
Samar ku dengar suara adzan yang berkumandang karena jarak Mesjid yang lumayan jauh. Aku beranjak dari tempat tidur dan pergi ber'wudhu. Sebetulnya aku sangat mengantuk dan masih merasa lelah setelah perjalananku sore itu, tapi jika aku bolos sholat maka aku pasti akan menyesal karena merasa sangat berdosa. Setelah sholat aku kembali ke tempat tidurku di samping Oma Maryam. Ternyata Oma Maryam sudah terbangun sejak tadi.
"Oma nggak sholat?" Tanyaku.
"Sebentar lagi," kata Oma seraya memijat mijat pergelangan kakinya. Untuk usia Oma saat ini Oma tidak langsung dapat berdiri jika bangun tidur. Ku bantu untuk memijat kaki Oma agar Oma bisa segera melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat Oma membangunkan ku karena aku ketiduran lagi. "Ayo, buruan mandi sebelum semua pada bangun," ucap Oma.
Aku segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Beruntung belum ada yang bangun jadi aku bisa langsung mandi karena jika tidak siap-siap jika dapat antrian paling belakang.
Setelah mandi aku berpakaian dan sedikit berdandan.
"Kamu pakai ini ya, biar seragam dengan yang lain," perintah Oma seraya memberikan sebuah setelan padaku. Aku ingin memakainya tapi ku urungkan saja karena aku tidak ingin menambah nyinyiran jika aku mengenakan pakaian yang seragam dengan mereka. Aku tetap mengenakan pakaian yang aku bawa sendiri dari rumah, sebuah dress berwarna dasar putih di padu dengan warna biru laut di bagian tepinya. Karena aku tidak terlalu pandai menata rambut setelah aku sisir lalu ku gunakan jepit rambut di bagian sisi kanan rambutku dan ku serasikan dengan warna dress ku.
"Loh Anita kenapa nggak pakai baju yang Oma berikan?" Oma menanyaiku.
"Bajunya kebesaran," jawabku.
"Ya sudah, ayo," ajak Oma seraya menggandengku, lalu kami masuk ke dalam mobil Om Wandy yang sudah menunggu di depan.
Tidak lama kami pun sampai karena jarak rumah Oma dan tempat pernikahan Kak Laras di langsungkan tidak begitu jauh. Ku lihat beberapa pasukan nyinyir mulai melakukan aksinya dengan menatap penuh kebencian padaku. Ku coba mengacuhkan saja dan berharap acara ini segera selesai dan aku bisa langsung pulang. Namun nyatanya masih ada acara resepsi di malam harinya.
Sore itu kami pulang sebentar ke rumah Oma untuk mandi dan berganti pakaian setelah itu aku dan Om Wandy pergi lagi untuk menghadiri acara resepsi. Sementara Oma sudah menyerah dan memilih untuk tidak ikut.
"Ayo, kita foto bareng Kak Laras," ucap Om Wandy mengajak ku. Aku pun setuju saja karena tadi siang aku belum sempat berfoto bersama Kak Laras. Namun beberapa dari pasukan nyinyir yang ada di sana langsung menjauh saat aku berada di antara mereka.
"Hati-hati nggak panjang umur kalau foto bareng dia."
__ADS_1
"Bisa-bisa sial, ayo pergi!"
Nyinyiran demi nyinyiran meluncur dari mulut mereka. Mungkin tak sesakit ini rasanya jika kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, tapi nyatanya kata-kata itu berasal dari keluargaku sendiri orang-orang yang memiliki hubungan darah denganku.
Aku menjauh dari sana dan pergi menuju parkiran dimana mobil Om berada. Tidak lama Om Wandy datang menghampiriku. "Aku mau pulang malam ini juga," ucapku dengan sesegukan karena sambil menangis.
"Ayo." kata Om Wandy tanpa membantah sedikit pun.
Setelah mengambil barang-barang kami dan berpamitan dengan Oma Maryam lalu kami pun pergi meninggalkan tempat horor tersebut.
Lewat tengah malam kami pun sampai di rumah kontrakan ku.Om Wandy numpang menginap karena ia sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan pulang. Aku langsung masuk ke kamarku lalu menjatuhkan tubuhku di kasur. Sementara Om Wandy tidur di kamar yang dulu pernah di tempati Kak Laras.
Ku buka mataku perlahan ketika sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela kamarku. Ku lirik jam dinding yang ada di kamarku sudah jam 08.27.
Ahh..., kali ini aku melewatkan sholat subuhku.
"Om nggak kerja," Tanyaku seraya duduk di bangku sebelah Om Wandy.
"Nggak, karena kemarin Om udah ijin untuk tidak masuk hari ini," jawab Om Wandy seraya meminum kopinya. "Sarapan dulu sana," perintah Om Wandy.
"Sarapan apa? Anita, kan nggak bisa masak," kataku.
"Tadi Om udah beli sarapan, ada di dapur. Jangan lupa mandi dulu," ucap Om Wandy.
Aku segera pergi mandi lalu setelah itu buru-buru pergi ke meja makan untuk mengintip makanan apa yang di beli Om Wandy untuk ku.
"Ahh, Om Wandy tau aja selera ku," ucapku seraya mengambil sendok lalu menikmati bubur ayam yang ada di hadapanku. Saat aku sedang makan Om Wandy berpamitan untuk pulang namun ku sahut dengan anggukan saja karena mulutku penuh dengan bubur.
__ADS_1
-
-
-
Besoknya aku sudah masuk sekolah dan ku lihat senyum seseorang yang menyambutku di depan kelas. Siapa lagi kalau bukan Kak Ardi.
"Anita kemana saja kemarin, kok nggak masuk?" Tanya Kak Ardi menghampiriku.
"Ada acara keluarga," jawabku seraya masuk ke kelas dan menuju tempat duduk ku.
"Aku agak khawatir, aku mengira kamu sakit," ucap Kak Ardi.
"Nggak perlu ada yang di khawatirkan dan jangan pernah mengkhawatirkan aku. Dan aku minta agar Kak Ardi menjauh dariku!"
Kak Ardi tampak terkejut melihat reaksiku. "Anita, kamu lagi ada masalah?" Tanyanya keheranan.
"Pergi!" Hardik ku.
Tanpa bersuara sedikit pun Kak Ardi langsung pergi dari kelasku.
Efek nyinyiran kemarin membuat kejiwaanku sedikit goyah dan membuat emosiku sulit untuk di kendalikan.
Sejak hari itu Kak Ardi sudah tidak lagi mengekoriku dan terkadang ku lihat ia sengaja menghindar jika kami akan berpapasan. Ada rasa bersalah di hatiku tapi ku tepis saja karena ini adalah yang terbaik bagiku sebab aku tidak ingin jika kelak Kak Ardi menjauhiku karena tau asal usulku yang tak di inginkan keluargaku sendiri.
Bel tanda pulang berdering. Aku mengemasi buku dan peralatan menulisku lalu pergi meninggalkan ruang kelas. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang kurang dan tidak seperti biasanya, tapi aku tidak tau apakah itu. Tiba di rumah ku hempaskan tubuhku di kasur lalu ku pejamkan mataku sejenak ku lihat wajah Kak Ardi disana. Ahh..., ku tutupi wajahku dengan bantal namun malah bayangan itu semakin jelas saja. Aku beranjak untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat berharap bisa mengusir bayangan itu.
__ADS_1