Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Merindukannya


__ADS_3

Eliana tidak bisa membiarkan pernikahan yang sudah berlangsung selama 2 tahun lebih harus kandas.


"Pokoknya bagaimana pun caranya, aku harus bisa membatalkan perceraian ini"


Eliana terus mondar mandir di kamar hotel yang dia tempati. Karna merasa tidak di perdulikan oleh Yudha, jadi Eliana memilih untuk menyewa hotel untuk beberapa hari ini.


Eliana menghubungi seseorang "Hallo"


"Aku butuh bantuanmu, aku tidak mungkin berpisah dengan suamiku. Hal itu bakal menjadi pengaruh untuk karirku"


Eliana terdiam mendengarkan seseorang yang sedang di teleponnya.


"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu"


Setelah berkata seperti itu, Eliana langsung memutuskan sambungan teleponnya. Setidaknya dia punya orang yang bisa mrmbantunya saat ini.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Yudha berbaring di tempat tidurnya. Menatap langit langit kamarnya dengan kedua tangannya menjadi bantalan.


"Sedang apa dia sekarang ya? Bodohnya aku kenapa tidak menyimpan nomor ponselnya" lirih Yudha


Karna segala hal selalu mengandalkan Bima. Bahkan semua nomor kolega bisnisnya pun ada di Bima.


Karna setiap rekan bisnis Yudha ingin mengadakan pertemuan, maka harus melalui Bima terlebih dahulu.


"Ahhh. Sudahlah, biar besok aku meminta nomor ponselnya pada Bima"


Yudha pun akhirnya memejamkan matanya dengan bayangan Anista menghantui fikirannya.


"Anista apa yang sedang kamu lakukan?" Yudha berjalan mendekat ke arah Anista yang sedang duduk di sebuah kursi di ruangan yang sangat asing baginya


Anista menoleh dan tersenyum, tidak ada kata yang keluar dari mulut wanita itu. Anista mengelus lembut kepala bayi dalam gendongannya.


Yudha berdiri di samping Anista dan menatap bingung pada bayi dalam gendongan Anista "Bayi siapa itu?"


Lagi lagi Anista hanya tersenyum tanpa berniat menjawab pertanyaan Yudha. Anista saat ini terlihat begitu beraura dengan dres putih dan rambutnya yang di gerai.


Bayi dalam gendongan Anista tiba tiba menangis kencang membuat keduanya langsung menatap ke arah bayi mungil itu. Anista berdiri dan menimang bayi itu agar terdiam kembali.


"Bayi siapa itu, Anista?" Tanya Yudha lagi, semakin penasaran


Anista tetap tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan tersenyum setiap Yudha bertanya seperti itu. Sudah 10 kali Yudha bertanya tentang bayi dalam gendongan Anista. Namun, tetap tidak menjawab apapun.


"Bayi siapa itu Anista?" Teriak Yudha yang sudah kehilangan kesabarannya


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Bayi siapa itu Anista, bayi siapa? Jawab"


Yudha membuka kedua matanya dengan degup jantung yang tidak beraturan. Keringat dingin membasahi dahinya. Yudha bangun dan duduk dengan nafas terengah engah.


"Ada apa denganku? Kenapa aku bermimpi aneh seperti ini? Bahkan bukan mimpi yang selalu menghantuiku selama ini" lirih Yudha


Anista...

__ADS_1


Satu nama itu selalu ada dalam fikiran Yudha. Bahkan sampai dia memimpikan dia, namun kenapa mimpinya sangat aneh menurutnya.


Apa maksud dari mimpiku ini??


Yudha menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 5 pagi. Yudha turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.


Hari ini dia ingin segera menemui Bima untuk meminta nomor ponsel Anista.


Aku sudah sangat merindukan nya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Neng Anis teh uih kok tidak bilang sama Aa" kata Surya, anaknya Pak Lurah yang terobsesi dengan Anista sejak dulu.


(Neng Anis pulang kok tidak bilang sama Kakak/Abang)


Anista yang sedang menyiram bunga di halaman rumahnya hanya tersenyum "Tidak Papa, A. Anis emang mendadak pulangnya"


"Hemm.. Urang jalan jalan atuh yu? Mumpung aya di kampung Neng Anis nya" kata Surya lagi


(Hemm. Kita jalan jalan yuk? Mumpung ada di kampung Neng Anis nya)


Anista tersenyum "Teu kedah A, lagian Anis teh mau bantuin Abah ke sawah"


(Tidak perlu Kak, lagian Anis mau bantuin Ayah ke Sawah)


"Yahhhh... Nya atuh, nanti kalo ada waktu tidak boleh menolak lagi ya" kata Surya


(Yaaahh... Baiklah)


Surya mengangguk dengan wajah kecewanya "Iya"


Anista berjalan masuk ke dalam rumahnya. Maaf A, Nist teh gak mau kasih Aa harapan dan nantinya akan menyakiti Aa.


Saat sampai di kamarnya Anista di kejutkan dengan suara ponselnya yang berdering dengan keras. Maklumlah namanya juga ponsel jadul yang suaranya bisa membuat satu kampung tau.


"Bunda, berisik sekali"


Bahkan Evan yang sedang terlelap pun terganggu oleh suara ponsel Anista.


"Hehe maaf, Evan segera cuci muka kita akan ke sawah bersama Abah"


Bocah laki laki itu mengucek kedua matanya yang masih mengantuk "Oke"


Setelah anaknya keluar dari kamar, Anista mengambil ponselnya yang terus berdering. Mengerutkan alisnya bingung melihat nomor telepon yang tidak di kenal.


Nomor siapa ini? Angkat aja kali ya, takutnya teh penting.


Anista pun mengangkat telepon itu "Hallo. Assalamualaikum"


"Wa...waalaikumsalam" suara disana sedikit gugup saat menjawab salam dari Anista


Suaranya seperti...


"Anista"

__ADS_1


Tuan Yudha...


Anista tentu terkejut mendengar suara laki laki yang diam diam telah memasuki ruang kosong di hatinya. Meskipun Anista belum mengakui perasaan nya itu.


"Tuan, ada apa Tuan menelpon Nist? Apa Nona Safira sakit?"


Yudha tersenyum, dia merasa kalau Safira mempunyai sosok Ibu yang menyayanginya meski hanya seorang pengasuh.


"Tidak, Fira baik baik saja. Aku hanya ingin tau kabarmu saja"


Anista bernafas lega "Alhamdulillah kalo Nona Safira baik baik saja. Saya juga baik baik saja Tuan. Terimakasih sudah menghawatirkan saya"


Yudha gelagapan saat mendengar ucapan Anista. Malu... Sangat malu saat seorang Yudha Abimana Walton terciduk memperhatikan wanita yang bukan siapa siapa selain sekadar pekerja dan majikan.


"Tidak. Siapa yang mengkhawatirkanmu, aku hanya perlu tahu apa yang di lakukan pengasuh anaku disana. Takutnya kau tidak kembali lagi ke sini"


Aduhh.. kenapa harus bicara seperti itu si. Yudha malah menyesali ucapannya barusan yang semakin menunjukan perhatian nya pada Anista.


"Tidak mungkin saya tidak kembali Tuan. Saya kan masih membutuhkan pekerjaan ini"


"Hmm. Baiklah"


Tutt.. tut tut...


Yudha langsung menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Anista. Dia benar benar merasa gugup saat ini. Hal yang baru pertama kali Yudha rasakan pada seorang wanita. Meskipun dulu dia juga pernah mempunyai kekasih, tapi tidak pernah Yudha merasakan hal seperti ini.


"Yeyy.. malah di tutup lagi, ahhh lupa Sultan mah kan bebas" kata Anista sambil menyimpan kembali ponselnya di atas tempat tidur.


Anista pun keluar dari kamarnya dengan perasaan bahagia yang dia pun tidak mengerti kenapa bisa sebahagia ini hanya karna mendapatkan telepon dari Tuannya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Bagaiamana? Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?" Tanya Eliana pada seseorang yang di telponnya.


"Seorang gadis muda dari desa yang menjadi pengasuh anakmu di kabarkan sedang dekat dengan Yudha"


Eliana diam, dia sama sekali tidak tahu jika Yudha mempekerjakan seorang pengasuh untuk putrinya. Dia fikir selama dia berada di luar negeri, Safira di urus oleh pelayan yang biasa mengurusnya.


"Kau tau darimana?"


"Tentu saja dari salah satu pelayan yang bekerja di rumah Yudha Abimana Walton"


"Lalu dimana gadis itu sekarang?"


"Dia sudah kembali ke desanya, entah akan kembali lagi atau tidak. Kita tunggu saja dulu"


"Oke, terus selidiki gerak gerik Yudha. Aku yakin dia ingin menceraikan aku karna ada wanita lain yang telah menggodanya"


"Kau tidak bisa lama lama di sini, karirmu di sana yang baru saja naik akan terpengaruh jika kau terus berada di sini"


Eliana menghela nafas "Baiklah, lusa kau jemput aku. Besok aku akan menyelesaikan dulu masalahku dengan Yudha. Setidaknya dia menunda untuk menceraikan aku sampai aku bisa menemukan gadis yang kau bicarakan tadi"


"Hmm. Baiklah"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2