Luka Terdalam

Luka Terdalam
KEMBALI KE RUMAH


__ADS_3

...Happy reading...


Karena Tante Yani begitu bersikeras agar aku bermalam di rumahnya, akhirnya aku menurut saja. Aku tidur di kamar bersama dengan Nisa, tapi sudah hampir satu jam aku belum juga bisa memejamkan mataku. Di tambah lampu di kamar itu sangat terang karena Nisa tidak bisa tidur dengan keadaan gelap. Sementara aku malah tidak bisa tidur dalam keadaan lampu kamar menyala.


Aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum karena tenggorokan ku terasa kering. Saat melewati ruang tengah ku lihat ruangan itu terlihat gelap karena lampu di ruangan itu di matikan. Aku pergi ke kamar untuk mengambil bantal dan guling kemudian tidur di sofa ruang tengah itu.


Sebelum benar-benar tertidur ku periksa handphone ku. Ada banyak pesan dan panggilan dari Kak Laras serta Om Wandy juga. Aku belum siap untuk mengatakan keberadaan ku dan pasti aku belum ingin untuk mendengarkan omelan Kak Laras. Kak Laras mungkin memang feminin dan cewek tulen. Tapi dia memiliki kekuatan untuk menceramahi orang walau sehari semalam suaranya akan tetap stabil seperti tidak ada habisnya. Ckckck.


Pagi aku terbangun ketika ada orang yang mengguncang pundak ku. Ku buka mataku dan Tante Yani sudah berdiri di sana.


"Kenapa malah tidur di sini?"


"Eh, iya Tante. Tadi malam Kak Laras menelpon, takutnya mengganggu tidurnya Nisa, makanya aku kesini saja dan malah tertidur."


Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku lalu pergi ke meja makan untuk sarapan bersama. Setelah sarapan aku langsung berpamitan dan kembali ke hotel tempat ku menginap. Aku tidak tahan jika lama-lama berada di rumah Tante Yani. Perut ku terasa mau meletus saja karena selalu di suruh makan yang banyak.


Setelah mandi aku berbaring di tempat tidur sambil menimbang-nimbang apakah aku harus menghubungi Kak Laras atau biarkan saja mereka kebingungan mencariku.


Tapi bagaimana jika mereka melaporkan aku sebagai kasus orang yang hilang?


Gambarku akan muncul di majalah berita.


"No no no...!" Aku mencari kontak Om Wandy lalu menekan tombol hijau. Tidak butuh waktu lama Om Wandy langsung menerima panggilan ku.


"Halo, Anita. Kamu di mana?"


"Aku baik-baik aja, nggak perlu khawatir."


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu pergi dari rumah?"


"Oma mau menikahkan ku dengan Pak Erik!"


"Apa!? Hahaha...!"


"Enak ya, Om ketawa. Aku mau di nikahkan sama Orangtua malah di ketawain. Emang Om mau punya keponakan yang umurnya lebih tua dari Om?"


"Mau, asal banyak duitnya. Hahha...!"

__ADS_1


"Ishh..., sejak kapan Om jadi mata duitan gini? Ck!"


"Pulang sekarang! Nggak ada yang mau di nikahin. Lagian Pak Erik udah nggak minat nikah sama kamu."


"Hah!? Yang bener?


"Iyaa..., mana mau dia di masakin mi instan setiap hari. Haha...!"


"Huhh! Dasar tukang ledek! Aku sumpahin Om jadi bujang lapuk!" Batinku.


Belum lama aku meninggalkan rumah, tapi rasanya bagai berbulan-bulan saja. Meski kasur di kamar hotel ini sangat empuk, tapi tetap saja aku merindukan nyamannya saat tidur di kasurku sendiri. Aku ingin segera kembali, dan itu artinya aku harus naik pesawat lagi.


Ada rute lain untuk kembali ke kotaku. Yaitu naik kapal menyebrangi lautan selama dua hari perjalanan. Jika tidak mati tenggelam, mungkin aku akan mati karena merasa bosan.Setiap rute ada resikonya masing-masing. Jadi aku putuskan untuk kembali naik pesawat saja. Tak apa lah mulutku letih karena harus kembali komat kamit membaca ayat-ayat pendek dan berdzikir.


Sebelum pulang aku berpamitan pada Tante Yani melalui telepon. Karena aku sudah kapok rasanya jika harus pergi ke rumahnya lagi.


Ternyata tidak sesulit penerbangan pertama ku kemarin. Bahkan kali ini sampainya lebih cepat. Atau itu hanya perasaan ku saja.


Aku memanggil taksi untuk mengantarku pulang ke rumah. Karena lelah dan mengantuk akhirnya aku tertidur. Supir taksi membangunkanku ketika sudah sampai di depan rumah. Setelah membayar ongkos taksi aku langsung menuju ke rumah ku walau masih merasa was-was.


Sebelum aku sampai di teras pintu sudah terbuka lebih dulu dan siapa lagi kalau bukan Kak Laras yang berdiri di sana.


"Mendadak ada urusan...," jawabku sambil masuk ke dalam.


"Urusan mendadak yang mengharuskan kamu pergi lewat jendela?"


"Aku ngantuk, nanti aja lagi ngomel-ngomelnya, yah? Aku capek juga." Lalu aku langsung menutup pintu.


"Anitaa! Kakak belum selesai!"Teriak Kak Laras sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Tapi hanya beberapa saat kemudian pintu itu kembali tenang.


Karena mengantuk dan lelah akhirnya aku kembali melanjutkan tidurku di kasur yang aku rindukan.


Di dalam mimpi aku mendengar Kak Laras memanggil ku sambil kembali menggedor pintu kamar ku.


"Anita...!"


"Anita...!?"

__ADS_1


Aku terbangun dengan keringat yang membasahi kening ku.


"Anita...! Buka pintunya, ini sudah hampir maghrib. Tidak baik tidur di jam seperti ini!" Ternyata Kak Laras memanggil ku juga di dunia nyata.


Bergegas aku menuju pintu dan membukanya. "Iya iya..., ini sudah bangun."


"Ihh, cewek apaan kamu ini. Kalau tidak di bangunkan nggak akan bangun." Kak Laras kembali mengomel.


"Cewek idaman...."


"Idaman apaan? Mana ada cewek idaman yang tidur lagi maghrib. Apa kamu mau jadi cewek jadi-jadian?" Di daerah kami mempercayai jika ada orang yang tidur di waktu maghrib maka orang itu akan mudah di masuki iblis atau jin. Kecuali memang sedang sakit, itu pun orang sakit mesti di bangunkan dulu dan boleh tidur lagi sudah selepas maghrib.


Sebelum Kak Laras menambah panjang pidatonya aku langsung pergi ke kamar mandi lalu setelah itu aku sholat.


Setelah makan malam Kak Laras masuk ke kamar untuk menidurkan Rifqy. Sementara aku masih di dapur menyeleksi isi kulkas untuk di jadikan makanan penutup.


"An, kamu sedang apa?" Terdengar suara Om Wandy dari arah belakang ku.


"Nyari-nyari sesuatu yang manis," jawabku tanpa menoleh.


"Masih ada sisa nasi sama lauk, nggak? Om lapar nih."


"Oh, ada. Sebentar," kataku sambil menutup pintu kulkas dan mengeluarkan lauk yang ada di dalam lemari kemudian meletakkannya di atas meja. "Nasinya ambil sendiri aja ya, Om. Ada di dalam panci," kataku. Karena tiba-tiba perutku terasa mules.


Kami tidak memasak dengan ricecooker lagi karena Kak Agil tidak suka dengan nasi hasil dari alat pemasak itu. Jadi Kak Laras masak nasi dengan menggunakan panci dan kompor.


Ini juga tradisi yang masih ada di daerah kami, bahwa pria lajang bebas numpang makan di tempat salah satu keluarganya hingga ia memiliki keluarga sendiri. Tapi sebaliknya, anak gadis tidak boleh numpang makan ke tempat keluarganya kecuali jika ada acara tertentu. Misalkan menghadiri acara pernikahan dan lain-lain. Aku juga tidak tau sejak kapan adat seperti ini ada. Yang jelas aku tidak pernah memusingkannya. Yang aku tau jika merasa lapar kita harus makan, dan jika merasa ngantuk kita harus tidur 😴


...Tbc...


-


-


-


**Jangan lupa like, komen dan klik ❤

__ADS_1


Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis 🤗


Thanks all...😍**


__ADS_2