
...Happy reading...
“Anita, bukan Kakak mau ngajarin kamu untuk durhaka atau tidak patuh pada orang tua kamu. Tapi Mama kamu tuh benar-benar keterlaluan! Nggak ada basa-basinya samasekali. Nanya kabar atau apa dulu malah main minta hasil perkebunan.” Omel Kak Laras masih dengan ekspresi kemarahan.
“Ya mungkin Mama emang lagi butuh uang itu. Aku mau istirahat dulu, capek.” Aku pun masuk ke kamar meninggalkan Kak Laras yang sepertinya masih belum puas menumpahkan kemarahannya.
Walau tidak pernah terucap tapi jauh di dasar hatiku aku sangat rindu pada Mama. Walau sadar aku di anggap hanya sebagai sebuah kesalahan hingga terlahir ke dunia ini.
Aku sempat berpikir Tuhan akan mengembalikan kebahagiaan dengan mendatangkan sosok Ibu di hidupku lagi setelah ia mengambil semua kebahagiaanku. Ternyata aku salah, aku terlalu berharap pada takdir yang sepertinya tidak mungkin akan memihak ku.
Karena terlalu lelah aku tertidur hingga malam hari. Biasanya Kak Laras akan membangunkan ku jika sudah memasuki waktu maghrib. Tapi kini ia sudah pindah. Hanya jika ada keperluan saja baru ia datang walau jarak rumah kami terbilang dekat.
Setelah mandi aku kembali berbaring. Akhir-akhir ini ada yang aneh ku rasakan pada bagian tubuhku. Ada memar di bagian-bagian tertentu padahal aku merasa tidak terbentur atau terjatuh. Aku mencari tahu tentang hal ini dengan bantuan sahabat setia sejuta umat yaitu g*ogle. Ada beberapa kemungkinan mengenai hal ini, dan semuanya hampir membuat ku berkeringat dingin saat membaca satu persatu penjelasan di sana.
“Mungkin aku kekurangan vitamin atau efek obat-obatan yang pernah ku minum saja,” batinku menerka karena hanya itu saja yang ku rasa agak aman dan tidak terlalu serius. Aku juga tidak ingin menambah bebanku sendiri dengan menghayal berbagai penyakit yang di jelaskan oleh aplikasi itu.
Belum lama aku meninggalkan halaman berita tersebut handphone ku berdering dan terlihat nama Susanti di layar ponselku.
“Iya, San?” Sahutku.
“Eh, ada yang nanyain kamu, Nit.”
“Ehm, siapa?”
“Dani.”
Aku tidak tahu siapa Dani, dan tidak pernah mengenal nama itu. “Siapa Dani? Ngapain dia nanyain aku? Emang aku punya utang apa sama dia?” Balasku tertawa.
“Masa sih kamu nggak kenal? Kirain kalian ada apa-apa sebelumnya. Kali aja jaman SMP dulu kalian pernah ehm ehm.”
“Siapa sih dia? Apa dulu kita masih satu sekolah? Perasaan dulu aku nggak pernah dekat dengan siapa-siapa deh waktu jaman SMP.” Aku mendadak penasaran.
“Oiya, aku lupa. Kan, dulu kamu ngebetnya sama Pak Adji. Hihi...,” Santi mulai cekikikan di seberang sana.
“Tuh kamu tau. Jadi mana mungkin lah aku kenal yang namanya Dani. Kalau Ahmad Dani aku tau,” seloroh ku.
“Mata hati kamu udah keburu ketutup sama bayangannya Pak Adji, sehingga nggak sadar kalau ada yang lain merhatiin kamu dari kejauhan.” Santi terus saja tergelak. Sementara aku masih mencoba mengingat-ngingat orang bernama Dani ini.
Dulu memang ada beberapa teman pria ku yang juga masih satu sekolah tapi seingatku tidak ada yang bernama Dani.
__ADS_1
“Ciee...yang lagi kepikiran yang namanya Dani,” celetuk Santi.
“Bukan kepikiran, San...tapi mikir kenapa ada yang tau aku sementara aku aja nggak tau dia.”
“Ya sama aja kali, Nit. Tetap pake pikiran, kan? Apa sebaiknya kalian ngobrol langsung aja kali,ya. Aku suruh dia hubungi kamu deh.”
“Tau, ah.” Aku mematikan handphone ku dan berjalan menuju ke dapur.
Setelah makan dan minum obat herbal aku pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi.
Handphone ku berdenting tanda ada pesan yang masuk. Aku langsung memeriksa nya. Sejak kemarin aku membisukan notif dari grup dan hanya ada pesan pribadi saja yang bisa terdengar.
📨[No tidak di kenal]Hai, selamat malam. Maaf, jika kamu sibuk atau sedang beristirahat sebaiknya nggak perlu di balas. Aku Dani.
Aku menyimpan nomer itu lalu kemudian membalasnya.
📨[Me] Ya, selamat malam juga. Apa sebelumnya kita pernah kenal?
📨[Dani] Hm, bagaimana ya. Kalau kenal secara dekat mungkin tidak. Tapi dulu kita masih satu sekolah. Aku satu tingkat di bawah kamu.
Pantas saja aku merasa tidak kenal. Ternyata dia adik kelas ku. Aku hanya kenal beberapa adik kelas ku dulu, itu pun perempuan semua tidak ada laki-laki.
📨[Dani] Nggak apa-apa. Boleh nanya sesuatu? Nggak pribadi kok, tapi kalau nantinya menurut kamu pertanyaan aku pribadi, aku minta maaf.
📨[Me] Silahkan, sebisa mungkin aku menjawab.
📨[Dani] Terimakasih sebelumnya. Apa saat ini kamu sedang dekat dengan seseorang atau mungkin udah punya calon 😅🙏
Entah kenapa aku merasa lucu dengan pertanyaan nya sehingga aku tersenyum saat membaca pesan itu. Terlintas di benak ku untuk menjahilinya.
📨[Me] Kebetulan saat ini aku lagi nyari orang yang mau jadi panitia untuk pendaftaran calon yang kamu maksud. Kamu bersedia?
📨[Dani] Bersedia. Tapi sebagai panitia apa aku juga boleh ikut daftar? Kalau boleh, aku daftar duluan. Kalau nggak boleh aku mending jadi peserta aja. Tapi harus aku yang di terima.
Aku tertawa membaca pesan itu. Lalu mengetik balasan lagi.
📨[Me] Maksa banget! Ya harus seleksi dulu, lah...😂🤦♀️
📨[Dani] Dari pada buang² waktu untuk melakukan seleksi, mending waktunya kita gunakan untuk saling mengenal. InsyaAllah aku nggak akan mengecewakan 😅🙏
__ADS_1
Waww! Siapa sih Dani ini? Bagaimana orangnya?
Di dalam hati aku memuji keberaniannya. Kalau dia tahu aku sejak SMP, itu artinya dia sudah tahu bagaimana kepribadian ku. Aku bukan orang yang ramah, tapi juga bukan orang sombong. Aku memang terkesan cuek tapi bukan berarti aku tidak peduli dengan sesama. Takanan dalam hidupku sebelumnya telah membentuk pribadi ku yang seperti itu. Aku hanya terbuka untuk masalah umum saja dan tidak pernah mengisahkan secara detil tentang kehidupanku.
Aku langsung memeriksa profilnya tapi hanya ada foto sebuah meja cafe saja di sana.
Dua hari kemudian Santi ada menghubungi ku. Tapi aku tidak sempat menerimanya keburu sinyal menghilang karena aku sedang pergi ke perkebunan untuk pertama kalinya pasca masalah penglihatan yang aku alami.
Setelah pulang dan mandi, aku kembali menghubunginya dan lagi-lagi Santi sedang mengunyah.
“Maaf, tadi aku lagi di jalan dan sinyal keburu ngilang. Ada apa?” Tanya ku.
“Ehm, begini...weekend nanti kamu ada waktu nggak? Pasti nggak ada, kan? Secara kamu jomblo. Kita mau pergi ke pantai yang lagi happening itu, lhoo...,” jelas Santi tak lepas dari bullyan nya.
“Kita? Siapa aja yang kamu maksud? Bukannya kamu lagi hamil? Kenapa malah pergi-pergi?”
“Aku tuh hamil, bukan lumpuh. Lagian orang hamil tuh, ya perlu refreshing juga biar nggak stres. Mau, ya?”
“Tapi aku nggak perlu refreshing, karena aku nggak hamil.”
“Gimana mau hamil, kalau kamu di rumah dan kerja bolak balik begitu aja terus. Cari doong yang bisa buat kamu hamil. Enak lho, aku aja pengen terus hamil setiap tahun. Hihi....,” Aku selalu kalah telak setiap berbicara dengan Santi. Tapi hanya dengannya aku merasa nyaman.
“Emang siapa aja yang ikut?” Tanya ku mulai tertarik.
“Ya anak-anak yang ada di grup juga, sekalian kita reunian lah. Tapi khusus buat kamu wajib ikut. Ok?”
“Ya ya...liat nanti, deh.”
...**Tbc...
-
-
-
Jangan lupa jejaknya 👍
Thanks all**...
__ADS_1