Luka Terdalam

Luka Terdalam
AKU SAYANG KAKAK


__ADS_3

Sore hari aku membersihkan halaman rumah, menyapu daun-daun kering yang berjatuhan. Setelah selesai aku masuk ke dalam rumah untuk pergi mandi. Ku lihat Kak Laras sudah mandi dengan rambutnya yang terlihat masih basah keluar dari kamarnya.


"Kakak sudah baikan?" Tanyaku.


"Hm'm. Kakak nggak apa-apa. Kakak nggak sakit. Ini hanya bawaan hamil saja," jawab Kak Laras.


"Oiya, Kakak mau makan apa nanti malam?"


Kak Laras menatap padaku dengan wajah yang terlihat kaget. "Udah bisa masak?" Tanya Kak Laras.


"Be -- belum, sih. Hehe...."


"Nggak perlu masak. Panaskan saja makanan yang ada kulkas," titah Kak Laras.


"Iya, Kak." Kemudian aku pergi mandi terlebih dahulu.


Aku pun sudah selesai mandi dan juga sudah memanaskan makanan yang ada di kulkas. Kak Laras banyak membawa makanan jadi dari rumahnya.


Selepas sholat maghrib kami pun makan malam bersama.Ku lihat Kak Laras makannya hanya sedikit, tidak seperti biasanya. Aku membawa piring-piring kotor ke tempat pencucian piring setelah kami semua selesai makan. Kak Laras dan Kak Agil duduk di sofa ruang tengah.


Selesai mencuci piring dan mengelap meja, aku pun ikut duduk bersama Kak Agil dan Kak Laras. Baru saja aku mendudukan bokongku, terdengar suara bel pintu berbunyi. Aku pun langsung menuju pintu dan membukanya.


"Kak, Ardi?" Ku lihat Kak Ardi yang berdiri di depan pintu saat itu. "Kakak kenapa datang kesini?" Sambil memelankan suaraku.


"Maaf, mengganggu kebersamaan kamu dengan Kakak kamu. Tapi ini sangat penting."


Melihat wajah Kak Ardi yang terlihat serius, aku pun mengajaknya duduk di bangku teras.


"Ada apa, Kak?" Tanyaku.


"Besok aku akan pulang ke kota asalku." Aku terkejut saat Kak Ardi berkata seperti itu. Aku berpikir kalau Kak Ardi asli orang sini.


"Maksud Kakak?" Aku tidak terima jika Kak Ardi meninggalkanku. Sementara aku sudah berusaha untuk tidak pulang kampung demi menuruti keinginannya.


"Ini hanya sebentar, aku dan keluargaku hanya menjenguk makam Mamaku. Setelah itu aku akan segera kembali." Kak Ardi meyakinkanku.


"Janji?"


"Aku janji," jawab Kak Ardi menggenggam kedua tanganku.


"Ehmm, nggak di ajak masuk tamunya, An?" Kata Kak Laras yang sudah berdiri di bibir pintu.

__ADS_1


Sontak ku tarik tanganku dari genggaman Kak Ardi.


"E...-- emm, gak apa-apa, Kak. Di sini aja," kataku gugup dengan jantung yang berdebar karena kaget dan malu.


Belum hilang rasa gugupku tiba-tiba Kak Agil datang dan ikut duduk bersama kami di teras.


"Ada tamu kok nggak di buatin minum, An?" Kata Kak Agil. Aku tau Kak Agil sengaja menjahiliku dengan membongkar kekuranganku di depan Kak Ardi.


"Ini juga baru mau aku buatin," jawabku, menahan sedikit rasa dongkol yang bercokol di hatiku. "Kakak mau aku buatin apa?" Tanyaku padaku Kak Ardi.


"Apa aja, An...," jawab Kak Ardi.


"Hati-hati..., jangan sampe salah membedakan antara gula sama garam," ledek Kak Agil, saat aku beranjak masuk ke dalam.


Aku pergi ke dapur dan langsung membuat teh. Karena hanya teh saja yang bisa ku buat.


Kak Laras ikut membantuku mengeluarkan cemilan dari dalam kulkas dan meletakkan nya di piring. Kemudian kami membawanya ke teras, di mana Kak Ardi dan Kak Agil mengobrol.


Lagi-lagi Kak Ardi terlihat sudah sangat akrab saja. Aku heran bercampur senang melihat kepribadian Kak Ardi bisa tampak dewasa dan humoris. Sangat cocok dengan Kak Agil yang suka jahil juga.


Cukup lama Kak Ardi dan Kak Agil mengobrol. Sementara kami lebih banyak mendengarkan saja. Kak Ardi dan Kak Agil ternyata berasal dari satu kota yang sama. Menambah panjang saja obrolan mereka. Aku sempat beberapa kali menguap karena jadi mengantuk saat mendengar mereka berbicara. Suara mereka bagaikan alunan lagu di telingaku.


-


-


-


Suara kumandang adzan subuh menggema. Ku sibakan selimutku meski dengan langkah berat aku berjalan meninggalkan tempat tidurku untuk menunaikan sholat dan ber'wudhu terlebih dahulu. Setelah usai sholat, aku mengecek handphone ku. Aku tidak sabar menunggu pesan dari Kak Ardi yang mungkin akan mengabariku sebelum dia menempuh perjalanan.


Aku kembali merebahkan tubuku di kasur dan bolak balik menatap layar handphone ku. Ku coba memejamkan mataku namun ada rasa gelisah yang menghinggapi hatiku. Kenapa Kak Ardi tidak memberiku pesan samasekali? Setidaknya ada kata-kata manis sebelum dia pergi.


Ahh..., pikiran ku terganggu dan tidak mungkin aku akan bisa tertidur lagi. Akhirnya aku merapikan tempat tidurku kemudian pergi ke dapur. Aku membuka kulkas dan mengambil susu lalu menghangatkan nya. Setelah itu aku duduk di meja makan sambil menikmati susu hangatku dengan selembar roti. Karena menunggu kabar juga butuh tenaga.


"Tumben udah bangun jam segini?" Kata Kak Laras yang juga sudah terbangun dan duduk di sampingku.


"Udah nggak bisa tidur," jawabku sambil mengunyah roti.


Kak Laras tersenyum sambil menaikan kedua alisnya. "Pasti karena akan di tinggal pergi,ya?"


Aku menghabiskan rotiku dan meminum susuku. "Kenapa dia nggak ngabarin ya,Kak?" Kataku akhirnya.

__ADS_1


"Ini masih pagi banget. Pasti dia lagi sibuk juga buat siap-siap," jelas Kak Laras. Tapi tetap saja aku tidak terima jika Kak Ardi pergi tanpa mengabariku terlebih dahulu.


Ku lihat Kak Agil sudah bangun dan sudah memakai kaos dan celana trainingnya untuk pergi joging. Dari dulu Kak Agil memang suka berolahraga. Bahkan dia dan Kak Laras selalu joging bersama di hari libur.


"Jangan terlalu kepikiran, An...,mending di bawa joging aja," kata Kak Agil mulai mengejekku.


"Ogah...." Aku beranjak dari duduk ku dan pergi ke kamar lalu kembali menatap layar ponselku. Aku mendesah kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa di ajak kompromi karena selalu kepikiran Kak Ardi.


Baru akan menuju ke kamar mandi, tiba-tiba handphone ku berbunyi. Aku langsung mengambilnya dan melihat siapa penelpon nya. Ternya orang yang aku tunggu-tunggu sejak tadi.


"An...?"


"Iya, Kak. Kenapa baru menelpon sekarang?" Tanyaku.


"Ada apa?" Tanya Kak Ardi kembali.


"Apa Kakak sudah dalam perjalanan?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan karena tidak mungkin aku berterus terang kalau aku menunggu Kak Ardi menelponku.


"Iya, ini sedang dalam perjalanan. Oiya, nanti kamu mau aku bawain apa?"


"Aku nggak mau apa-apa, aku mau Kakak secepatnya pulang," jawabku. Terdengar Kak Ardi sedang tertawa. Tapi aku tidak perduli. Yang penting aku bisa menyampaikan semua isi hatiku.


"Iya iya..., aku juga nggak mau lama-lama jauh dari kamu, An...."


"Janji?"


"Iya..., aku janji? Ya sudah, nanti aku telpon lagi kalau sudah sampai."


"Ok, hati-hati. Aku sayang Kakak," kataku, lalu aku mematikan handphone ku.


-


-


-


**Tbc


jangan lupa like, komen dan klik ❤


Thanks all...😘😘**

__ADS_1


__ADS_2