
"Semua ini terbiasa di alami oleh Ibu hamil di trimester pertama, Tuan. Memang setiap Ibu hamil berbeda, ada yang mengalami hal seperti ini. Ada juga yang baik-baik saja dan bisa makan apa saja tanpa ada rasa mual"
"Saya berikan vitamin dan obat penghilang rasa mualnya, walaupun rasa mual itu tidak akan hilang seutuhnya. Tapi, setidaknya tidak akan terlalu sering muntah-muntahnya"
Begitulah penjelasan dokter yang cukup membuat Yudha sedikit tenang. Anista masih berbaring di ranjang pasien, di sebelah tangannya terpasang infus untuk menggantikan cairan yang dia keluarkan saat muntah tadi.
Yudha setia menunggunya di sofa bersama Asisten yang selalu setia bersamanya. Keduanya diam dengan tatapan lurus ke depan. Hanya hembusan nafas yang sesekali terdengar di ruangan itu. Anista masih terlelap setelah di beri obat oleh dokter.
"Bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?" Tanya Yudha dingin, tanpa menoleh sedikit pun pada lawan bicaranya.
"Bukan saatnya untuk membahas hal itu" jawab Bima dengan ekspresi yang sama
"Anistaku sudah baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat sebentar saja untuk memulihkan kondisinya. Jadi, aku ingin tahu kelanjutan hubunganmu dengan wanita itu?" kata Yudha santai
"Baik-baik saja"
Hah...
Yudha menghembuskan nafas kasar saat mendengar jawaban Bima yang singkat itu. Asistennya ini benar-benar lebih dingin daripada dirinya.
Kini Yudha menatap ke arah Bima dengan menaikan salah satu alisnya "Yakin?"
"Tentu"
Lagi-lagi Bima hanya menjawab singkat. Yudha menjadi kesal juga dengan sikap asisten sekaligus sahabatnya ini.
"Lalu, Hasna?" Tanya Yudha masih ingin mengorek kisah cinta pria dingin di sampingnya ini.
Bima diam, dia bingung harus menjawab apa. Kisah cintanya terlalu rumit untuk di jelaskan.
"Kau mencintainya'kan?" Tanya Yudha lagi
Bima berdehem pelan "Aku ada urusan sebentar. Kau jaga istrimu baik-baik"
Bima berdiri dan berlalu pergi dari ruang rawat Anista. Yudha hanya menghela nafas pelan saat melihat bagaimana kerasnya seorang Bima.
Kau belum tahu rasanya kehilangan wanita yang paling kau cintai dan begitu berharga untuk hidupmu.
Yudha menatap ke ranjang pasien, dimana wanita yang sangat berharga dalam hidupnya tengah berbaring di sana.
Yudha berdiri dan berjalan mendekat ke arah ranjang pasien. Anista masih terlelap di sana. Dia tatapnya wajah manis Anista yang begitu menenangkan untuk Yudha.
Baik-baiklah Sayangnya aku, jangan sampe sakit kayak gini lagi.
__ADS_1
Yudha mengelus perut rata Anista dengan lembut. Dia sedikit membungkukan tubuhnya agar wajahnya berada tepat di atas perut Anista.
"Jangan menyusahkan Bundamu, Nak. Jaga dia baik-baik" lirih Yudha lalu mencium perut istrinya itu
Ceklek
"Yudh, bagaimana keadaan istrimu?"
Varinda langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Anista dan membuat Yudha terlonjak kaget.
Varinda berjalan mendekati ranjang pasien, di belakangnya David juga mengikuti langkah sang istri.
"Dia baik-baik saja Mam, kata dokter ini biasa terjadi pada Ibu hamil. Anistaku sudah di beri obat pengurang rasa mual dan juga vitamin" jelas Yudha
"Apa Anista harus rawat inap?" Tanya David
Yudha menggeleng "Tidak, dokter hanya menyarankan untuk di sini dulu sampai satu imfusan ini habis. Setelah itu Anistaku boleh pulang"
David dan Varinda mengangguk mengerti.
"Mami cemas banget tau, takut istrimu ini kenapa-napa apalagi dia sedang hamil muda" kata Varinda menatap wajah teduh menantunya itu
Yudha tersenyum, akhirnya dia bisa melihat ketulusan Ibunya pada wanita pilihannya itu.
Eughh..
Di elusnya kepala sang istri dengan lembut dan mendaratkan kecupan di dahinya "Bagaiamana keadaanmu?"
"Nist gak papa, Mas. Hal ini biasa terjadi sama Ibu hamil. Dulu waktu hamil Evan juga kayak gini" jelas Anista
Yudha maupun Varinda terdiam, memang tidak ada nada menyinggung dari nada bicara Anista.
Hanya saja, mereka merasakan sesak saat mengingat gadis kecil berusia belasan tahun harus hamil tanpa seorang suami dan menghadapi semuanya sendiri.
Cup
Yudha memberikan kecupan di dahi istrinya. Perasaan bersalah menyeruak ke hatinya. Anistaku memang yang paling tegar. Dia bisa melewati semua ini dengan baik.
Anista merasa aneh dengan sikap Yudha, Varinda maupun dengan David.
"Mas?" panggil Anista dengan tatapan penuh tanya
Yudha tersenyum sambil mengelus rambut istrinya "Maaf"
__ADS_1
Anista mengerutkan keningnya, bingung "Maaf untuk apa?"
"Maaf karena tidak berada di sampingmu saat kau mengandung Hervan dan tidak menemanimu di saat tersulit dalam kehamilanmu dulu" lirih Yudha
Anista mengangkat tangannya, dia sentuh wajah suaminya dengan susah payah. Seolah mengerti keinginan istrinya, Yudha sedikit membungkukan tubuhnya sehingga Anista mudah untuk menyentuh wajahnya.
"Bisa bersamamu sudah keberuntungan untuk ku. Bisa melihat Evan bahagia saat memanggilmu Daddy. Itu sudah menebus semua perjuanganku di masa lalu untuk melahirkan Evan dan membesarkannya sampai saat ini" kata Anista
Tangannya terus mengelus bagian wajah suaminya. Mulai dari alis, mata, hidung, bibir dan juga pipinya. Anista sangat menyukai bentuk wajah Yudha yang begitu mulus bahkan membuatnya iri sebagai seorang wanita.
Dia ini mempunyai wajah yang halus dan bersih. Kulitnya begitu lembut, aku saja yang wanita kalah sama dia mah.
Yudha meraih tangan Anista yang masih di wajahnya. Di kecupnya telapak tangan istrinya itu. Tangan yang begitu berjasa telah merawat dan membesarkan Evan sendiri.
"Terimakasih, aku janji di kehamilanmu yang ini aku akan menebus semuanya. Aku tidak akan melewatkan perkembangan bayi kita. Aku akan selalu di sampingmu dan menemanimu" kata Yudha
Anista tersenyum "Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kamu harus menuruti semua kemauanku dan memanjakan ku. Keinginan orang hamil harus di turuti loh"
Terdengar kekehan dari Varinda dan David.
"Oke, aku akan menuruti semua yang kamu mau dan selalu memanjakanmu. Tidak hanya sekarang karena kamu sedang hamil, tapi selamanya" kata Yudha
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Seminggu setelah tragedi muntah-muntahnya Anista. Yudha benar-benar menepati janjinya. Dia begitu memanjakan Anista dan selalu menuruti keinginan wanitanya itu.
"Nanti siang aku ada jadwal untuk bertemu dokter psikolog" kata Yudha
Saat ini Anista sedang memasangkan dasi di leher Yudha. Setelah banyak belajar dengan Hasna jika bertemu dan melihat tutorial di internet. Akhirnya Anista bisa memasangkan dasi suaminya.
Meskipun Yudha tidak pernah menyuruhnya. Tapi, Anista sangat ingin melakukan hal ini sebagai seorang istri dari Yudha Abimana Walton.
Memasang dasi yang cukup memakan waktu dari seharusnya, akhirnya selesai juga. Anista tersenyum puas melihat hasil kerjanya yang lumayan rapi untuk seorang pemula.
"Aku mau temenin kamu"
"Tapi, aku langsung berangkat dari kantor. Kapan-kapan saja ya, kamu ikutnya" kata Yudha
Sebenarnya Yudha hanya menghindari agar istrinya tidak tahu keadaannya. Yudha yakin jika ada yang tidak beres dengan psikologis nya.
"Aku bisa sama supir, pokoknya aku mau ikut. Apasi yang mau kamu sembunyikan dari aku, Mas?" kesal Anista
Yudha menghela nafas kasar "Baiklah, kau di antar supir. Nanti kita langsung bertemu di rumah sakit"
__ADS_1
Anista tersenyum "Oke"
Bersambung