Luka Terdalam

Luka Terdalam
TERBANGUN DI RUMAH SAKIT LAGI


__ADS_3

...Happy reading...


Sejak hari di mana Mama meminta uang hasil perkebunan, sejak itu juga ia rutin datang ke rumah bahkan sebelum tanggal penerimaan hasil panen pun Mama sudah datang lebih dulu. Kedatangan Mama pun selalu menjadi keributan antara Kak Laras dan Mama. Dan aku sudah menjadi terbiasa akan hal itu.


Dan hari ini Mama datang lagi ke rumah menuntut hak yang sama.


Bulan lalu aku habis merenovasi rumah Papa, dan Mama juga meminta hal yang sama dan bahkan lebih. Alasannya karena Mama adalah orang yang melahirkanku.


Keributan pun terjadi lagi antara Kak Laras dan Mama. Kak Laras yang merasa permintaan Mama terlalu berlebihan itu akhirnya adu mulut dengan Mama.


”Mbak, Anita itu baru pulang kerja! Dia capek, dia mau istirahat dulu. Bukannya mendengarkan permintaan Mbak yang nggak masuk akal itu!” Ucap Kak Laras menyahuti Mama. Dan kebetulan saat itu aku memang baru pulang dari perkebunan. Aku sempat menginap di perkebunan, sebab aku baru membuat tempat peristirahatan juga di sana. Sebuah rumah kayu dengan ruangan yang lengkap walau terkesan kecil. Rumah itu baru jadi dan aku mencoba untuk bermalam di sana.


Aku lelah dan malas untuk berdebat. Akhirnya aku mengiyakan permintaan Mama walau belum tau kapan aku bisa mewujudkannya.


“Nanti akan Anita usahakan, tapi belum pasti kapan,” ucapku bersuara agar keributan itu segera berakhir. Aku juga baru habis mengeluarkan biaya untuk pembuatan pondok di perkebunan dan juga bulan lalu biaya untuk renovasi rumah Papa.


Papa memang tidak meminta, tapi naluriku sebagai seorang anak lah yang membuatku harus melakukan itu. Entah bagaimana Mama bisa mengetahui itu semua aku juga tidak tahu. Padahal aku hanya memerintah orang lalu membayarnya.


Ponsel ku berdering beberapa kali. Sejak kemarin Dani mengajak ku untuk bertemu keluarganya tapi aku selalu menolak. Dan hari ini dia menelponku mungkin untuk membujuk ku lagi. Pikirku.


Dengan malas aku pun mengangkat panggilan yang sudah ke sekian kalinya itu.


“Sayang..., kenapa baru di angkat? Masih marah?” Aku juga tidak tau sejak kapan dia mengganti namaku menjadi “sayang”.


“Aku nggak marah. Tapi aku tuh kesel aja, kamu maksa-maksa aku buat ketemu orangtua kamu.”


“Kamu tuh aneh tau, nggak? Biasanya perempuan akan senang kalau di ajak untuk ketemu calon mertua. Tapi kamu malah menolak. Aku tuh nggak ngerti sama kamu.”


“Ya udah, kamu maunya gimana?”


“Aku pengen kamu ketemu Mama dan Papa aku, itu aja. Sebagai bukti juga kalau aku tuh nggak main-main sama kamu.”


“Tapi aku nggak mau. Aku belum siap!” Suara ku mulai meninggi. Sejujurnya aku masih trauma untuk menjalin hubungan yang serius.


“Kalau begitu ajak aku bertemu keluarga kamu.”


“Dani! Kamu bisa ngerti nggak sih!?”


“Ok. Maaf jika aku terlalu gegabah. Aku hanya ingin hubungan kita di ketahui oleh keluarga kita agar ke depannya kita lebih tenang menjalani hubungan ini. Tapi jika kamu belum siap ya nggak apa-apa. Tapi jangan lama-lama.”


Aku tidak peduli jika nanti dia memilih mundur dan pergi. Karena aku memang tidak berharap banyak lagi pada sebuah hubungan. Aku tidak ingin lagi membebani pikiranku dengan masalah percintaan yang hanya membuang-buang waktu saja.

__ADS_1


Mama datang lagi dan kali ini meminta agar aku mau menerima Renal tinggal bersamaku dan mau membiayai sekolahnya. Renal adalah salah satu anak hasil dari pernikahan kedua Mama. Setelah berpisah dari Papa, Mama menikah dan memiliki 3 orang anak laki-laki. Renal adalah anak kedua yang kini tengah duduk di bangku SMA.


Sementara Papa juga menikah dan memiliki 2 orang anak laki-laki. Tapi hubunganku dengan anak Papa jauh lebih baik dari pada anak-anak dari Mama. Pengalaman hidup yang ku dapatkan sejauh ini membuatku dengan mudah bisa menilai ketulusan seseorang.


Tidak masalah bagiku. Tapi aku sudah tahu sepak terjang Renal selama ini yang di tendang dari dua sekolah sebelumnya. Kalau dia menurut maka silahkan tinggal. Itu lah yang aku ucapkan sebagai jawaban.


“Renal itu tetap adik kamu juga. Sedangkan orang lain aja kamu tampung.” Aku tidak mau membantah lagi dan mengiyakan permintaan Mama.


Hari pertama saja Renal sudah berulah dan berlagak sok. Ketika mendengar kelakuannya aku sudah muak. Bayangkan saja bagaimana aku menghadapi kelakuannya secara langsung dan setiap hari. Dan ada satu kebiasaannya yang aku benar-benar tidak suka. Ia seorang perokok, padahal ia masih berstatus pelajar.


“Ren, Kakak kan udah bilang! Jangan ngerokok di dekat Kakak. Lagian kamu itu masih sekolah, jadi jaga kesehatan kamu juga!” Tapi Renal mengabaikanku. Mungkin dia pikir aku tidak serius dengan ucapanku. Dan menurutku itu adalah kesalahan besar.


Dari awal aku sudah menjelaskan apa dan dan bagaimana peraturan di rumahku. Rumahku adalah peraturanku. Jika tidak suka dengan peraturannya pintu keluar selalu terbuka.


Sehari setelah Renal pergi dari rumahku, esoknya Mama datang dan marah-marah padaku. Bahkan sampai mengungkit masalah pemberian nama.


Aku tidak percaya hidupku sedramatis ini. Setelah banyaknya ujian yang ku alami kenapa sepertinya tidak ada celah sedikit pun untuk aku merasakan kebahagiaan.


Aku benar-benar bingung harus bagaimana lagi. Kalau hidupku tidak pantas untuk bahagia, kenapa harus di buat sesakit ini.


Ku lihat pisau pemotong buah masih tergeletak di atas meja. Tanpa pikir panjang aku menyambar pisau itu.


-


-


-


Seandainya kamu merasakan ...


Jadi aku sebentar saja ...


Takkan sanggup hatimu terima ...


Sakit ini begitu parah ...


Aku kembali membuka mataku di sebuah ruangan Rumah Sakit namun dengan sebab yang berbeda.


Ku rasakan lengan kiri ku terasa sakit hingga ke bagian pangkal. Kata Kak Laras aku juga sempat mengalami demam tinggi dalam keadaan tidak sadar kemarin.


“Mama mana, Kak?” Tanyaku pada Kak Laras yang selalu ada setiap aku membuka mataku di saat aku berada di ruang rawat.

__ADS_1


Air muka Kak Laras seketika berubah. “Ada apa? Apa kamu berharap Mama kamu bakal ngurusin kamu?” Kak Laras terlihat sangat kesal.


Melihat kekesalan yang di tunjukkan Kak Laras aku pun memilih diam tidak bertanya lagi. Aku salah jika berpikir Mama akan mengasihaniku. Nyatanya tidak merubah apa pun walau seandainya aku tiada di dunia ini.


Dua hari kemudian aku sudah boleh pulang dan melanjutkan perawatan lukaku di rumah.


Aku belum boleh menggerakkan tangan kiriku secara berlebihan jadi aku benar-benar hanya mengandalkan tangan kananku saja.


Aku memeriksa ponselku yang sejak tadi ku charger karena kehabisan daya. Selama beberapa hari aku tidak memainkan benda pipih itu karena kondisiku.


Ada banyak pesan yang masuk teruatama dari Dani yang menanyakan kabarku. Aku langsung menghubunginya.


“Sayang, kamu di mana? Kenapa nggak ada kabar selama beberapa hari ini? Aku khawatir.”


“Aku di rumah, kemarin aku sakit dan di rawat di Rumah Sakit. Tapi sekarang udah pulang.”


“Kamu sakit kenapa nggak ngabarin aku?”


“Aku kan lagi sakit, masa aku ngabarin kamu dalam keadaan pingsan. Lagian kan aku udah bilang kamu jangan muncul dulu di depan keluarga aku.” Aku memang pernah mewanti-wantinya agar jangan datang ke rumah atau menampakan diri di hadapan keluargaku sebelum aku yang memintanya sendiri.


“Iya iya, maaf. Kalau boleh tau kamu sakit apa dan kenapa bisa sampai pingsan?”


“Mungkin karena kecapean aja. Lagian kemarin kamu juga maksa-maksa aku buat ketemu keluarga kamu, jadinya aku kepikiran deh!”


“Iya iya, maaf ya...aku janji nggak akan maksa kamu lagi dan akan menunggu kamu siap. Jangan marah lagi ya...?”


“Ya sudah, aku mau istirahat lagi.”


“Selamat istirahat. Love you....”


...Tbc...


-


-


-


**Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya 👍 agar othor semangat untuk melanjutkan cerita ini.


Thanks all** ...

__ADS_1


__ADS_2