Luka Terdalam

Luka Terdalam
MARI BERKENALAN


__ADS_3

...Happy reading...


Karena ini adalah adalah sebuah acara jadi aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Aku mencoba bersikap sesantai mungkin seraya


memperhatikan dekorasi yang ada di ruangan itu serta para tamu undangan yang hadir.


Duda seperti Pak Erik saja di laksanakan semewah ini resepsinya. Batinku seraya tersenyum takjub.


Aku kembali fokus ke mejaku setelah puas memuji acara tersebut. Aku agak terkejut pria yang tadi duduk di hadapanku sedang menatap ke arahku.


“Hay...,” ia menyapa aku. Aku hanya mengangguk kecil tersenyum paksa.


“Hanya sendiri?” Dia bertanya yang sebenarnya dia sudah tau jawabannya bahwa dari tadi aku memang sendiri. Aku mulai bisa menebak apa yang ada di pikiran pria ini.


“Tadinya aku mau ngajak warga se RT tapi khawatir malah nanti di kira mau demo,” sahutku acuh sambil meminum minumanku. Dan pria itu hanya terkekeh mendengar jawabanku.


“Apa kamu rekan Mas Erik?”


Mas? Apa pria ini saudara Pak Erik? Tapi kenapa tidak ada kemiripan samasekali?


Pak Erik itu memiliki warna kulit sawo matang dan kesan lokal sangat melekat di dirinya. Tapi pria ini memiliki kulit putih dan tubuh atletis bak aktor tv di channel LN.


“Dulu aku salah satu Karyawan di sebuah perusahaan dimana Pak Erik lah manajernya.”


“Dulu? Berarti sekarang sudah tidak?” Dan aku hanya menganggukinya.


“Kenapa?”


“Apanya yang kenapa?”


“Kenapa tidak bekerja di sana lagi? Apa karena gajinya terlalu kecil? Apa karena...--”


“STOP! Apa harus bertanya seperti itu pada orang yang belum di kenal samasekali!?” Aku mendadak emosi karena ulah pria itu.


“Upps, sorry.” Sambil mengangkat dua jarinya


“Kita itu nggak saling kenal, jadi jaga batasan kamu!” Geramku.


“Ok, Aku salah, aku minta maaf. Kalau begitu kita berkenalan dulu. Perkenalkan namaku Haidar,” seraya mengulurkan tangannya. Aku membuang wajahku acuh. Aku mulai jengah dengan kelakuan pria bernama Haidar ini. Tak mendapatkan respon akhirnya ia menarik tangannya kembali.


“Masih banyak meja kosong di ruangan ini,” ucapku dengan nada menyindir berharap ia akan pindah ke meja lain.


“Banyak meja kosong, kalau bisa berdua kenapa tidak? Lagian meja ini jauh tampak menarik. Di sini ada sesuatu yang sederhana tapi tampak mencolok.” Sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku membalas dengan melotot. Ingin rasanya aku menyiram wajahnya dengan minuman yang ada di gelasku.


Alih-alih dari pada membuang minuman tersebut aku pun memilih untuk meminumnya lalu pergi meninggalkan meja dan melangkah keluar dari ballroom.


“Tunggu! Aku belum tau namamu!” Pria bernama Haidar tadi berusaha mengejarku.

__ADS_1


“Maaf kalau tadi aku terlalu berlebihan. Aku baru di sini, aku hanya mencoba untuk berteman dan --”


Aku langsung menyetopkan taksi yang kebetulan lewat dan mungkin sepertinya Tuhan juga ingin menyelamatkanku dari si singa itu.


“Buruan, Pak,” titahku pada supir taksi.


Aku melirik ke kaca spion ternyata dia masih saja melambaikan tangannya di sana.


“Dasar aneh! Batinku.


“Tujuan kemana, Mbak?”


“Hotel M.”


Aku bersandar seraya menarik nafas lega akhirnya aku bisa bebas. Tapi ada sesuatu yang kurang, tapi apa?


“Pak, kembali! Buruan!” Titahku pada supir taksi begitu teringat pada tasku yang ketinggalan. Dengan gaya bak Vin Diesel pemeran Doominic di film Fast and Furious Pak supir berhasil membuat mobil berbalik arah(ngakak jadi ketauan deh othornya fans berat babang Vin.


Mobil yang di kemudian supir pun berhenti tepat di tempat tadi aku memanggil taksi tersebut. Ku lihat Haidar masih berdiri di sana dengan memegang tasku.


Aku keluar dari mobil dan dia pun langsung mendekat seraya menyerahkan tasku.


“Kenapa nggak dari tadi, sih!” ketusku saat tas sudah berpindah ke tanganku.


“Kamu pikir aku ngejar kamu sampai kesini buat apa? Tapi kamu jalannya cepat banget tanpa menoleh samasekali.”


Kemudian aku masuk ke dalam dan memerintahkan supir untuk menjalankan mobil.


“Sampai jumpa Anita....”


Aku terperanjat mendengar Haidar menyebut namaku. Aku langsung menoleh ke arah jendela mobil menatap dengan curiga dan tanda tanya. Sementara Haidar melambaikan tangannya seraya tersenyum seperti baru saja memenangkan sebuah kompetisi.


“S*al! Pasti dia sudah memeriksa kartu identitasku!” Aku hanya bisa mengumpat dalam hati.


Beberapa saat taksi yang ku tumpangi pun berhenti karena sudah sampai. Aku keluar dari dalam mobil setelah membayar ongkos taksi.


Aku sudah berada di kamarku dengan tertatih aku buru-buru melepaskan heels yang aku kenakan. Setelah sekian lama baru hari itu lagi aku mengenakannya. Pergelangan kaki dan tumitku terasa kram dan sakit. Aku masuk ke kamar mandi melepas bajuku lalu berendam dengan air hangat agar peredaran darah lancar dan mungkin rasa sakitnya akan berkurang. Puas berendam aku mengambil handuk dan segera berpakaian.


Ponselku berdering dan aku pun langsung mengangkat panggilan itu.


“Ya...,” sahutku seraya memberesi pakainku karena sore itu juga kami akan kembali. Sebetulnya masih ada acara lagi malamnya, tapi aku rasa itu sudah cukup. Yang penting aku sudah hadir.


“Kapan mau di jemput?” Terdengar suara Om Wandy yang sepertinya baru bangun tidur.


“Aku sudah kembali naik taksi,” sahutku.


“Apa!? Serius?”

__ADS_1


“Iya..., sekarang aku lagi beres-beres buat balik.”


“Ok, jika sudah siap tunggu di bawah sebentar, Om mau mandi dulu.”


“Ya udah, jangan lama-lama,” pesanku sebelum menutup panggilan.


Beberapa saat kami sudah chek out dari hotel tersebut. Aku mulai mengantuk dan mengambil posisi nyaman untuk tidur.


“Nggak mau makan dulu?” Tanya Om Wandy saat melihat ku ingin memejamkan mata.


“Aku masih kenyang,” jawabku dengan mata terpejam.


“Harus tetap makan, atau nanti penyakit mu kambuh lagi.”


“ Ya sudah, berhenti di tempat yang menjual soto kemarin,” titahku. Om Wandy tidak tidak menyahut lagi dan aku pun melanjutkan tidurku. Masih beberapa kilo meter lagi dan masih sempat juga aku beristirahat.


Di saat aku sedang menikmati tidurku Om Wandy malah membangunkan aku lagi.


“Apa sih, aku baru mau tidur ini?” Sahutku dengan suara serak karena masih sangat mengantuk.


“Udah sampai.”


“Isshh, masa udah sampai, sih?” Aku meronta seperti anak kecil karena sangat kesal.


“Ayo, keburu malam,” desak Om Wandy dengan suara tegas.


Entah kenapa situasi ini mengingatkanku pada momen kebersamaanku bersama Bang Fauzan. Tapi buru-buru aku menghalau ingatanku itu.


Aku pun terpaksa membuka mataku lalu merapikan rambut dan pakaian setelah itu aku menyusul Om Wandy yang sudah menuju ke tempat makan yang biasa menghidangkan soto tersebut. Belum sampai saja aku sudah bisa mencium eroma lezat dari kuah soto tersebut. Mataku menjadi segar dan terbebas dari rasa kantuk.


Lumayan banyak aku makan karena memang sotonya enak. Setelah selesai makan aku kembali ke mobil sementara Om Wandy masih menyelesaikan pembayaran. Beberapa saat Om Wandy masuk ke mobil dan kami pun melanjutkan perjalanan.


Om, kenapa lewat sini?” Tanyaku karena Om Wandy mengambil jalur yang berlawanan dan jelas itu bukan jalan menuju ke kota tempat kami.


“Jadwal chek up kamu tiga hari lagi, dan belum pasti Om punya waktu di tanggal itu. Jadi sekalian aja, dan besok kita lanjutkan untuk pulang setelah kamu chek up.” Aku hanya mengangguk samar. Itu artinya aku harus menyiapkan mentalku lagi.


...**Tbc...


-


-


-


Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya 👍 apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis 😍


Thanks all**...

__ADS_1


__ADS_2