
...Happy reading...
Kali ini aku benar-benar menikmati perjalananku padahal biasanya aku selalu tertidur walau baru beberapa kilometer perjalanan.
Sore hari kami sudah sampai di rumah. Ada Oma Maryam dan Kak Laras yang menyambutku di depan rumah. Aku menyalami Oma lalu berpelukan dengan Kak Laras. Cukup lama kami berpelukan melepaskan rindu dan air mata.
“Kakak udah langsing.” Aku melihat ke arah perut Kak Laras kemudian kami tertawa sama-sama.
Kami semua masuk ke dalam rumah sementara Om Wandy mengeluarkan beberapa barang dari dalam mobil.
Aku rindu suasana rumah, rindu omelan Kak Laras dan rindu makanan yang ada di kota ini.
Oma serta Kak Laras bermalam di rumahku dan kami tidur bersama di ruang tengah dengan menggunakan kasur lantai. Awalnya Kak Laras tidak setuju mengingat aku baru saja pulih dari sakit. Tapi aku meminta hanya sekali ini saja sebab aku rindu suasana di desa waktu dulu aku pernah bermalam di rumah Oma, tidur rame-rame dengan cara seperti ini.
Subuh-subuh kami sudah di bangunkan suara tangisan dari Aira. Aira adalah anak kedua Kak Laras. Sepertinya dia sengaja membangunkan kami sebab setelah itu dia diam dan tertawa saat kami semua sudah tidak bisa tertidur lagi.
Usaha Kak Laras juga semakin maju. Selain lewat online ada juga yang datang langsung ke toko untuk melihat-lihat barang secara langsung. Selama habis melahirkan ia sudah tidak lagi menerima orderan membuat kue. Tapi Ia menjual pakaian, obat-obat herbal, perabotan dan masih banyak lagi.
Sementara aku juga pelan-pelan memulihkan keuanganku yang sudah sangat terkuras selama berada di Rumah Sakit. Setiap bulan aku rutin melakukan pemeriksaan dan setiap aku bertanya Kak Ardi tidak pernah menjawab dengan jelas mengenai sakitku.
Dan ini sekian kalinya aku bertanya dan bahkan memaksa.
“Sebetulnya kamu tidak boleh kelelahan. Pertahanan tubuh kamu sangat rentan terhadap virus. Dan bisa di bilang sebetulnya kamu tidak boleh bekerja atau banyak berpikir. Karena jika di paksakan maka akan fatal akibatnya. Sebab itu keluarga kamu meminta agar kamu di rawat di sini. Jika kamu di biarkan pulang maka kamu akan terus bekerja tanpa memperhatikan kesehatan kamu.” Aku menelan ludah kasar tidak tau harus berkata apa.
Jadi mereka semua yang membuat aku di rawat. Tapi kenapa tidak bilang dari awal? Aku hampir menduga-duga bahwa aku akan mati karena penyakit yang berbahaya.
“Auww!” Kepala bagian kiriku tiba-tiba sakit.
“Anita, aku kan udah bilang, jangan banyak berpikir dulu.” Kak Ardi mendekatiku. Ia terlihat panik dan khawatir.
“Nggak apa-apa, nanti juga hilang sendiri.”
“Apa kamu sering merasakan seperti ini?”
“Iya, kadang-kadang. Mungkin memang karena kelelahan aja.”
“Jangan remehkan penyakit dari faktor kelelahan. Kamu dari dulu selalu bekerja keras tak kenal waktu. Tidak ada gunanya uang yang kamu hasilkan jika habis untuk biaya berobat. Sekarang kamu ngerti, kan?”
Memang benar apa yang di katakan Kak Ardi. Aku terlalu berambisi untuk berusaha agar tetap hidup dengan layak hingga lupa dengan kesehatanku sendiri.
Aku tidak marah pada siapa pun juga dan tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku menerima semua yang sudah terjadi. Lagi pula mereka melakukan semua ini pasti karena mereka sangat peduli padaku.
__ADS_1
....
Aku tidak segesit dulu lagi jika menyikapi sesuatu. Aku belajar untuk santai dan tidak terlalu gegabah.
Kak Ardi sempat berkata, "jika kamu orang yang berumur 40 tahun, mungkin kamu tidak akan selamat" aku tidak menyangka seorang Dokter berkata seperti itu pada pasiennya. Atau mungkin karena pasiennya adalah aku.
Aku sudah mendapatkan kabar mengenai Dani. Bahwa dua bulan setelah tidak ada kabar dariku ia memutuskan untuk melanjutkan S2 nya yang sempat tertunda di kota asal Mamanya yang lumayan jauh dan memilih mandiri di sana. Aku merasa lega jika dia baik-baik saja dan akan meminta maaf jika di berikan kesempatan untuk bertemu kembali.
Suatu hari aku yang gantian bermalam di rumah Kak Laras karena kebetulan Kak Agil sedang bekerja ke luar daerah. Setelah menidurkan Aira ia mendekatiku.
“Anita, Kakak mau bicara.”
“Iya, bicara aja.” Aku mematikan ponselku lalu fokus mendengarkan Kak Laras yang ingin bicara.
“Siapa Dani?”
Degg!
Aku terkejut dan gugup rasanya ketika Kak Laras menyebut nama Dani. Tapi aku berusaha sesantai mungkin menyikapinya
“Oh, dia teman aku.”
“He'em,” angguk ku. “Ada apa?”
“Teman? Tapi SAYANG?” Kak Laras memandang dengan tatapannya yang memaksa untuk di berikan penjelasan.
Huhh! Percuma aku berbohong.
“Ya ya, aku dan dia bukan sekedar teman. Tapi sekarang dia udah nggak ada di kota ini lagi.”
“Oh, jadi sekarang kamu diam-diam punya pacar tanpa memberitahu Kakak?”
“Maaf, dulu dia pernah minta untuk di kenalkan dengan keluarga kita, tapi aku menolak karena aku masih belum siap untuk serius lagi.”
“Kamu nggak coba buat hubungi dia lagi?”
“Aku akan meminta maaf jika bertemu lagi. Tapi untuk kembali mungkin tidak. Sudah lumayan lama dan mungkin sekarang dia sudah bahagia bersama yang lain. Kalau pun kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami lagi juga tidak mungkin, pasti keluarganya tidak setuju. Sebab aku menghilang tanpa meninggalkan kabar apa pun juga.” Aku menerawang mengingat masa terakhirku mengunjungi rumah orangtua Dani.
“Kamu sudah pernah bertemu orangtuanya? Lalu bagaimana reaksi mereka?” Kak Laras menjadi semakin antusias bertanya.
“Keluarganya termasuk keluarga yang modern. Menurutku sih seperti itu, karena waktu aku berusaha jujur saja mereka tampak biasa tanpa merasa terganggu samasekali.”
__ADS_1
“Jika Dani belum menikah lalu kalian bertemu lagi bagaimana?”
“Aku belum tau, lagian aku mau fokus menikmati hidup dan mencoba membahagiakan diri sendiri. Itu kan yang selalu Kakak katakan?”
....
Kehidupan ku terus berjalan bagaimana semestinya.
Aku mendengar kabar bahwa Gea sudah menikah lagi setelah resmi bercerai dari suaminya yang ringan tangan itu.
Keadaan Papa sudah membaik. Erlang juga sudah menjadi Karyawan tetap di perusahaan dengan gaji lumayan.
Sementara Mama sudah tidak sekeras dulu lagi. Mungkin dengan sendirinya Mama menyadari kesalahannya selama ini. Walau sebenarnya aku tidak bisa menilai apa itu sebuah kesalahan atau memang hanya ujian untuk ku saja.
Setahun berlalu ...
Apakah selama setahun ini aku sudah bisa merasakan yang namanya bahagia?
Aku belum bisa menyimpulkannya. Bahkan aku tidak menuntut kebahagiaan itu lagi pada Tuhan. Yang aku inginkan hanya sebuah ketenangan.
Masih ada lagi kerikil-kerikil kecil di dalam hidupku. Orang-orang mulai mempertanyakan kapan aku menikah? Sudah umur berapa?
Kenapa belum juga menikah?
Aku mulai jengah terus-terusan membahas semua itu. Aku hanya bicara jika aku ingin membicarakannya. Kadang aku menjawab sesuka ku. Aku juga tidak segan-segan memutuskan hubungan dengan orang yang banyak bertanya mengenai kehidupanku. Aku lelah ...
Dulu aku memang takut untuk menikah. Hingga pada akhirnya aku siap, namun takdir berkata lain. Tapi setidaknya aku sudah pernah mencoba dan berusaha.
...**Tbc...
-
-
-
Maaf jika untuk beberapa hari ke depan mungkinan belum bisa up. Othor mempersiapkan untuk akhir cerita ini dan juga ada kesibukan di real life.
Semoga nanti bisa up dan langsung end.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungannya 👍**
__ADS_1