
Aku sudah berada di perjalanan pulang untuk kembali ke rumah kontrakan ku. Sepanjang jalan aku memikirkan semua cobaan yang datang bertubi-tubi padaku. Kenap hidupku seperti ini? Kenapa takdir begitu kejamnya mengambil orang-orang yang ku sayangi?
Aku sudah tiba di sebuah penyebrangan yang menghubungkan jalan antara desa dan kota yang menjadi tempatku tinggal saat ini. Karena aku terlalu hanyut dalam pikiranku membuat aku tidak fokus saat berjalan. Kaki ku tersandung dan handphone langsung terlepas dari genggaman ku meluncur bebas ke air laut.
Beberapa orang yang melihat ku saat itu langsung menolong ku dan menanyakan keadanku.
"Terimakasih, aku tidak apa-apa," jawabku. Tapi HPku sudah berada di dalam air laut itu.
Aku duduk di salah satu tempat duduk yang tersedia di sana. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku dan aku menangis. Aku bingung harus bagaimana lagi, bahkan aku sudah tidak bisa menghubungi siapa pun saat ini.
"Nak, minum dulu." Seorang ibu-ibu memberikan ku sebotol air mineral. Aku menerima air mineral itu lalu meminumnya. "Terimakasih, Bu."
"Kamu dari mana dan mau pergi kemana?" Tanya Ibu itu.
"Aku dari desa dan mau kota seberang ," jawabku sambil menyeka sisa air mataku.
"Kamu sendiri saja? Orangtua mu mana?"
"Aku sendiri saja, Bu. Orangtua ku baru saja meninggal." Aku kembali menangis dan Ibu itu berusaha menenangkan ku dengan mengusap punggung ku.
"Yang sabar, Nak. Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Pasti ada hikmah di balik semua cobaan itu."
Ucapan Ibu itu sedikit membuat ku merasa tenang. Setidaknya masih ada orang yang masih mau peduli padaku. Meski hanya sebuah kata-kata tapi itu sangat bermanfaat bagi ku yang sedang terpuruk kala itu.
Kini aku sudah sampai di rumah kontrakan ku. Pertama-tama yang aku lakukan adalah mencari handphone lamaku. Aku buru-buru pergi untuk membeli sim card lalu memasangnya di HPku. Aku langsung mengetik nomer kontak Kak Laras tapi panggilan sedang di alihkan. Kemudian aku menghubungi Om Wandy tapi sayang nomernya tidak aktif. Satu kali tarikan nafas aku mencoba untuk menghubungi Kak Ardi mungkin dia bisa membantuku untuk menghubungi Kak Laras. Untuk pertama kalinya nomer Kak Ardi sedang tidak aktif. Ada apa ini? Aku tidak tau harus bagaimana lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah dinasnya Om Wandy.
Tiba di sana rumah itu tampak sepi dan mobil Om Wandy juga tidak ada. Mungkin belum pulang dari kantor. Dan aku memutuskan untuk menunggu. Dari detik hingga menit bahkan sudah berjam-jam lamanya aku menunggu tapi Om Wandy belum juga datang. Terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain kembali menangis. Aku benar-benar merasa sendiri di dunia ini. Aku beranjak dari duduk ku berniat untuk pulang saja. Ketika aku baru melangkah ku lihat mobil Om Wandy memasuki pekarangan rumah dinasnya. Tidak lama Om Wandy keluar dari dalam mobil dan mendekatiku.
"Anita, kamu kenapa ada di sini? Kenapa menangis?"
"Aku menunggu Om sejak tadi," jawabku sambil berusaha menghentikan tangisku.
"Ayo masuk dulu."
__ADS_1
Aku mengikuti Om Wandy untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa?" Tanya Om Wandy ketika kami sudah sama-sama duduk di sofa ruang tamu yang terlihat lebih kecil dari ruang tamu yang ada di rumah kontrakan ku.
Ku ceritakan dari awal kejadian yang telah menimpaku pada Om Wandy.
"Sudah lah, jangan menangis terus. Sebisa mungkin Om akan membantu kamu." Om memberikan tisu padaku.
"Aku tadi sudah menghubungi Kak Laras, tapi tidak bisa tersambung." Sambil aku menghapus air mataku dengan tisu itu.
"Hm, suaminya mengalami kecelakaan dua hari yang lalu, mungkin dia sedang sibuk menunggui suaminya di Rumah Sakit. Om baru dari sana untuk menjenguknya."
"Apa!? Kak Agil kecelakaan!?" Aku tidak tau apa ini hanya kebetulan atau memang sudah permainan takdir. Aku mulai percaya semua hal yang menimpa orang-orang terdekat ku itu semua akibat kesialan dariku.
Mungkin memang benar aku hanya membawa kesialan bagi orang-orang terdekat ku.
"Apa Anita benar-benar hanya membawa sial bagi orang-orang terdekat Anita, Om?" Akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulutku.
"Apa? Mana ada seperti itu. Semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa, jangan pernah berpikir seperti itu . Jangan sampai kamu terpengaruh dengan kata-kata itu yang nanti akan semakin membuat kamu terpuruk."
"Sudah lah, Om tidak ingin dan tidak akan percaya hal-hal semacam itu."
Kemudian aku kembali ke rumah kontrakan ku dengan di antar oleh Om Wandy.
Masa kontrakan sudah habis bertepatan dengan kelulusan ku. Aku mengemasi semua barang-barangku untuk pindah ke kostan yang lebih kecil dan lebih murah dengan uang sisa tabunganku. Aku mulai bekerja di salah satu perusahaan atas bantuan teman dari Om Wandy. Niatku untuk menyusul Kak Ardi telah kandas karena terhalang biaya kuliah. Aku tidak mungkin menyusahkan orang-orang terdekatku lagi. Apa lagi saat ku dengar Kak Agil kini belum bisa berjalan dan bekerja akibat kecelakaan yang di alaminya. Mana mungkin aku menambah beban mereka dengan kehadiran ku di sana.
Sampai saat ini aku belum bisa menghubungi Kak Ardi. Aku juga bingung kenapa nomer Kak Ardi tidak aktif. Setidaknya dia bisa mengabariku jika telah mengganti nomernya.
-
-
-
__ADS_1
Sore itu aku pulang dari perusahaan tempat ku bekerja. Aku terkejut menatap seseorang yang berdiri di depan pintu kostanku.
"Kak Ardi!?"
Kami berdua saling menatap dari jarak beberapa meter setelah akhirnya Kak Ardi menghampiri dan langsung memeluk ku.
"Maaf, aku tidak tau samasekali atas kejadian yang kamu alami selama ini."
"Aku sudah berusaha menghubungi Kakak, tapi nomer Kakak tidak aktif."
"Aku juga berusaha menghubungi nomer kamu, tapi nomer kamu juga tidak aktif," jawab Kak Ardi melepas pelukannya dan berganti menatapku.
"HPku terjatuh ke air laut," kataku sambil mengenang kembali kejadian waktu itu.
"Kenapa bisa kebetulan seperti itu? HPku juga kecopetan. Ketika aku berusaha menghubungi mu dengan nomer baru tapi nomer kamu tidak aktif."
Kami tertawa kecil mengenang kejadian yang sepertinya sedang mempermainkan kami berdua. Akhirnya kami saling bertukar nomer kembali.
Sore itu aku dan Kak Ardi pergi ke cafe tempat biasa dulu kami menghabiskan waktu bersama. Kak Ardi terus saja menggenggam tangan ku hingga kami menempati salah satu meja di cafe itu.
"Sudah berapa lama kamu bekerja?" Kak Ardi bertanya dengan masih memegang kedua tanganku yang bertumpu di atas meja.
"Sekitar dua bulan," jawabku.
"Pasti ada banyak pria di sana."
"Kak, itu perusahaan. Baik pria atau wanita pasti ada di sana. Aku bekerja, bukan sedang mencari jodoh!" Aku langsung membalas ucapan Kak Ardi karena aku tau maksud Kak Ardi berbicara seperti itu pasti ia khawatir dan cemburu.
-
-
-
__ADS_1
...Tbc...