Luka Terdalam

Luka Terdalam
AKU TIDAK PANDAI DI DAPUR


__ADS_3

...Happy reading...


Mentari bersinar cerah, waktunya kembali pada kehidupan nyata dan sedikit drama bahwa wanita ini adalah wanita yang kuat meski semalam baru saja menangis dan menjerit pilu.


Senyum tulus adalah senjata ampuh untuk menutupi semua duka. Membaur di keramaian meski tetap saja merasa sendiri dan hampa. Bahkan aku bagai menghadapi malaikat maut jika malam telah tiba.


Aku sering menunggu agar lewat tengah malam untuk memejamkan mata berharap terbangun di saat pagi sudah tiba.


Aku tidak pernah mengatakan tentang hal ini pada siapa pun juga. Tapi ku beritahukan pada kalian semua agar kalian bisa menilai, sedalam apa luka ku.


Kadang aku ingin mengadu, tapi pada siapa?


Karena percuma saja, meski seluruh alam semesta tau, tetap aku seorang saja yang merasakan sakitnya.


Aku pernah mendengar, jika kita membaginya pada orang lain, maka akan mengurangi rasa beban itu. Hanya mengurangi beban, bukan menghilangkan rasa sakitnya.


Sedari kecil aku terbiasa memendam masalah-masalah yang berhubungan dengan perasaan. Dengan bercerita menurutku hanya akan menambah rasa sakit saja. Jadi aku lebih memilih diam dan berusaha tidak peduli.


-


-


-


Aku rutin pulang ke kota sebulan sekali setiap menerima gaji. Meski sekedar 1 atau 2 malam saja bagiku itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan ku pada suasana rumah dan kota.


Karena akhir-akhir ini cuaca tidak menentu, jadi aku pulang di antar oleh Bang Fauzan dengan mobilnya. Sebetulnya aku ingin meminta supir perusahaan saja untuk mengantarku ke kota, tapi Bang Fauzan bersikeras agar dia saja yang mengantarku. Pak supir jadi tidak enak hati dan akhirnya ikut membujuk ku agar mau di antar Bang Fauzan.


Aku keluar dari mobil setelah sudah sampai di depan rumahku. Ku lihat Kak Laras sudah berdiri di teras sambil menyuapi Rifqy yang sedang bermain di sana.


“Heii...ponakan Tante lagi mamam apa?” Seraya menghampiri dan mencubit gemas pipinya.


“Mamam, tuhh...,” sambil ia menunjuk mangkuk yang di pegang Kak Laras. Aku semakin gemas saja melihat tingkahnya.


“Nanti jalan-jalan sama Tante, ya...kita mamam esklim...,” ucapku menirukan bahasa anak kecil.


“Jangan kamu ajarin dia makan, makanan yang nggak sehat, kamu aja sana makan sendiri,” omel Kak Laras. ”Nggak di suruh mampir dulu, tuh?” Tambah Kak Laras seraya memberi isyarat padaku.


Aku sampai lupa pada Bang Fauzan yang sudah mengantarku.


“Bang, mampir dulu...,” tawar ku dengan terpaksa.

__ADS_1


“Nanti saja, Abang masih ada urusan. Pamit Mbak...,” ucap Bang Fauzan pada Kak Laras yang di jawab anggukan oleh Kak Laras.


“Syukurlah,” batinku setelah Bang Fauzan menjalankan mobilnya dan meninggalkan halaman rumahku.


Kami pun masuk ke dalam sambil aku menggendong Rifqy dan menciumi pipinya.


“Kak Agil mana?” Tanyaku sambil menurunkan Rifqy.


“Belum pulang, katanya ada lembur.”


“Oh. Aku mandi dulu, gerah banget.” Kemudian menuju ke kamarku.


Hp ku berdering tanda ada pesan masuk. Aku kembali mengambil ponselku yang tadi telah ku letakkan di atas kasur.


Ternyata pesan dari Bang Fauzan.


📨[Bang Fauzan] Kapan kamu mau pulang? Aku akan menjemputmu.


Ahh, kenapa seperti tiada bosannya dia berusaha mencari perhatianku. Kembali aku teringat bagaimana dulu Kak Ardi begitu gigih mengejarku. Meski dulu aku telah membentaknya di depan teman-teman sekelasku.


Tapi apa yang terjadi setelah itu?


Begitu aku mempercayakan semua kebahagiaanku padanya, dengan mudahnya ia mengirim pesan untuk mengabari tentang pernikahannya.


Setelah mandi aku berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Sebuah pesan kembali masuk.


Aku menjatuhkan tubuhku di tempat tidur sambil membaca pesan dari Bang Fauzan yang meminta balasan dariku.


📨[Me] Aku masih ada sedikit urusan dan belum tau kapan pastinya akan kembali. Abang nggak usah repot-repot, nanti aku bisa sewa taksi saja.


Tok tok tok!


“Anita..., ayo makan malam...!” Panggil Kak Laras dari luar kamarku.


“Aku belum lapar...!”


“Ya, sudah...nanti kamu makan, ya!?” Pesan Kak Laras.


Aku masih sibuk memeriksa pesan yang masuk ke ponselku. Banyak sekali pesan yang menumpuk dan aku hanya membalas pesan yang menurutku penting saja. Aku bukanlah orang yang suka bicara basa basi melalui telepon atau pesan jika tidak berkepentingan. Kecuali orang-orang yang memang sudah sangat dekat denganku.


Tidak lama ponselku kembali berbunyi. Ada panggilan yang masuk. Aku sedikit terkejut dan penasaran bagaimana dia bisa menelepon ku. Bukankah di sana susah sinyal.

__ADS_1


“Ada apa, Bang? Kenapa Abang bisa meneleponku?” Tanyaku langsung.


“Maaf, tadi Abang mampir dulu, naik gunung buat hubungi kamu. Hehe....”


“Jadi Abang malam-malam begini ada di gunung!”


“I iya...aduhhh! Banyak nyamuk!” Terdengar Bang Fauzan sedang memukul nyamuk yang mungkin sedang mengerubunginya.


Aku mendelik kaget. Ada ya orang seperti ini yang malam-malam naik gunung cuma buat nelepon.


“Ya sudah, sebaiknya Abang pulang aja, aku khawatir Abang kenapa-kenapa,” titahku.


“Sebentar lagi, Abang juga sekalian mau menghubungi keluarga yang ada di kota. Terimakasih sudah merasa khawatir.”


Hah...! Apa tadi aku bilang khawatir!? Aku membatin.


“Nggak usah perasaan dulu...Bang. Sebagai teman wajarlah aku merasa khawatir...,” sambil aku memutar bola mataku karena aku sudah membayangkan bagaimana raut wajah Bang Fauzan saat ini. Dia pasti lagi nyengir-nyengir nggak jelas di atas gunung itu.


“Iya iya...Abang tau. Teman, dan semoga kelak juga jadi teman hidup.”


“Abang jangan main-main, kata orang ucapan itu do'a lho. Emang Abang mau punya teman hidup yang nggak pandai di dapur?” Serangku dan semoga Bang Fauzan langsung memundurkan langkahnya setelah tau kekurangan yang ada di diriku.


Hening sebentar setelah akhirnya terdengar kembali Bang Fauzan menanggapi ucapanku tadi.


“Sejak awal aku sudah menyukaimu waktu pertama kali kita bertemu. Aku berharap kita bisa bertemu kembali, dan ternyata takdir benar-benar mempertemukan kita. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan aku sudah siap menerima segala kekurangan yang ada pada dirimu meski menurutku sebetulnya itu bukanlah kekurangan. Bahkan sebetulnya aku tidak melihat kekurangan apa pun pada dirimu. Kalau soal memasak, kan bisa belajar setelah kita menikah. Hehe....”


Niatku ingin membuat Bang Fauzan menjauh kenapa malah membuat obrolan semakin serius dan kami seperti akan menikah saja.


Aku hanya menghela nafas tanpa tau harus menanggapi seperti apa. Karena khawatir malah nanti jadi lebih serius lagi.


Kebetulan Kak Laras masuk ke kamarku jadi aku ada alasan untuk mengakhiri obrolan itu.


...**Tbc...


-


-


-


Jangan lupa like, komen dan klik ❤

__ADS_1


Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis 🤗**


Thanks all...😍


__ADS_2