
...Happy reading...
Di rumah aku langsung membuka salah satu kotak martabak dan memilih yang isinya daging ayam. Sementara yang berisi daging sapi aku sisihkan untuk nanti aku berikan pada Kak Laras atau Om Wandy jika dia datang.
Handphone ku berdenting. Aku membersihkan tanganku dengan tisu sebelum menggeser layar ponsel untuk melihat pesan yang masuk.
📨[Dani] ❤❤❤
Aku tersenyum melihat pesan dengan emot tersebut.
Tidak lama handphone ku kembali berbunyi. Ada panggilan dari Santi.
“Ya, San?”
“Nit, kamu punya musuh nggak sih di sosmed?” Aku mengernyit heran dengan pertanyaan Santi.
“Musuh apaan? Emang aku artis!? Ngawur!”
“Coba kamu liat deh di beberapa postingan kamu. Ada yang komen aneh gitu.”
“Masa sih?” Aku pun jadi penasaran lalu memutus sambungan ku dengan Santi dan memeriksa akun sosmedku. Aku memang jarang membuka aplikasi itu kecuali ada momen tertentu yang ingin ku bagikan.
Aku memeriksa setiap komen pada unggahan terbaruku. Aku terkejut sekaligus marah melihat beberapa komen yang menghujatku. Aku memeriksa setiap profil orang-orang itu. Tak satu pun aku mengenali mereka. Tapi bila di lihat dari komentar mereka, aku yakin mereka masih ada hubungannya dengan Bang Fauzan.
Mungkin mereka berpikir aku masih berhubungan dengan Bang Fauzan karena Bang Fauzan beberapa kali mengomentari foto ku waktu itu. Aku memang memblokir semua akses komunikasi dengannya tapi aku tidak memblokir akun sosmednya. Aku tidak menyangka akan menjadi masalah seperti ini.
Saat itu juga aku menghapus semua unggahanku lalu mengunci semua akun sosmed yang ku miliki. Aku tidak ingin Kak Laras atau Om Wandy sampai tahu tentang semua ini. Untungnya Santi bergerak cepat untuk memberitahuku.
Kenapa semua masalah silih berganti menghampiriku. Seperti tak ada hujungnya. Kadang aku berfikir ingin pergi jauh dari semua masalah ini. Ingin memulai kehidupan baru di suatu tempat dimana tidak seorang pun yang mengenalku. Tapi percuma jika ragaku saja yang pergi sementara pikiranku masih tertinggal disini. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang terdekatku mengalami kesulitan.
Tok tok tok!
“Anita...!”
Aku membuka mataku perlahan ketika mendengar suara ketukan pintu yang berulang kali. Siapa lagi kalau bukan Kak Laras yang berani membangunkanku.
“Ada apa...?” Aku membuka pintu dengan malas.
“Di depan ada Bu RT nayariin kamu. Temuin dulu sana, kali aja ada yang penting,” titah Kak Laras. Aku pergi ke kamar mandi, mencuci muka lalu merapikan diriku di depan cermin.
“Selamat pagi Bu.” Aku menyapa Bu RT yang sudah duduk menungguku di ruang tamu.
__ADS_1
“Selamat pagi Dek Anita. Maaf mengganggu pagi-pagi begini.”
“Nggak apa-apa Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
Bu RT pun menyampaikan maksudnya dan aku mendengarkan hingga selesai. Dan intinya Bu RT meminta bantuanku untuk jadi pemandu senam setiap akhir pekan. Karena pemandu senam yang sebelumnya sudah pindah ke daerah lain.
Aku berpikir sejenak. Kemudian aku pun menyetujuinya lagi pula hanya di lakukan setiap akhir pekan saja. Selain itu senam di tempat terbuka dan beramai-ramai pasti akan menyenangkan. Biasanya aku hanya senam atau yoga di dalam rumah saja.
Ternyata memang sangat menyenangkan. Selain ibu-ibu ada anak-anak juga yang ikut senam bersama orangtua mereka. Ada juga yang hanya sekedar menonton saja dari kejauhan.
Aku jadi banyak berteman dengan ibu-ibu. Aku juga berteman dengan anak-anak mereka yang biasa selalu ikut senam walau sebenarnya mereka hanya bermain-main saja.
Usai memandu senam pagi itu aku pulang ke rumah lalu duduk sebentar di ruang tengah untuk beristirahat sebentar.
Handphone ku berdering. Ternyata dari Dani yang ingin melakukan panggilan video. Aku pun menerimanya tapi bagian camera aku tutupi agar wajahku tidak terlihat.
“Sayang, kamu lagi di mana? Aku ngggak lihat muka kamu.” Aku tertawa sendiri menyadari tingkahku.
“Ihh, aku malu. Aku belum mandi!” Sahutku.
“Kamu baru bangun? Ya udah mandi dulu, nanti aku vc lagi.” Aku pun langsung memperlihatkan wajahku seraya tersenyum.
Dani tersenyum menatapku. Sementara aku fokus pada lesung pipinya.
Kadang aku berfikir kenapa pria seimut Dani bisa menyukaiku.
....
Di saat sedang tertidur aku mendengar ada yang mengetuk-ngetuk tapi bukan dari arah pintu kamarku tapi bunyinya sangat dekat. Aku melihat jam dinding yang ada di kamarku menunjukkan pukul 4 sore.
Terdengar lagi suara ketukan kali ini ada suara yang memanggil namaku juga. Aku pun langsung bangkit dan menuju jendela kamarku yang ku rasa bunyinya dari sana.
“Ovi! Kamu ngapain di bawah jendela?” Ternyata itu adalah anak dari salah satu tetanggaku.
“Kak, Bu Ela tuh nyariin Kakak.”
“Bu Ela? Ada apa, ya?”
“Kurang tau, Kak. Dia lagi ngobrol di depan rumahnya Kak Ina. Tadi dia udah bunyiin bel sama ketuk-ketuk pintu tapi Kakak nggak keluar. Tapi Ovi liat jendela Kakak terbuka, ya Ovi ketuk leawat sini deh. Hehe....”
“Ya sudah, sebentar lagi Kakak keluar.”
__ADS_1
Aku pun keluar untuk menemui Bu Ela yang tengah mengobrol dengan Kak Ina di teras rumah. Kebetulan jarak rumahku dengan rumah Kak Ina berdekatan jadi Bu Ela bisa melihatku dari sana. Kemudian dia buru-buru menghampiriku.
Aku mengajak Bu Ela untuk duduk di bangku teras.
“Ada apa ya, Bu?” Tanyaku memulai obrolan.
“Kamu kan biasa jadi pemandu senam untuk warga di RT sini, dan saya ingin meminta kamu juga menjadi pemandu senam untuk beberapa ibu-ibu dari komplek sebelah. Mereka sendiri yang meminta agar saya menyampaikan ini ke kamu. Mereka ingin kamu yang menjadi pemandu mereka. Bagaimana? Mau, ya?”
“Duhh, gimana ya Bu. Saya takut nggak bisa ngebagi waktunya dan malah ngecewain.”
“Kalau soal waktu biar kamu yang nentuin. Tapi harus di laksanakan sore hari karena beberapa ibu-ibu di komplek sana ada yang bekerja kalau pagi. Cukup dua kali dalam seminggu setiap sore. Bagaimana?”
Aku berfikir sejenak. Kalau sore mungkin aku bisa mengaturnya. Karena aku hanya memandu senam di pagi hari minggu untuk warga di RT ku.
“Ok, saya mau. Tapi nanti jika saya sedang ada pekerjaan maka jadwal senam akan saya atur kembali dan akan saya infokan lagi.”
“Oh iya, bagus itu. Berarti nanti kita buat grup chat saja agar mempermudah komunikasi. Kalau begitu saya pamit dulu. Sekali lagi terimakasih.”
“Iya, Bu. Sama-sama.” Setelah Bu Ela pergi aku masuk ke dalam rumah.
Aku mulai terbiasa dengan kesibukan baruku akhir-akhir ini. Dari jadi pemandu senam di komplek sebelah, setiap pulang aku membawa uang 150ribu hingga 200ribu. Mereka membayarku walau awalnya aku menolak. Mereka sangat menyukai caraku dalam memandu senam.
“Lumayan buat aku tabung biar bisa mengirim uang untuk membeli obat Papa.”
Kebutuhan hidupku semua sudah terjamin. Hanya saja aku sudah tidak bisa seperti dulu memberikan uang pada Mama atau pun Papa. Jadi hanya dengan cara ini saja aku bisa menbantu mereka. Sebab Kak Laras hanya menahan uang hasil dari perkebunan saja. Untuk penghasilan seperti ini mana mungkin dia pedulikan karena tidak seberapa.
Aku menghitung pemasukanku dalam seminggu, dari uang jajan dari Kakak Laras lalu penghasilan dari memandu senam. Setelah terkumpul selama satu bulan aku akan membagi uang itu dan mengirimkannya pada Papa dan Mama. Walau aku harus menutup mata dan telinga ketika uang yang ku kirim mendapat cibiran dari Mama.
Ini adalah cara berbaktiku. Kalian suka atau pun tidak tapi aku ikhlas melakukannya. Jika lelahku bisa membantu mengurangi sedikit beban kalian, maka akan ku lakukan selama aku masih bernyawa.
...**Tbc...
-
-
-
Terimakasih buat yg selalu dukung othor yg masih kalem ini. Apa pun dukungan kalian othor merasa sangat terbantu dan lebih semangat lagi untuk menulis.
Thanks all ...😍😍**
__ADS_1