
Walaupun dirimu...bukan jodoh ku...
Do'a ku selalu...menyertai mu...
🎶🎵🎶🎵🎶🎵🎶🎵🎶🎵
Othor numpang nyanyi ya...😂🤧
...Happy reading...
Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah kasar. Telinga dan wajah ku terasa panas. Sayangnya orang yang berdiri di hadapan ku saat ini adalah orang yang usianya lebih tua dariku. Dan hanya air mata yang kembali menetes dari mata sembab ku.
“Nak, sebaiknya kamu pulang saja, bukan maksud ingin mengusir, tapi ini demi kebaikan kamu dan yang lainnya,” ucap salah satu ibu-ibu yang mungkin merasa iba melihat ku. Sementara Tante Misra setelah menghina dan merendahkan ku dia langsung pergi.
Aku pun mengangguk sambil menghapus air mata ku yang masih menyisa di pipi.
Aku berjalan menuju pintu belakang dan sempat berpapasan dengan beberapa orang yang berkasak kusuk sambil melihat ke arah ku.
“Eh, jangan-jangan nama yang di sebut si pengantin pria tadi nama cewek itu.”
“Maksudnya apa?”
“Waktu ijab qabul, kan si prianya salah nyebut nama. Bahkan hingga bekali-kali.”
Aku mempercepat langkah ku agar segera bisa secepatnya keluar dari ruangan itu.
Ternyata langit yang tadi terlihat mendung kini sudah berubah menjadi hujan yang begitu deras.
Aku tetap melangkahkan kaki ku menerobos derasnya hujan tanpa mempedulikan tubuhku yang kebasahan.
Karena tidak terlalu fokus dan di tambah lagi jalan yang licin, aku pun terjatuh di tengah derasnya hujan tersebut. “Aargghhhh...! Hiks hiks hiks.” Aku langsung menumpahkan saja semuanya di sana dengan berteriak sekeras mungkin.
Ini bukan lagi sebuah luka, tapi kehancuran!
“Ayo, kita pergi dari sini.” Ku dengar suara seseorang yang aku tau itu adalah Om Wandy. Namun aku masih tetap dengan posisiku dengan pakaian ku yang sudah basah dan sedikit kotor.
“Ayo, berdiri,” bujuk Om Wandy lagi. “Kalau kamu masih seperti ini maka aku akan pergi mendatangi si Fauzan itu dan menghajarnya!” Ancaman Om Wandy berhasil membuat ku bergeming.
Perlahan aku mencoba berdiri dengan di bantu olehnya lalu melangkah menuju ke mobil.
“Dasar, keras kepala!” Ucap Om Wandy memarahi ku ketika sudah berada di dalam mobil.
-
-
-
__ADS_1
Sudah dua hari aku di rawat di Rumah Sakit setelah menghadiri acara pernikahan. Badan ku mendadak panas dan demam tinggi sehingga Kak Laras membawa ku ke sebuah Rumah Sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah.
Dan sore itu aku di nyatakan sudah boleh pulang ke rumah. Saat di rumah Om Wandy menanyai ku setelah Kak Laras keluar dari kamar untuk memandikan Rifqy.
“Apa ada yang menyakiti mu di sana?”
Aku hanya menjawab dengan menggelegengkan kepala ku.
“Lalu kenapa waktu itu kamu menangis?” Aku hanya diam tidak tau harus menjawab apa. Mana mungkin aku menjelaskan apa yang terjadi di hari itu.
“Makanya jangan keras kepala, pake mau datang ke acara nikahan,” lanjut Om Wandy menceramahi ku.
Om Wandy memang tidak sempat menanyai ku kemarin karena aku mendadak tidak enak badan saat perjalanan menuju pulang. Setelah tiba di rumah demam ku semakin tinggi sehingga aku langsung di bawa ke Rumah Sakit.
Keadaan ku sudah agak mendingan tapi entah kenapa aku masih merasakan sesuatu yang sakit. Rasa itu benar-benar nyata sehingga aku kembali menangis. Sungguh, ini sangat menyakitkan.
Berhenti merindukan orang yang sudah menjadi milik orang lain dan belajar untuk menerima semuanya. Namun tidak semudah saat kita mengucapkannya.
Kembali mengawali hari walau dunia terasa sangat hampa. Tidak lagi indah seperti saat aku bersamanya. Tempat-tempat yang menjadi pertemuan kami sungguh menyiksa ku. Bukan hanya sekali, tapi sudah beberapa kali aku keluar masuk Rumah Sakit karena terlalu banyak menelan pil tidur dengan dosis tinggi.
Hingga suatu hari untuk kesekian kalinya aku masuk ke Rumah Sakit yang sama dan Dokter yang menangani ku tersebut sampai menggelengkan kepala setiap aku di rawat di sana. Lambung ku juga mengalami masalah karena aku sering lupa makan bahkan tak jarang aku tidak makan seharian tanpa merasakan lapar.
Hanya raga ku yang masih hidup tapi jiwa ku benar-benar kosong. Ternyata tidak mudah bagi ku menghadapi semuanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Terlalu sulit bagi ku jika tetap berada di sana karena kenangan indah itu terus membayangi ku tanpa membiarkan aku tenang walau sedetik pun.
Selain itu Kak Laras juga mendukung keputusan ku. Karena jika aku tetap bekerja maka tidak ada yang akan memperhatikan kesehatan ku.
“Perusahaan ini akan menerima mu kapan pun kamu mau kembali,” ucap Pak Erik setelah menerima surat pengunduran diriku.
Aku juga berpamitan pada rekan-rekanku dan mereka bahkan ada yang tidak rela aku keluar dari perusahaan yang telah menjadikan kami sebuah keluarga tersebut. Ada juga yang membujuk ku agar tetap bertahan tapi aku sudah bulat dengan keputusan ku. Tangis perpisahan mewarnai ruang kantor pagi itu. Sebelum pergi aku meninggalkan alamat rumah ku untuk mereka.
Supir yang akan mengantarku sudah menunggu di depan perumahan ku. Aku masuk sebentar untuk mengambil beberapa barang ku yang masih ada di sana. Setelah semua sudah siap aku pun kembali menatapi perumahan itu untuk terakhir kalinya. Kemudian aku masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir untuk segera pergi dari sana.
Selamat tinggal yang terindah...
Kenangan mu begitu membekas hingga menjadi sebuah luka yang cukup dalam...
Semoga aku bisa bertahan dengan kenangan ini,,
Kata orang kehidupan seperti roda yang berputar, kadang di atas kadang di bawah. Tapi tampaknya nasib buruk ku selalu membuat aku menjadi yang selalu di bawah.
Air mata ku masih bersisa untuk menangisi setiap jalan yang ku lewati. Jalan yang aku lewati bersamanya ketika ia bersikeras untuk mengantar ku pulang ke kota. Ini bagai mimpi buruk yang menjadi nyata. Kenangan itu masih segar di ingatan.
Yah, aku menangis dan masih menangis setelah sudah hampir setengah tahun. Keadaan ku sangat kacau, begitu pun kesehatan ku. Aku sudah berusaha untuk sesekali saja meminum obat tidur dan itu pun tanpa sepengetahuan Kak Laras.
Di malam yang cukup dingin setelah hujan yang mengguyur kota sejak sore tadi, membuat ku ingin memecahkan kesunyian itu. Aku mengambil gitar yang dulu di berian oleh Kak Ardi. Setelah hari itu untuk pertama kalinya aku menyentuh benda itu lagi.
Jika kebahagiaan tidak bisa mengusik duka, maka aku coba melawan luka dengan luka.
__ADS_1
🎵🎶🎵🎶🎵🎶
Kering air mataku
Mengingat tentangmu
Tentang kita yang tak jodoh...
Dulu pernah bermimpi
Saling memiliki
Nyatanya pun tak kesampaian...
Rela...relakanlah masa itu...
Biarkan lah jadi masa lalu...
Kenang diriku
Selalu di hatimu
Selalu di jiwamu
Simpan di memori mu...
Ku nanti dirimu
Bila malam pun tiba
Cukup kita yang tahu
Mimpi jadi saksinya...
🎵🎶🎵🎶🎵🎶
Lagu T2
Tak jodoh
Silahkan dengarkan lagunya dan sambil membaca bab ini.
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 👍
agar othor semakin semangat menulis.