Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Rencana Liburan Di Kampung Halaman


__ADS_3

"Aku ingin pulang ke kampung Mas, aku ingin ziarah ke makam Abah sama Ibu"


Begitulah permintaan Anista, namun Yudha masih belum mengizinkannya karena usia Hervin yang baru tiga bulan. Masih terlalu kecil untuk di bawa perjalanan yang cukup memakan waktu.


"Kita tunggu Hervan libur sekolah, kita akan pergi ke kampung halaman mu dan bisa beberapa hari tinggal disana untuk berlibur" kata Yudha


Anista mecebik "Itu masih lama Mas, Evan libur sekolahnya masih bulan depan. Kalo Mas sibuk, aku bisa pergi sendiri tanpa bersama Mas juga gak papa"


Yudha langsung mendelik tajam "Jangan macam-macam Anista! Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendiri. Kau ingin lari dariku"


Apaan si, kok malah dia yang marah. Padahal Nist teh hanya ingin ke makam Abah sama Ibu, sudah beberapa kali mereka datang ke mimpi Nist. Mungkin ingin Nist ziarah ke makam mereka.


"Tunggu sampai Hervan libur sekolah dan aku akan membereskan dulu pekerjaan disini. Menurutlah!" kata Yudha tegas


Anista akhirnya mengangguk "Iya"


Tidak akan bisa menang dia jika terus berdebat dengan suaminya. Lebih baik mengalah saja, Anista hanya perlu bersabar satu bulan ke depan untuk bisa pergi ke kampung halamannya.


Cup


Yudha mengecup bibir istrinya yang memberengut kesal "Sudah, jangan cemberut gitu. Aku janji akan membawamu pulang ke kampung halamanmu. Lagian aku punya kejutan untukmu di kampung halamanmu nanti"


Mata Anista langsung berbinar senang "Apa? Kejutan apa?"


Bukannya menjawab, Yudha malah mencium bibir istrinya. Kali ini bukan hanya kecupan, namun Yudha memberikan luma*tan halus dan lembut. Anista terbuai juga akhirnya, dia menikmati ciuman itu dan membalas setiap kecupan dari suaminya.


Keduanya terhanyut dengan ciuman penuh cinta itu hingga suara tangisan dari anak kedua mereka membuat mereka tersadar dan melepaskan tautan bibirnya.


Yudha berdecak kesal "Dia kenapa selalu mengganggu kita di saat seperti ini si"


Anista berjalan ke arah box bayi dan langsung menggendong Hervin. Membawanya menuju sofa dan duduk di sana sambil menyusui baby Hervin.

__ADS_1


"Namanya juga bayi Mas, kamu ini gimana si masa gak mau ngalah sama anak sendiri"


Yudha berjalan ke arah istrinya dengan wajah yang di tekuk kesal. Duduk di samping istrinya dan memperhatikan Hervin yang sedang meminum asi dari Bundanya dengan begitu lahap.


"Tapi, perhatian kamu selalu teralihkan oleh Hervin" Yudha memeluk Anista dan menyembunyikan wajahnya di leher Anista "Aku juga butuh perhatian kamu"


Hah.. Apa suamiku sedang cemburu pada anaknya sendiri. Benar-benar Tuan Muda dengan segala sikap anehnya.


"Masa kamu cemburu sama anak kamu sendiri, Mas. Evan juga dulu waktu masih bayi, gak bisa jauh dari aku. Jadi, wajar saja jika Hervin juga sama" jelas Anista


"Bukan Hervin nya yang gak mau jauh sama kamu. Tapi kamunya yang gak mau jauh sama dia" kesal Yudha


Anista memang belum menyerahkan pengasuhan Hervin pada seorang pengasuh. Teh Isni sudah Yudha tugaskan untuk menjadi pengasuh Hervin, karena Hervan sudah mandiri dan bisa berangkat sekolah hanya dengan di antar supir dan akan kembali di jemput oleh supir. Makan dan berpakaian pun sudah bisa sendiri.


"Bukannya aku gak mau titipin Hervin ke Teh Isni. Tapi, selama dia belum satu tahun aku hanya ingin mengurusnya sendiri tanpa bantuan pengasuh. Lagian aku bisa membagi waktu, Hervin terurus, kamu juga terlayani dan Evan juga tetap mendapatkan perhatian" jelas Anista


Yudha terdiam, dia semakin menciumi tengkuk leher Anista. Benar.. Istrinya ini memang sangatlah luar biasa, dia bisa membagi waktu untuk mengurus anak keduanya dan anak pertamanya tanpa mengabaikannya. Anista selalu melayani suaminya sebisa mungkin.


Hanya saja, Yudha sering merasa kesal saat kegiatan kenikmatannya selalu terganggu jika tiba-tiba Hervin menangis dan akhirnya dia harus menunggu istrinya menenangkan anaknya dulu, berulah dia bisa melanjutkan kegiatannya.


"Aku mau ke bawah nih, sebentar lagi Evan pulang sekolah. Dia selalu cari-cari aku kalo aku gak ada di bawah. Nanti sore sudah harus berangkat les lagi dia. Kasian kalo aku gak nemenin dia sampe nanti dia berangkat lagi untuk les"


Begitulah Anista, selalu berusaha menjadi Ibu dan istri yang terbaik. Sebisa mungkin dia membagi waktu dan perhatiannya untuk ketiga pria berharga dalam hidupnya.


Yudha melepaskan lingkaran tangannya di perut Anista "Yaudah ayok kita ke bawah, aku juga gak ada kerjaan"


"Tumben, biasanya jika berada di rumah juga tetap banyak kerjaan. Lagian kamu kenapa hari ini gak masuk kantor Mas?" Tanya Anista penasaran karena tadi pagi suaminya menyatakan jika dia tidak akan pergi bekerja hari ini.


"Lagi males aja, lagi pengen kumpul sama keluarga kecilku ini. Lagian gak ada agenda penting hari ini, Bima akan segera menetap lagi disini. Jadi sudah ada yang bisa aku andalkan jika aku tidak bisa masuk kantor" jelas Yudha


Anista menoleh dan menatap bingung pada suaminya "Loh kok bisa? Terus hubungannya dengan Hasna gimana?"

__ADS_1


Yudha mengangkat bahunya acuh tak acuh "Mungkin dia akan membawa gadisnya pindah ke kota ini"


"Wah beneran kamu Mas?" Tanya Anista begitu antusias


Yudha mencubit gemas hidung istrinya "Seneng banget yang bakal deket sama teman kesayangannya. Awas aja kalo sampe melupakan suamimu ini!"


Ihh. Apaan si dia ini.


"Hehe. Udah ahh, ayo kita ke bawah"ajak Anista


Keduanya keluar dari kamar utama dengan Yudha merangkul pinggang istrinya yang sedang menggendong baby Hervin.


Keluarga bahagia ini berkumpul di ruang tengah. Hervan juga sudah pulang sekolah, dia sudah akan masuk sekolah dasar tahun depan.


"Mas kamu telepon Neneknya Safira ya, aku mau bawa dia ke kampung. Kan sekalian liburan, kangen banget aku sama gadis kecil itu" kata Anista


Yudha tersenyum bangga, betapa baik dan lembut hati istrinya ini. Bahkan dia masih begitu menyayangi anak dari mantan istri suaminya dengan selingkuhannya.


"Iya nanti aku hubungi mereka, tapi dengan satu syarat" kata Yudha


Anista menoleh dan mengerutkan keningnya, bingung "Syarat? Kok pake syarat segala si?"


"Pokoknya ada syratnya dan kamu harus menurutinya" tegas Yudha


"Yaudah iya, apa syaratnya?"


"Kita ajak Isni, aku gak mau kamu kelelahan dengan mengurus tiga anak sekaligus" kata Yudha


Anista mengangguk mengerti, dia mengiyakan saja permintaan suaminya itu.


Empat anak bukan tiga anak. Dia'kan lebih dari balita kelakuannya. Manja banget..

__ADS_1


Bersambung


Di tunggu dukungan kalian di cerita Hasna dan Bima. You Are My Life


__ADS_2