Luka Terdalam

Luka Terdalam
WALI KELAS


__ADS_3

"Ini sih tempat anak-anak muda, Wan. Mbak ngerasa kurang cocok berada disini," ucap Bunda.


"Itu perasaan Mbak saja, coba lihat itu ada banyak keluarga yang datang kesini juga selain anak muda," ucap Om Wandy seraya menunjuk ke beberapa meja yang di tempati orang-orang yang memang sedang makan bersama keluarganya.


"Oiya ya...," kata Bunda seraya mengedarkan pandangannya ke beberapa pengunjung cafe.


"Seandainya Ayah ada disini ya, Bun?" Ucapku.


"Ayah, kan sedang sibuk, nanti kapan-kapan kita kesini lagi bersama Ayah."


Aku bingung memilih menu apa karena makanan yang ada di sana sangat asing bagiku. Akhirnya aku hanya mengikuti apa yang Om Wandy pesan saja.


Om Wandy dan Bunda sambil berbincang dan aku hanya mendengarkan saja. Sesekali aku menjawab jika di tanya. Tanpa sengaja aku melihat pada seseorang yang tak asing bagiku. Dan orang tersebut juga melihat ke arahku.


"Kak Ardi ada di sini juga?" Batinku. Aku melanjutkan makanku tanpa menghiraukan Kak Ardi yang terus mengawasiku dari tempat duduknya.


Tidak lama pelayan cafe datang membawa sebuah kue ulang tahun dan meletakan nya di meja.


"Waw..., kue nya cantik," ucapku takjub melihat kue tersebut.


"Iya dong..., cantik seperti yang sedang berulang tahun," kata Om Wandy tersenyum kepadaku.


"Terimakasih, Om...."


"Udah nggak marah lagi, dong...?"


Aku hanya menggeleng saja seraya tersenyum, dan aku sudah tidak sabar untuk memotong dan mencicipi kue tersebut.


-


-


-


Seperti biasa Om Wandy akan menjemputku untuk pergi ke sekolah. Kali ini aku sudah bisa tersenyum pada Om Wandy.


Aku turun dan berjalan melewati gang seperti biasa untuk sampai ke sekolahku. Ku dengar ada suara motor dari arah belakang lalu motor tersebut berhenti di dekatku.


"Anita, ayo naik."


Ternyata Kak Ardi. Aku diam saja lalu melanjutkan langkahku. Dan dia terus saja mengiringi langkahku hingga aku melihat beberapa temanku yang biasa mengejekku beberapa hari ini. Aku pun langsung naik ke motor Kak Ardi.


"Ayoo, buruan," ucapku.

__ADS_1


Kak Ardi pun langsung menjalankan motornya.


"Jangan terlalu jauh duduknya, nanti jatuh," kata Kak Ardi, karena aku memang sedikit memberi jarak.


"Kan, bukan muhrim kak," ucapku.


Kak Ardi sepertinya tertawa saja mendengar ucapanku. Lagian aku juga hanya terpaksa untuk ikut dengannya.


"Aku tadi malam melihat mu di cafe, aku hampir tidak mengenali mu," ucap Kak Ardi.


Aku hanya diam saja. Wajar saja jika dia hampir tidak mengenaliku karena aku hanya memakai kerudung saat pergi ke sekolah saja.


Setelah sampai di sekolah dan mengucapkan terimakasih pada Kak Ardi aku pun langsung menuju kelasku. Namun Kak Ardi masih saja mengiringi langkahku dan ku dengar beberapa siswa yang berpapasan dengan kami mereka meneriaki aku dan Kak Ardi.


"Wah wahh...,dapat mangsa baru nih," ucap salah satu temannya Kak Ardi.


"Hati-hati jangan mau jadi korban Ardi!" Teriak yang lain nya.


Sungguh aku tidak peduli, lagi pula aku samasekali tidak berminat samasekali untuk jadi korban seperti yang mereka katakan. Aku masuk ke kelasku sementara Kak Ardi juga menuju ke kelasnya.


Aku duduk di bangku ku seperti biasanya menopang wajahku dengan tangan kananku. Aku terkejut saat ada yang memanggilku melalui jendela.


Ternyata Kak Ardi lagi. Tidak ku pedulikan saat dia memanggil namaku.


Dengan kesalnya aku pun berbalik memandang ke arah jendela. "Ada apa sih ,Kakak selalu menggangguku!?" Aku sambil membentak. Ini pertama kalinya aku memandang langsung pada kak Ardi karena biasanya aku selalu membuang muka jika berhadapan dengannya. Ahh..., aku baru tau mata Kak Ardi berwarna kecoklatan. Aku dan kak Ardi saling memandang melalui jendela kaca tersebut.


"Wooyy...! Dari kemarin udah di bilangin jaga jarak!!"


Ku lihat Kak Dewi sudah berdiri di belakang Kak Ardi. Aku pun buru-buru memalingkan wajahku dan mengatur posisi duduk ku agar terlihat seperti anak yang manis 😅😅


"Apa sih, Wi..., ganggu aja!"


"Jangan coba-coba kamu jadiin Anita korban kamu, ya!"


Ku dengar Kak Dewi dan Kak Ardi berdebat di luar sana. Setelah itu Kak Ardi pergi ke kelasnya karena bel tanda masuk sudah berbunyi.


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam...," kami pun menjawab salam dari Guru yang masuk ke kelas kami.


"Selamat pagi anak-anak ku sekalian, disini saya bertugas untuk mengajar Bahasa Arab sekaligus sebagai Wali Kelas kalian. Oiya, kalian bisa memanggil saya Pak Yusran."


Aku hampir tidak bisa mengedip saat melihat Guru sekaligus wali kelasku tersebut. Masih muda dan tampan juga. Ahh..., cobaan apa lagi ini, haruskah aku merangkai kata-kata dengan Bahasa Arab.

__ADS_1


Jam istirahat pun tiba,aku pergi ke kantin bersama temanku yang lain. Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan beberapa murid di kantin tersebut kalau Pak Yusran sudah memiliki istri dan juga anak.


Aiihh...💔💔💔


Pulang sekolah Om Wandy menjemputku karena sebelumnya ia memang sudah berjanji dan kebetulan ia memang tidak terlalu sibuk.


"Kita singgah makan dulu ya, An," ucap Om Wandy saat aku sudah masuk ke dalam mobil.


Aku hanya mengangguk saja. Ternyata Om Wandy mengajak ku makan soto ayam. Aku senang sekali karena sudah lama aku tidak makan soto ayam.


Setelah puas menyantap soto ayam, aku pun meminta Om Wandy untuk segera mengantarku pulang karena aku ingin segera istirahat. Saat di dalam mobil ku lihat Om Wandy mau menyalakan rokoknya. "Om, jangan ngerokok dulu, kan ada Anita disini," cegahku.


"Oiya ya, maaf Om lupa."


Om Wandy pun tidak jadi menyalakan rokoknya.


"Tapi..., kalau misalkan Anita sakit,kan gak perlu repot lagi. Om tau koq harus bawa Anita kemana," ucap Om Wandy sambil ku lihat Om wandy menahan senyumnya. Tapi aku belum mengerti apa yang membuat Om Wandy merasa ada yang lucu.


"Apa?'' Tanyaku seraya menoleh pada Om Wandy.


"Om akan bawa kamu ke tempat Dokter Irsyad."


Aku samasekali tidak mengerti, kenapa Om Wandy mengatakan itu. Ada apa dengan Dokter Irsyad dan siapa Dokter Irsyad itu? Tanyaku dalam hati. Otak ku berpikir keras hingga akhirnya aku menemukan jawabannya.


Om Wandy tergelak saat tau aku sudah menyadari kata-katanya. Dokter Irsyad adalah Ayah dari kak Ardi. Aku sudah tau Ayah nya Kak Ardi seorang Dokter karena sudah mendengarnya dari teman-temanku di sekolah. Rupanya Om Wandy melihat saat tadi pagi aku di bonceng Kak Ardi.


"Darimana Om tau kalau Ayahnya Kak Ardi itu adalah Dokter?" Tanyaku.


"Ciee..., jadi namanya Ardi, ya?"


Aku sangat kesal pada Om Wandy jika sudah begini. Tapi aku juga masih penasaran dan ingin segera tau jawabannya.


"Om sering menemani atasan Om berobat, dan Dokter yang menangani atasan Om itu ya Dokter Irsyad. Kenapa Om tau kalau teman kamu itu anaknya Dokter Irsyad, karena dulu Om pernah ke rumah Dokter Irsyad dan melihat dia disana...," jelas Om Wandy.


"Oh," ucapku.


"Kayaknya bakal ada yang sering sakit nih...," ledek Om Wandy.


"Om Wandy....!!" Aku berteriak sangat nyaring lalu setelah itu aku turun dari mobil karena sudah sampai di depan rumah.


Kak Ina sampai melihat ke arah kami berdua saat mendengar teriakan ku tadi. Tapi kak Ina dan yang lainnya sudah biasa melihat keributan kami berdua dan mereka hanya tersenyum saja seakan mendapatkan hiburan gratis.


Aku masuk ke rumah meninggalkan Om Wandy yang masih saja tergelak di dalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2