Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Menantikan Kelahiran


__ADS_3

Anista duduk berselonjor di atas tempat tidur. Malam ini dia begitu gelisah karena sebentar lagi suaminya akan meminta hak nya yang sudah cukup lama dia tahan.


Tangannya terus mengelus perut buncitnya. Tendangan kecil dari bayinya membuat Anista tersenyum bahagia.


Sehat-sehat selalu ya Nak.


Yudha masih di ruang kerjanya, mengecek beberapa laporan dari Bima. Selesai dengan semua pekerjaannya, Yudha langsung meninggalkan ruang kerja dan ingin segera menemui istrinya di dalam kamar.


Sudah beberapa bulan, Yudha menuntaskan gairahnya hanya dengan tangan dan bibir istrinya. Saat ini, sudah saatnya Yudha membuka kembali lembah kesayangannya.


Ceklek


Yudha membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Dia menatap penuh gairah pada istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Sayangg... Kau.. sungguh menggoda"


Yudha berjalan cepat menghampiri Anista. Dia tidak menyangka jika istrinya akan menyambutnya dengan pakaian tidur tipis itu. Wahh.. Sungguh jagoan Yudha semakin meronta ingin menemui lembah kesayangannya.


Berpakaian normal saja, sudah membuat Yudha begitu bergairah. Apalagi dengan pakaian tidur yang sangat tipis itu. Bahkan sangat menerawang tubuh Anista.


Cup


Yudha mengecup bibir istrinya yang di akhiri dengan ******* penuh gairah. Melepaskan sejenak tautan bibir mereka dan kini Yudha menyatukan keningnya dengan kening istrinya.


"Sengaja pakai baju ini, hmm? Kau tidak perlu lagi menggodaku dengan cara ini, karena apapun yang kau lakukan selalu saja membuatnya terbangun" lirih Yudha dengan senyuman nakalnya


Hahh.. Benar juga, kenapa juga aku harus memakai pakaian tipis ini. Tadinya, hanya ingin membuat suami senang agar bisa dapat pahala.


Akhirnya Anista hanya bisa pasrah saat suaminya malah merobek paksa pakaian yang di kenakannya. Yudha terlihat sudah tidak bisa menahan gairahnya lagi.


Beberapa bulan dia menahan semua ketersiksaan dirinya saat harus melakukan pelepasan seorang diri. Jagoannya sudah sangat merindukan lembah kesayangannya.


"Mas, ingat kata dokter" lirih Anista saat melihat suaminya sudah tidak bisa mengontrol gairahnya itu.


"Iya Sayang, aku akan melakukannya dengan lembut"


Akhirnya malam ini, akan dilalui cukup panjang oleh sepasang suami istri ini.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat, usia kandungan Anista sudah sembilan bulan. Waktu di mana para ibu menantikan kelahiran bayinya dengan harap-harap cemas.


Di sini Anista juga begitu menantikan waktu itu tiba. Dimana bayinya akan lahir dan dia bisa segera menggendongnya.


Bukan hanya Anista yang selalu berdebar saat mengingat kelahiran bayinya yang hanya tinggal menghitung hari saja. Yudha juga merasakan hal yang sama, bahkan dia selalu membujuk Anista agar tidak melahirkan secara normal.


Karena Yudha tahu jika melahirkan secara normal akan terasa begitu sakit untuk istrinya. Dan Yudha tidak yakin dia akan sanggup melihat istrinya kesakitan.


"Yakin Sayang? Apa gak mau operasi saja?"


Sudah tak terhitung lagi, berapa kali Yudha menyatakan hal itu pada Anista. Dia selalu terlihat cemas memikirkan tentang kelahiran bayinya yang tinggal menunggu waktunya saja. Bisa saja besok, lusa atau mungkin sekarang.


"Aku yakin Mas, lagian dulu juga pas lahiran Evan. Aku melahirkan secara normal, lalu kenapa sekarang harus memilih jalur operasi jika melahirkan normal juga memungkinkan dengan kondisiku ini" kata Anista, mencoba menenangkan suaminya


"Tapi Sayang, aku gak yakin aku akan sanggup lihat kamu kesakitan nantinya" kata Yudha dengan menatap wajah wanitanya


Anista tersenyum, tangannya mengelus rambut suaminya "Tenang saja Mas, rasa sakitnya tidak seperti yang kamu pikirkan. Buktinya banyak Ibu yang memiliki lebih dari satu anak. Itu artinya rasa sakit pas melahirkan tidak separah yang kamu pikirkan"


Hah...


Yudha menghembuskan nafas "Beneran ya? Pokoknya kalo kamu gak kuat, langsung bilang aku dan kita pilih jalur operasi"


"Maksudnya gak kuat nahan sakitnya Sayang. Itu gak sebentar loh, bisa sampai berjam-jam" jelas Yudha dengan wajah frustasi bercampur cemas berlebihan


"Istri Mas ini kuat loh, gak mungkin gak kuat bisa nahan sakit itu. Apalagi Suamiku tersayang ada di sampingku dan bersamaku. Tidak ada yang perlu di takutkan lagi"


"Dulu saja aku kuat melahirkan Evan dalam kondisi masih sangat muda tanpa di dampingi suami. Sekarang masa aku gak bisa si, suamiku ada di sampingku dan selalu menguatkan ku"


Begitulah Anista terus mencoba menenangkan suaminya. Hingga malam hari, dia terbangun dari tidurnya karena merasakan perutnya mengencang dan terasa sakit.


Anista bangun dan duduk menyandar di tempat tidur. Tangannya mengelus perutnya, kerutan di dahinya menunjukan rasa sakit yang sedang dia tahan.


Sudah waktunya ya? Cepat keluar Nak, Bunda dan Daddy juga Kak Evan begitu menantikan kelahiranmu.


Anista menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap. Dia mengelus lembut kepala pria yang begitu dia cintai itu.


Abah, Ibu do'akan Neng teh lancar dalam melahirkan cucu kalian.


Rasa sakit kembali menyerang saat untuk beberapa saat hilang. Anista menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan. Mencoba menahan rasa sakit yang sedang menyerangnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu hilang. Anista turun dari tempat tidur dengan perlahan. Dia memilih untuk berjalan-jalan di kamarnya untuk mempercepat kelahiran anaknya.


Anista terus berjalan-jalan dikamarnya. Berhenti saat rasa sakitnya kembali datang, memposisikan dirinya senyaman mungkin saat rasa sakit itu datang lagi. Kembali berjalan ketika rasa sakitnya menghilang, begitulah seterusnya.


Menjelang subuh Yudha merasa tangannya hampa. Wanita yang selalu di peluknya tidak ada. Yudha langsung membuka matanya dan melihat Anista sedang berjalan-jalan di kamarnya.


Yudha langsung bangun dan turun dari tempat tidur "Sayang?"


Anista menoleh dan tersenyum, rasa sakitnya semakin sering dan dia mencoba untuk tidak menunjukan rasa sakitnya pada suaminya. Sudah pasti Yudha akan panik.


"Mas sudah bangun, mandi dan subuh dulu ya" kata Anista


Yudha menghampiri istrinya dan mencium keningnya yang berkeringat saat itu "Sayang gerah? Kok keringetan gini"


Yudha mengelap keringat Anista dengan tangannya lalu kembali mengecup keningnya.


"Iya Mas, cepetan mandi dan subuh dulu" kata Anista sedikit mendorong tubuh suaminya


Yudha akhirnya masuk ke ruang ganti untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh istrinya.


Huh..Huh...


Anista menghembuskan nafasnya, rasa sakit itu semakin sering dan lama. Anista terus menarik nafas dan menghembuskan nya. Mencoba tenang dan tidak membuat suaminya panik dan dapat di pastikan akan membuat kehebohan..


Beberapa saat kemudian Yudha telah keluar dari ruang ganti. Pria itu telah selesai mandi dan menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Kini Anista yang masuk ke ruang ganti dan melakukan hal yang sama dengan suaminya.


Anista keluar dari ruang ganti dengan menenteng tas berukuran cukup besar. Tas perlengkapan bayi dan segala keperluannya saat melahirkan yang telah Anista siapkan jauh-jauh hari.


Yudha mengerutkan keningnya, bingung saat melihat istrinya membawa tas cukup besar itu "Sayang?"


"Mas ayo kita ke rumah sakit, adiknya Evan sudah mau lahir"


"APA???"


Bersambung


Jangan lupa Like, komen dan kasih hadiah juga. Kalo boleh minta rate bintang 5 ya..


Novel kisah Bima dan Hasna sudah realiss ya.. Judulnya You Are My Life..

__ADS_1


__ADS_2