
Aku memilih-milih pakaian yang akan ku kenakan nanti saat akan pergi dengan Pak Adji. Setelah obrolan kami sore itu, akhirnya aku setuju untuk pergi. Dan rencananya sore ini kami akan pergi ke cafe yang dulu pernah aku datangi bersama Kak Ardi.
Setelah semua sudah siap, dan Pak Adji pun sudah datang untuk menjemputku, kami pun pergi dengan mobil Pak Adji.
Tadinya aku berpikir Pak Adji akan menjemputku dengan motor yang dulu biasa ia gunakan untuk pergi ke sekolah. Jujur saja, aku lebih nyaman jika naik motor di banding harus naik mobil.
Pak Adji menghentikan mobilnya lalu kami keluar dari dalam mobil dan menuju cafe tersebut.
Kami pun sudah menempati salah satu meja di cafe itu.
Pak Adji tampak terpukau dengan keindahan pemandangan di sana. Sama seperti ku yang dulu sempat terkagum-kagum dengan tempat itu.
"Tunggu hingga matahari terbenam dan Bapak akan di buat lebih terkagum lagi," kataku.
"Benarkah?" Pak Adji masih menatap ke arah laut yang ada di sana.
"Selama lebih dari 3 tahun aku tinggal di sini aku baru tau ada cafe yang menyuguhkan pemandangan seperti ini," ucap Pak Adji yang kini memandang ke arahku.
"Aku juga tau tempat ini dari salah satu temanku yang dulu mengajak ku ke sini," tuturku menaggapi ucapan Pak Adji.
Pelayan cafe datang dan menyajikan makanan yang sebelumnya sudah kami pesan. Aku memesan makanan yang sama seperti waktu aku dan Kak Ardi pertama kali datang berdua ke sini.
"Wah, terimakasih sudah memberitahukan tempat ini. Makanannya juga enak, sepertinya tempat ini bakal jadi salah satu pilihan kita untuk berakhir pekan," kata Pak Adji sambil melanjutkan makannya.
"Hah??" Aku mengangkat wajahku yang tadi menunduk karena ingin menyuap makananku dan beralih memandang pada Adji. Apa maksud Pak Adji yang menambahkan "kita" di dalam ucapannya.
Pak Adji seperti tidak mempedulikan ekspresi dari wajahku yang keheranan akibat ucapannya barusan. Ia asik menyuap makanannya. Sementara aku jadi kehilangan selera makanku.
Ku coba menepis semua prasangka aneh yang ada di dalam pikiranku.
Handphone ku berdering. Aku mengeluarkan benda persegi tersebut dari dalam tas ku lalu menerima panggilan itu.
"Halo?"
"Kamu di mana, An?"
Ternyata itu telpon dari Kak Ardi. Tadi aku tidak melihat siapa nama si penelpon dan langsung mengangkatnya. Tapi aku sangat mengenali suara Kak Ardi.
"Aku di cafe...--"
"Tunggu, aku akan ke sana."
"Sebentar lagi aku akan pulang...--" dan Kak Ardi sudah mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
Entah kenapa aku tiba-tiba merasa takut saat Kak Ardi mengatakan akan menyusulku ke cafe. Padahal aku tidak sedang berselingkuh seperti yang ada di film ikan terbang.
"Ada apa? Apa kamu sudah merasa bosan?" Tanya Pak Adji yang mungkin sudah membaca kegelisahanku.
Aku hanya tersenyum dengan terpaksa demi menutupi kegelisahanku. Kak Ardi pasti sedang dalam perjalanan menuju kemari.
"Setelah melihat matahari terbenam, kita akan segera pulang," ucap Pak Adji tersenyum lembut padaku. Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk membalas dengan senyuman yang terasa berat.
*Matahari cepat lah terbenam agar aku bisa segera pergi dari sini.
"Wahh, ini benar-benar indah," kata Pak Adji setelah menyaksikan matahari yang mulai bersembunyi.
Beberapa menit melihat matahari terbenam kami pun meninggalkan cafe itu berjalan menuju parkiran di mana Pak Adji telah menitipkan mobilnya di sana.
"Anita...!"
Aku langsung menoleh pada orang yang memanggil namaku, yang tak lain adalah Kak Ardi. Pak Adji juga melihat ke arah yang sama.
"Kak!" Aku langsung mendekati Kak Ardi dan ingin rasanya aku memeluknya barang sebentar untuk mencurahkan rasa rinduku namun aku masih sangat sadar bahwa kami sedang berada di tempat umum.
"Kamu sama siapa?" Tanya Kak Ardi.
"Dia dulu adalah Guru Biologi ku. Namanya Pak Adji," jelasku. "Nanti saja kita lanjutkan bicaranya, ini sudah hampir maghrib."
Pak Adji mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Ayo antar aku pulang," ucapku pada Kak Ardi. Aku naik ke motor Kak Ardi dan Kak Ardi pun menjalankan motornya.
Beberapa saat kami pun sudah sampai di halaman rumahku. Aku turun dari motor Kak Ardi.
"Anita...."
"Iya, Kak?"
"Itu beneran Guru Biologi apa...--"
"Nanti saja kita bicaranya, aku akan hubungi Kakak," ucapku
"Anita, aku mau kamu jelasin sekarang atau aku nggak akan tenang,"
"Aku janji bakal jelasin semuanya tapi Kakak pulang dulu karena ini sudah memasuki waktu maghrib."
"Tapi, An...-- "
__ADS_1
Sebelum Kak Ardi menyelesaikan kata-katanya, aku langsung mendekatinya ku lingkarkan lenganku di leher Kak Ardi lalu mengecup pipinya. Entah apa yang merasukiku.
Kemudian aku langsung berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Kak Ardi yang masih terpaku di atas motornya.
Di kamar aku langsung duduk di atas kasurku dan mengatur nafasku yang tidak beraturan. Dadaku berdegup kencang hingga terdengar jelas bunyinya.
Aku mengintip ke luar melalui jendela kamarku dan sepertinya Kak Ardi sudah pergi dari sana.
"Fyuuhh...."
Bagaimana nanti aku menghadapi Kak Ardi? Kenapa rasa malu ini munculnya terlambat. Harusnya aku berpikir dulu sebelum bertindak. Aku memaki diriku sendiri.
Setelah mandi dan sholat aku duduk di tempat tidurku masih meratapi kebodohanku. Aku merebahkan tubuhku dan akhirnya aku tertidur. Aku terbangun ketika ponselku berbunyi. Aku mencoba mengabaikannya tapi si penelpon sepertinya juga pantang menyerah. Aku meraba ponselku dengan mata yang masih setengah terpejam. Ku paksa mataku untuk melihat siapa yang sudah membangunkan tidurku. Sontak kesadaranku kembali sepenuhnya setelah melihat Kak Ardi yang menelponku sudah 15x.
Aku langsung menelpon kembali karena panggilan tidak sempat aku terima karena keburu mati.
"Halo, An...! Kamu di mana? Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Kak Ardi memberondongku dengan pertanyaan.
"Iya, aku baik-baik aja dan aku lagi ada di rumah," jawabku.
"Aku mengetuk pintu dan membunyikan bel berulang kali, aku pikir kamu sedang keluar."
"Mana mungkin aku keluar selarut ini," jawabku sambil menguap.
"Ini baru jam 8 lebih 15 menit."
"Apa!?" Aku langsung melirik jam dinding di kamarku. Ternyata aku baru ketiduran selama satu jam.
"Aku sedang berada di depan rumahmu," kata Kak Ardi. Dan aku pun langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku. Aku berkaca sebentar dan merapikan rambutku yang berantakan.
Ku buka pintu, ku lihat Kak Ardi sudah berdiri di sana. Kak Ardi selalu terlihat tampan dan rapi. Benar kata Kak Agil, sepertinya Kak Ardi sudah salah memilihku sebagai kekasihnya.
-
-
-
...**Tbc...
Jangan lupa like, komen dan klik ❤
Thanks all...😘😘**
__ADS_1