
"Yang sabar ya Nist, aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, kita juga tidak bisa egois karena keluarga Safira juga pasti ingin merasakan mengasuhnya" kata Hasna saat mendengar cerita Anista tentang Safira
"Iya Na, aku juga berusaha ikhlas menerima kenyataan ini. Cuma aku kasihan sama Mas Yudha, meskipun dia mencoba untuk terus menutupi rasa sedihnya. Tapi, aku tahu jika dia begitu terluka dengan kenyataan ini"
Hasna mengelus punggung Anista, mencoba memberikan kekuatan pada sahabatnya ini "Sekarang kamu hanya perlu menguatkannya dan terus berada di sisinya. Beri pengertian juga pada Safira dan Evan"
Anista mengangguk, dia selalu merasa lebih tenang saat bisa bercerita keluh kesahnya pada Hasna. Baginya, Hasna sudah bagaikan seorang kakak untuknya.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Kenapa Fira harus pergi dari rumah, Bunda?" Tanya Evan saat Bundanya sedang menjelaskan dengan perlahan keadaan sebenarnya
"Karena Fira harus tinggal bersama Nenek sama Kakeknya. Mereka sangat menyayangi Fira dan Fira pasti bahagia bersama mereka. Kita bisa bertemu Fira kalo ada waktu senggang" jelas Anista dengan lembut
"Emangnya Fira gak bahagia ya tinggal disini sama Evan?" Tanya bocah kecil itu lagi
Inilah Hervanio Walton, dia selalu bertanya dan terus bertanya sampai apa yang dia ingin tahu terjawab. Anak ini punya pemikiran yang lebih luas dari anak seusianya. Keturunan Walton ini memang tidak perlu di ragukan lagi kecerdasan nya.
"Karena Kakek dan Neneknya Safira ingin tinggal bersamanya. Kasihan mereka hanya tinggal berdua, sementara disini kan ada Evan, Bunda, Daddy dan nanti juga bakal ada adik Evan. Jadi, pasti akan rame" kata Anista
Akhirnya Evan mengangguk mengerti "Iya Evan ngerti sekarang Bunda"
Sementara di sisi lain ada Yudha yang sedang memangku Safira. Rasanya Yudha masih tidak percaya dengan kenyataan ini.
Bahkan Yudha merasa baru kemarin dia menggendong Safira yang masih bayi dan begitu menyayanginya bahkan melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri.
Namun, saat ini Yudha kembali harus di kecewakan oleh kenyataan yang ada. Baru saja dia akan merasakan bahagia, tapi seolah bahagia itu tidak rela menghampirinya. Hidupnya hancur saat mengetahui jika putrinya yang selalu dia sayangi selama ini ternyata bukanlah anak kandungnya.
"Jadi, fiya halus pegi rumah nih?" kata Safira
Yudha mengerti apa yang di katakan putrinya, meskipun cara bicara Safira masih terlalu cadel dan belum terlalu benar dalam mengucapkan sebuah kata.
Yudha mengangguk dengan tatapan sendu "Iya Nak, Fira akan tinggal bersama Nenek dan Kakek Fira"
"Tapi Fiya mau Bunda, Daddy aja"
__ADS_1
Semakin sakit hati Yudha saat mendengar ucapan putrinya itu. Dia mengusap kepala Safira dan menciumnya.
"Nanti Bunda sama Daddy juga Kakak Evan pasti akan sering mengunjungi Fira di rumah Kakek sama Nenek" kata Yudha
"Fiya dak bica jagain adik bayi kalo Fiya pegi"
Yudha menghela nafas saat anak kecil itu mulai meneteskan air mata. Bahkan bibirnya sudah mencebik lucu dengan mata memerah.
"Udah jangan nangis ya, Fira do'ain adik bayi saja biar bisa sehat di perut Bunda sampai dia lahir. Nanti kalo adik bayi lahir, Fira bisa menginap di sini ya" kata Yudha sambil menghapus air mata yang bercucuran di pipi gembil anak itu
Hiks...Hiks..
Safira mulai terisak, dia memeluk Ayahnya dengan erat. Seolah mengerti keadaan yang sebenarnya sedang terjadi.
"Fiya boyeh sini main cama Kakak cama adik bayi.. Hiks" katanya lagi sambil terisak
Yudha mengelus kepala anaknya itu "Iya, kapanpun Fira mau kesini Fira bisa datang langsung kesini. Atau telepon Daddy biar nanti Daddy jemput Safira"
"Hiks.. Yaudah Fiya mau tinggal cama Nenek Kakek"
Tapi, tak bisa di pungkiri kalau Yudha sangat merasa sedih karena keadaan ini akan membuatnya sedikit jauh dari Safira.
Tidak peduli jika Safira bukan anak kandungnya. Rasa sayang Yudha tidak akan pernah hilang untuk anak itu. Sampai kapanpun Safira akan tetap menjadi putrinya.
Anista yang mendengar percakapan Yudha dan Safira sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengeluarkan air matanya.
Rasanya Anista seperti sedang bermimpi saat Safira yang dia asuh sejak dia belum bisa berjalan sampai sekarang dia sudah bisa lari larian dan berbicara meskipun belum terlalu fasih harus pergi meninggalkan rumah ini.
Semoga kami bisa kuat menghadapi cobaan ini Ya Allah.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Anista masuk ke dalam kamar utama, disana terlihat suaminya yang sedang berdiri menghadap jendela besar yang menuju ke arah balkon. Pemandangan taman langsung terlihat dari sana.
Dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celana panjangnya. Anista menatap sendu punggung lebar itu. Meski tak pernah mengeluh, tapi dia tahu jika suaminya sangatlah rapuh dengan keadaan ini.
__ADS_1
Anista memeluk Yudha dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung lebar itu. Pipi kirinya menempel di punggung lebar Yudha.
Yudha tersenyum saat istrinya tiba-tiba memeluknya seperti ini "Anak-anak mana Sayang?"
"Sudah tidur Mas"
Yudha mengangguk lalu mengusap tangan mungil yang melingkar di perutnya. Pandangannya masih menatap ke arah taman yang terlihat indah dengan sorotan lampu taman. Air kolam berenang terlihat begitu tenang.
"Kamu gak papa, Mas?" Tanya Anista
Yudha tersenyum lalu membalikan badannya menghadap sang istri "Aku baik baik saja"
Anista menghela nafas "Nist tau kalo Mas gak baik baik saja, Mas terluka, Mas kecewa dengan semua ini. Nist juga sama, masih kayak gak percaya kalo Safira akan pergi dari rumah ini. Tapi, kita bisa apa selain menerima takdir dan kenyataan ini"
Yudha tersenyum dan mengangguk seiring dengan tetesan air mata yang tak lagi bisa dia kendalikan. Hanya di depan istrinya Yudha bisa menunjukan kesedihannya.
Anista memeluk Yudha dengan erat, membiarkan prianya menangis di pundaknya. Anista tahu jika Yudha sangatlah rapuh dengan keadaan ini.
Anista mengelus punggung tegap itu, "Gak papa Mas, Nist ngerti bagaimana perasaan Mas. Kita lewati ini semua sama-sama ya"
Yudha mengusap ujung matanya yang berair "Terimakasih Sayang, selalu ada di samping aku apapun yang terjadi"
"Itu janji Nist sama Mas, dan Nist harus menepatinya"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Mas gak papa?"
Mungkin sudah tak terhitung lagi berapa kali Anista bertanya seperti itu pada Yudha.
"Enggak Sayang, selama ada kamu di sisiku. Aku pasti akan baik-baik saja" kata Yudha
Ya, itu benar! Selama Anista berada di sampingnya. Maka Yudha akan selalu baik-baik saja. Seberapa berat masalah yang dia hadapi, tapi jika penyemangatnya tetap berada di sampingnya maka Yudha akan bisa melewati semuanya dengan baik.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan kaish votenya...