nya Dokter?" Tanya Anista dengan tatapan cemas dan khawatir
"Ini bisa sembuh total asalkan ada semangat dan optimisme dari si penderita. Kita bisa melakukan terapi dan memberinya obat"
"Nona dan pihak keluarga juga bisa untuk membantu penyembuhan ini. Dengan membuat Tuan Yudha bahagia dan terus merasa bahagia sehingga dia lupa dengan masa lalu atau ingatan buruk yang selalu berada di fikirannya"
Anista mengangguk mengerti dengan apa yang dokter jelaskan. Dia melirik suaminya yang dari tadi hanya diam dengan tatapan datar.
"Ya sudah nanti dokter bisa menghubungi suami saya untuk pengobatan lebih lanjut lagi. Kami permisi dulu" pamit Anista setelah dokter memberikan obat untuk Yudha
Anista terus menggenggam tangan suaminya sepanjang mereka menyusuri lorong rumah sakit ini. Dia tahu prianya tengah di landa kegelisahan dengan penyakitnya ini.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan supir yang menyetir. Memang Yudha tadi datang dengan di antarkan oleh Bima dan dia memang berniat untuk pulang bersama istrinya.
Anista menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, mobil sudah melaju keluar dari pekarangan rumah sakit. Tangan mereka masih saling bertaut.
"Semuanya akan baik-baik saja, Mas. Kamu kan denger sendiri tadi apa yang di jelaskan Dokter. Saat ini kamu hanya perlu mengingat yang bahagia dan selalu bahagia" kata Anista mengecup singkat pipi suaminya untuk menghiburnya yang sedang di landa kecemasan itu.
Yudha tersenyum tipis, di kecupnya rambut istrinya itu "Iya Sayang, aku akan selalu bahagia selama bersamamu"
Bersambung
Note : Gak kebayang juga si kalo jadi Yudha. Hidupnya berat, sama sama berat sama kehidupan Anista. Namun dengan cobaan berbeda..
__ADS_1
Jangan luka dukungannya..