
...Happy reading...
Jam kerja sudah habis, aku bergegas merapikan meja kerjaku lalu melangkah ke luar meninggalkan ruangan.
“Yang kangen yang kangen....” Terdengar dari salah satu rekanku yang kembali meledek ku.
“Hati-hati Mbak..., jangan buru-buru nanti keseleo!” Timpal Riris, rekan kerja yang paling akrab dengan ku.
Hubungan ku dengan Bang Fauzan sudah trending di kalangan sesama Karyawan sejak hari lamaran kemarin. Bahkan Bang Fauzan tidak segan-segan menunjukan perhatiannya padaku meski di depan rekan-rekan sesama Karyawan.
Jika ada waktu biasanya Bang Fauzan mendatangi kantorku untuk mengajak makan bersama di waktu jam istirahat siang. Bang Fauzan kerjanya full di bagian lapangan, sementara aku bekerja di kantor kecuali ada tugas tambahan yang mengharuskan aku turun ke lapangan. Jadi hanya waktu istirahat itu lah kami bisa bertemu.
Aku berjalan menuju perumahan ku sambil bertanya-tanya dalam hati kenapa Bang Fauzan belum datang juga untuk menemui ku. Padahal ia sudah berjanji untuk datang ke kantor jika sudah sampai. Apa mungkin dia masih di dalam perjalanan?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi otak ku. Sampai akhirnya aku berada tak jauh dari perumahan ku dan melihat mobil yang terparkir di sana. Aku sangat hapal mobil siapa itu. Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku pada seseorang yang sedang duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah ku.
Aku tersenyum bahagia melihat orang yang sudah aku nantikan beberapa hari ini berada di sana. Aku mempercepat langkah ku untuk sampai ke teras lalu menghambur ke pelukan Bang Fauzan yang sudah berdiri menyambut ku.
Aku melingkar kan kedua lengan ku di lehernya bahkan bertingkah seperti anak kecil yang minta di gendong.
“Kenapa Abang nggak datang ke kantor...?” Tanya ku dengan merengek.
Tadinya niat Abang juga begitu, tapi jam pulang masih setengah jam lagi makanya Abang pergi ke sini saja biar bisa nunggu sambil istirahat sebentar.”
“Berarti Abang sudah setengah jam menunggu di sini?”
“Hm'm...,” Bang Fauzan mengangguk seraya tersenyum.
“Abang pasti capek. Apa Aku terlalu cerewet ya, Bang?”
__ADS_1
“Kamu emang cerewet, tapi itulah yang bikin Abang kangen. Lagian Abang sendiri, kan yang sudah janji buat nemuin kamu.”
“Hehe, ada ya orang cerewet yang bikin kangen? Ya, udah aku masuk sebentar ya, Bang.” Aku pun masuk ke dalam lalu membawakan kopi panas untuk Bang Fauzan.
“Bang, aku nggak ngerti gimana takaran gulanya kalau bikin kopi. Jadi Abang sendiri ya, yang masukin gulanya,” jelasku seraya meletakkan toples gula di samping gelas kopi. Aku bukan type orang yang malu-malu untuk mengakui kekurangan. Kecuali mengakui bahwa aku telah di buang keluarga ku sendiri sejak kecil. Aku belum berani mengatakan itu pada siapa pun termasuk pada Kak Ardi.
“Kenapa mesti repot-repot sih, Dek...?”
“Nggak repot kok, Bang...kan cuma buat kopi doang, dan sekalian aku mau tau takaran gula di kopi Abang.”
“Kalau kamu yang buat meski tanpa gula pun akan tetap manis kok, Dek,” ucap Bang Fauzan seraya tersenyum.
“Serius?”
“Kamunya yang manis, kopinya tetap aja pahit.” Lagi-lagi Bang Fauzan mencubit hidung ku.
“Ishh, kirain beneran,” kesal ku.
“Aku masih bingung, Kak Laras menyuruh untuk ambil cuti seminggu sebelumnya, tapi menurut ku itu terlalu lama. Mungkin tiga atau dua hari sebelum acara pernikahan aja kali, ya?” Ucapku menoleh pada Bang Fauzan untuk meminta pendapat.
“Tapi Abang lebih setuju dengan pendapat Mbak Laras. Setidaknya Adek punya banyak waktu untuk bisa istirahat dulu sebelum hari besar kita nanti.”
“Lihat bagaimana nanti saja lah, Bang. Lagian masih masih ada waktu sebulan lebih lagi. Minggu depan aku pulang dulu ke kota untuk menanyakan pada Kak Laras, sudah sampai di mana persiapannya.”
Dari awal aku memang sudah menyerahkan semua pada Kak Laras. Dari gedung, undangan dan menyampaikan berita pernikahan ku pada sanak keluarga yang sebetulnya aku juga tidak tau apakah aku masih memiliki hubungan keluarga dengan mereka atau hanya sebatas hubungan darah yang tak kasat mata. Karena selama ini mereka memang tidak pernah menunjukkan kesan kekeluargaannya pada ku. Menoleh ke arah ku pun mereka menatap jijik.
Setelah selesai perbincangan masalah persiapan pernikahan tersebut, Bang Fauzan pun berpamitan untuk pulang.
Aku melambaikan tanganku ketika mobil yang di kemudikan Bang Fauzan meninggalkan area perumahan ku. Lalu aku masuk ke dalam dan memeriksa paper bag yang tadi sempat Bang Fauzan berikan padaku.
__ADS_1
Sebuah syal berwarna abu-abu gelap yang di bagian ujungnya terdapat inisial F.A. Aku tersenyum ketika melihat inisial yang mungkin sengaja di ambil dari nama kami berdua. Aku menyimpan syal tersebut lalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Author POV
Anita wanita yang tegar, tangguh, kristis, realistis, dan wanita yang bisa menyesuaikan diri di lingkungan mana pun selama ia di hargai. Ia wanita yang selalu terang-terangan mengeluarkan pendapatnya tanpa ragu. Tapi ada satu sifatnya yang tidak bisa di berikan pujian yaitu sifat polos dan lemot yang kadang-kadang muncul di dalam dirinya. Intinya memang benar bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar sempurna tanpa cacat dan cela.
Author POV END
-
-
-
Laras POV
Aku merasa sangat bahagia ketika saudara sepupu ku yang sudah aku anggap seperti saudara kandung ku sendiri, telah memberikan kabar kesiapannya untuk menikah. Tidak sia-sia aku mengajak keluarga kecilku untuk tinggal bersamanya agar ia mendapatkan contoh yang baik. Tidak semua kehidupan pernikahan itu akan berakhir dengan perceraian. Apa lagi selama ini Ardi, mantan cinta pertamanya masih saja menghubungi ku untuk menanyakan keadaan Anita. Aku sempat menyampaikan hal ini pada Anita, ia terlihat rapuh setiap mendengar nama Ardi di sebutkan. Jadi aku tidak pernah menyampaikan apa pun lagi yang berhubungan dengan Ardi walau sebenarnya Ardi masih saja menghubungi ku untuk menanyakan keadaan Anita dan bahkan ia pernah memohon untuk aku memberikan nomer kontak dan alamat tempat kerja Anita. Hingga aku melihat ada pria yang begitu tulus perhatian dan menyayangi Anita dan aku pun membujuk agar Anita mau membuka hatinya kembali.
Aku tidak pernah membenci Ardi walau dia meninggalkan Anita untuk menikah dengan orang lain. Karena pernikahan tersebut atas permintaan dari orang tuanya. Sebelum menikah pun dia menemui kami dan bicara baik-baik. Ardi memang pria yang baik, tapi kini statusnya sudah tidak mungkin lagi di harapkan untuk bisa bersatu dengan Anita.
Laras POV END
-
-
-
**Jangan lupa untuk like, komen dan klik ❤
__ADS_1
Apa pun dukungan kalian sangat berharga bagi kami sebagai penulis 😍
Thanks all...😘**