
Beberapa saat ponselku berbunyi. Ada panggilan dari Kak Ardi. Aku tersenyum dan bahkan aku tertawa sendiri di kamarku karena sepertinya aku telah berhasil mengerjainya. Ku abaikan panggilan dari Kak Ardi hingga beberapa kali, sambil aku menutup mulutku menahan tawa. Lalu kemudian aku mengangkat panggilan kesekian darinya.
"Anita...! Kamu nggak serius, kan mau pulang ke kampung? Maafin aku, tadi aku nggak dengar waktu kamu menelpon."
"Ya nggak lah, Kak. Lagian Bunda dan Ayah sudah pergi dari pagi tadi," jujurku. "Aku bosan sendirian di rumah, makanya tadi aku telpon Kakak."
"Ya sudah, nanti sore aku jemput. Aku akan mengajak kamu ke acara ulang tahun teman aku. Kamu siap-siap, ya?"
"Ok, Kak."
Ku matikan ponselku dan membiarkannya tergeletak di atas kasur. Lalu aku menuju lemari pakaianku untuk memilih gaun mana yang nanti akan ku kenakan. Untungnya masih ada beberapa dress yang belum pernah ku pakai samasekali. Karena aku sebetulnya memang tidak terlalu menyukai pakaian seperti itu. Tapi untuk datang ke acara ulang tahun teman Kak Ardi, mana mungkin aku mengenakan kaos.
Setelah menentukan pakaian mana yang aku kenakan, aku pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambutku dengan handuk, ku oleskan sedikit krim di wajahku. Kemudian ku ambil bedak bayi untuk melapisi krim yang tadi sudah ku ratakan. Aku sangat lihai mengaplikasikan bedak bayi ke wajahku, walau dengan mata terpejam. Dan hasilnya tidak perlu di ragukan lagi. Haha...
Selain krim wajah dan bedak bayi, aku juga tidak pernah lupa untuk memakai lotion dan deodorant. Setelah semua step selesai, aku pun mengenakan dress yang tadi sudah menjadi pilihanku. Ku semprotkan sedikit parfum di akhir.
Ku dengar suara bel pintu berbunyi. Buru-buru aku menuju pintu dan membukanya.
"Hay, udah siap?" Tanya Kak Ardi yang juga sudah terlihat sangat rapi. Aroma parfum Kak Ardi juga tercium, dan aku sangat suka aromanya karena tidak begitu menyengat, tapi membuat betah indera pencium ku untuk menghirupnya.
"Iya," jawabku. "Tunggu sebentar,Kak." Aku kembali ke kamar untuk mengambil tas dan menyimpan HPku di dalamnya.
Kami pun sudah berada di dalam perjalanan menuju tempat di mana ulang tahun teman Kak Ardi. Beberapa saat kami pun sudah sampai. Kak Ardi memarkirkan motornya lalu kami masuk ke sebuah tempat yang sudah di persiapkan untuk memberikan kejutan pada temannya tersebut.
Ada sekitar 30 orang yang hadir di acara itu. Aku memperhatikan mereka semua. Ada seorang wanita yang begitu menarik perhatianku. Gelagatnya sangat mencurigakan. Aku merasa wanita itu seperti sengaja mencari perhatian dari Kak Ardi, dan aku sangat tidak suka.
__ADS_1
"Apa mereka semua teman-teman Kakak?" Tanyaku.
"Hampir semua, tapi ada beberapa juga yang hanya sekedar kenal saja," jawab Kak Ardi.
"Apa Kakak juga mengenal cewek, itu?" Kataku, sembari melirik ke arah wanita yang ku maksud.
"Oh, itu Melda...--"
"Nggak usah di jawab. Sepertinya Kakak sudah kenal. Apa jangan-jangan...--"
Kak Ardi berfokus menatapku. Kemudian ia memegang kedua tanganku. "Dengerin dulu..., jangan langsung jutek gitu mukanya."
"Terus aku harus gimana? Kakak emang nggak tau, apa sengaja pura-pura nggak peka, kalau cewek itu dari tadi nyari-nyari perhatian dari Kakak!" Tak dapat ku sembunyikan rasa kekesalanku dan langsung saja ku curahkan saat itu juga.
"Hmm, begini...,aku nggak mau bohong sama kamu. Aku tau Melda dari dulu emang suka sama aku, dan dia juga sudah terang-terangan menyatakan perasaannya.
"Dengerin aku, dulu. Kamu jangan langsung marah."
Akhirnya aku diam dan mendengarkan penjelasan dari Kak Ardi tanpa memotong ucapannya.
"Selain Melda, ada beberapa juga yang bersikap sama. Tapi aku nggak pernah membalas perasaan mereka sedikit pun. Percayalah, aku seperti ini hanya ke kamu, aja...."
"Terus kenapa Kakak bisa di juluki, buaya?" Tanyaku menyelidik.
"Hm, kalau itu aku juga nggak tau. Mungkin karena banyak cewek-cewek yang mencoba mendekati aku sehingga aku yang di anggap buaya, hehe...."
"Ishh, nggak lucu!"
__ADS_1
Jleebb!
Tiba-tiba lampu yang ada di ruangan mati seketika. Tapi anehnya mereka yang ada di ruangan itu tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Tidak ada jerit kaget atau apa pun. Aku jadi takut lalu semakin mendekat pada Kak Ardi.
Aku berpegangan di lengan Kak Ardi.
"Kak, kenapa lampunya mati?" Kataku, di dalam kegelapan itu. "Dan kenapa jadi sepi?"
"Tenang saja, ini hanya sebentar, sampai yang berulang tahun masuk ke ruangan ini," jelas Kak Ardi.
Aku belum pernah datang atau pun melihat kejutan seperti ini. Di hari ulang tahunku biasanya Bunda akan membuatkan kue khusus untuk ku lalu Bunda juga membuat beberapa jenis kue dan membagi-bagikan nya pada tetangga. Ini pertama kalinya aku datang dan menyaksikan sebuah kejutan untuk seseorang yang sedang berulang tahun.
Aku masih berpegangan pada lengan Kak Ardi, kemudian ku rasakan Kak Ardi beralih meraih pundak ku sehingga posisi kami berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas Kak Ardi begitu terasa mengenai wajahku ketika aku mencoba menengadah. Ku tundukan kembali wajahku. Entah kenapa aku berkeinginan untuk membenamkan wajahku di dada bidang milik Kak Ardi.
Beberapa saat lampu kembali menyala, terdengar suara tepuk tangan dan lagu selamat ulang tahun di nyanyikan. Aku terkejut lalu buru-buru mengatur jarak ku dengan Kak Ardi. Ku alihkan pandangan ku pada semua orang yang ada di ruangan itu. Ku lihat ada kertas warna warni yang berjatuhan dari balon yang meletus. Yang berulang tahun adalah teman Kak Ardi, tapi kenapa malah aku yang merasa terharu dan terkesan. Mungkin karena ini pertama kali aku melihat pesta seperti ini.
"Ayo," ajak Kak Ardi seraya menggenggam tanganku untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain. Aku menurut saja sambil membalas genggaman tangan Kak Ardi.
Kak Ardi memperkenalkan aku pada teman-temannya. Tapi Kak Ardi melarang teman-temannya untuk berjabat tangan denganku. Kak Ardi hanya menyebutkan namaku saja agar mereka tau namaku, dan memperkenalkan aku sebagai kekasihnya. Aku sangat bahagia mendengarnya, semoga cewek ganjen itu mendengarnya juga. Batinku.
"Wahh, gandengan baru nih?" Ucap salah satu teman Kak Ardi.
"Apaan, emang kapan aku punya gandengan? Baru kali ini, kan aku punya gandengan kalo datang ke pesta." Kak Ardi mencoba membela diri. Sepertinya dia juga sedang berusaha agar aku tidak marah atau cemburu atas perkataan temannya itu.
"Di mana kamu nemu yang beginian, Ar?" Ku dengar temannya yang lain mendekat dan berbicara pada Kak Ardi. Meski pelan, tapi aku masih dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Sementara mataku tak hentinya mengawasi cewek bernama Melda yang semakin agresif saja. Bahkan dia juga bersikap agresif pada beberapa cowok yang hadir di acara tersebut. Ini adalah pesta ulang tahun pertama yang aku hadiri, dan ini juga pertama kalinya aku melihat wanita seagresif Melda. Aku melihat tingkahnya yang sangat berlebihan. Cara dia berbicara dan bersikap benar-benar membuatku muak.
__ADS_1