
Prankk...
"Astagfirullah"
Anista terkejut sendiri dengan gelas yang tidak sengaja di jatuhkan. Anista sedang mengambil minum dan tidak sengaja malah menjatuhkan gelas itu.
Anista berjongkok dan ingin membereskan pecahan gelas itu, tapi jarinya malah terkena serpihan gelas itu.
Anista menatap darah yang menetes dari jari telunjuknya. Perasaannya tidak enak, seolah akan ada sesuatu terjadi.
Ada apa dengan Nist? Kenapa perasaan Nist gak enak. Ya Allah, semoga tidak ada apa apa.
"Ya ampun Nona, apa yang sedang Nona lakukan? Apa Nona terluka? Sudah biar saya saja yang membereskan ini" seorang pelayan datang dan langsung mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan serpihan gelas tadi.
"Yaudah, tolong bantu bersihkan ya Teh. Aku mau ngobatin ini dulu" kata Anista tersenyum ramah seperti biasa
Pelayan itu mengangguk "Iya Nona"
Anista berlalu mengambil kotak obat, mengambil plester dan segera membalut lukanya dengan plester bening itu.
Anista memegang dadanya, hatinya terasa tidak enak. Gundah, takut, gelisah. Anista merasakan itu semua, dan dia tidak tahu kenapa dan karena apa.
Ada apa ini? Kenapa perasaanku semakin tidak enak saja. Aah sudahlah, lebih baik aku kembali ke kamar dan tidur. Besok harus siap pagi-pagi untuk berangkat stydy tour bersama anak-anak.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Anista turun dari mobil dengan menggendong Safira. Evan juga ikut turun dan menunggu menghampiri Bundanya.
Bis pariwisata dari sekolah Evan baru saja datang dan guru-guru segera menyuruh murid-muridnya dan para orang tua untuk berkumpul di halaman depan gerbang masuk ke area wisata kebun binatang.
Setelah memberi pengarahan pada semua murid dan orang tua murid. Akhirnya mereka semua bisa masuk ke dalam area kebun binatang setelah membayar karcis terlebih dahulu.
Anista terus mengawasi Evan dan Safira yang sedang melihat-lihat beragam jenis binatang yang di lindungi. Guru-guru juga menjelaskan beberapa hal tentang binatang yang anak muridnya lihat.
Anista menuntun Safira mengikuti rombongan murid-murid yang memakai seragam olah raga dari sekolah mereka itu. Semuanya terlihat sama sehingga akan sedikit sulit untuk mencari satu orang murid.
Anista dan orang tua yang lain mengikuti anak-anak mereka yang sedang di bimbing oleh guru mereka. Anista tersenyum saat melihat Evan beberapa kali menjawab pertanyaan guru.
"Hai Nona, apa anda juga mengantar adik anda?" Tanya seorang wanita cantik dengan berpenampilan gelamor dan serba mewah yang menghampiri Anista.
__ADS_1
Anista tersenyum ramah "Saya mengantar anak saya, Nyonya"
Wanita cantik itu terlihat terkejut, terlihat dari mulutnya yang terbuka lebar lalu di tutupi oleh sebelah tangannya.
"Apa anda bercanda? Anda terlihat masih sangat muda"Dia menggeleng tidak percaya dengan apa yang dikatakan Anista "Saya kira anda masih sekolah dan sedang mengantar adik anda"
Anista terkekeh lucu "Saya sudah mempunyai dua orang anak, Nyonya"
Semakin terkejutlah wanita itu, dia menatap balita yang sedang di gandeng Anista. Anak perempuan yang terlihat menggemaskan dengan rambut yang di ikat dua.
"Ya ampun, saya benar benar di buat kaget oleh anda. Lalu, siapa anak anda yang bersekolah disini?"
"Hervanio Walton" jawab Anista tersenyum
"Oh my god, apa anda istri dari Yudha Abimana Walton" wanita tadi terlihat lebih terkejut lagi di bandingkan dengan tadi.
Anista hanya mengangguk dan tersenyum. Ternyata Mas Yudha terkenal di beberapa kalangan ya.
"Pantas saja saya merasa tidak asing dengan wajah anda, ya meski saya tidak datang ke acara pernikahan kalian. Tapi, saya pernah melihatnya di televisi"
Anista mengangguk mengerti "Yasudah Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu"
"Salam kenal ya, Nyonya Walton"
Anista menggendong Safira dan segera menyusul rombongan Evan yang masih melihat beberapa binatang lainnya.
Setelah makan siang di sebuah restaurant yang berseberangan dengan kebun binatang. Rombongan pariwisata ini memutuskan untuk langsung pulang. Apalagi saat melihat beberapa anak-anak yang sudah mulai lelah.
"Kak, jagaian adiknya Bunda mau bayar dulu" kata Anista pada Evan
Setelah membayar makanannya, Anista menuntun keduanya untuk menyeberang jalan. Tiba-tiba saja banyak anak-anak yang berlarian menyerbang sehingga sedikit membuyarkan fokus Anista.
Anista terkejut saat genggaman tangannya pada tangan anak-anaknya terlepas saat banyak anak anak dan juga orang tua yang saling dorong mendorong seolah tidak sabar untuk naik ke Bis pariwisata.
"Fira, Evan" teriak Anista sambil mencari keberadaan anaknya
"Bundaaa, Evan disini"
Anista menghela nafas lega saat melihat anak sulungnya telah berada di dekat mobil mereka. Namun, nafas lega itu langsung tercekat saat mendengar suara dentuman yang cukup keras di ikuti teriakan orang-orang.
__ADS_1
Brakkk...
Waktu seolah terhenti, suara suara hiruk pikuk yang tadi dia dengar seolah menghilang dan hanya melihat orang-orang yang sibuk berlarian. Anista menoleh ke arah semua orang berlari.
Deg Deg Deg
"Tidak... Safiraaa...." Teriak Anista histeris
Anista berlari menghampiri bocah perempuan yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan.
Darah mengalir dari kepala dan hidungnya, Anista bersimpuh di samping anaknya itu. Mendekap kepalanya dengan erat dengan tangis yang sudah pecah.
Anista mendongak dan menatap ke arah orang-orang yang mengelilingi mereka.
Sekelebat dia melihat seseorang yang kembali masuk ke dalam mobil yang menabrak Safira. Mobil langsung berputar balik dan melaju kencang meninggalkan lokasi kejadian.
"Woy. Jangan kabur"
Teriak orang-orang melihat mobil yang menabrak Safira melaju begitu kencang sampai tidak memperdulikan beberapa orang yang di sana yang juga hampir tertabrak olehnya.
"Tolong, tolong bawa anak saya" kata Anista dengan suara parau
"Ayo Nona, kita harus segera membawa Nona Fira ke rumah sakit" kata Supir Anista
Supir yang mengantar mereka langsung berlari ke arah Anista setelah tadi dia sempat pergi ke toilet sebentar dan saat kembali kejadian ini sudah terjadi.
Anista langsung menggendong Safira dengan tangis yang semakin deras. Masuk ke dalam mobil dan melihat Evan yang menangis di kursi depan. Sepertinya Pak Supir telah menyuruh Evan untuk masuk ke mobil dan menunggunya di sana.
"Bunda bagaiamna dengan Fira.. Hiks..hiks.."
"Bunda juga tidak tahu Nak, semoga Fira baik baik saja. Kamu berdo'a ya biar adik kamu baik baik saja" lirih Anista
Inikah jawaban dari pirasatku tadi malam. Ya Allah, sembuhkan anaku. Semoga Fira tidak kenapa napa.
Anista terus melafalkan do'anya seiring dengan mobil yang melaju kencang memecah jalanan kota. Anista tidak henti menangis sambil memelik Safira dan terus memanggil nama anaknya itu.
Ya Allah, sembuhkan adik Evan. Do'a anak itu dalam hatinya.
Jangan sampai Daddy memarahi Bunda karena ini. Sembuhkan Safira Ya Allah, Evan tidak ingin Daddy marah pada Bunda.
__ADS_1
Evan semakin terisak saat merasa sangat takut dengan apa yang dia pikirkan sendiri.
Bersambung