Luka Terdalam

Luka Terdalam
BERJUANG UNTUK MEMBELI RUMAH


__ADS_3

Karena aku berangkat terlalu pagi, sehingga aku datang sebelum Om Wandy pulang dari kantornya. Aku berpikir untuk mampir ke rumah Kak Ina saja dulu.


Ku lihat rumah Kak Ina terlihat sepi. Mungkin sedang beristirahat. Akhirnya aku mampir ke warung Bude Ratih yang biasa menjual gado-gado.


Aku memesan seporsi gado-gado dan segelas es jeruk manis. Aku berbincang-bincang dengan Bude sambil menikmati gado-gadoku.


"Jika kamu punya tabungan, ada baiknya kamu membeli rumah Mbak Yayu yang dulu pernah kamu tempati itu. Barangkali dia mau kalau di cicil. Biar kita bisa tetanggaan lagi," kata Bude Ratih.


Aku diam sejenak, apa mungkin rumah itu belum laku setelah beberapa bulan?


"Apa belum ada yang membeli rumah itu?" Tanyaku, sambil meletakkan sendok makan ku karena aku tiba-tiba saja aku merasa kenyang.


"Waktu itu ada orang yang mau membelinya, tapi mungkin karena harga yang di tawarkan cukup mahal jadi mereka tidak jadi membelinya."


Jika mahal itu wajar, karena rumah tersebut lumayan besar dan ruangan nya juga lengkap. Meski tidak bertingkat tapi rumah tersebut memiliki tanah yang cukup luas dan masih bisa untuk membuat bangunan baru. Aku juga baru tau kalau dulu ternyata Ayah banyak sekali mengeluarkan uang untuk menyewa rumah itu. Demi aku mendapatkan lingkungan yang baik, Ayah dan Bunda sampai rela mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk menyewa sebuah rumah.


Andai aku memiliki uang sebanyak itu aku akan membelinya tanpa menawar lagi. Tapi nyatanya saldo tabungan ku bahkan tidak sampai seperempatnya dari harga rumah tersebut.


Puas berpikir akhirnya aku teringat pada perusahaan yang masih memerlukan tanah untuk menambah lahan perkebunan. Tujuan ku untuk menyewakan tanah ku pada perusahaan.


Aku membayar harga makanan ku lalu pergi ke rumah tersebut. Ku masukan nomer telepon yang ada di papan iklan itu lalu menghubunginya. Beberapa kali aku menelepon tapi belum ada jawaban. Aku tidak sabar untuk langsung berbicara dengan Bude Yayu.


Hingga akhirnya aku mendengar suara orang yang menyambutku di seberang sana. Meski aku belum pernah bertemu secara langsung dengan Bude Yayu, tapi aku yakin dialah yang mengangkat panggilan ku saat itu.


"Dengan Bude Yayu?" Tanyaku.


"Iya, adek ini siapa,ya?"


"Saya Anita orang yang dulu pernah menyewa rumah Bude."


"Oh, anaknya Bu Salma sama Pak Ibnu, ya?"

__ADS_1


"Iya, Bude." Lalu kemudian aku menyampaikan keminatan ku untuk membeli rumah tersebut. Tapi aku meminta waktu satu minggu untuk menyiapkan semuanya.


Kesepakatan pun sudah di tentukan dari mulai harga dan surat rumah yang akan di kirimkan setelah aku membayar separuh harga rumah tersebut. Sisanya akan aku lunasi setelah surat rumah sudah berada di tangan ku.


Aku langsung pergi ke rumah Om Wandy dan kebetulan Om Wandy baru datang dari kantornya.


"Anita, kamu kenapa ada di sini? Nggak kerja?" Om Wandy menanyaiku.


"Aku dapat ijin hari ini karena pekerjaan sudah aku selesaikan beberapa hari sebelumnya. Besok aku kembali. Tapi bantuin Anita ya,Om?" Kataku.


Aku menyampaikan niatku untuk membeli rumah dan sudah sepakat dengan pemilik rumah itu akan membelinya dalam waktu seminggu.


Om Wandy menatap ke arahku. Tatapan nya seperti sedang mengejek ku. Mungkin ia mengira aku sedang bercanda.


"Besok Om antar aku kemabali ke tempat kerja untuk mengurus semuanya," pintaku.


"Jika benar, Om akan bersedia. Tapi awas jika kamu hanya mengerjai, Om." Om Wandy setuju membantu ku sekaligus mengancam ku juga.


Besok nya aku kembali ke tempat kerjaku dengan di temani Om Wandy. Karena tidak mungkin lagi aku merepotkan Bang Fauzan meski aku tau dia selalu bersedia membantuku.


Pagi itu aku menuju ke kantorku. Aku berjalan sambil mendekap dua buah map berisi surat tanah tersebut di dadaku. Aku sempat berpikir untuk mengelola perkebunan seperti milik almarhum Ayah dan memulai usaha sendiri, tapi aku juga sangat menginginkan rumah itu. Karena hanya di sana lah kenangan terakhir ku bersama mereka. Sebab aku sudah tidak mungkin lagi kembali rumah mereka yang ada di desa.


Aku mendatangi atasan ku lalu menyampaikan kesediaanku untuk menyewakan tanahku. Aku juga mengatakan bahwa aku meminta uang sewa di muka untuk beberapa tahun ke depan. Atasan ku sudah sangat mengenalku dengan baik, dan lagi pula perusahaan membutuhkan lahan tersebut secepatnya. Akhirnya permintaan ku langsung di setujui. Aku memohon agar sesegera mungkin bisa menyelesaikan semuanya pada hari itu juga. Karena aku dan atasan ku itu sudah berteman, sedikit ku ceritakan tentang bagaimana aku sangat memerlukan uang itu sesegera mungkin


Setelah menandatangani surat sewa tanah tersebut, aku pun kembali ke perumahan ku. Perusahaan induk akan mencairkan uang tersebut jadi aku akan kembali ke kota. Aku juga sudah meminta untuk mengambil jatah cutiku.


Ketika tiba di rumah aku langsung menjatuhkan tubuhku di kursi ruang tamuku yang tidak terlalu besar tersebut. Om Wandy yang sedang duduk menunggu ku di sana sambil menikmati secangkir kopinya, langsung mendekatiku.


"Anita!?"


Karena terlalu bersemangat aku tidak merasakan lagi kalau tubuhku sudah sangat kelelahan. Penglihatan ku menjadi gelap dan bumi terasa berputar.

__ADS_1


Buru-buru Om Wandy mengambilkan ku segelas air putih dan membantuku untuk minum. Om Wandy kembali ke dapur dan membuatkan ku secangkir teh hangat. Beberapa saat kemudian aku pun sudah merasa baikan.


"Mau tetap lanjut pergi ke kota?" Tanya Om Wandy, dan aku pun mengangguk.


"Jangan terlalu memaksakan jika memang kurang sehat."


"Aku nggak apa-apa, setelah sampai di kota aku akan pergi ke dokter untuk suntik vitamin," ucapku.


"Ya sudah, Om siap-siap dulu."


Aku pun juga mengemas beberapa barang ku dan membawa pakaian lebih. Setelah semua siap kami pun langsung berangkat. Tak ku hiarukan meski sebetulnya badanku terasa hampir remuk karena selama beberapa hari ini harus bolak balik ke kota dengan perjalanan yang lumayan jauh.


Kami tiba di kota pukul 19.30, karena kami berangkat dari sana memang sudah hampir sore. Om Wandy menyiapkan air hangat untuk ku mandi. Setelah mandi aku langsung bersembunyi di bawah selimut karena badanku mulai terasa menggigil.


Kemudian giliran Om Wandy yang mandi. Setelah mandi ia pergi ke luar membeli sesuatu untuk makan malam kami.


Om Wandy membeli beberapa makanan yang aku sukai. Karena aku merasa tidak enak badan dan tenggorokan ku juga sakit, akhirnya aku hanya makan sedikit.


"Setelah makan kita langsung pergi ke dokter saja," kata Om Wandy. Aku pun menurut saja.


Malam itu aku pergi ke sebuah klinik bersama Om Wandy. Memang benar, aku kelelahan dan juga radang tenggorokan.


-


-


-


...**Tbc...


Tolong bantu like komen dan jangan lupa klik ❤

__ADS_1


Apa pun bentuk dukungannya, itu sangat berarti sekali bagi kami sebagai penulis.


Love U all...😘**


__ADS_2