Luka Terdalam

Luka Terdalam
MAAF, TIDAK TAHU


__ADS_3

...Happy reading...


Biar saya aja yang membereskan, Mbak!” Sahut Pak Sadik yang berjalan ke arahku. “Dia cuma menggantikan Pak Anto yang sedang libur, dia masih kurang faham. Maklum,” tambah Pak Sadik seraya melanjutkan langkahnya berjalan ke arah pohon tersebut dan sepertinya ia akan melaksanakan pekerjaannya.


Aku pun melanjutkan langkahku untuk kembali mobil dan melihat perkebunan milik Pak Erik. Aku melambai pada Om Wandy yang masih mengobrol dengan beberapa buruh agar segera kembali ke mobil.


Tidak lama Om Wandy sudah kembali.


“Lanjut ke perkebunan Pak Erik,” titahku.


“Ok. Tapi muka kamu kenapa? Kayak kurang sehat gitu.”


“Nggak apa-apa.”


“Kalau kurang sehat sebaiknya kita balik sekarang aja.”


Aku sehaaaatt...


Tapi jiwaku yang sakit!


“Kan udah di bilangin nggak apa-apa. Udah, buruan.”


Om Wandy pun menjalankan mobilnya ke perkebunan milik Pak Erik. Perkebunan milik Pak Erik jauh lebih luas dari perkebunan milik ku. Bahkan berkali-kali lipat. Aku akan jauh lebih teliti dan lebih lama lagi saat memantau di perkebunan ini. Para pekerja di sini pun tentunya jauh lebih banyak dan lebih aktif.


Hanya beberapa yang masih ku kenal, sebab aku tidak terlalu pandai mengenali orang. Apa lagi pekerja di sini jauh lebih banyak.


“Udah hampir siang, balik ke mobil dulu,” ajak Om Wandy. Tanpa membantah aku pun menurut saja karena tidak ingin menyia-nyiakan bekal yang di siapkan Kak Laras dari rumah.


Kami makan siang di dalam mobil karena di sini tidak ada warung atau tempat kecuali pergi ke desa atau ke kantin perusahaan. Sedangkan kantin perusahaan jaraknya beberapa kilo dari lokasi tempat kami saat ini. Dan Om Wandy sudah pasti tidak mau di ajak ke kantin di mana ada banyak Karyawan wanita di sana. Ini lah salah satu kenapa Om Wandy belum menikah juga di usinya yang sudah lebih 30. Selain pemalu terhadap wanita ia juga takut jika mendapatkan wanita salah.


Setelah usai makan aku meminum obat yang ada di dalam tasku.


“Bagaimana? Langsung pulang apa lanjut?” Tanya Om Wandy seraya menutup botol air mineralnya yang sudah habis.


“Cukup segini aja dulu buat hari ini, kasian Kak Laras kalau kita terlalu lama di sini. Takutnya dia mikir macam-macam, apa lagi sekarang dia lagi hamil.”


“Ya sudah, kita pulang.”


Kami pun pulang saat itu juga. Sebelum benar-benar pergi dari sana Om Wandy melambaikan tangannya ke kepada beberapa buruh yang juga sedang beristirahat di bawah pepohonan. Mereka pun membalas sambil tersenyum ke arah kami.

__ADS_1


Aku kembali berdebar ketika melewati persimpangan jalan yang menuju ke perusahaan tempat ku bekerja dulu. Ada hasrat ingin mampir ke sana, tapi aku urungkan karena ini masih tahap permulaan jadi sebaiknya jangan terlalu over dulu.


🎵Pelan-pelan saja...😌😅


Karena perjalanan bebas hambatan jadi kami tiba sebelum malam. Bahkan masih terbilang sore.


Kak Laras tidak ada di rumah. Kemudian aku meneleponnya dan ternyata ia sedang berada di rumah yang baru di belinya waktu itu. Rumah itu baru selesai di renovasi dan ia tengah sibuk mempersiapkan kepindahannya. Aku berjalan kaki menuju ke sana karena jaraknya hanya melewati beberapa rumah saja.


“Udah datang aja ternyata, kirain bakal pulang malam,” seloroh Kak Laras seraya merapikan beberapa barangnya.


Ck! Ternyata aku salah menduga Kak Laras sedang mengkhawatirkan aku.


Aku duduk di kursi kayu tanpa sandaran yang ada di teras rumah tersebut. Dan lagi-lagi aku teringat dulu pernah menjahili Kak Laras dengan meminta ijin untuk berbulan madu di rumah barunya yang belum di renovasi waktu itu.


Sejauh apa aku berlari


Sekuat apa aku menghindar


Tetap bayangan itu tak mau pergi meninggalkan ku.


“Kak, aku pulang dulu. Jangan terlalu capek, Kakak kan sedang hamil,” seraya berpesan kemudian aku pergi dari sana.


Hilangkan lah ingatan ku jika itu tentang dia...


Kehidupan mulai membaik.


Mulai dari kesehatan dan keuangan karena pekerjaan yang selalu di lancarkan. Tapi aku masih sibuk menata hatiku yang bukan hanya terluka, tapi benar-benar menjadi serpihan yang sulit untuk di perbaiki.


Hingga suatu hari saat aku sedang memperbaiki motor ku di halaman rumah Pak Adji lewat dengan pakaian olahraganya dan menyapaku. Aku hampir tidak mengenalinya karena satu kekurangan ku adalah kesulitan mengenali orang jika sudah lama tidak bertemu. Kecuali orang-orang yang pernah menyakiti ku maka aku akan selalu mengingatnya.


“Pak Adji?” Sahut ku sembari mengawasi dengan baik.


“Iya, apa kabar kamu sekarang? Kamu kurusan,” ucapnya seraya singgah memasuki halaman rumah.


“E i iya, Pak,” jawabku terbata.


“Apa kamu sakit?” Pak Adji bertanya lagi.


“Kemarin sakit, tapi sekarang udah sehat,” sahut ku sambil memberesi kunci-kunci dan alat motor ku.

__ADS_1


“Wah,kamu hebat ya. Pasti suami kamu bangga punya istri bisa memperbaiki motor sendiri.”


What!?


Suami?


Apa Pak Adji benar-benar tidak tahu kalau pernikahan ku di batalkan?


“Apa Bapak benar-benar tidak tau?” Tanyaku sambil melirik pada Pak Adji dengan tatapan kesal yang berusaha aku tahan. Rasanya aku ingin mengamuk jika di singgung masalah ini lagi. Tapi mana mungkin aku melakukan itu pada Guru ku.


“Ada apa? Apa yang saya tidak tau? Maaf, waktu itu tidak sempat hadir karena ada suatu urusan.”


Jadi benar Pak Adji tidak tau! Batinku.


“Saya tidak jadi menikah karena keluarga pria membatalkannya,” ucapku dengan tegas dan berharap Pak Adji sudah faham situasi ku.


“Oh, maaf. Saya benar-benar minta maaf.” Pak Adji terlihat agak panik dengan raut wajahnya yang merasa bersalah.


“Justru itu saya kasi tau,” sahutku.


“Ya, tapi sekali lagi maaf, ya?”


“Ok, di maafkan.” Lalu aku menenggak air mineral dari botol guna mendinginkan rasa panas di dadaku.


Tidak ada yang salah, tapi keadaan benar-benar sulit setiap orang memberikan pertanyaan yang menyinggung hal ini. Sudah berusaha tapi ada saja pihak lain yang tanpa sengaja mengungkitnya.


Hayoo... siapa aja yang sudah kebagian kata “di maafkan” dari Anita 😂🙏✌


Selamat, anda beruntung 🤣🤧


Sepertinya pertemuan kami sore itu telah menjadi celah untuk Pak Adji mendekati ku. Meski aku sudah tahu sejak lama bagaimana perasaan Pak Adji terhadapku, tapi entah kenapa aku tidak tersentuh samasekali untuk melanjutkan hubungan itu. Padahal boleh di bilang dia adalah laki-laki pertama yang membuat jantung ku berdebar tidak menentu. Seandainya dari awal Pak Adji meresponku, mungkin aku akan memilih dia. Tapi nyatanya Kak Ardi lah yang orang pertama yang menyatakan cintanya padaku meski kami belum lama saling mengenal.


Pak Adji mengirim pesan setelah kemarin meminta nomer ku karena nomer ku yang ia simpan itu sudah tidak aku gunakan lagi sejak lama. Ia mengirim pesan mengajak ku pergi ke cafe. Aku tau betul ke cafe mana dia mengajak ku. Akhirnya aku beralasan saja kalau sedang tidak ingin keluar rumah karena nggak enak badan.


...**Tbc...


-


-

__ADS_1


-


Jangan lupa jejak dukungannya 👍**


__ADS_2