Luka Terdalam

Luka Terdalam
KAK ARDI MENANYAKAN KU


__ADS_3

...Happy reading...


Kemudian aku membuka helm ku sambil tersenyum ke arah mereka berdua. Kopi yang tadi sempat di seruput Kak Agil,


kembali keluar dari mulutnya.


"Astaghfirullah...! Anita!?" Kak Agil terlihat syok menatap ke arahku. Sementara Om Wandy hanya menatap dengan wajah datar dan kembali menghisap rokoknya.


"Apa kabar Bos qu." Aku menyapa Kak Agil dan Om Wandy seraya melepaskan sarung tanganku.


Kak Agil hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


Tidak lama Kak Laras muncul dari pintu dan tidak kalah terkejutnya bahkan sampai melotot menatap ke arahku.


"Kakak, kangen...," ucapku seraya ingin memeluk Kak Laras.


"Sebentar, pakaian kamu kotor begini. Mandi dulu sana, baru peluk-peluk," cegah Kak Laras sambil nenahan tubuhku.


"Masa sih?" Aku melihat pada pakaianku yang ternyata ada bekas percikan lumpur ketika melewati jalan yang tidak beraspal. Karena hanya jalan itu yang bisa cepat sampai ke kota meski tidak mudah.


"Kamu kerjanya apa sih, An.Kok bisa sekotor ini? Jangan-jangan kamu jadi pembalap liar, ya?" Omel Kak Laras sambil bolak balik menatap aku dan motorku.


"Ya kerja seperti biasa, Kak. Tapi hanya dengan motor itu aku bisa dengan cepat sampai ke sini." Aku masuk ke dalam sambil di iringi Kak Laras.


"Emang kamu nggak capek bolak balik dengan naik motor seperti itu?"


"Capek udah pasti, tapi kan lumayan buat melatih adrenalin."


Bukannya langsung mandi aku malah menuju ke dapur karena mencium sesuatu yang lezat di sana. Ku lihat hamparan bermacam kue tersusun rapi di atas meja dan bahkan ada beberapa yang tersusun di sudut ruangan dapur tapi sudah di kemas dengan rapi.


"Wahh, Kakak...?"


"Hm'm, ini pesanan pertama," jawab Kak Laras tersenyum ke arahku.


"Selamat ya, Kak. Semoga selalu di banjiri dengan orderan."


"Aamiin...."

__ADS_1


Aku senang Kak Laras mendengarkan saranku waktu itu. Semoga kehidupan mereka bisa jauh lebih baik lagi kelak.


Aku langsung menuju kulkas dan membukanya barangkali Kak Laras khilaf dan meletakkan kue di sana. Hehe...


Dugaanku benar, ada puding susu kesukaan ku dan terlihat begitu menggoda iman. Aku langsung mengambil garpu dan menusuk sepotong puding itu lalu memasukan nya ke mulutku.


"Ishh, jorok! Mandi dulu sana!" Aku buru-buru menelan puding itu lalu menusuk satu lagi dan memakannya. Setelah itu aku langsung pergi ke kamarku sebelum Kak Laras mengomeliku.


"Udah di bilangin mandi dulu, malah ngeloyor nyari makan ke dapur! Cewek, kok jorok banget!" Aku masih bisa mendengar ceramah Kak Laras sebelum aku masuk ke kamar.


Aku dan Kak Laras itu memang bagai bumi dan langit. Kak Laras itu sangat feminin dan lemah lembut. Yang jelas sifatnya cewek banget. Saking feminin nya ia bahkan tidak bisa naik sepeda. Berbeda denganku yang sudah pernah mengalahkan beberapa teman laki-laki ku dalam lomba mendaki gunung dengan sepeda.


Kami sholat maghrib berjama'ah lalu makan malam bersama.


Setelah makan, seperti biasa kami akan duduk di ruang tengah sambil mengobrol. Aku sambil menemani Rifqy yang sedang memainkan mobil-mobilannya. Ku lihat Kak Agil terlihat sibuk mengetik di laptopnya. Tadi Kak Laras sudah cerita bahwa Kak Agil di terima bekerja di perusahaan tempat Om Wandy bekerja. Aku bersyukur masih ada perusahaan yang mau menerimanya, lagi pula hanya kakinya saja yang belum bisa berjalan dengan sempurna. Tapi otaknya masih bisa di andalkan. Aku juga sudah pernah mendengar kalau dulunya Kak Agil adalah Mahasiswa lulusan terbaik di kampusnya.


"An...."


"Iya, Kak?"


"Beberapa hari lalu Ardi datang kemari."


"Apa lagi kalau bukan ingin bertemu sama kamu?"


"Lalu, Kakak bilang apa?"


"Ya, Kakak bilang aja kamu nggak ada dan sudah lama nggak pulang ke rumah. Dia juga menanyakan alamat tempat kerja kamu."


"Apa Kakak memberitahukannya?" Aku yang semula acuh langsung menatap pada Kak Laras yang duduk di sebelahku.


"Nggak. Karena Kakak emang nggak pernah tau tempat kerja kamu. Kak Agil pun juga sama, jadi kami tidak ada alsan untuk berbohong karena emang nggak pernah tau alamat kamu," jelas Kak Laras.


"Bagus lah, Om Wandy tau tempat ku bekerja. Semoga Om Wandy bisa tutup mulut mengenai hal itu." Aku yang semula hampir sembuh kini mulai kembali merasa frustasi lagi.


"Tapi dia menanyakan nomer ponselmu yang baru, beruntung Kakak memang tidak menyimpan nya. Karena Kakak sendiri aja nggak tau kalau kamu telah berganti nomer."


Aku memang sudah mengganti nomerku setelah aku tau kalau Kak Ardi sudah menikah.

__ADS_1


"Meski aku memberikan nomerku pada Kakak, percuma saja. Di sana susah sinyal," ucapku sambil memangku Rifqy yang terlihat sangat aktif. Aku gemas melihat tingkahnya yang tidak bisa diam sedari tadi. Untuk bisa memeluknya saja aku harus mengejarnya dulu.


-


-


-


Setelah jam istirahat makan siang aku di panggil Pak Erik ke ruangannya. Aku mengetuk pintu dan masuk begitu ku dengar suara Pak Erik mempersilakanku.


"Ada masalah apa,Pak?" Tanyaku setelah menduduki kursi yang ada di depan meja Pak Erik.


Panjang lebar Pak Erik menjelaskan maksudnya. Dan intinya kali ini ia ingin aku membantu untuk membuka perkebunan secara pribadi di tanah miliknya. Tentu saja dengan upah yang cukup menggiurkan. Aku bisa saja melakukannya meski harus mengorbankan weekend ku. Sebetulnya ia bisa saja meminta bantuan orang lain, tapi dia sudah terbiasa memakai jasaku untuk urusan seperti ini. Dan dia juga sudah melihat dari ke profesionalan kerjaku.


Malam hari aku berpikir mengenai tawaran Pak Erik. Siang itu aku belum mengiyakan dan juga tidak menolak. Karena aku sebetulnya juga berniat memiliki perkebunan di tanah pemberian almarhum Ayah. Jika aku membantu Pak Erik itu artinya aku harus menunda niatku itu dan fokus membantu Pak Erik terlebih dahulu.


Pagi itu aku sudah berada di kantor bahkan temanku yang lain pun belum ada yang datang. Aku tidak sabar ingin berbicara dengan Pak Erik mengenai tawarannya kemarin. Satu persatu rekan ku yang lain berdatangan. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan Pak Erik.


Sudah jam 9 tapi Pak Erik belum juga datang. Akhirnya aku menemui asisten nya di dan menanyakan keberadaan Pak Erik.


"Maaf, Pak Erik sedang kurang sehat. Jadi hari ini beliau tidak bisa masuk kerja. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Oh begitu. Baik, terimakasih saya hanya ingin menanyakannya saja. Semoga beliau cepat sembuh." Kemudian aku permisi keluar dari ruangan asistennya Pak Erik.


"Huhh! Baru juga nggak di kasi jawaban masalah bantuan kemarin, udah sakit aja. Gimana kalau aku menolak cintanya!?" Gerutuku. Pikiran konyolku pun kembali mencuat.


...Tbc...


-


-


-


**Jangan lupa like, komen dan klik ❤


Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis 🤗

__ADS_1


Thanks all...😘😘**


__ADS_2