
Anista tersenyum saat melihat anak perempuannya tertidur pulas di sampingnya. Jika ada waktu luang, Anista selalu menemani anak-anaknya tidur dan bermain bahkan menyuapi mereka makan.
Tugas Isni sebagai pengasuh mereka hanya bila Yudha berada di rumah karena suaminya itu tidak pernah mau di acuhkan oleh Anista.
Anista menyelimuti Safira lalu mencium keningnya setelahnya dia langsung keluar dari kamar Safira.
"Loh ada apa Teh?" Tanya Anista pada Isni yang sudah berada di depan pintu kamar Safira
"Ada yang nyariin Nona" kata Isni
Anista mengerutkan keningnya, bingung "Siapa?"
Isni menggeleng pelan "Saya tidak tahu, wanita cantik kayak bule gitu"
Anista mengangguk saja, meski dia juga tidak tahu siapa yang di maksud pengasuh anaknya itu "Yaudah, Teh Isni tolong jagain Fira ya"
"Iya Nona"
Anista berjalan menuju ruang tamu, tersenyum dan menyapa saat bertemu dengan pelayan di rumah ini yang dulu menjadi teman seperjuangannya.
Sikap Anista tidak pernah berubah, ketulusan dan keramahannya tetap seperti dulu meski dia kini telah menjadi Nona Muda di rumah ini.
Bahkan kepada para pelayan dan pekerja di rumah ini pun, Anista tetap menganggap mereka teman seperti dulu. Tidak ada kata sombong dan angkuh untuknya yang telah menjadi istri dari Tuannya sendiri.
"Hai Anista"
Anista sedikit terkejut saat melihat orang yang berdiri di ruang tamu dan menyapanya begitu ramah. Wanita cantik itu tersenyum sambil berjalan menghampiri Anista.
"Teh Nat, ayo duduk kok gak bilang sama Nist kalo mau datang" kata Anista ramah seperti biasanya
Selalu saja memanggilku dengan sebutan itu. Aneh sekali rasanya...
Nathali tersenyum masam "Aku hanya kebetulan lewat saja dan berinisiatif untuk mampir"
"Yasudah ayo duduk, mau minum apa?" Tanya Anista
Nathali duduk di sofa ruang tamu itu "Tidak perlu repot repot Nist, aku hanya sebentar kesini"
"Ouh. Emangnya Teteh mau kemana?" Tanya Anista
Ekhem..
__ADS_1
Nathali berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan Anista "Ak..aku ada urusan saja di sekitar sini"
Anista mengangguk mengerti, Nathali mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Menyerahkan selembar kertas berbentuk amplop putih kepada Anista dengan logo rumah sakit di atasnya.
"Aku berharap sekali bisa meminta maaf langsung pada Yudha. Tapi... aku tau jika Yudha tidak mungkin mau bertemu denganku. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya dan juga meminta maaf padanya" kata Nathali
"Aku ingin kamu menyampaikan maafku pada Yudha dan..." Nathali menyodorkan kertas itu pada Anista "Ini adalah bukti untuk semua alasan di balik semua yang aku lakukan dulu"
"Kamu tahu jika aku tidak mengidap penyakit separah ini, mungkin aku akan menikahi Yudha. Namun, aku tahu jika kemungkinan besar aku tidak akan bisa memberinya keturunan. Dan aku tidak mau menyusahkan Yudha dengan penyakitku ini" jelas Nathali
Anista terdiam menatap kertas di tangannya, dia mendongak dan menatap wajah Nathali yang sudah muram dengan mata berkaca kaca.
"Baik Teh akan Nist sampaikan"
Anista berdiri dan berpindah duduk di samping Natahali. Anista memeluk Nathali yang masih menunduk itu. Nathali mulai terisak, Anista mengelus punggung wanita cantik itu.
"Aku sebenarnya masih mencintai Yudha Nist, maaf. Aku tahu aku salah, tapi semua itu aku lakukan untuk biaya penyakitku. Aku gak mau menyusahkan nya, aku terpukul dengan keadaan ini. Apalagi saat Yudha memutuskanku"
Hiks.. hiks...
Isak tangisnya semakin terdengar membuat Anista ikut meneteskan air mata. Meskipun dia sendiri merasa tidak nyaman dengan apa yang di ucapkan Nathali barusan.
Tapi, Anista tetaplah Anista si gadis ramah dengan segala kelemah lembutannya yang tidak bisa menyakiti perasaan orang lain. Bahkan dengan mantan pacar suaminya saja dia masih bisa sebaik dan seramah ini.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Selamat siang, Tuan Yudha dan Tuan Bima" sapa Dave sambil mengulurkan tangannya pada kedua orang itu
Yudha menjabat tangan Dave bergantian dengan Bima. Yudha tersenyum tipis "Selamat siang Tuan Dave"
Bima hanya tersenyum sinis, dia menarik kursi untuk di duduki oleh Yudha sebagai Tuannya. Asisten Dave juga bergantian menjabat tangan Yudha dan Bima.
"Oh ya sebelumnya, saya ucapkan selamat atas pernikahan anda dan istri anda. Saya tidak bisa datang karena banyak kerjaan. Nanti akan saya kirimkan hadiahnya untuk pernikahan kalian" kata Dave tersenyum
Yudha tersenyum "Tidak apa apa, saya mengerti bagaiamana anda juga sibuk dengan pekerjaan anda"
Dave mengangguk kecil "Jadi bagaimana soal kerjasama kita?"
Perusahaan Yudha dan Dave sudah menjalin kerjasama satu tahun terakhir ini. Dan sekarang mereka sedang membicarakan proyek baru yang akan mereka kerjakan.
Tentu saja perusahaan Dave tidak sebesar perusahaan Yudha dan itu juga Dave memiliki perusahaan itu karena warisan dari keluarganya. Ayahnya pun turun menurun mendirikan perusahaan itu.
__ADS_1
"Baiklah saya setuju dengan semuanya, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar"
Yudha menjabat tangan Dave setelah mereka selesai membicarakan tentang proyek baru mereka. Bima juga asisten Dave saling berjabat tangan.
"Senang bekerja sama dengan anda Tuan Yudha" kata Dave
"Hmm"
Yudha hanya tersenyum tipis, Yudha paling tidak suka menanggapi hal yang di luar pekerjaan dan pujian pujian untuknya yang di ucapkan para penjilat.
Dave menundukan kepalanya saat Yudha dan Bima berjalan keluar dari ruang VVIP restaurant itu. Menatap kepergian Yudha dengan tatapan sulit di artikan.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Jadi kau menerima tamu itu?" Tanya Yudha dingin
Anista hanya diam, dia tidak menyangka jika Yudha akan semurka ini saat dia menjelaskan soal kedatangan Nathali tadi siang. Bahkan Anista belum menyerahkan surat yang Nathali titipkan padanya karena Yudha sudan marah duluan.
"Kau menerima tamu tidak berguna itu tanpa seizinku sebagai Tuan rumah?" Tanya Yudha lagi
Deg
Ada goresan luka yang terasa perih di hatinya. Anista merasa ucapan Yudha seolah merendahkannya, namun Anista mencoba memahami sifat Yudha yang satu ini. Dia memang akan sulit mengendalikan ucapannya jika sedang tersulut emosi.
Anista mengangguk pelan "Ya, aku minta maaf karena telah lancang menerima tamu tanpa seizinmu sebagai pemilik rumah ini. Aku tau aku salah, tapi kamu seharusnya dengerin aku dulu"
Yudha terdiam, dia sadar akan perkataannya yang mungkin menyakiti hati istrinya. Dia merutuki kebodohan nya yang selalu saja tersulut emosi sehingga menyakiti wanitanya.
Anista berdiri, namun tangannya langsung di cekal erat oleh Yudha "Mau kemana? Jangan pergi, aku minta maaf atas ucapanku tadi. Aku terlalu emosi, maaf"
Anista tersenyum dan menepuk bahu suaminya "Aku tidak akan pergi Mas, aku hanya ingin mengambil sesuatu di laci itu"
"Memangnya apa yang mau kau ambil?" Tanya Yudha
"Surat" jawab Anista santai sambil terus berjalan ke arah nakas yang terdapat laci kecil di bawahnya.
Anista membuka laci itu dan membawa surat yang di titipkan Nathali padanya. Menutup kembali laci dan Anista kembali menghampiri suaminya.
"Nih, ini titipan Mas dan aku harus menyerahkannya sama kamu. Terserah kamu mau marah atau bagaimana pun, yang jelas ini titipan dari mantan kamu itu dan dia ingin kamu membacanya" jelas Anista sambil menyodorkan surat itu
"Aku tidak mau menerimanya, kau bakar saja surat itu!"
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga votenya ya.. 🤗