
Akhirnya tanpa bisa membantah lagi, Anista hanya mengikuti kemauan Yudha. Bahkan dia sampai rela pulang kerja saat jam makan siang hanya untuk mengajaknya membeli ponsel yang baru.
Anista hanya menurut, setelah selesai membawa perlengkapan Safira. Anista menggendong balita itu menuju mobilnya dengan tas berukuran sedang yang dia selempangkan di tangan kanannya.
Yudha langsung menghampiri wanitanya dan mengambil alih Safira dari gendongan Anista " Nanti pas di mall, Safiranya pake stroller aja"
Anista hanya mengangguk, Yudha membukakan pintu untuk Anista. Setelah Anista masuk, Yudha pun ikut masuk.
Pak supir sudah siap di balik kemudinya. Yudha memang orang yang paling malas menyetir mobil sendiri. Selagi masih ada supir, dia tidak pernah menyetir sandiri.
Mobil melaju keluar dari gerbang rumah mewah itu. Sang supir tentu telah tahu bagaiamana hubungan Tuannya dengan pengasuh anaknya itu.
Sampai di depan mall besar, tidak tahu saja Anista jika mall ini adalah milik Yudha atau peruasahaan Walton.Corp.
Pak supir mengambil kereta bayi dari bagasi mobil. Yudha langsung mendudukan Safira di atas kereta bayi, Anista mengaitkan tas yang berisi perlengkapan Safira di pegangan stroller. Yudha pun mendorong kereta bayi itu memasuki mall.
Ya ampun inikah tempat belanja orang orang kaya itu.
Untuk pertama kalinya Anista memasuki yang namanya mall. Tempat belanja orang orang kaya yang sering Anista dengar.
Kini dia berada di sini, di mall besar yang bahkan tidak pernah untuk bermimpi pun dia bisa memasuki tempat mewah ini.
Evan, nanti kalau Bunda punya uang lebih Evan juga akan Bunda ajak ke sini Nak.
Seorang Ibu tidak mungkin tidak memikirkan anaknya jika dia sedang merasakan hal seperti sekarang. Bisa jalan jalan ke tempat mewah yang sebelumnya tidak pernah dia datangi.
Tentu saja Anista mengingat anaknya, ingin juga membawa anaknya ke tempat ini. Biar tidak hanya dia yang merasakan bisa jalan jalan ke tempat nya orang orang kaya, anaknya juga harus bisa merasakannya.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Yang ini saja Mas, itu terlalu mahal" kata Anista ngotot
"Percuma kalo cuma beli yang itu, sekalian aja beli yang ini" kata Yudha memaksa
Ini aja harganya sudah satu bulan gaji Nist. Apalagi kalo yang itu, berapa tahun Nist bisa mengumpulkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli hp.
"Yang ini saja Mas"
"Mbak, bungkus yang ini" kata Yudha tidak terbantahkan lagi
"Masss.. Yang ini aja" kesal Anista
__ADS_1
"Sayang, menurutlah. Kau hanya perlu diam" kata Yudha mencium kening Anista tanpa rasa malu di depan banyak orang
"Ihh.. Apaan si, malu tau Mas" lirih Anista dengan wajah yang memerah
"Sudahlah, makanya kau harus menurut denganku. Jangn suka ngeyel" tegas Yudha
Huh. Sultan mah bebas, beli hp semahal itu udah kaya beli kerupuk di warung aja.
"Yaudahlah terserah Mas aja" akhirnya Anista hanya bisa pasrah saja
Ya ampun, inikan Tuan Yudha yang mantan suaminya Eliana. Model terkenal itu. Apa wanita ini pacarnya ya? Ihh kampungan banget si. Cara berpakaian nya saja beda jauh sama Eliana. Kok mau si. Si pelayan toko membatin melihat perdebatan pasangan tadi
"Ini Tuan" pelayan toko menyerahkan ponsel yang sudah di masukan ke dalam paper bag
"Hmm"
Yudha mengambil paper bag itu, Yudha memberikan black card miliknya untuk membayar. Mungkin sedikit banyak nya orang orang tahu jika Yudha adalah pemilik mall besar ini.
Namun, Yudha tidak bertingkah angkuh saat mengunjungi mall ini. Dia tetap sama seperti pengunjung yang lainnya.
Yudha hanya ingin seperti manusia normal lainnya. Jika di luar pekerjaan, Yudha ingin seperti orang orang yang bisa bebas melakukan apapun di mana pun dia berada.
"Terimakasih mbak" kata Anista tersenyum ramah
"Sama sama Nona"
Nona??
Anista merasa aneh dengan panggilan itu, dia tidak pernah dipanggil seperti itu. Mungkin karna aku bersama Mas Yudha kali, jadi di panggil kaya gitu.
Selesai dengan masalah membeli ponsel baru. Yudha pun mengajak Anista dan anaknya untuk jalan jalan dan makan terlebih dulu sebelum akhirnya pulang karna Safira sudah kelelahan juga Anista yang memang sudah capek.
Yudha membelikan beberapa pakaian baru untuk Anista dan juga Safira. Akhirnya Yudha bisa menjalani ini semua tanpa kepura puraan lagi.
Jika dulu saat Yudha dan Eliana pergi ke suatu tempat, maka senyuman yang mereka tampilkan hanyalah kepura puraan semata.
Tuhan sebahagia inikah saat bisa tersenyum lepas tanpa terpaksa dan berpura pura. Yudha
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Sudah menunjukan pukul 12 malam, namun seorang pria tampan masih saja mengutak ngatik laptopnya dan juga berkas yang ada di meja kerjanya.
__ADS_1
Matanya sudah terlihat lelah, dengan kaca mata minus yang dia gunakan justru semakin menambah ketampanan nya.
Hah...
Bima menghela nafas berat, mulai mencocokan bukti yang satu dengan yang lainnya. Satu rahasia besar yang selama ini dia cari titik terangnya. Dan sekarang sedikit demi sedikit titik terang itu mulai terungkap.
"Aku akan mengumpulkan lagi bukti yang lainnya. Semoga kali ini aku berhasil mengungkap masalah ini"
Hal besar yang hanya di ketahui oleh dia dan sahabatnya, Yudha. Rahasia besar yang sudah 4 tahun lebih Bima mencari kebenaran nya. Namun, semuanya masih gelap dan belum menemukan titik teran.
Tapi, sepertinya saat ini semuanya akan segera terungkap. Bima masih terus berusaha mencari bukti bukti lain. Semuanya masih praduga dia, namun masih ada kejanggalan yang belum benar benar Bima temukan faktanya. Sehingga dia pun belum memberi tahukan pada Yudha.
Wanita itu, aku harus cari dimana keberadaan wanita itu.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Katanya mau bekerja, sana berangkat Mas"
Anista merasa risih dengan Yudha yang sejak tadi memeluknya dari belakang. Mentang mentang Safira masih terlelap pagi ini.
Padahal dia sudah rapi dengan pakaian kantornya juga sudah sarapan. Tapi masih saja nempel sama Anista yang sedang membereskan pakaian Safira yang baru kering.
Anista berjalan ke kiri, Yudha terus saja mengikutinya dengan tangan terus melingkar di perutnya. Kemana pun Anista beergerak pasti Yudha akan mengikutinya.
"Masss.. Lepasin dulu ihh, katanya mau kerja. Ini udah siang loh" kata Anista mulai kesal dengan kelakuan kekasihnya
"Gak papa Yank, kalo telat juga gak akan ada yang marahin aku. Kan aku pemilik perusahaan itu" kata Yudha santai
Anista mendengus kesal "Sombong, kamu tau gak kalo Abah aku itu gak suka sama orang sombong. Nanti kamu gak dapet restu dari dia baru rau rasa"
Yudha langsung melepaskan peluakannya, berdiri tegak "Aku harus berangkat dulu Yank. Kan meskipun aku pemilik perusahaan itu, aku tetap memberikan contoh yang baik untuk karyawanku. Pergi dulu"
Anista tersenyum lucu melihat tingkah Yudha hanya dengan di ancam seperti itu saja seorang Yudha langsung takluk oleh Anista.
Cup cup
Yudha mencium kening dan pipi kiri Anista sebelum benar benar keluar dari kamar Safira dan berangkat ke kantor.
Anista terkekeh lucu. Dasar kamu ini Mas, lucu banget si. Gimana aku gak makin cinta sama kamu.
Bersambung
__ADS_1