
...Happy reading...
Aku kembali ke rumah Om Wandy dan menunggu nya pulang. Aku ingin meminta Om Wandy untuk mencari orang yang bisa di bayar untuk membersihkan rumah ku. Karena aku harus sesegera mungkin kembali untuk bekerja. Bahkan aku sudah libur melebihi jatah cuti ku.
Aku ingin bulan depan saat aku kembali rumah itu sudah harus bersih. Aku juga meminta Om Wandy untuk mencari orang yang bisa menghitung tanggal baik untuk kepindahan ku nanti. Di daerah kami, bahkan orang-orang di daerah ini pun ternyata juga masih mempercayai tentang tanggal baik dan bulan baik.
Meski tanggal yang baik itu menurutku adalah tanggal muda 😅🤣🤦♀️
Seiring berkembangnya perusahaan, semakin membuatku sibuk hingga aku pulang ke kota hampir tiga bulan kemudian.
Ku lihat rumah ku tampak bersih dan terurus di banding beberapa bulan lalu.
Om Wandy membantu ku untuk mengatur barang-barang ku, lalu malamnya aku memanggil Pak Ustadz untuk mengadakan pengajian. Tidak lupa aku juga mengundang tetangga ku.
Sebelum pengajian di mulai aku nenelepon Kak Laras untuk memberitahukan kabar bahagia ini. Kak Laras sangat histeris. Ku dengar Kak Laras seperti sedang menangis. Mungkin dia menangis karena bahagia. Aku mematikan sambungan kami setelah pengajian akan di mulai.
Acara pengajian berjalan lancar hingga selesai. Om Wandy membantuku untuk membersihkan ruangan setelah para tamu sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Apa sebaiknya Om nginap aja?" Aku memberi saran pada Om Wandy sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.05.
"Om pinjam kamar kamu, ya? Gantian kamu yang tidur di sofa," kata Om Wandy.
"Enak aja. Kan masih ada kamar kosong, kenapa harus kamar Anita!?" Kesal ku.
Om Wandy tergelak karena berhasil mengerjaiku. "Om besok harus bangun pagi, ada pekerjaan tambahan. Lagian ini kan malam pertama kamu tidur di rumah ini. Akan lebih baik jika kamu sendiri yang menilai kadar ke mistisannya." Lalu Om Wandy kembali tertawa.
"Nggak lucu!" Aku langsung masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Om Wandy benar, ini adalah malam pertama ku menginap di sini. Malam pertama setelah aku membeli rumah ini tentunya.
__ADS_1
Setelah Om Wandy pulang aku mengunci pintu dan memastikan jendela rumah sudah terkunci semua. Kemudian aku masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku di kasur. Karena belum mengantuk akhirnya aku berinisiatif untuk menelepon Kak Ardi. Ku lirik jam di dinding ku yang menunjukkan pukul 22.35. Biasanya Kak Ardi masih terjaga jam segitu, jadi ku cari saja nomernya dan langsung meneleponnya.
Beberapa kali aku menghubungi nomernya tapi tidak di angkat. Akhirnya aku memutuskan untuk memejamkan mataku meski otak ku terus berpikir dan bertanya-tanya kenapa Kak Ardi tidak menjawab panggilan ku.
Pagi itu aku sudah bersiap-siap untuk kembali ke tempat bekerja ku lagi. Sebelum pergi aku mendatangi rumah tetangga yang paling dekat dengan rumah ku untuk sekedar berpamitan dan nitip rumah. Ini juga aku pelajari dari cara orang-orang di daerah sini.
Aku berpamitan pada Kak Ina orang paling dekat dengan ku dan rumah kami juga bersebelahan.
Saat aku berpamitan ponselku berdering beberapa kali dan ku biarkan saja ketika ku lihat nama Kak Ardi yang muncul di layar ponselku. Aku masih kesal karena dia tidak menjawab panggilan ku kemarin malam.
"Kenapa nggak di angkat dulu,An?" Tanya Kak Ina.
"Nanti saja kalau sudah di jalan," jawabku. Kemudian aku berpamitan dan masuk ke mobil yang sudah aku sewa. Aku tidak enak terus-terusan merepotkan Bang Fauzan.
Ketika sudah di dalam mobil aku langsung menghubungi Kak Ardi.
"Halo, Anita? Maaf, tadi malam aku ketiduran karena terlalu capek jadi nggak dengar waktu kamu menelepon ku. Kamu pasti di tempat Om Wandy, kan?"
Aku jarang-jarang bisa datang ke kota, dan tentunya tidak setiap hari juga aku bisa menghubunginya. Ketika panggilan ku di abaikan aku merasa kecewa. Apakah sikap ku itu berlebihan?
Supir menghentikan mobilnya tepat di depan perumahan tempat tinggal ku. Setelah membayar ongkos sewa aku langsung masuk ke dalam. Meski di tinggal hanya sebentar, entah kenapa rumah ku terlihat seperti sangat kotor saja. Mata ku jadi sakit melihatnya, walau lelah akhirnya aku lebih memilih untuk bersih-bersih terlebih dahulu baru kemudian aku mandi dan beristirahat.
-
-
-
Kesibukan ku di dunia kerja benar-benar mengalihkan pikiran ku. Jika waktu awal-awal dulu aku selalu memikirkan bagaimana cara agar aku bisa kembali kota sesering mungkin. Tapi kali ini bahkan aku tidak lagi berpikir untuk kesana. Kecuali ada keperluan yang sangat mendesak. Padahal akses menuju ke kota sudah terbilang lancar.
__ADS_1
Aku sering di beri tugas oleh atasan ku untuk membantunya dalam hal pribadi. Atasan ku sering membeli tanah-tanah penduduk desa yang ingin menjual tanah atau kebun mereka.Hal ini biasa terjadi jika anak-anak mereka ada yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Para orang tua akan menjual sebagian dari tanah yang mereka miliki. Dan aku lah yang mengurus jual beli tersebut. Ini lah yang membuatku semakin bersemangat karena upah yang aku terima bahkan melebihi gajiku di perusahaan.
Aku berniat suatu saat nanti aku juga akan membeli beberapa hektar tanah dan meraih impian ku untuk memiliki perkebunan. Apa lagi harga tanah yang di tawarkan kadang condong lebih murah. Aku pasti bisa membelinya. Batinku.
Beberapa bulan kemudian aku pergi ke kota karena aku sudah sangat rindu rumah dan para tetangga ku.
"Assalamua'laikum...," ucapku ketika membuka pintu dan masuk ke dalam rumah ku.
Aku langsung masuk ke kamar ku dan berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai lagi. Kemudian aku membuka satu persatu pesan yang masuk. Sudah bisa di tebak pesan dari siapa yang memenuhi kotak masuk di ponsel ku.
Aku meletakkan kembali ponselku di atas kasur ketika mendengar bel pintu berbunyi.
"Kak Ina, ayo masuk," ajak ku pada Kak Ina yang bertamu siang itu.
"Nggak usah, Kakak cuma mau nyampein pesan dari teman kamu." Sambil Kak Ina menyerahkan sebuah gitar padaku.
"Teman?" Dengan ragu aku menerima gitar itu.
"Dari Ardi," jelas Kak Ina.
"Oh, iya. Terimakasih," ucapku merasa senang. Kemudian Kak Ina pamit untuk kembali ke rumahnya.
Aku membawa gitar itu masuk ke dalam kamar ku. Ingin rasanya aku langsung menelepon Kak Ardi dan mengucapkan terimakasih padanya. Tapi aku memilih untuk membaca semua pesan darinya saja dulu.
-
-
-
__ADS_1
...Tbc...