
...Happy reading...
Aku singgah terlebih dahulu ke rumah Kak Laras untuk memberikan satu kotak martabak yang ku beli tadi baru kemudian aku pulang ke rumah.
Sejak di perjalanan tadi sebetulnya aku sudah merasakan ada yang salah dengan penglihatanku. Pandanganku terlihat buram dan kurang jelas. Aku pikir mungkin efek ngantuk dan kecapean saja. Tapi hingga pagi masih berlanjut dan aku hampir tidak bisa melihat tombol di layar ponselku.
Aku benar-benar ketakutan. Pikiran ku semakin kacau membayangkan kalau-kalau aku menjadi buta. Aku menatap layar ponselku yang kadang terlihat jelas dan sesaat kemudian terlihat buram. Aku berusaha menghubungi Kak Laras dan untungnya berhasil.
“Ada apa!?” Terdengar Kak Laras panik ketika datang ke rumah ku.
“Kak! Ada yang salah dengan mata ku. Aku susah melihat!” Panik ku.
“Susah bagaimana?” Kak Laras memperhatikan mataku.
“A...aku aku kurang jelas saat melihat, penglihatan ku buram!”
“Memangnya tadi mata kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang masuk, binatang atau apa?”
“Nggak, Kak. Ini tuh dari tadi malam. Kirain pengaruh kecapean aja, tapi sampai pagi masih seperti ini.”
“Ya sudah, kita pergi ke Dokter mata saja sekarang.“ Ajak Kak Laras. “Kamu masih bisa siap-siap sendiri, kan?” Aku pun mengangguk.
Kak Laras pulang ke rumahnya untuk siap-siap dan berpamitan pada Kak Agil yang hendak berangkat ke kantor. Sedangkan Rifqy ikut Kak Agil sekalian di antar ke sekolah.
Beberapa saat kami sudah di dalam mobil taksi menuju ke klinik Dokter mata. Kebetulan agak sepi jadi kami tidak menunggu terlalu lama.
Aku sempat terperanjat merasa terkejut ketika melihat Dokter mata tersebut. Entah kenapa melihat orang berjas putih yang berdi berdiri di hadapanku itu jadi mengingatkan aku akan Kak Ardi. Tanpa terasa tubuhku sedikit gemetar. Rasa takut kembali menjalar di seluruh tubuhku.
“Anita, ayo,” Kak Laras menarik lenganku membuatku tersentak kaget.
“E i iya,” sahutku tergagap. “Temani,” bisik ku seraya berpegangan di lengan Kak Laras.
“Iya, udah tau,” sahut Kak Laras seraya menggandeng lenganku dan membawa ku masuk.
Dokter memeriksa ku dan selama Dokter itu berada di dekatku tubuh ku gemetar sama persis waktu ketika aku ketakutan di hadapan Kak Ardi waktu itu.
Setelah selesai di periksa aku kembali duduk di kursi pasien masih di temani Kak Laras yang duduk di kursi sebelahku.
__ADS_1
Dokter tersebut menanyaiku beberapa hal seputar obat-obatan yang aku konsumsi belakangan ini dan seberapa sering juga aku memainkan gadget. Aku pun menjawab dan menjelaskan bahwa beberapa bulan terakhir aku memang meminum beberapa jenis obat untuk kesembuhanku dan itu pun atas resep Dokter juga. Kalau untuk gadget aku rasa sudah tidak dapat di hitung seberapa sering, karena jaman sekarang siapa yang tidak ketergantungan dengan benda itu.
Sejak setahun terakhir tepatnya ketika aku sudah tidak lagi bekerja di perusahaan aku hanya bisa sibuk dengan benda itu. Dan aku sering merasakan mataku perih saat memainkannya tapi aku mengabaikan semua itu tanpa memikirkan dampaknya.
Atas saran dari Dokter aku tidak boleh terlalu sering dulu bermain gadget dan juga harus mengenakan kaca mata khusus selama beberapa bulan. Dan satu lagi, aku belum bisa berlama-lama berada di bawah sinar matahari. Itu artinya untuk beberapa bulan ke depan aku libur dulu ke perkebunan.
Demi kesehatan mau tidak mau aku mengikutu saran itu. Aku terduduk lesu ketika sudah sampai di rumah. Baru saja aku mulai bersemangat kembali bekerja kini harus libur lagi untuk beberapa bulan.
Hp ku berbunyi bahkan berdenting hingga beberapa kali. Aku memeriksanya untuk melihat pesan yang masuk. Aku mengernyit sesaat setelah kemudian aku tersenyum melihat grup chat yang di buat Santi. Ada lima orang yang sudah bergabung termasuk aku sendiri.
Aku kembali meletakkan hp ku dan kembali menyusun laporan hasil panen bulan ini dan secepat mungkin mengirimkannya pada Erik. Sudah sebulan aku bekerja dari rumah sementara aku kembali di bantu oleh Om Wandy untuk memantau keadaan perkebunan. Aku juga sudah terbiasa dengan kacamata dan ledekan dari Om Wandy yang belakangan ini sering memanggilku Bu Guru.
Setelah malam sebelum tidur aku kembali melihat grup chat yang di buat oleh Santi. Aku kaget melihat anggota yang awalnya 5 orang, kini bertambah menjadi 22 orang. Hanya beberapa saja yang aku kenal, selebihnya aku tidak tahu atau mungkin aku lupa. Obrolan pun sedang berjalan, aku hanya sesekali memperhatikan karena aku belum bisa lama-lama menatapi layar handphone.
Tidak lama ada grup baru lagi yang di buat oleh Santi dan sepertinya anggotanya hampir sama saja. Aku pun langsung menghubunginya.
“Iya, An?” Sahut Santi dan sepertinya dia sedang mengunyah terdengar dari suaranya.
“Kamu buat dua grup orangnya itu-itu aja?”
“Iya, tapi yang barusan khusus buat ciwi-ciwi alias emak-emak. Haha...,biar kita bisa lebih terbuka ngomongnya,” jelas Santi dengan tetap mengunyah.
“Ini permintaan dedek yang di dalam perut.”
“25% mungkin ada benarnya, selebihnya itu pasti atas kemauan kamu sendiri. Kasian banget tuh si jabang bayi di fitnah sama emaknya.” Hanya terdengar suara gelak tawa Santi. Kemudian aku langsung mematikan handphone ku.
Bulan berikutnya kesehatan mataku jauh lebih baik. Kini aku juga di bantu dengan obat-obat herbal agar aku tidak terlalu ketergantungan dengan obat kimia yang memiliki efek samping.
Seperti sudah menjadi keharusan setiap bangun tidur aku langsung memeriksa handphone ku. Aku menyapa sebentar sekedar menghargai Santi sebagai pembuat grup.
Beberapa buruh ada yang belum memiliki rekening dan aku harus turun tangan untuk membantu mereka. Sebetulnya ini di luar dari pekerjaanku, tapi aku tidak tega mengacuhkan hal ini mengingat buruh-buruh tersebut minim pengetahuan. Jadi hari ini aku akan membantu dan memandu mereka agar bisa keluar dari keminiman tersebut.
Setelah selesai dengan semua urusanku, aku pun pulang dan berniat untuk beristirahat. Karena kepala ku sudah terasa agak berat di tambah cuaca yang lumayan terik hari itu.
Ku lihat pintu sedang terbuka, dan pasti Kak Laras sedang ada di rumah pikirku.
“Assalamu'alaikum,” ucapku dari luar.
__ADS_1
“Wa'alaikumsalaam....”
Aku terkejut hampir tidak percaya dan seakan merasa bermimpi melihat orang yang sedang duduk di ruang tamu saat itu.
Ada Mama dan Tante Niar saudarinya. Walau lama tidak bertemu, aku masih dapat mengenali wajahnya.
Kak Laras memandang padaku dengan tatapan yang sulit di artikan. Sementara aku langsung menghampiri Mama dan Tante Niar untuk menyalaminya.
Aku sadar jika dulu aku di telantarkan tanpa ada yang mau merawatku selain Ayah dan Bunda. Tapi kedudukan ku sebagai seorang anak mengharuskan aku agar tetap hormat dan patuh terhadap orangtua yang telah melahirkanku.
“Mama kapan datang? Kemana saja, kenapa lama tidak pulang?” Aku bertanya tanpa jeda karena ku rasa wajar saja, sebab bertahun-tahun Mama tidak ada kabar.
“Mama udah hampir dua jam nungguin kamu. Sekarang Mama mau buru-buru pulang. Oiya, Mama mau minta uang hasil dari perkebunan. Mana?”
Aku tertegun mendengar ucapan Mama. Sekian tahun ia menghilang, dan kini datang hanya untuk meminta hasil perkebunan.
“Mbak sadar nggak sih. Mbak itu nggak ada hak untuk meminta apa pun pada Anita walau Mbak itu ibunya.” Kak Laras menyahut mulai berapi-api.
“Ini urusan Mbak sama Anita, kamu nggak berhak ikut campur! Kamu itu hanya sepupu, sementara Mbak adalah orang yang melahirkan dia!”
“Memang benar Mbak yang melahirkan, tapi kemana saja Mbak selama ini? Mbak juga nggak tau, kan apa yang di alami Anita selama ini. Nggak ada anak yang meminta untuk di lahirkan ke dunia ini jika bukan atas perbuatan kedua orangtuanya! Aku memang hanya sepupu, tapi Anita tau apa yang aku lakukan lebih dari orang yang melahirkan dia. Bukan bermaksud untuk mengungkit, karena aku ikhlas melakukannya. Dan aku nggak rela Mbak berbuat seperti ini pada Anita.”
Aku masih belum bisa berkata apa-apa karena masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar dan aku lihat. Sejurus kemudian pikiran ku mulai terbuka aku pun pergi ke kamarku.
Ku ambil uang tunai yang kebetulan masih ada di lemariku lalu kembali menemui Mama dan memberikan uang itu.
“Ya begitu seharusnya, jangan durhaka sama orangtua. Lagian Oma kanu melimpahkan perkebunan itu karena kamu adalah anak Mama, kalau lahir dari rahim orang lain mana mungkin kamu mendapatkannya.” Seraya beranjak dan pergi meninggalkan ruang tamu setelah memasukan uang yang ke berikan ke dalam tas.
...**Tbc ...
-
-
-
Ini hanya sebuah novel, pada dasarnya mungkin tidak ada seorang ibu yg seperti itu. Harap bijak dalam berkomentar🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya 👍
Thanks all**...