Luka Terdalam

Luka Terdalam
BERTEMU SUSANTI


__ADS_3

...Happy reading...


Aku sudah berada dalam sebuah mobil taksi yang akan mengantarku pulang.


Masih ku rasakan getaran di tubuhku efek ketakutan akibat ulah Kak Ardi waktu di Rumah Sakit. Tidak banyak yang kami bicarakan setelah berada di ruangan Dokter Rio saat itu. Terutama aku yang lebih memilih diam dan hanya mendengarkan permintaan maaf Kak Ardi. Aku sendiri bingung harus memaafkan kesalahannya yang mana.


Taksi yang ku tumpangi berhenti tepat di halaman rumahku. Pak supir membangunkan aku karena aku sempat tertidur saat di perjalanan. Kebetulan aku sudah mengenal beberapa supir taksi yang biasa mengantar penumpang antar kota. Jadi aku merasa aman meski tertidur di dalam mobil karena si supir juga berasal dari kota yang sama denganku dan dia salah satu supir yang menjadi langganan ku.


Setelah aku membayar ongkos taksi, supir itu pun pergi meninggalkan halaman rumah ku dengan mobilnya.


Ketika mendengar suara mobil tadi Kak Laras langsung keluar dari rumah ku dan menyambut kedatangan ku. Meski ia sudah pindah tapi ia selalu pulang pergi untuk mengurusi keperluan ku dan juga membantu ku bersih-bersih. Bisa di bilang bukan lagi membantu, tapi hampir dia semua yang mengerjakan.


“Assalamua'laikum....”


“Wa'alaikumsalaam..., muka kamu pucet, apa kamu sakit lagi?” Kak Laras langsung menanyaiku dengan ekspresi khawatir.


“Nggak, cuma tadi aku beberapa kali muntah di jalan,” sahut ku seraya masuk dan menjatuhkan tubuh ku di sofa ruang tengah. Aku sebetulnya tidak suka naik mobil apa lagi menempuh perjalanan dengan waktu yang cukup lama. Aku merasa pusing dan mual. Meski sudah lama pindah ke kota, tapi jiwa kampungan ku seakan tidak rela meninggalkan ku. Aku juga tidak betah berlama-lama di ruangan ber AC. Dan hanya orang-orang terdekat ku saja yang mengetahui hal ini.


Tak jarang kadang Om Wandy mengerjaiku jika kami sedang berdebat dan aku tak mau kalah maka dia diam-diam mengatur volume AC di ruangan itu sehingga membuat aku langsung pergi karena tak tahan dengan suhunya yang terlalu rendah.


“Apa Kakak beneran hamil?” Tanya ku pada Kak Laras yang sedang membereskan beberapa barang bawaan ku. Aku selalu menyempatkan berbelanja untuk Rifqy setiap aku pergi ke luar kota. Aku merasa bersalah jika pulang dengan tangan kosong.


“Kamu pikir Kakak berbohong masalah kehamilan?” Delik Kak Laras.


“Tapi Kakak terlihat sehat, dan nggak seperti Kakak hamil waktu itu.” Aku masih ingat bagaimana Kak Laras tengah mengandung Rifqy.


“Kehamilan Kakak kali ini sepertinya memang berbeda. Nggak seperti kehamilan pertama. Tapi kata orang setiap kehamilan memang beda-beda, sih.”


“Emang kalau hamil harus punya suami dulu ya, Kak? Nggak bisa apa hamil sendiri aja.”


“Bisa nggak, kalau nanya di pikir dulu, An!? Mana ada orang hamil nggak ada Bapaknya. Buruan sana mandi! Ngawur aja kerjaannya!”


“Ya, kan...nanya. Apa salahnya?”


“Kalau nanya itu di pikir dulu, pertanyaan kamu itu nggak masuk akal tau nggak!”


”Ya kali aja, Kak. Oiya, tadi abis muntah tenggorokan aku nggak enak banget nih, minta teh dulu dong, baru mandi,” rengek ku berharap Kak Laras iba padaku. Tanpa bersuara Kak Laras pergi ke dapur. Tidak lama ia kembali dengan segelas teh hangat untuk ku.


Aku menerimanya dengan tersenyum imut. “Makasiiihh....”


“Jangan lupa mandi setelah itu,” titah Kak Laras. Kemudian Kak Laras pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Malamnya aku sangat ingin makan martabak. Aku menaiki motorku menyusuri jalan di mana biasa penjual martabak sering mangkal di sana. Setelah melihat pedagang martabak langganan ku sudah ada di sana, aku pun menepikan motorku di dekat gerobaknya.


“Bang! Martabak satu!”


“Siap, Mbak!” Sahut Abang Martabak yang sudah hapal dengan pesanan ku.


“Eh, dua deh, Bang!” Ralat ku.


“Seepp...!”


Abang martabak pun mulai mengolah pesanan ku. Sedangkan aku menunggu sambil memainkan handphone ku. Ada banyak pedagang martabak, tapi hanya di sinilah yang rasanya cocok di lidahku.


“Anita!” Aku kaget dan langsung menengok ke samping ketika ada yang memanggil dan menepuk bahuku.


“Ngapain?” Tanya nya lagi.


”Eh, Susanti. Ini kamu?” Tanya ku memfokuskan penglihatan ku. Karena aku hampir tidak mengenalinya samasekali. Dia teman SMP ku dan ketika lulus kami berpisah. “Aku lagi nunggu pesanan martabak ku.”


“Iya. Kenapa, udah nggak kenal ya sama teman sendiri?”


“Bukan nggak kenal, buktinya aku ingat nama kamu. Tapi sekarang kamu...,” seraya mataku memperhatikan tubuhnya dari atas ke bawah.


Susanti cekikikan melihat ekspresi ku itu. “Iya, aku sekarang jadi Hulk,” selorohnya.


“Aku tiap malam di kasi daging mulu sama suamiku. Jadinya begini deh.” tawanya kian nyaring hingga beberapa orang yang ada di sana sempat melihat ke arah kami berdua.


“Suami? Kamu udah nikah?”


“He'em. Tuh suami aku,” tunjuknya pada seorang lelaki yang sedang berdiri di dekat mobil dan tengah menggendong anak kecil mungkin berumur sekitar 2 tahun.


“Itu anak kamu?”


“Iya, nih sebentar lagi dia bakal punya adek,” jawab Susanti seraya memperlihatkan perutnya yang terlihat agak menonjol.


“O..u..waww, selamat ya.” Aku hanya bisa terpana.


“Iya, makasih. Kamu sendiri gimana?”


“Hm, ya...nggak gimana-gimana sih.”


“Maksud aku, apa kamu punya keluarga sendiri? Tapi kalau di lihat-lihat kayaknya belum, deh!” Tebak Susanti.

__ADS_1


“Oh ya, kok kamu bisa bener gitu nebaknya?”


“Udah keliatan, An. Kalau kamu udah punya suami mana mungkin suami kamu ngebiarin kamu nyamperin Abang penjual martabak sendirian. Mana Abang martabaknya ganteng lagi.Hahaha...!” Susanti memang terkesan slebor. Berbicara pun tidak pernah ada takarannya. Tapi aku lebih suka orang-orang seperti ini dari pada yang diam-diam menghanyutkan.


“Kamu sendiri ngapain?” Tanya ku.


“Aku juga mau beli martabak. Tadinya mau beli di sana, tapi liat kamu di sini ya aku belinya di sini juga deh. Dia nih, begitu lewat sini malah minta martabak.” Susanti mengusap perutnya.


“Serius dia yang meminta?” Aku setengah melotot ke arah Susanti karena merasa terkejut dan tidak biasa.


“Dia sih nggak minta secara langsung, tapi aku yang tiba-tiba kepengen. Kata orang, kalau lagi hamil dan pengen makan sesuatu mesti di kabulin biar anaknya nggak ileran,” jelas Susanti.


Aku hanya manggut-manggut saja sambil ber, “oh”. Sedikit banyaknya aku tahu walau belum pernah mengalaminya.


Pesanan ku sudah siap dan aku pun langsung membayarnya.


“San, aku duluan ya?” Pamit ku mengakhiri obrolan kami.


“Eh, tunggu. Aku minta nomer kamu dulu,” sahut Susanti seraya mengeluarkan handphone nya. Aku pun memberikan nomer ku dan Susanti menyimpannya.


“Oiya, aku udah pindah ke kota ini lagi sekarang.” Susanti memberitahuku.


“Oh ya? Terus suami kamu?”


“Kita pindah sekeluarga, dan suami aku yang kerjanya sekarang di sini. Kalau pisah mana mungkin, karena suami aku tuh nggak bisa lama-lama jauh dari aku.” Aku hanya meringis konyol mendengar ucapan Susanti. Kalau aku meladeninya tidak ada kelarnya.


“Oiya, katanya Maghda bulan depan juga balik lagi ke sini.”


“Oh ya?”


“Kita bakal bisa kumpul-kumpul lagi. Nanti kita buat grup chat, ya!?”


“Ya ya...terserah kalian aja.” Seraya aku menyalakan motorku lalu menjalankannya.


...Tbc...


-


-


-

__ADS_1


**Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya 👍


Thanks all**...


__ADS_2