
"Minum dulu"
Yudha menyodorkan minum pada istrinya, setelah Anista menyelesaikan makannya. Wanitanya itu hanya menurut, tidak berniat membantah apapun yang di katakan suaminya. Dia tahu jika suaminya sedang dalam mode kesal.
"Mas, Evan udah pulang les nya?" Tanya Anista
"Udah, tadi Pak Danu sudah memberi tahuku jika Hervan sudah pulang Les"
Dia kesal banget ya sama aku, sampe aku nanya aja gak lihat wajah aku. Ishh..
"Yaudah, pulang aja sekarang" kata Anista
Yudha mengangguk, dia membayar makanan mereka dan langsung menggandeng istrinya keluar dari Restaurant itu.
Di parkiran sudah ada Pak Supir yang menunggu mereka di dekat mobil. Pak Supir membukakan pintu mobil dan sepasang suami istri itu pun langsung masuk.
Mobil melaju membelah jalanan kota di sore hari. Jalanan sedikit ramai karena sudah waktunya pulang kerja.
Terdengar beberapa kendara yang membunyikan klaksonnya karena kemacetan yang terjadi. Sudah tidak sabar ingin sampai di tujuan.
Anista menoleh ke arah suaminya yang masih terlihat kesal, dia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Yudha. Kenapa masih marah si, kan udah makan aku teh.
Anista menoel bahu Yudha sehingga suaminya itu langsung menoleh padanya "Masih marah, Mas? Udah dong marahnya"
Yudha mendengus saat melihat istrinya yang merengek. Sudah tahu dia tidak akan tahan marah lama-lama jika melihat wajah menggemaskan Anista.
Anista merangkul tangan suaminya dan menyandarkan kepala di bahunya "Gak ulangi lagi deh. Jangan marah terus atuh"
Cup
Kecupan di puncak kepalanya sudah cukup membuat Anista bernafas lega. Suaminya sudah tidak kesal lagi padanya, apalagi sekarang tangannya merangkul Anista dan mengelus-ngelus kepalanya.
Akhirnya gak marah lagi kesayangan aku. Hehe.
Anista tersenyum geli dengan pemikirannya itu. Dia mendongak dan mengecup pipi Yudha, senyum samar terlihat dari wajah suaminya. Yudha sudah tidak kesal lagi pada istrinya.
"Pokoknya aku gak mau ya, kamu kayak gitu lagi. Melupakan makan, ada atau sedang tidak ada aku. Pokonya aku akan marah jika kamu melakukannya lagi"
Suara penuh penekanan itu membuat Anista langsung mengangguk, mengiyakan ucapannya. Dia tidak mau membantah suaminya, Anista tahu apa yang di lakukan Yudha adalah untuk kebaikan dirinya dan juga bayi mereka.
__ADS_1
"Udah dong jangan di bahas terus, kan tadi keasyikan milih-milih baju sama perlengkapan lainnya untuk bayi kita" kata Anista, semakin menempelkan tubuhnya pada Yudha. Tangannya melingkar di perut Yudha, memeluknya erat.
"Padahal untuk hal seperti ini kita bisa menyuruh Bima saja untuk mengurusnya. Kalau tahu begini, aku tidak akan menuruti kemauan mu untuk pergi belanja sendiri perlengkapan bayi kita" kata Yudha, masih terdengar nada kesal dari nada bicaranya
Anista menggesek-gesekan pipinya ke dada suaminya. Tidak tahukah jika tindakannya ini membuat Yudha bergairah dan membangunkan sesuatu di bawah sana.
"Iya, kan udah belanjanya juga. Gak akan ulangi lagi" kata Anista
Yudha kembali mengecup puncak kepala istrinya "Berhenti Sayang, kau ingin menggodaku? Kau telah membanguknan nya"
Anista langsung melepaskan pelukannya, dia menatap ke bagian yang di maksud oleh Yudha. Matanya langsung terbelalak melihat bagian menonjol itu.
Astagfirullah..
"Ngapain menjauh? Sini" Yudha menggerakkan tangannya, agar Anista kembali mendekat
"Gak mau!" kata Anista yang langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
Apa dia gak malu ngomong kayak gitu, disini kan bukan hanya kita berdua. Masih ada Pak Supir yang telinganya masih normal untuk mendengar ucapan ngawur suamiku itu.
"Mulai membantah ya, oke. Sepertinya aku harus menggunakan cara lain" kata Yudha
Anista pura-pura tidak mendengar ucapan Yudha. Dia masih menatap ke luar jendela. Cara apa? Memang dia mau melakukan apa coba.
"Ba..."
"Jangan!!" teriakan Anista berhasil memotong ucapan Pak Supir, dia langsung menggeser duduknya menjadi lebih dekat pada suaminya. Memeluk suaminya seperti yang di lakukannya tadi.
Bisa gawat kalo bener-bener berhenti di hotel. Habis aku...
Anista begitu mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Dokter kandungan. Sudah di pastikan suaminya tidak akan membiarkannya lolos malam ini.
"Jangan aneh-aneh deh Mas" bisik Anista di telinga suaminya
"Apanya yang aneh, aku menginginkan istriku dan itu wajar. Benar tidak Pak?"
Gila.. Bukannya berbisik, Yudha malah sengaja mengeraskan suaranya dan bertanya pada supir. Anista langsung mencubit kesal perut suaminya. Sia-sia, cubitan dari tangan mungilnya tidak akan berasa apa-apa pada Yudha.
"Iya Tuan" jawab Pak Supir
__ADS_1
Tolong bisa kalian hentikan drama ini?
Pak Supir hanya bisa membatin mendengar perdebatan Tuan dan Nona Mudanya yang benar-benar tidak ada gunanya sama sekali. Semuanya hanya menjurus ke masalah pertempuran ranjang.
Aaa. Aku malu sekali..
Anista langsung menyembunyikan wajahnya di dada Yudha. Tidak mau wajahnya terlihat oleh Pak Supir. Dia sudah terlanjur malu.
Yudha terus menciumi puncak kepala istrinya, tangannya juga tidak berhenti mengelus perut buncit Anista. Merasakan tendangan-tendangan kecil dari anaknya.
Karena terlalu malu dan terus menyembunyikan wajahnya di dada Yudha. Kecupan dan usapan tangan Yudha sepertinya begitu menenangkan untuk Anista. Akhirnya Anista terlelap dalam pelukan Yudha. Pelukan suaminya terlalu nyaman untuknya.
Mobil sampai di parkiran rumah mewah itu. Pak Supir langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Tuan dan Nonanya.
Yudha menggendong Anista keluar dari mobilnya. Melihat istrinya terlelap seperti itu selalu membuat Yudha tenang. Wajah teduh yang selalu membuatnya nyaman.
"Ambilkan tas saya dan tas istri saya, berikan pada Pak Danu" perintah Yudha sebelum dia berlalu masuk ke dalam rumah.
Sampai di kamar mereka, Yudha segera membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Dia membuka sepatu Anista, lalu menarik selimut sampai ke pinggang istrinya.
Cup
Kecupan hangat Yudha di kening istrinya "Istirahatlah, sebelum nanti malam aku akan membuatmu kelelahan"
Tok tok tok
"Tuan"
Suara Pak Danu terdengar dari balik pintu kamarnya. Yudha segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Tas Anda dan Nona" kata Pak Danu saat Yudha sudah membuka pintu
Yudha menerimanya "Terimakasih Pak"
Ekhem..
Pak Danu sedikit terkejut dengan ucapan itu dari Yudha. Terlalu kaku dan dingin, membuat kata itu seperti suatu hal yang sangat sulit terucap dari bibir Yudha.
"Iya Tuan"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupakan dukungannya.. Like dan komen.. Kasih hadiah sama votenya juga..