
...Happy reading...
TIGA BULAN KEMUDIAN
Ada yang bilang bahwa bahagia itu sederhana. Tapi nyatanya hanya orang-orang tertentu saja yang dapat merasakan kebahagiaan yang itu.
Aku bahagia, ketika melihat kebahagiaan orang-orang yang ku sayangi.
Aku bahagia ketika bisa membuat orang lain tersenyum.
Aku bahagia ketika bisa membantu orang lain keluar dari masalah yang ia hadapi
Setidaknya aku pernah bahagia.
Sudah 3 bulan aku meninggalkan Dani tanpa memberikan kabar. Tanpa meninggalkan pesan apa pun.
“Ayo, sudah terlalu lama kamu berada di luar.” Kak Ardi menyuruhku untuk kembali ke ruangan perawatanku.
“Boleh aku menelpon Kak Laras sebentar?” Pintaku pada Kak Ardi.
“Baik. Hanya sebentar.” Kak Ardi meminjamkan handphonenya lalu aku menelepon Kak Laras.
Kak Laras sudah melahirkan jadi tidak bisa menemaniku lagi seperti dulu. Hanya Om Wandy dan Kak Agil yang sesekali menjenguk ku. Selebihnya aku di tangani oleh Dokter dan perawat.
Coba tebak siapa Dokter yang menanganiku. Dokter Ardiansyah Saputra. Dia orang yang pernah ku cintai sekaligus ku benci. Tapi takdir menempatkan aku di bawah penanganannya.
Kak Laras selalu berpesan cukup bersikap seperti seorang pasien dan berdo'a agar semuanya baik-baik saja. Sampai saat ini aku juga belum tahu secara detil mengenai penyakitku. Setiap aku bertanya jawaban Kak Laras mau pun Kak Ardi hampir sama. Yaitu aku tidak perlu khawatir dan banyak pikiran dan fokus pada kesembuhanku.
3 bulan lalu dua hari setelah kembali dari perkebunan aku mengalami demam dan sekujur badanku terasa sakit semua. Setelah seminggu di rawat di Rumah Sakit di kota setempat, lalu aku di rujuk ke Rumah Sakit di luar Kota.
Masa perawatanku akan di lakukan selama 8 bulan atau lebih. Itu artinya masih 5 bulan lagi atau bahkan lebih aku berada di Rumah Sakit ini.
Awalnya aku menolak untuk di rawat. Tapi Kak Ardi mengancamku akan meninggalkan keluarganya jika sampai aku kabur atau tidak mau di rawat. Tapi ia berjanji setelah aku sembuh dia akan merelakan aku bahagia dengan hidupku dan dia bahagia dengan keluarganya. Aku pegang janjinya itu dan bertekad untuk sembuh.
Pagi yang cerah aku akan berjalan-jalan mengitari taman kecil di dekat ruangan perawatanku. Seminggu yang lalu aku di pindahkan kesini dengan alasan agar aku bisa merasa lebih nyaman.
“Anita!”
Aku menoleh ketika mendengar seseorang yang memanggilku. Aku tau itu suara Kak Ardi.
__ADS_1
“Ya?”
Kemudian Kak Ardi berjalan ke arahku. “Ini hadiah untuk pasien yang baik dan penurut.”
“Apa ini?” Aku menerima benda berbentuk kotak yang sudah di kemas dengan rapi tersebut.
“Lihat sendiri.”
Aku pun langsung membuka kotak itu dan melihat isinya.
“Aku udah boleh main ini?” Tanyaku seraya memegang ponsel yang di hadiahkan untukku.
Kak Ardi mengangguk. “Tapi jangan lama-lama dan keseringan. Jika sudah waktunya istirahat akan di simpan kembali. Faham, kan?”
Aku pun mengangguk. Sudah beberapa bulan aku hanya meminjam handphone Kak Ardi atau memakai telepon Rumah Sakit jika ingin menghubungi Kak Laras atau Om Wandy. Tiba-tiba aku teringat handphone lamaku yang sampai sekarang aku belum pernah lagi melihatnya. Tapi aku tau Kak Laras masih menyimpannya.
Selain handphone, aku juga dapat kejutan lain yaitu di jenguk Kak Ilham dan juga Kak Rama yang datang bersama istri mereka.
Untuk pertama kalinya ada orang lain dari bagian keluargaku yang datang menjenguk ku.
“Maaf, kita baru bisa datang menjenguk kamu.” Ucap Kak Ilham mewakili.
“Alhamdulillah, bibit yang dari kamu waktu itu sudah bisa di nikmati hasilnya bulan lalu. Akhirnya kita bisa datang sekeluarga kesini.”
Jarak kota ini memang lumayan jauh dari kota tempat tinggalku apa lagi dari desa. Biaya yang di kelurkan pun tidak sedikit.
....
Suatu sore aku di temani Kak Ardi duduk di bangku yang ada di taman dekat ruang perawatanku. Keadaanku sudah lumayan membaik. Aku tau Kak Ardi sangat mengupayakan kesembuhanku.
Aku sudah tidak ketakutan seperti dulu lagi saat berdekatan dengan Kak Ardi. Kami berbicara layaknya seorang teman dan seolah tidak pernah ada masalah antara kami berdua.
“Apa rencana kamu selanjutnya setelah pulang dari sini?” Tanya Kak Ardi setelah banyak obrolan yang kami lewati.
“Nggak ada, belum kepikiran. Apa perlu aku kabari jika aku sudah memiliki rencana?” Aku menoleh seraya tersenyum usil.
Kak Ardi sudah mulai terbiasa dengan kekonyolan ku beberapa waktu belakangan ini. Ia sering sekali tertawa hingga menggelengkan kepalanya dengan tingkahku.
“Kamu yang berubah atau aku nya yang dulu nggak terlalu merhatiin kamu?” Kak Ardi menoleh padaku juga dengan tatapan meminta jawaban.
__ADS_1
“Aku emang begini dari dulu. Kakak aja yang kurang perhatian makanya nggak tau. Hahaha....”
“Jadi aku dulu kurang perhatian?”
“Iya, makanya aku relain buat yang lain aja, hitung-hitung sedekah.” Kak Ardi ikut terkekeh mendengar candaan narsisku
Malam tiba, sendiri ku di dalam ruangan dengan langit-langit bercat putih ini. Sebelum tertidur sering kali aku memutar kembali memori ku, sejak aku di asuh Ayah dan Bunda hingga harus kehilangan mereka serta cobaan demi cobaan yang terus menghantamku. Sering kali saat aku membuaka mata, aku berada di ruang Rumah Sakit. Setelah semua itu Tuhan belum juga mengambil nyawaku?
Aku mengambil handphone pemberian dari Kak Ardi dan membukanya. Tadi ia lupa menyitanya karena harus buru-buru menangani pasiennya yang lain.
Aku sempat membuat akun dan mencari kabar mengenai teman-temanku lewat sana. Tapi aku belum ada keinginan untuk memberitahukan mengenai keadaanku saat ini.
Bukan hanya teman-temanku, ada satu orang yang ingin ku lihat dan ku ketahui kabarnya, yaitu Dani. Namun tidak satu pun informasi yang ku dapat mengenai dirinya. Lelah mengutak atik benda itu aku pun memutuskan untuk tidur.
....
Om Wandy datang untuk menjemput setelah hampir sepuluh bulan aku di karantina di tempatku menjalani perawatan. Kak Ardi tidak datang menjenguk ku padahal biasanya ia selalu datang lebih awal. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padanya karena sudah berupaya untuk kesembuhanku. Walau bulan depan aku akan kembali lagi, tapi aku harus tetap menemuinya untuk mengucapkan rasa terimakasihku secara langsung dan sekalian berpamitan.
Akhirnya aku mendatangi Dokter Rio ke ruangannya untuk menitip salam, sebab aku juga tidak memiliki nomernya.
Dari dalam mobil aku memandangi gedung yang selama beberapa bulan ini telah menampungku. Aku mengalihkan pandanganku dari sana setelah gedung itu tidak lagi terlihat. Aku masih berharap Kak Ardi akan datang lalu aku akan berpamitan.
Tapi kemudian aku berpikir mungkin dia ada kesibukan, selain itu tanggung jawabnya terhadapku sebagai pasien sudah tidak ada lagi.
Aku menikmati hembusan angin yang membelai kulit wajahku melalui kaca jendela mobil yang sengaja ku buka.
Hay dunia, aku datang lagi.
Aku ingin melihat, ada kejutan apa lagi yang kau siapkan untukku.
-
-
-
**Jangan lupa jejak dukungannya 👍 agar othor tetap semangat melanjutkan cerita ini hingga tamat.
Thanks all** ...
__ADS_1