
...Happy reading...
Luka ku sudah sembuh dan hanya tinggla bekas saja yang masih tertinggal. Namun kadang masih terasa sakit jika di gerakakkan.
Beberapa kali aku ke perkebunan naik motor, tapi kali ini mau tidak mau aku harus naik mobil karena tanganku belum bisa terlalu banyak bergerak apa lagi harus mengemudikan motor dalam waktu yang cukup lama.
Setelah melihat-lihat keadaan perkebunan aku dan Om Wandy beristirahat di pondokku.
Rumah kayu dengan desain minimalis itu benar-benar bermanfaat. Andai sejak dulu aku membuat rumah di sini, pasti tidak perlu repot-repot untuk mencari tempat untuk beristirahat.
Aku memang sudah menyediakan beberapa biskuit dan bahan lainnya yang awet di simpan agar bisa di nikmati sambil beristirahat di sana.
Om Wandy membuat kopi sementara aku mengambil beberapa biskuit yang ada di lemari penyimpanan. Dari lemari, meja, kursi dan tempat tidur kecil yang tersedia di sana semua di buat dari kayu. Suasana tenang dan damai membuatku betah untuk berlama-lama di sini. Aku sempat kepikiran untuk tinggal beberapa hari atau minggu bahkan mungkin selamanya.
Meski Om Wandy adalah orang terdekatku juga selain Kak Laras, tapi ia tidak pernah menanyakan hal-hal yang aku alami secara langsung. Dia hanya mendengarkan dari Kak Laras lalu memberikan sarannya. Walau terlihat santai tapi aku tahu ia sangat mengkhawatirkan aku.
Setelah cukup beristirahat kami berkeliling sebentar lagi di perkebunan Pak Erik. Kami lebih teliti dan banyak menghabiskan waktu untuk perkebunan itu. Selain karena luasnya, tanggung jawabnya juga besar sebab ini menyangkut masalah kepercayaan yang telah di berikan.
Usai mandi dan mengenakan pakaian aku langsung menjatuhkan tubuhku di kasur untuk menghilangkan penatku barang sejenak.
Tok tok tok!
“Anita...! Kalau udah selesai buruan makan dulu sebelum ketiduran!” Ketukan pintu di sertai teriakan Kak Laras dari luar kamarku.
Sudah beberapa hari ini Kak Laras menginap di rumah. Aku lah yang mengajaknya menginap, sebab Kak Agil juga sedang bekerja di luar kota untuk mendampingi atasannya.
Dengan malas aku melangkah ke dapur dan mengisi perutku dengan nasi dan lauk yang sudah di masak oleh Kak Laras.
Usai makan dan menggosok gigi aku kembali berbaring di tempat tidurku.
Baru mulai terlelap handphone ku berbunyi hingga membuat aku sedikit terkejut.
“Ada apa, San?” Sahut ku menerima panggilan dari Santi.
“Nit, ehk ehk.” Aku yang tadi mengantuk mendadak membuka mataku sepenuhnya. Tidak biasanya Santi seperti ini. Karena biasanya dia pasti sedang mengunyah tak kenal jam.
__ADS_1
“Kamu kenapa, San?” Pikiranku mulai membayangkan ada sesuatu tengah terjadi pada rumah tangganya.
“Leo. Dia dia...nyalahin aku atas apa yang terjadi pada rumah tangganya. Hiks hiks hiks....” Aku tidak mengerti apa yang di bicarakan Santi. Siapa Leo? Aku baru dengar nama itu, dan setau aku itu bukan nama suaminya.
“Ngomong yang jelas San, aku bingung. Mending kamu ngunyah kayak kemarin aja deh dari pada nangis begini.”
“Kemarin Leo nelpon aku, dia nyalahin aku. Katanya aku penyebab Wika selingkuh sama Nando.” Ternyata si Leo itu nama suaminya Wika. Batinku. Aku pun kembali mendengarkan Santi.
“Katanya andai aku nggak buat grup chat maka kejadian seperti ini nggak akan terjadi. Nando dan Wika nggak akan CLBK dan selingkuh. Aku udah keluarin mereka berdua dari grup, tapi mereka masih berhubungan dan Leo menyalahkan aku, Nit. Hiks hiks hiks....”
“Menurut aku sih itu bukan salah kamu. Emang si Wika nya aja yang nggak sadar kalau statusnya itu seorang istri. Nando juga nggak bakal berani gangguin rumah tangga Wika kalau misalkan Wika nya nggak kasi celah. Lagian Wika itu bukan anak kecil. Dia udah dewasa, harusnya bisa berfikir!”
Ada-ada saja!
“Tapi gimana dong, si Leo terus-terusan nyalahin aku. Aku khawatir kalau sampai suami aku tau dan nyalahin aku juga.”
“Dia tau kamu nggak salah. Tapi dia nggak berani buat tegas sama si Wika. Jadilah kamu yang kena sasaran. Kalau dia masih nyalahin kamu nanti biar aku yang kasi tau dia. Aku capek, mau istirahat dulu.”
“Terimakasih ya, Nit. Kamu emang teman aku yang terbaik deh. Sejujurnya aku lebih nyaman bicara sama kamu. Walau kamu belum pernah berumah tangga tapi pikiran kamu sangat dewasa.”
“Kita kan emang seumuran, San. Bedanya aku belum ada aja yang nyetirin aja.”
“Hahaha..., noh minta di setirin sama si Dani!”
“Bodo ah!” Aku pun mematikan hp ku dan kembali mencari posisi nyaman.
Kenapa hanya nama belakang! Nggak sekalian nama kamu di ganti semua!?
Jangan pakai nama pemberian dari Mama kalau kamu merasa malu!
Ucapan Mama terbawa hingga ke dalam mimpiku.
Mentari pagi bersinar menembus celah di tirai jendelaku. Aku menggeliat untuk merilekskan otot-otot tubuhku.
Aku duduk di tepi kasur memikirkan ucapan Mama. Seandainya dari dulu Bunda dan Ayah mengganti namaku juga, bukan hanya sekedar memberikan nama belakangnya.
__ADS_1
Apa aku harus mengganti namaku?
Bagaimana kontrak ku dengan perusahaan mengenai lahan yang ku sewakan. Jika aku mengganti nama, itu artinya aku juga harus merubah semua surat-surat penting. Setelah apa yang ku lalui aku ingin menikmati hidupku dengan tenang, bukan harus sibuk dengan hal-hal semacam ini.
Ini adalah sebuah kehidupan, bukanlah sebuah film atau cerita yang ada di novel bisa di atur dan di skip.
Bunyi ponsel kembali mengusik lamunanku. Dari sebelum tidur sampai bangun tidur pun ada saja yang mengganggu. Rasanya aku tidak di berikan waktu walau hanya sekedar untuk melamun saja.
“Ya, Gea?” Sahutku.
“Nit, aku mau minta bantuan sama kamu. Boleh nggak? Aku butuh banget pekerjaan, aku udah nggak tau bagaimana lagi. Aku udah ngelamar di mana-mana tapi belum ada panggilan. Sementara keuangan aku benar-benar, hiks hiks hiks....” Aku berpikir sejenak dan membiarkan Gea yang masih terisak.
“Ada sih, tapi aku nggak tahu apa kamu bisa betah atau nggak.” Perusahaan tempatku bekerja dulu pasti mau menerima. Tapi aku tahu Gea ini dulunya sangat di manjakan orangtuanya. Apakah dia bisa bertahan jika bekerja di sana.
“Aku mau, Nit. Apa aja, yang penting halal dan aku bisa membiayai hidupku.”
“Ok, sekarang kamu siap-siap,” titahku. Aku juga menyuruh Gea menyiapkan semua keperluan untuk lamaran pekerjaannya nanti, termasuk surat kesehatan dari Rumah Sakit dan lain-lain. Sebab jika kurang satu berkas pun maka mau tidak mau harus kembali ke kota untuk memenuhi syarat tersebut. Sementara jarak kota lumayan jauh jika harus pulang pergi. Jadi sebaiknya persiapkan dengan teliti dan hati-hati.
Sebelum pergi aku kembali menanyai keseriusan Gea agar nanti tidak ada penyesalan dan menyalahkan aku. Aku juga sudah menjelaskan situasi dan kondisi di perusahaan itu. Gea dengan mantap menjawab tidak akan mundur sedikit pun.
Kami pun pergi dengan menyewa sebuah taksi untuk pergi ke sana. Karena aku tidak mungkin merepotkan Om Wandy untuk urusan seperti ini.
Aku menemui orang yang bekerja di bagian HRD. Setelah berbicara sebentar akhirnya Gea di panggil ke ruangan dan menyerahkan berkas lamarannya. Setelah melakukan sesi tanya jawab akhirnya Gea di terima hari itu juga dan boleh bekerja jika sudah siap.
“Makasih banget ya, Nit. Aku nggak nyangka bisa secepat ini dapat pekerjaan.” Gea berlonjak girang.
“Iya, sama-sama. Semoga kamu betah dan bisa ngumpulin uang buat melanjutkan sidang cerai kamu.” Aku memang sudah memberi tahu tentang situasi dan kondisi di perusahaan ini tapi tidak menjelaskan secara detil. Ku lakukan agar dia berlatih untuk menjadi kuat.
“Aamiin....”
Selamat menikmati pekerjaan baru dan suasana baru.
Saatnya berubah jadi wanita yang kuat dan tinggalkan sifat manja yang tidak ada untungnya.
...**Tbc...
__ADS_1
Jangan lupa jejak dukungannya 👍 agar othor tetap semangat.
Thanks all** ...