Luka Terdalam

Luka Terdalam
INGIN DI RIAS


__ADS_3

...Happy reading...


Tubuh ku lelah mata ku terasa berat tapi sulit untuk ku tertidur. Aku membuka album dari ponsel ku melihat-lihat kembali foto kebersamaan kami berdua. Dari yang aku sedang ketiduran di mobil hingga saat-saat kami sedang bekerja. Semua itu bagai mimpi yang hilang dalam sekejap. Rasanya baru kemarin kami bercanda dan tertawa tapi kini kami sudah berada di situasi seperti ini.


Takdir yang terlalu kejam atau memang aku lah yang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan?


Aku terlelap dengan membawa memori tersebut ke dalam mimpi ku. Hingga aku mendengar suara ketukan pintu yang keras dari luar.


Aku setengah tersadar ketika mendengar suara ketukan yang berulang kali tersebut. Rasanya baru sebentar aku tertidur kenapa sudah ada yang membangunkan aku. Aku mengumpat dalam hati.


Begitu tersadar sepenuhnya aku kaget karena aku berada di ruangan yang sangat asing bagiku.


“Ah,sial! Aku lupa kalau aku berada di kota Bang Fauzan untuk menghadiri acara pernikahannya. Batinku.


Dengan langkah berat aku menuju pintu dan membukanya.


“Jam berapa acaranya di mulai?” Tanya Om Wandy yang sudah berada di depan pintu. Dan tampaknya ia sudah mandi dan terlihat rapi.


Akad jam 8 pagi, kalau aku datang di waktu itu, aku khawatir akan mengacaukan segalanya. Sebab aku masih ingat pesan dari Bang Fauzan kemarin. Bahakn ia tidak tau kalau aku bersikeras untuk datang.


“Kita pergi agak siangan aja,” jawabku.


“Kita harus kembali paling tidak lewat tengah hari, kalau bisa jangan terlalu siang,” tawar Om Wandy.


“Ok, jam 10 bagaimana?”


“Ya sudah, kamu siap-siap sekarang,” titah Om Wandy seraya ingin melangkah pergi.


“Om...!”


“Kenapa?” Tanya Om Wandy berbalik.


“E... a aku butuh orang yang bisa mendandani ku,” ucap ku malu-malu.

__ADS_1


“Apa...?” Om Wandy lebih mendekat untuk memastikan lagi apa yang aku katakan.


“Aku perlu orang yang bisa mendandani ku, apa Om bisa mencarikannya?” Tanya ku.


“Emang ada orang yang bekerja seperti itu?” Om Wandy malah balik bertanya padaku.


“Issh...nggak usah lah, biar aku cari sendiri,” kesal ku seraya menutup kembali daun pintu.


Aku menggeser layar ponselku untuk mencari orang yang bisa membantu ku. Setelah beberapa saat akhirnya aku menemukan orang yang mau datang ke hotel tempat ku menginap. Aku tertarik menyewa jasanya setelah melihat hasil make up dari beberapa wanita yang menjadi pelanggannya. Hasil make up yang sangat natural. Selain itu juga jarak penginapan dan tempat tinggal jasa perias itu hanya beberapa kilo meter, setidaknya aku tidak keburu untuk pergi ke acara pernikahannya.


Setelah selesai mandi aku mengeringkan rambutku sambil berdiri di depan cermin. Tidak lama ada suara ketukan pintu dari luar kamar. Aku pun langsung membukakan pintu dan mempersilahkan orang tersebut masuk karena dia adalah orang yang sudah bersedia untuk mendandani ku.


“Oiya, sebelumnya saya mau tanya gaun apa yang akan Mbak kenakan nantinya agar saya bisa menyesuaikan make up nya,” ucap wanita penata rias yang terlihat ramah tersebut dengan sopan.


“Oh, ini,” ucap ku seraya memperlihatkan dress ku yang sudah aku persiapkan sebelum mandi. Dress warna peach yang panjangnya sedikit di bawah lutut. Aku belum bisa memakai gaun yang panjang dan belum ada keberanian untuk mencobanya. Dress itu pun bukan aku sendiri yang membelinya, tapi hadiah dari salah satu teman ku yang baru habis liburan. Meski aku merasa tidak cocok dengan warnanya, tapi aku suka modelnya yang tidak terlalu mencolok. Karena aku tidak suka pakaian yang terlihat rame dan blink-blink.


Penata rias itu pun mulai mendandani ku. Untuk pertama kalinya aku di rias dengan menggunakan make up. Entah mengapa aku merasa wajah ku menjadi terasa lebih tebal dan berat.


“Sebetulnya tanpa make up pun Mbaknya udah cantik, cukup di poles dikit aja biar kelihatan lebih fress.” Aku hanya diam mendengar penata rias itu berbicara. Apa lagi aku merasa wajah ku semakin terasa aneh. Ada keraguan di dalam hatiku untuk melanjutkannya.


“Pernikahan,” jawab ku singkat.


“Oh, pasti temannya ya, yang mau menikah?” Aku hanya menjawab dengan gumaman. Aku memaklumi pertanyaannya karena dia memang tidak tau kejadian sebenarnya.


“Ok, selesai,” ucap penata rias tersebut. “Wahh..., bener kan aku bilang, Mbak nya cantik, udah kayak boneka,” tambahnya.


Aku memandangi wajah ku di cermin. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa takut meski apa yang di katakan penata rias tadi memang benar.


“Mbak, apa Mbak bisa membantu saya untuk menata rambut?” Tanya ku agak ragu pada penata rias yang sedang membereskan peralatan make up nya.


“Kalau yang simpel sih bisa aja, Mbak,” kekehnya.


“Iya, nggak apa-apa. Yang penting bisa terlihat rapi dan cocok dengan gaunnya,” ucap ku seraya melepaskan puntelan rambut ku.

__ADS_1


“Wahh, rambut Mbak panjang juga ternyata,” seraya memegangi helaian rambut ku. “Rambutnya hitam dan tebal, pasti perawatannya mahal, ya?”


Aku langsung menggelengkan kepala ku. ”Ng nggak, aku nggak pernah perawatan rambut.” Aku memang tidak pernah melakukan perawatan apa pun bahkan baru hari itu juga aku merasakan yang namanya make up.


Sejak hari di mana Ayah menyatakan ketidaksukaannya saat melihat ku berambut pendek waktu itu, aku sudah tidak pernah memotong rambut ku lagi dengan model apa pun. Aku hanya memangkas sedikit jika sudah merasa terlalu panjang. Hanya saja aku belum bisa melaksanakan keinginan Bunda yang ingin agar aku berhijab.


“Ok, bagaimana?” Tanya penata rias yang sudah selesai membantu menata rambut ku.


Aku pun melihat bayangan ku ke arah cermin untuk melihat hasil pekerjaan penata rias itu. Sebagian di jepit dengan rapi dan sebagian lagi di biarkan tergerai. Ia juga membuat poni panjang ku menjadi bervolume.


“Ya, aku suka. Terimakasih banyak,” ucap ku tersenyum puas.


“Oiya, sepertinya kita belum berkenalan secara langsung. Nama ku Vena, biasa di panggil, Ve.” Seraya mengulurkan tangan dan aku pun menyambutnya lalu menyebutkan nama ku.


Setelah membayar semua jasanya dan memberikan tips lebih karena sudah membantu ku, aku pun mengantarkannya hingga ke depan pintu. Kemudian aku mengambil dress ku dan mengenakannya.


Aku berdiri di depan cermin ada rasa ragu di hati ku saat melihat penampilan ku. Belum habis aku berpikir mengenai penampilan ku tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan memanggil namaku. Sepertinya suara Om Wandy dan aku pun bergegas membuka pintu meski aku agak takut dan malu jika Om Wandy melihat penampilan ku.


”Iya?” Aku menyembulkan kepala ku di celah pintu yang ku buka sedikit.


“Ayo, pergi sekarang, karena sepertinya akan hujan,” ucap Om Wandy seraya melirik arlojinya.


“Ok, sebentar,” sahut ku seraya meninggalkan daun pintu dan mengambil tas tangan ku. Kemudian aku keluar menemui Om Wandy.


“Ayo,” ucap ku seraya menutup pintu.


“Astaghfirullah..., Anita!” Om Wandy tercengang sambil menatapi ku dari kepala sampai ujung kaki.


...**Tbc...


-


-

__ADS_1


-


Jangan lupa jejaknya dulu 👍**


__ADS_2