Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Panggil Daddy


__ADS_3

Anista pun masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia melihat Evan sedang bermain bersama Yudha. Mainan yang Yudha belikan kemarin membuat Evan betah di rumah dan tidak ingin main ke luar lagi.


Yudha terlihat tidak terganggu dengan kehadiran Anista di sana. Dia masih fokus pada Evan, sepertinya kali ini Yudha benar benar marah.


"Nist tolong buatkan minuman untuk Nak Yudha" kata Abah Mintar yang juga ikut bergabung dengan Yudha dan Evan


Anista mengangguk lalu berlalu ke dapur. Dia masih ingat minuman kesukaan Yudha. Membuatkan dua cangkir kopi yang berbeda. Yang satu kopi hitam pahit untuk Ayahnya dan yang satu kopi capuchino untuk Yudha.


"Sudah sarapan belum?" Tanya Anista sambil menyimpan dua cangkir kopi di atas karpet


"Siapa? Aku?" Tanya Yudha tidak percaya


Anista mengangguk "Hmm"


"Sudah sarapan tadi di penginapan"


"Ohh baiklah, Tuan bisa minum kopinya" kata Anista


Yudha tersenyum tipis dan mengambil secangkir kopi itu lalu meminumnya dengan perlahan. Ternyata kau masih perhatian sama kesehatanku ya. Terimakasih.


Anista ikut duduk di samping Ayahnya, dia memijit lembut tangan Ayahnya itu "Bah kayanya besok Nist mau kerja ke sawah lagi"


Yudha langsung terdiam, menajamkan pendengaran nya untuk bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan Anusta.


"Gak perlu Neng. Kamu pasti capek, kamu di rumah saja" kata Sumintar


"Tapi Bah, persediaan makanan juga sudah mulai habis. Neng juga harus mengurus pemindahan sekolah Evan. Biar dia lanjutkan sekolah disini aja. Neng gak mau kembali kerja di kota" jelas Anista


Deg


Bagai ada hantaman keras di dadanya, Yudha merasa begitu sesak hingga tanpa sadar dia memegangi dadanya.


Tuhan sesulit itukah dia menjalani hidupnya selama ini. Anaku... anaku hidup dalam segala kekurangan, sementara aku bisa membeli apa saja yang aku mau. Lalu untuk apa selama ini aku bekerja keras jika anaku saja harus merasakan hidup seperti ini.


"Aku yang akan menanggung semua kebutuhan kalian" kata Yudha

__ADS_1


Anista dan Sumintar langsung menoleh ke arah Yudha "Tidak perlu Tuan, Nist teh masih bisa mencari pekerjaan buat biaya Evan"


"Ini bukan penawaran atau semacamnya. Ini pilihanku yang tidak bisa di bantah, Evan juga anaku. Sudah saatnya aku memberikan hak dia sebagai anaku" kata Yudha tanpa sadar telah membeberkan semuanya


Evan yang mendengar apa yang di katakan Yudha langsung menjatuhkan robot robotan yang sedang di mainkan nya.


Bocah laki laki itu menoleh ke arah Yudha lalu kepada Anista seolah dia bertanya apa maksud dari ucapan Yudha barusan.


Anista dan Sumintar tentu terkejut dengan ucapan Yudha. Melihat tatapan Evan membuat hati Anista begitu sesak. Inikah saatnya anaknya tahu jika pria yang sekarang berada di sini adalah ayah kandungnya.


"Bunda, teman Evan bilang kalo Evan gak punya Ayah?"


Anista terdiam, hal ini tidak bisa lagi dua hindari setelah Evan besar dan mulai bermain dengan anak anak kampung lainnya.


"Evan sudah punya Bunda, apa tidak cukup dengan punya Bunda?" Tanya Anista dengan sesak melanda di dadanya


"Tapi, teman teman Evan mempunyai Ayah. Dimana Ayan Evan, Bunda?" Anak itu mulai merengek


Anista memeluk anak laki lakinya itu, cairan bening mulai menetes di pipinya. Sakit... begitu sakit saat anaknya menanyakan hal yang dia pun tidak bisa menjawab.


Evan mendongakan wajahnya dan menatap wajah Bundanya yang berlinang air mata. Tangan mungil itu menghapus air mata yang membasahi wajah Bundanya.


"Bunda jangan nangis, kalo emang pertanyaan Evan buat Bunda nangis. Evan gak akan menanyakan itu lagi sama Bunda. Evan bahagia kok bersama Bunda, gak papa kalo tidak ada Ayah" kata Evan tersenyum


Apa yang di ucapkan Evan membuat tangis Anista semakin pecah. Anak seusia Evan bahkan bisa berfikir sedewasa ini. Anaknya benar benar anugerah terindah dalam hidup Anista.


*Sejak saat itu Evan tidak pernah lagi menanyakan soal Ayahnya pada Anista. Dia benar benar hidup dewasa sebelum waktunya.


Bahkan tidak lagi Evan mendengarkan omongan omongan orang lain tentang Ayahnya. Evan hanya tidak ingin melihat Bundanya menangis lagi*.


"Bunda" panggil Evan lirih, dia tentu takut untuk menanyakan kebenaran dari ucapan Yudha barusan.


Anista beringsut mendekat ke arah anaknya. Dia langsung memeluk erat putranya itu dan mencium puncak kepalanya berkali kali. Isakan kecil mulai lolos dari bibirnya.


Inikah saatnya anaku tahu semuanya Ya Allah?

__ADS_1


"Evan gak akan nanya lagi soal Ayah kalo emang buat Bunda menangis" lirih bocah laki laki itu


Anista menggeleng cepat "Evan sekarang harus tahu semuanya. Evan sudah cukup mengerti untuk Bunda beri penjelasan tentang semuanya. Evan mempunyai Ayah dan Om Yudha ini adalah Ayah kandung Evan"


Yudha mendongakan wajahnya saat cairan bening hampir saja meluncur dari pelupuk matanya. Yudha menyeka ujung matanya yang sedikit berair.


Anista melepaskan pelukannya pada Evan, di usapnya dengan lembut pipi anaknya itu "Itu Ayah yang selama ini Evan selalu rindukan. Yang selalu Evan doakan dalam solat Evan"


Anista sering mendengar jika anaknya sering menyebutkan Ayahnya dalam setiap doanya. Anista tahu jika Evan juga membutuhkan sosok seorang Ayah.


Namun, pada saat itu Anista juga bingung harus bagaimana. Bahkan dia juga tidak tahu siapa pria yang telah menghadirkan Evan di dalam rahimnya.


"Ayah"


Evan langsung menghambur ke pelukan Yudha. Memeluknya dengan erat sambil terisak kencang. Dia menumpahkan segala rasa rindunya selama ini pada sosok seorang Ayah.


Yudha memeluk anaknya dengan penuh haru, dia mencium beberapa kali puncak kepala Evan. Sungguh dia begitu bahagia saat Evan memeluknya setelah dia tahu jika Yudha adalah Ayah kandungnya.


"Panggil Daddy mulai sekarang ya. Kamu adalah anak Daddy Nak" lirih Yudha begitu terharu dengan keadaan saat ini


Evan mengangguk "Daddy"


Senyuman Yudha semakin merekah saat mendengar anaknya memanggilnya dengan sebutan 'Daddy'.


"Iya Nak, ini Daddy kamu. Maafkan Daddy karna selama ini tidak mengetahui kehadiranmu. Maaf karna Daddy baru tahu sekarang. Daddy janji mulai saat ini Daddy akan mengganti segala kesedihan kamu dan Bunda kamu menjadi kebahagiaan" kata Yudha


Evan hanya mengangguk, tangan mungil itu semakin mengeratkan pelukannya. Anista dan Sumintar tersenyum haru melihat bagaimana Evan begitu merindukan sosok seorang Ayah.


Setidaknya Evan bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Anista


Semoga si Eneng mau kembali bersama dengan Nak Yudha dan membentuk keluarga yang utuh demi kebahagiaan Evan.


Bersambung


Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga ya. 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2