Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Priaku tidak setegar itu!


__ADS_3

"Perlu Mami ketahui ada satu hal yang Mami tidak tahu. Mungkin siapapun tidak tahu kecuali aku dan Bima. Aku memperk*osa gadis di hotel kita di luar kota" kata Yudha dengan penuh penekanan


Deg


Varinda terdiam mematung, dadanya mulai terasa sesak. Bagaimana bisa anaknya menyembunyikan hal sebesar ini. Varinda memegang dadanya yang begitu sesak.


"Kapan? Kapan kejadian itu terjadi?" Tanya Varinda dengan nafas terengah engah


"Kurang lebih 4 tahun lalu"


Hah... Hah..


Varinda mulai mengatur nafasnya yang terasa berat "Kau gila Yudha, hal itu bisa membuat nama baikmu hancur. Kau tahu? Mami dan Ayahmu baru saja bertemu dengan keluarga dari Papimu beberapa bulan lalu"


Yudha terdiam medengar ucapan Ibunya, pria yang duduk di samping Varinda yang ternyata adalah Ayah tiri Yudha mencoba menenangkan istrinya itu.


"Tenang Mam, jangan terpancing emosi" Ayah tiri Yudha terus mengelus punggung istrinya


"Mereka ingin bertemu denganmu dan mereka berencana ingin memberikan perusahaan mereka padamu. Tapi, jika kau melakukan itu dan mereka mengetahuinya" Varinda menghela nafas berat


"Keluarga Papimu itu akan semakin membenci Mami karna Mami tidak bisa menjaga dan mendidikmu dengan baik" kata Varinda masih mencoba menetralkan emosinya


"Aku tidak perlu perusahaan dari mereka. Perusahaan Papi sudah cukup untuk ku" kata Yudha dingin


Anista hanya menunduk diam, dia masih bingung dengan keadaan keluarga kaya ini. Yang sekarang dia tahu bahwa Yudha mempunyai Ayah tiri, itu saja.


"Asal kau tahu Yudha Abimana Walton, Papimu selalu menginginkan kamu bisa di terima di keluarganya. Dan Mami ingin mewujudkan keinginan Papimu yang tidak bisa dia wujudkan semasa hidupnya" kata Nyonya Varinda berapi api


"Kau tahu? Kenapa dulu Papimu menyuruhmu kuliah di luar negara. Karna disanalah keluarga Papimu tinggal, dia begitu berharap kamu bisa bertemu mereka dan kamu bisa masuk ke keluarga mereka" lanjut Nyonya Varinda lagi


Nyonya Varinda menundukan kepalanya, matanya mulai memanas dan mengalirkan cairan bening di pipinya.


"Kau tahu, bagaimana Mami merasa sakit saat kau sama sekali tidak di akui oleh keluarga Walton. Nama yang tersemat di belakang namamu" kata Varinda


Baru kali ini Yudba melihat Ibunya sampai meneteskan air mata karenanya. Selama ini Yudha hanya berfikir jika Ibunya sama sekali tidak peduli padanya.


Melihat bagaiaman Varinda selalu menekan semua keinginan nya pada Yudha. Apa yang di katakan Varinda maka harus Yudha lakukan.

__ADS_1


Semenjak meninggalnya Yacob Walton, Ayah kandung Yudha. Kehidupan Yudha berubah begitu drastis. Varinda selalu menekannya agar belajar dengan rajin dan mendapatkan nilai yang sempurna.


Yudha sudah di berikan beban berat dengan harus memajukan perusahaan Ayahnya yang saat itu masih menjadi perusahaan kecil. Namun, apa yang di lihatnya saat ini. Yudha melihat jika Ibunya begitu peduli padanya. Benarkah??


"Tapi tidak segampang itu Mam, aku sudah banyak mengorbankan masa mudaku. Aku berjuang demi perusahaan Papi"


"Aku tidak butuh perusahaan mereka yang hanya ingin aku yang sempurna. Aku yang tidak melakukan kesalahan, sayangnya aku telah melakukan kesalahan besar. Dan aku ingin menebus kesalahan dan dosaku itu sekarang dengan membahagiakan Anista dan anak anaku"


Setelah mengatakan itu Yudha langsung menarik tangan Anista dan membawanya ke kamar dimana Evan masih terlelap di sana. Tidak menghiraukan teriakan Varinda yang memanggil namanya. Yudha butuh ketenangan saat ini.


Anista menatap punggung Yudha yang tegap itu. Hari ini Anista banyak tahu tentang kehidupan Yudha yang terlalu banyak luka.


Priaku tidak setegar itu.


"Kamu mandilah duluan, aku mau menemui Safira dulu dan akan membawanya kesini" kata Yudha setelah mereka sampai di kamar


Anista hanya mengangguk dan membiarkan Yudha pergi keluar dari kamar itu. Hal baru yang Anista ketahui tentang kehidupan Yudha. Pria itu begitu terluka dengan kenyataan yang ada.


Hahh...


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Anista sudah selesai mandi, dia duduk di pinggir tempat tidur. Menatap Evan yang masih terlelap, sepertinya anak itu terlalu lelah setelah melewati perjalanan cukup jauh.


"Dimana Mas Yudha? Kenapa belum kembali juga" lirihnya


Akhirnya Anista memilih mencari Yudha yang belum juga kembali sejak satu jam yang lalu. Bertanya pada pelayan disana dan mengatakan jika Yudha berada di kamar Safira.


Ceklek


Masuk ke dalam kamar yang bernuansa pink itu. Anista melihat ke setiap penjuru ruangan, tidak ada Yudha disana. Anista tersenyum sambil berjalan menghampiri Safira yang terlelap di dalam box bayi.


Anista mengelus kepala balita itu "Bunda kangen banget sama kamu Nak. Bunda harus cari Daddy dulu ya, Bunda khawatir sama Daddy"


Anista mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Dia sedang mandi ya, aku tunggu disini saja.


Namun, baru saja Anista akan mendudukan tubuhnya di tempat tidur tiba tiba terdengar suara pukulan begitu keras di ikuti suara seperti kaca pecah dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Bugh.. Pranggg...


Anista langsung berlari ke pintu kamar mandi. Dor...dor...dor... Bukan ketukan lagi yang Anista lakukan. Tapi seperti menggendor pintu dengan keras.


"Buka.. Mas... Buka... Mas Yudha Buka pintunya sekarang" teriak Anista sambil terus menggedor pintu kamar mandi


Akhirnya pintu terbuka menampilkan Yudha yang begitu kacau. Rambut acak acakan dengan tangan yang penuh dengan darah dan ada beberapa serpihan kaca yang menempel di sana.


Anista menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan dia langsung tercengang saat melihat kaca wastafel hancur dan serpihan kaca berserakan di atas lantai.


Peralatan mandi seperti sabun dan yang lainnya juga berserakan di lantai. Yudha benar benar mengamuk sekarang.


Anista berbalik dan menatap Yudha yang menyandar di dinding dekat pintu kamar mandi. Anista meraih perlahan tangan Yudha yang berlumuran darah. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.


"Kenapa melakukan ini Mas? Jangan menyakiti dirimu sendiri, kamu sudah terlalu sakit dan tidak perlu menambah rasa sakit itu dengan menyakiti diri kamu sendiri"


Anista mencabuti beberapa serpihan kaca yang menempel di tangan Yudha. Dia meringis melihat darah di tangan Yudha, berbeda dengan Yudha yang terlihat datar seperti tidak merasakan sakit dengan luka di tangannya itu.


"Kita ke rumah sakit aja ya, luka Mas harus di obatin" kata Anista menatap wajah Yudha dengan mata basahnya


Tangan kiri Yudha terangkat untuk menghapus air mata Anista "Jangan menangis"


Hiks...Hiks...


Bukannya berhenti menangis, Anista justru semakin sesenggukan. Dia langsung memeluk tubuh tegap Yudha. Hatinya hancur melihat kondisi lelakinya ini.


Yudha membalas pelukan Anista, tidak perduli dengan tangannya yang masih mengeluarkan darah segar.


"Jangan kayak gini lagi Mas, Nist gak suka Mas kaya gini. Kalo ada masalah jangan melampiaskan dengan melukai diri sendiri kaya gini.. Hiks..."


Yudha mengecup puncak kepala Anista "Jangan pernah meninggalkan aku Sayang, aku tidak akan sanggup jika melewati semua ini tanpamu"


Anista mengangguk dan semakin erat memeluk Yudha. Ya Allah kenapa serumit ini kisah kami. Kenapa dua luka yang bertemu ini tidak menjadi bahagia. Aku menantikan saat itu.


Bersambung


Up lebih awal, ayodong jangan pelit pelit kasih like dan komennya juga.

__ADS_1


__ADS_2