Luka Terdalam

Luka Terdalam
MENDAPAT KEJUTAN


__ADS_3

"Aihh..., masih pagi udah cemberut aja An," ucap salah satu temanku saat aku sudah menduduki bangku ku.


Aku membalas sapaan nya dengan senyum terpaksa.


"Ada apa, An?" Tanya Fatiah mendekatiku.


"Nggak kenapa-kenapa," ucapku seraya menopang dagu dengan tanganku kananku. Ini kebiasaanku saat aku sedang kesal, marah, atau memikirkan sesuatu. Aku merasa lebih nyaman saja jika melakukan itu.hehe.


"Jangan cemberut gitu dong..., coba cerita ada apa sebenarnya?"


Mana mungkin aku menceritakan kejadian yang baru aku alami tadi. Dan aku tidak akan menceritakan pada siapa pun tentang aku yang terpaksa masuk ke Sekolah ini. "Besok Bundaku akan kembali ke desa," jawabku mencoba mengalihkan masalah yang ada di kepalaku.


"Oh, jadi itu yang buat kamu sedih. Berarti kamu nggak tinggal bersama kedua orangtua kamu ya?"


"Hm'm," aku hanya mengangguk.


"Berarti kita sama dong, An. Aku juga nggak tinggal bersama orangtuaku," tutur Fatiah.


"Jadi kamu ngontrak juga?" Tanyaku mulai tertarik mendengarkan Fatiah.


"Aku tinggal di Asrama."


Aku tidak mengerti apa itu Asrama, dan aku baru mendengarnya. "Di mana itu?" Tanyaku. Sebelum aku mendapatkan jawaban bel sudah berbunyi. Bel tanda para murid harus berkumpul di lapangan.


Ku paksakan langkahku menuju ke lapangan. Dan lagi-lagi rok sekolah ini sungguh membuatku harus menghemat setiap langkahku.


Saat berjalan menuju ke lapangan aku berpapasan dengan seorang siswa laki-laki dan sepertinya ia Kakak kelasku karena ku lihat ia berkumpul dengan Kakak-kakak OSIS yang lain.


Ia melihat ke arahku dengan tatapan seperti sedang terkejut atau apalah itu. Ia bahkan menatapku lama dan sampai membalikkan badannya hingga aku menghilang dari pandangannya. Tapi sungguh aku tidak peduli.


"Dasar aneh!" Batinku.


Aku sudah berkumpul di lapangan dan mendengarkan pengarahan dari ketua OSIS. Aku tidak terlalu fokus mendengarkan karena pikiranku bercabang kemana-mana. Pengarahan pun selesai. Murid baru di haruskan mengisi Biodata di selembar kertas yang sudah di bagikan. Aku mengikuti saja peraturan itu begitu pun temanku yang lain. Setelah itu kami mengumpulkan kertas tersebut.


Satu persatu kami di panggil dan di berikan tugas yang berbeda. Tibalah giliran namaku yang di panggil. Aku maju ke depan untuk mendengarkan tugas yang akan di berikan. Setelah mendapatkan tugas aku langsung melaksanakannya.


"Ini, Kak," ucapku seraya menyerahkan ember pada kakak yang memberikanku tugas.


"Apaan ini!?"


Aku terkejut saat Kakak kelasku itu membentak ku. "Kan, tadi Kakak yang menyuruh," jawabku.


"Air nya manaa...!?"


Ahh, aku benar-benar kesal di buatnya. Ku bawa ember tadi dan ku isi air lalu setelah itu ku berikan pada Kakak tadi yang menyuruhku.


"Ini," ucapku.

__ADS_1


"Ehh...kamu mau nyuruh Kakak minum air dari ember ini!? Kakak bilang ambilin air mineral...,buat minum!?"


Hufft, ku tarik nafas dalam-dalam dan ku turuti saja lagi untuk mengambilkan air mineral. Setelah aku mendapatkannya lalu ku berikan air mineral tersebut.


"Bukan yang merk ini...! Cari yang lain!"


Aku mendelik kaget bercampur kesal. Ingin rasanya ku terkam orang yang membentak ku tersebut namun lagi-lagi aku teringat kata-kata Ayah. Aku tidak bisa menyalurkan rasa amarahku dan akhirnya aku menangis saja.


"Kenapa menangis...! Dasar cengeng!"


"Wi..., kamu jangan sekasar itu juga, kasian, kan dia jadi menangis."


Ku lihat sekilas orang yang berbicara itu. Ternyata dia adalah murid lelaki yang berpapasan denganku tadi.


"Ardi, kamu jangan belain dia juga, yang ada dia malah makin cengeng!"


"Ternyata namanya Ardi," aku berucap di dalam hati.


"Tapi ini udah cukup!"


Kakak yang memarahiku tadi mendekatiku lalu ia meminta maaf dan memelukku. "Selamat ulang tahun Anita," ucapnya. Lalu ia memperlihatkan Biodata ku di selembar kertas tadi.


Bahkan aku sendiri tidak sadar kalau hari itu adalah hari ulang tahunku.


Teman-teman yang lain ikut bersorak dan mengucapkan selamat untuk ku.


"Terimakasih...."


"Panggil Kak Dewi saja," ucap Kakak yang tadi memarahiku. Aku pun mengangguk saja karena belum bisa berkata apa-apa.


"Selamat ya Anita. Perkenalkan, namaku Ardi," ucap murid bernama Ardi yang membelaku tadi seraya mengulurkan tangannya.


"Bukan muhrim!" Ucap Kak Dewi seraya menarik ku untuk pergi bersamanya. "Hati-hati, dia itu buaya di sekolah ini," kata Kak Dewi.


"Apaa...!? Di sekolah ini pun ada buaya juga!?" Batinku.


-


-


-


Bel pulang berbunyi, setelah mengemas peralatan menulisku aku pun segera meninggalkan ruang kelasku. Ku lihat Kak Ardi menghampiriku dan sepertinya ia memang sengaja menungguku.


"Anita pulang naik apa?" Tanyanya.


"Ojek," jawabku tanpa menoleh sambil mempercepat langkahku.

__ADS_1


"Hmm, lain kali pulang bareng aku aja, mau nggak? Oiya, kamu tinggal dimana?"


"Nggak. Dan aku lupa aku tinggal dimana, yang jelas aku masih tinggal di rumah."


"Dihh..., gitu banget jawabnya, jangan marah-marah..., ntar ilang cantik nya."


Tidak ku pedulikan kata-kata Kak Ardi karena aku sudah yakin kalau dia ternyata emang buaya. Buktinya dia berani ingin mengajak ku pulang bersama meski baru pertama kali bertemu.


Ku lihat ojek yang menjemputku sudah ada di depan sekolah, aku pun langsung naik saja tanpa mempedulikan Kak Ardi yang terlihat kecewa.


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam," jawab Bunda yang menyambutku di depan. Ku salami Bunda lalu aku masuk ke dalam. Aku melihat ada sebuah kotak di atas kasurku, kotak yang sudah di kemas dengan sangat cantik.


"Ini pasti kado ulang tahunku," ucapku seraya membuka kotak tersebut. Aku terduduk lemas ketika aku melihat isi di dalamnya. Sebuah gamis dan kerudung dengan warna senada. Dan tertulis nama si pengirim di kotak itu.


Om Wandy.


"Itu dari Om Wandy," ucap Bunda yang sudah berdiri di bibir pintu kamarku.


"Ya, Anita sudah tau," jawabku.


"Om Wandy kasi hadiah apa?" Tanya Bunda.


Aku tidak menjawab tapi langsung ku perlihatkan saja hadiahnya. Lalu aku melepas kerudungku dan mengganti pakaianku.


Malam hari Om Wandy datang ke rumahku dan ternyata Om Wandy ingin mengajak kami makan di luar. Aku pun bersiap-siap untuk memilih pakaian yang aku kenakan. Setelah berpakaian dan sedikit berdandan aku pun keluar dari kamarku untuk menemui Bunda dan Om Wandy yang sudah menunggu di luar.


"Lama bener dandan nya, kirain pake baju sama kerudung," ucap Om Wandy saat melihatku mengenakan atasan dan celana jeans. Tak lupa aku membawa tas selempangku juga.


Kami pun masuk ke dalam mobil dan Om Wandy menjalankan mobilnya entah akan kemana aku hanya diam saja sambil melihat pemandangan jalan di malam hari lewat jendela mobil.


Om Wandy menghentikan mobilnya dan mengajak kami masuk ke sebuah cafe yang katanya sedang viral atau apa lah itu.


-


-


-


-


Hai kakak2 semua...


Tolong favorit'kan novel ini ya...๐Ÿ˜€


Jangan lupa like & komen juga di karya aku yang, apa lah ini...๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

__ADS_1


Terimakasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2