Luka Terdalam

Luka Terdalam
SELERA KU TUKANG MARTABAK


__ADS_3

...Happy reading...


Aku sudah di jalan saat mobil Galih menyusulku. Kemudian ia memotong langkahku dengan menyetopkan mobilnya di depanku.


“Anita, aku minta maaf atas perkataan orangtuaku tadi. Mama nggak bermaksud seperti itu, dia mungkin khawatir saja dengan keadaanku setelah menikah.” Galih sudah keluar dari dalam mobil dan berdiri di depanku.


“Orangtua mu itu bukan nyari menantu, tapi dia sedang nyari pembantu! Dan mereka sudah memilih orang yang salah! Aku nggak akan mau jadi wanita yang hanya akan mengurus rumah sambil berkembang biak, menjadi tua dan mati. Mulai saat ini jangan hubungi aku lagi dengan alasan apa pun. Anggap kita nggak pernah kenal!”


“Anita, tolong jangan seperti ini. Kamu baru sekali bertemu keluarga ku mungkin setelah beberapa kali maka kamu akan bisa mengerti dengan keinginan mereka.”


“Apa? Harus bertemu beberapa kali? Baru satu kali pertemuan aja mereka udah buat darah aku mendidih, bagaimana jika sampai beberapa kali? Yang ada aku bakal merobek-robek mereka semua!”


“Anita, semua pencapaian pasti ada yang namanya harus melewati rintangan dulu. Ayo lah, lebih sabar lagi. Meski kita belum lama saling kenal tapi aku sudah merasa nyaman kamu.” Tatapan memohon dari Galih tidak menyurutkan niatku sedikit pun.


“Hoho, jangan pernah ajarkan aku cara bersabar. Selama hidupku aku sudah cukup bersabar. Jadi tidak lagi!” Aku melanjutkan langkahku lagi namun ada satu hal yang belum ku sampaikan padanya hingga aku membalikan badanku. “Oiya, aku lupa bilang kalau seleraku bukanlah manajer.”


Galih membalas menatapku dan mendekat beberapa langkah. “Kamu mau aku punya perusahaan sendiri? Meski aku belum punya perusahaan, tapi aku yakin masih bisa menjamin hidup kamu.”


“Kamu nggak mau nanya selera aku apa? Biar aku kasi tau sekarang aja. Seleraku adalah tukang martabak.” Aku menunjuk dengan mataku pada tukang martabak yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku berjalan menuju ke tempat tukang martabak itu dan kebetulan beberapa orang pelanggan yang membeli sudah pergi dari sana.


“Bang, nikah yuk,” ucapku tanpa basa basi pada penjual martabak yang masih terlihat muda dan mungkin lebih muda dari usiaku. Sementara Galih juga berjalan mengikutiku dan berdiri tak jauh dari sana.


Abang tukang martabak itu hanya tersenyum tanpa berucap. Dia sibuk mengaduk-aduk telor dari dalam wadah.


”Anita, ayo masuk ke mobil aku antar pulang,” Galih akhirnya bersuara lagi untuk membujukku.


“Aku bisa pulang sendiri!” Ketusku. “Bang, mau nggak nikah sama aku?” Tanyaku kembali pada tukang martabak.


“Mas, di bujuk dulu si Mbak nya,” ucapnya seraya tersenyum geli melihat ke arah Galih yang tidak berani bicara lagi sejak mendengar bentakanku tadi.


“Aku pesan martabaknya deh, satu. Pake cinta dan kasih sayang yang banyak, tapi jangan pake selingkuh ya, Bang.”


“Siap Mbak. Saya emang nggak pernah pake selingkuh, makanya saya selalu setia sama pasangan saya.”


“Udah punya istri?” Tanyaku secara spontan.


“Belum, tapi bakal punya istri. Sudah lima tahun kita berjuang sama-sama buat hari besar kita nanti.” Sambil ia tersenyum.

__ADS_1


Aku terharu mendengar ucapan Abang tukang martabak itu. Seandainya saja ada orang yang mau berjuang sama-sama seperti itu bersamaku.


Seandainya seandainya seandainya ...


Hanya bisa berandai saja.


-


-


-


Suasana pagi yang sama meski di hari yang berbeda. Berolah raga atau aku akan tidur sampai siang jika kebetulan malamnya aku begadang karena banyak pekerjaan.


Pagi setelah aku pulang memandu senam, Mama yang kebetulan datang ke rumahku sedang duduk bersantai di teras bersama Om Wandy dan yang lainnya.


“Anita, Mama mau bicara.”


“Bicara aja, Ma. Tapi jangan membahas topik yang sama.” Aku langsung merebahkan tubuhku di teras tanpa sungkan.


“Ma, udah lah... itu-itu aja yang di bahas terus. Banyak kok, Ma wanita yang menikah di umur 30 ke atas. Tapi nggak ada yang ngeributin, tuh. Aku aja belum ada segitu umurnya.”


“Di keluarga kita ini udah ada yang jadi lajang tua. Jadi jangan sampai kamu mengikuti jejaknya!” Sontak ucapan Mama membuat Om Wandy setengah mendelik ke arah Mama.


“Mbak, kenapa malah nyindir saya?” Protes Om Wandy.


“Bukan menyindir, Wan. Tapi itu memang faktanya, kan?”


“Nah, mending cariin dulu tuh calonnya Om Wandy, kan dia lebih tua,” usulku langsung merubah posisiku dengan berduduk.


“Eh, jangan jangan coba-coba mengalihkan pembahasan ya.” Om Wandy menunjuk ke arahku.


“Kalian sama aja, Om sama ponakan nggak pernah mikirin masa depan. Coba pkirkan masa tua kalian. Yang satu jadi bujang tua, yang satu jadi perawan tua!”


“Harusnya Mama bersyukur meski udah setua ini aku masih perawan, di luar sana banyak remaja yang udah nggak perawan lagi.” Aku malas berdebat apa lagi hanya membahas itu-itu saja.


Aku masuk ke dalam dan membanting pintu dengan keras. Sejak hari itu sudah tidak ada lagi pembahasan mengenai jodoh lagi.

__ADS_1


Jika ada waktu aku akan mengunjungi cafe favorit ku dulu bersama Kak Ardi. Bukan karena aku belum bisa melupakan kenangan kami. Tapi pada dasarnya kenangan memang tidak akan terhapuskan. Ini bentuk keikhlasanku dan aku sudah menerima takdirku dengan lapang dada.


Ada yang berubah dari cafe tersebut. Lokasi tetap sama hanya saja bangunannya di buat menjadi bertingkat. Aku naik ke lantai atas lalu memilih tempat duduk di sana.


Memandang lautan, di temani semilirnya angin sungguh damai rasanya. Untuk pertama kalinya aku bisa melebarkan senyumku saat berada di sini setelah berakhirnya hubunganku dengan Kak Ardi.


Langit sore yang nampak sedikit mendung terlihat berbeda dari biasanya. Tapi bukan berarti tidak bisa menikmati keindahannya.



”Hey, aku menemukanmu.”


Aku terkejut dan sontak mengalihkan pandanganku ke orang yang yang mengambil tempat duduk di hadapanku.


“Kamu?”


“Iya, ini aku. Masih ingat?”


Aku hanya menjawab dengan mengangguk. Sementara pria yang aku ingat bernama Haidar tersebut tampak tersenyum lebar.


“Ada yang pernah bilang padaku bahwa dunia ini sempit. Awalnya aku nggak percaya, tapi kini aku yakin.” Aku tersenyum ke arah Haidar yang duduk di hadapanku dan dia juga membalasnya dengan senyuman.


Aku tidak pernah menolak siapa pun yang ingin dekat denganku. Tapi aku masih belum bisa meyakinkan diriku jika untuk meminta lebih. Rasa bersalahku pada Dani masih bersarang di hatiku. Dan jujur saja aku masih berharap padanya. Aku orang yang mudah berteman, tapi bukan berarti aku bisa dengan mudah juga berpindah perasaan.


Haidar pria baik dan juga sopan. Dia perhatian dan bisa di ajak untuk bertukar pendapat mengenai hal apa pun. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa membalas perasaannya padaku.


“Anita, aku mau hubungan kita lebih dari sekedar teman. Aku menyukaimu.” Haidar menatap penuh harap padaku.


Aku menarik nafasku perlahan sebelum membuangnya bersama rasa bersalahku pada orang yang sudah ku anggap sebagai sahabat. Hanya sahabat.


“Maaf, aku nggak bisa. Tapi kamu pria baik, semoga bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.” Aku mencoba memberi pengertian.


“Menurutmu aku pria baik? Tapi aku di tolak,” sambil ia tersenyum kecil membuang pandangannya ke arah laut karena kebetulan kami sedang berada di cafe yang sama lagi saat kami pertama kali bertemu di kota ini. “Boleh aku tau alasannya?” Ia pun bertanya dan menatapku kembali.


Aku diam sebentar seraya berpikir bagaimana caraku menjelaskannya. Dua minggu yang lalu saat kami berjalan-jalan di sebuah mall tiba-tiba tali sepatu Haidar terlepas lalu ia pun berjongkok untuk mengikat tali sepatunya tersebut. Tanpa sengaja aku melihat kalung yang menjuntai di lehernya. Dari kalung itu aku baru tau kalau kami berbeda keyakinan. Jadi percuma saja walau aku memaksakan perasaanku padanya, keluargaku pasti akan menentang hubungan itu kelak.


...Tbc...

__ADS_1


__ADS_2