
"Teteh gak salah, Nist juga tau kalo Teteh sudah berusaha buat nolongin Nist. Tapi, kita tak bisa merubah takdir-Nya.. Hiks.. Mungkin ini takdir yang harus di jalani oleh Nist" kata Anista semakin mengeratkan pelukannya dengan isakan semakin jelas terdengar
"Maafin aku ya, aku terus di hantui rasa bersalah karna gak bisa nolongin kamu"
Anista menggeleng pelan, dia melerai pelukannya dan menggenggam kedua tangan Hasna "Semuanya sudah berlalu, Teteh gak salah apapun. Mungkin takdir ini yang membawa aku ke pelukan calon suamiku sekarang"
Lagi lagi Hasna menghapus air matanya "Calon suami? Maksudnya?"
Tatapan Hasna menatap pada pria yang duduk di belakang Anista. Pria itukan yang waktu itu datang ke apartemen dan dia adalah.. ya ampun..
"Iya, pria berengsek malam itu akan menjadi suamiku" kata Anista tersenyum
Yudha langsung mendongak dan menatap punggung kekasihnya itu. Masih saja dia mengumpatku di situasi seperti ini. Dasar gadis kecilku.
Hasna mengerjap kaget "Jadi, kamu sudah ketemu sama pria itu"
"Iya Teh, dan dia akan menjadi suamiku"
Hasna memijat pelipisnya yang tiba tiba saja terasa pening. Jadi, kalian emang sudah jodoh. Hanya cara Tuhan mempertemukan kalian dengan cara seperti itu. Capek aku nangis nangis, kalo akhirnya memang kalian udah jodoh dan bahagia.
Hasna menoleh ke arah Bima yang masih terlihat datar. Gila.. Pria ini bahkan tidak memberi tahuku tentang ini. Aku fikir gadis ini akan marah dan tidak akan menerima maaf dari pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ehh.. kok malah gini ending nya ya?
Hasna menghapus air matanya "Jadi, kamu sudah memaafkan nya?"
Anista mengangguk "Iya Teh, biarlah semuanya aku anggap sebagai jalan Allah untuk aku menemukan jodohku"
Hasna langsung memeluk Anista dan berbisik "Aku sampe nangis karna ngira kamu bakalan hancur"
Anista ikutan berbisik menjawab ucapan Hasna "Emangnya Teteh belum tahu?"
Hasna menggeleng pelan "Pria menyeramkan di belakangku tidak memberi tahu apa apa. Dia hanya bilang kalo aku harus menemui gadis di malam itu. Tidak memberi tahukan soal kamu yang akan menikah dengan pria malam itu"
Yudha dan Bima saling pandang saat melihat kedua wanita di depannya malah saling berbisik bisik seperti itu. Isyarat mata Yudha seolah mengatakan 'apa yang mereka bicarakan?'
Namun, Bima hanya mengangkat bahunya acuh. Tidak tahu dan tidak mau tahu membuat Yudha berdecak malas.
Anista melerai pelukannya "Sekarang Teteh gak perlu lagi merasa bersalah, karena sejatinya emang teteh gak salah apa apa"
"Malah aku bersyukur banget karena Teteh udah nolong aku malam itu. Aku gak tau apa yang akan terjadi jika gak ada Teteh malam itu, bahkan untuk berjalan pun rasanya aku gak sanggup" Kata Anista
__ADS_1
Memang benar, malam itu jika Hasna tidak ada mungkin Anista tidak akan sampai di tempat kerjanya. Hasnalah yang telah memapah dia sampai di tempat kerjanya dengan selamat. Meskipun keadaannya begitu kacau dan menyedihkan.
Hasna menggenggam erat tangan Anista "Aku juga gak tega lihat keadaan kamu waktu itu. Jadi, kalo emang kamu sudah melupakan semuanya bahkan menjadikan pria itu sebagai suamimu. Maka aku juga akan melupakan semuanya"
Anista tersenyum "Bukan untuk melupakan, karna sejatinya kejadian itu tidak mampu aku lupakan. Aku hanya tidak ingin memperburuk keadaan. Apalagi aku sudah jatuh cinta pada pria itu sebelum aku mengetahu semuanya"
Hasna tersenyum dan mengangguk mengerti. Tidak salah dulu dia menolong gadis di depannya ini. Gadis ini berhak bahagia.
"Yaudah duduk yuk Teh, pegel juga lama lama berdiri" kata Anista
Hasna terkekeh pelan "Iya emang pegel, hehe"
Anista menuntun Hasna menuju sofa panjang dan duduk di sana. "Oh ya kita bahkan belum kenalan loh" kata Anista tertawa lucu
Hasna ikutan tertawa "Iya ya, malah keduluan nangis nangis si. Nama aku Hasna, panggil aja Hasna lagian kita juga seumuran cuma beda satu tahunan mungkin"
Anista mengangguk "Aku Anista, panggil Nist aja"
Akhirnya kedua wanita itu asyik dengan dunia mereka. Segala hal mereka bicarakan dan sesekali tertawa. Tidak sadar jika dua laki laki tampan telah mereka abaikan sejak tadi.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Keasyikan ngobrol sampe aku di lupain" kata Yudha dengan nada menyindir, dia berjalan melewati Anista yang sedang duduk di sofa di ruang tengah.
Anista tersenyum geli melihat Yudha yang sedang merajuk. Dia hampiri calon suaminya yang sedang berdiri di depan jendela.
"Gak usah ngambek juga kali Mas"
Anista melingkarkan kedua tangannya di perut Yudha. Pipinya menyandar di punggung lebar itu. Menghirup aroma tubuh pria ini.
Memandang ke arah kolam berenang yang tersorot oleh lampu di luar sana. Airnya begitu tenang setenang hidupnya setelah menemukan wanita yang sedang memeluknya ini. Yudha tersenyum tipis, tangannya mengusap tangan mungil yang melingkar di perutnya.
"Besok kita berangkat jam berapa Mas?" Tanya Anista
"Pagi pagi, biar gak terlalu macet. Kita berangkat pake supir aja, aku lagi males nyetir" jelas Yudha
Anista mengangguk "Yaudah, aku mau masak dulu buat makan malem. Lagian asisten kamu itu, di suruh tunggu dulu biar bisa makan malem sama sama"
Anista kembali teringat saat Bima malah memaksa Hasna untuk pulang. Padahal Anista ingin makan malam bersama dengan Hasna.
__ADS_1
"Bima kayanya mengerti kalau aku lagi cemburu sama kamu" kata Yudha santai
Anista mendengus "Cemburu kok sama perempuan si Mas. Aneh aneh aja kamu mah"
Anista melepaskan pelukannya "Aku mau masak dulu deh"
"Masakin nasi goreng, aku kangen sama nasi goreng buatan kamu" kata Yudha
Anista mengangguk, dan berlalu pergi meninggalkan Yudha yang masih menatap ke luar jendela. Hari sudah gelap, namun di luar masih terlihat terang dengan cahaya lampu taman di mana mana.
Terimakasih, Bim.
Kata yang kadang sulit untuk dia ucapkan pada asisten nya itu. Sahabat sekaligus asisten yang selalu setia padanya. Bahkan Bima tahu apa yang orang lain bahkan orang tuanya pun tidak tahu tentangnya.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Masuk!" Kata Bima datar, kini keduanya telah sampai di depan pintu Apartemen yang di tempati oleh Hasna
"Tuan, besok saya akan kembali ke kota tempat tinggal saya" kata Hasna
"Terserah, aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan setelah ini. Urusanmu denganku sudah selesai, setelah kau menemui Anista" kata Bima dingin
Ishh.. Kata katanya sungguh menyakitkan. Bagaimana bisa selama beberapa minggu ini aku sampai terpesona dengan pria ini.
"Baik Tuan"
Setelah berkata seperti itu Hasna langsung masuk ke dalam apartemen milik Bima itu. Laki laki yang entah kenapa bisa dia kagumi.
Memang jika melihat dari wajahnya yang tampan, wanita mana yang tidak terpesona oleh Bima. Namun, melihat sikap dingin yang sudah seperti es itu, mungkin saja akan sangat sulit untuk di cairkan.
Hanya wanita beruntung yang bisa membuat seorang Bima jatuh hati padanya. Selama ini tidak ada wanita yang berhasil menerobos masuk ke dalam hati seorang Bima.
Bahkan banyak dari anak anak perempuan rekan bisnis nya yang mendekati seorang Bima. Mereka bahkan rela menawarkan tubuhnya yang langsung di tolak mentah mentah oleh Bima.
Banyak juga yang mengira jika Bima tidak tertarik dengan wanita. Bahkan ada yang tega menyebarkan gosip jika seorang Bima, asisten Yudha yang cukup berpengaruh di perusahaan Walton.Corp adalah seorang gay.
Sayangnya seorang Bima tidak akan terpengaruh dengan gosip murahan seperti itu. Pria itu masih terlihat tenang dan tidak menanggapi gosip itu sampai lambat laun gosip itu hilang juga.
Aku hanya menunggu gadis di masa laluku.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa like dan komen nya